
Sedikit ragu, namun Radha meyakinkan suaminya. Kemampuannya tidak perlu di ragukan meski memang tidak memastikan bahwa mereka akan selamat dunia akhirat.
"Bismillah, coba Kakak tatap mata aku, percaya kan?"
Gian terdiam sejenak, tapi mau berbohong juga percuma. Ia sudah sedikit lelah lantaran perutnya tak bisa di ajak bekerja sama. Sungguh, terpaksa berhenti di beberapa tempat hanya untuk menenangkan perutnya sejenak cukup menyita tenaga ternyata.
"Kau punya SIM?"
"Punya!!! Udah Kakak diem duduk anteng aja, kalau Kakak paksain nyetir makin susah."
Gian menurut kali ini, mereka bertukar posisi dan Radha dengan kepercayaan diri luar biasa itu sangat yakin mampu menaklukan perjalanan siang ini.
"Hati-hati!"
"Iya, Kakak tenang aja. Calm Down kalau kata orang Australia," ujarnya sembari memakai sabuk pengaman, sedangkan Gian kini dengan perasaan tak karuan hanya berharap jika Radha memang benar-benar bisa di andalkan.
Mata Gian menatap lekat apa yang Radha lakukan, semua memang terlihat baik-baik saja. Tidak ada yang aneh, dan Radha memang mampu melakukannya dengan baik.
Perlahan, meski memang tak selihai Gian, istrinya ini mengemudi dengan baik. Dan sejak tadi Gian mewanti-wanti Radha agar berhati-hati, tak masalah jika harus terlambat di perjalanan.
Lagipula bagaimana mungkin ia dapat kembali bekerja dengan baik dengan keadaannya yang sesulit ini. Beberapa rekan kerja mungkin menunggunya saat ini, namun bagaimana, bertemu pun takkan membuat urusan bisnisnya berjalan seperti rencana.
"Awas, pelan-pelan," tutur Gian was-was, pasalnya jalanan memang sedang cukup padat.
Diamnya Radha kini justru menjadi tanya, apakah istrinya itu khawatir, takut, atau memang tenang dan mampu menguasai jalanan.
Bukan lagi sakit perutnya yang menjadi masalah, tapi takut jika nanti tiba-tiba Radha melakukan kesalahan. Beberapa kali Radha tampak menggigit bibirnya, entah sebenarnya apa yang ia tengah rasakan.
Perjalanan mulai tenang, dan Gian menghela napas lega. Sepertinya memang benar bahwa istrinya telah memiliki SIM, entah bagaimana cara dia mendapatkannya. Karena seperti yang Gian ketahui, dahulu Radha pergi selalu bersama supir pribadi ataupun menggunakan angkutan umum.
"Tuh bisa kan?!!"
Setelah sekian lama diam, ia membanggakan diri dengan menampilkan gigi rapihnya. Jelas ia bangga, setelah sekian lama, dan dahulu hanya sempat belajar dalam waktu singkat dibantu supirnya, nyatanya kini ia benar-benar bisa. Tak sia-sia berbohong pada Ardi untuk mencuri waktu, pikir Radha.
__ADS_1
"Hm, iya ... benar kau bisa ternyata," ucap Gian membenarkan. Karena menurutnya memang kemampuan Radha cukup lumayan dan dapat berguna dalam keadaan darurat seperti ini.
"Iyes!!! Beneran bisa!!! Enggak nyangka sih kalau masih inget ajaran Pak Aryo."
Mendengar ucapan Radha, sontak matanya membuat sempurna. Gian terperanjat kaget dan kini degub jantungnya luar biasa, seakan tengah menghadapi bencana di depan mata.
"Ap? Apa kau bilang? Masih ingat?!!!"
Radha mengangguk mantap, karena memang sudah lama ia tak mempraktekan apa yang ia pelajari dari Aryo. Dan kini, dengan keyakinan dan tekat kuatnya, Radha menggunakan kemampuannya dalam keadaan terdesak dengan baik.
"Iya, aku nggak nyangka loh, Kak."
Dengan tanpa dosa, ia menjawab begitu polos. Tak sadar jika kini suaminya tengah di peluk ketakutan lantaran mengetahui fakta tentang dirinya.
"Jangan bercanda, Ra ... kau tidak biasa mengemudi kan?"
"Hm, apa maksud Kakak? Aku nggak bercanda, memang gak biasa tapi buktinya aku bisa," jawabnya santai karena memang merasa mampu dan tak melakukan kesalahan apapun.
"Zura awas!!!"
Untung saja ia tak kehilangan arah, wajahnya tampak cemas, hampir saja seseorang celaka karenanya. Ya meski semua itu membuat Gian terhuyung dan kini pria itu merasakan sedikit sakit di bagian kepalanya.
"Ra, biar Kakak aja ya?" tawar Gian, jemarinya kini bergetar. Meski Gian termasuk manusia ugal-ugalan, namun belum ia dapatkan perasaan kacau seperti ini sebelumnya.
"Tidak, Kakak diem aja di situ, ini cuma kesalahan teknis, bukan kemauanku, Okay!!!"
Pasrah, hanya bisa pasrah dan berharap perjalanannya akan baik-baik saja. Mulutnya komat kamit membaca doa, dan tiba-tiba Gian mengingat kembali semua dosa di masa lalunya, belum lagi masih banyak kesalahan yang ia lakukan pada Jelita dan Raka. Pikiran pria ini sudah macam-macam.
"Ya Tuhan, jaga diriku ... istriku, lindungan kami dalam perjalanan ini, aku belum punya anak, Mama juga belum sempat aku bahagiakan sepenuhnya."
Mendadak Gian taubat seketika, beberapa ayat suci ia ucapkan sebegitu lancarnya. Wajahnya pucat pasi, karena ia juga memang lemah.
"Bentar lagi ya, Kak!! Atau Kakak mau ke rumah sakit?" Radha menatap Gian yang kini hanya diam menatap nanar jalan di depannya, sedangkan kini Radha menambah kecepatannya.
__ADS_1
"Enggak, Ra ... pulang ke rumah," jawab Gian begitu lemah, karena dirinya masih lemas akibat kejadian beberapa saat lalu.
"Kakak yakin?" tanya Radha memastikan, karena wajah suaminya memang semakin pucat.
"Enggak, Radha!!! Pulang, aku takut."
Setengah berteriak, dan kini istrinya hanya mencebikkan bibir. Tak merasa Gian marah sama sekali, namun mengerti pria yang kini terlihat seperti kehabisan darah hanya ingin istirahat sebelumnya.
"Baiklah, besok-besok nggak usah makan yang pedes lagi ya, Kak." Radha masih saja menganggap bahwa suaminya lemas semata-mata karena sambal itu.
"Ra, diam dan fokuslah ... Kakak masih banyak cita-cita, Sayang."
Permintaan terakhir yang kini Gian ungkapkan, karena jika tidak begitu istrinya akan terus bicara dan lupa apa yang seharusnya ia lakukan. Sedangkan Radha yang memang sepolos itu, tak mengerti apa maksud Gian hanya mengangguk seakan memang paham.
Hingga ketakutan Gian itu perlahan berakhir ketika mobil mulai memasuki lingkungan perumahan mewah itu. Gian berulang kali mengucap syukur ketika gerbang rumahnya mulai terlihat, setidaknya ia selamat dalam perjalanan hari ini.
"Yeay!!! Sampe kita," ujarnya bahagia setelah berhasil menuntaskan perjalanan yang sebelumnya membuat Radha merasa tengah berhasil mendapatkan penghargaan.
"Alhamdulillah," tutur Gian memejamkan matanya, Tuhan masih baik padanya hari ini. Setelah melalui beberapa hal yang bahkan hampir membuatnya celaka, Gian kini dapat menghela napas lega.
Berjalan gontai dengan, Radha mendampingi Gian meski itu sama sekali tak membantu sebenarnya. Tubuhnya terlalu pendek untuk membantu Gian berjalan.
"Ya Allah, Ra ... suamimu kenapa?" Jelita panik bukan main melihat putranya.
"Sakit perut, Ma ... kayaknya sakit." Radha menggigit bibirnya, sebenarnya ia sedikit takut jika nanti Jelita akan marah karena semua ini adalah ulahnya.
"Sakit? Kamu makan apa, Gian?"
Ia mengenal putranya lebih dari Gian mengenal dirinya sendiri. Meski di tutupi Jelita tentu akan mengetahui sebabnya.
"Sayang, dia makannya banyak?" Pertanyaan tertuju pada Radha, melihat keadaan Gian ia yakin bahwa putranya ini nekat makan makanan yang menjadi musuhnya sejak kecil.
"Nggak, Ma ... cuma satu suap." Radha menjawab seadanya, walau seperti yang ia lihat tadi, satu suap itu sambalnya begitu banyak, jelas saja akan menyiksa sementara Gian tak memuntahkannya sama sekali.
__ADS_1
"Rumah sakit," perintah Jelita khawatir jika nanti putranya kembali mengalami sakit seperti dia kecil.
"Ck, Mama lebay ... aku baik-baik saja," ucapnya berlalu meninggalkan Radha dan Jelita yang sama-sama panik, ia meniti anak tangga dan berusaha untuk tak terlihat sakit.