
Diam, Celine hanya mampu diam dan tak bisa menjawab apapun ucapan Radha. Dia benar-benar bungkam dan hanya berusaha menyembunyikan wajahnya dibalik rambut yang ia gerai dengan sempurna.
Ah menggemaskan, rasanya ingin Radha menjambak rambut Celine hingga rontok semua. Akan tetapi ia hanya berusaha menahan diri, karena Celine sedari tadi hanya diam.
"Santai saja, sepertinya kau haus ... apa tidak sebaiknya minum walau sedikit, Celine?"
Radha tersenyum miring, wajah Celine kini memerah persis kepiting bakar. Dan mulai merasa jika sekelilingnya menjadikan dia perhatian, Celine memutar dramanya.
"Kau sejahat itu ya, Ra!! Salah aku apa? Kau yang merebut semuanya dari aku, Papa, Mama dan juga Kak Gian!! Om Raka memilih salah satu diantara kita tapi kau yang curang waktu itu."
Dengan suara lantang, Celine berdiri dan menjelaskan pada dunia bahwa dirinya tengah menjadi manusia paling tersakiti.
Tak lupa air mata buaya betina yang kini berurai membuat siapapun melihatnya akan merasa jika memang Celine yang berada di posisi paling sakit.
"Kalian lihat!! Dia merebut apa yang aku miliki, termasuk masa depanku!! Kalian lihat kan, sepolos apa wajahnya?!!"
Wah, nampaknya Celine masih berusaha untuk berada di atas Radha walau sekali lagi. Sedangkan Radha hanya terlihat santai atas tuduhan yang sama sekali tak benar itu.
"Ah masa depanmu ya? Kau jangan lupa berkaca, Celine ... siapa yang merebut hak salah satunya, Kau!!"
Kalimat itu sedikit ia tekankan, Radha tak ingin terlihat dirinya yang berapi-api. Biarlah Celine yang mengamuk tak jelas padahal dirinya penjahat paling nyata.
"Aaarrrgghhh!! Aku membencimu, Radha!!"
Tangannya bergetar, dan merasa kehilangan cara atas kekalahannya. Karena pada akhirnya orang-orang itu memilih tak peduli dengan tangisan Celine.
Hingga dengan gerakan cepat Celine berusaha menarik rambut Radha, namun, karena tidak bisa meraihnya Celine mendorong tubuh Radha cukup kuat hingga wanita itu kehilangan keseimbangan.
Dorongan itu terlalu kuat dan membuatnya hampir jatuh, beruntung Gian datang di saat yang tepat, dengan cepat tangannya menahan sang Istri.
Bukan main marahnya Gian, apa yang Celine lakukan Gian lihat dengan jelas. Jika saja dia terlambat datang, bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada istrinya.
"Kak?" Dengan jantung yang berdetak tak karuan, Radha merasa tengah bermimpi dengan kehadiran suaminya saat ini.
"Heii, wanita murahaan!! Berani kau menyentuh istriku?"
Dengan langkah pelan, Gian menghampiri Celine yang kini gemetar. Lebih gemetar lagi kala Gian mencengkram dagunya kuat-kuat. Sakit? Tentu saja, tak pernah menyentuh Celine, sekalinya menyentuh justru menyakiti adik iparnya.
"Siapa yang memintaimu? Hm?" Pertanyaan yang sebenarnya Gian sudah tahu jawabannya.
"Aaakkkhhh," lirih Celine mencoba melepaskan cengkraman Gian.
Memang dia lepaskan, tapi dengan sangat amat kasar. Bahkan kepalanya terasa pusing, Gian sekasar itu, karena memang amarahnya karena Juan belum usai, ditambah lagi karena Celine, jelas saja sebesar itu.
__ADS_1
"Zara, dia menyakitimu?"
Radha belum menjawab namun Gian sudah melakukannya lagi. Tak peduli dia laki-laki atau perempuan, gerakannya santai, tapi sangat menyakitkan.
"Seperti ini? Atau seperti ini?"
Gian menarik rambut Celine ke kanan dan ke kiri, bahkan terasa akan tercabut hingga ke akarnya. Wanita itu berteriak sekuat tenaga, tapi bukannya mendapat pertolongan, melainkan hanya menjadi tontonan.
"Jangan ada yang berani ikut campur jika kalian ingin hidup tenang!!" Ancaman Gian yang membuat orang lain memilih untuk pura-pura tak melihat apa yang ia lakukan.
"Aku ingatkan padamu, jangan main-main denganku ... jangan kau pikir karena kau perempuan aku akan diam, dengarkan baik-baik Celine, aku tidak pernah pandang bulu," tegas Gian dengan suara dinginnya, matanya menatap tajam wajah Celine yang mendongak akibat rambutnya Gian tarik sekuat itu.
"Dan satu lagi, hilangkan foto menjijikkan itu, itupun jika kau sayang nyawamu," ancam Gian yang jelas saja membuat Celine ciut, karena sepertinya Juan telah tertangkap, pikirnya.
Sebagai penontonnya, Radha tak meminta Gian melepaskan Celine saat ini. Karena memang apa yang Celine lakukan padanya lebih dari sekadar bahaya.
"Lepaskan aku, Kak, aku mohon."
"Cih, aku bukan Kakakmu, camkan itu."
Melepas jambakannya dengan kasar, Gian bahkan merasa kurang hingga membuat wanita itu terhuyung dan kehilangan keseimbangan. Kasar? Iya, karena amarahnya tengah berada di puncak.
"Kita pulang, Sayang."
Gian merangkul lembut sang istri dan meninggalkan Celine yang kini malu bertubi-tubi. Hendak apa dia? Berteriak juga percuma, karena orang-orang sudah memandangnya sangat salah.
"Kenapa tidak aktif? Berani sekali kau mengabaikanku!!" teriaknya memaki benda pipih itu kala Juan tak bisa dia hubungi.
-
.
.
.
Sepanjang perjalanan pulang, Radha masih diam. Menatap nanar keluar sana seakan merasakan dunianya kini hancur.
"Zura," panggil Gian lembut, sudah cukup lama dan istrinya hanya diam usai menceritakan apa yang Celine katakan padanya, itupun karena Gian memaksa.
"Iya, Kak?"
"Kenapa cuma diam?" tanya Gian menatap sekilas istrinya, tak terbiasa jika istrinya selalu ribut dengan banyak hal kini lebih memilih diam.
__ADS_1
"Lagi nggak mood, Kak," tuturnya pelan, semangat hidupnya memang seakan tengah hilang.
"Ya tapi jangan lihat sana, masa Kakak lihat punggung kamu."
"Memangnya salah begini?" tanya Radha mempertanyakan posisi duduknya yang menurut dia baik-baik saja.
"Iya lah, duduk tu ngadep depan, kamu ngapain duduknya begitu."
Masalahnya bukan hanya wajah Radha yang menghadap keluar, tapi tubuhnya demikian. Entah kini ia anggap tengah berada dimana hingga duduk semaunya, tanpa mengenakan sabuk pengaman tentu saja.
"Yang penting kan masih duduk."
"Tapi jangan gitu, Kakak pengen lihat muka kamu lah."
"Hm, gini ya harusnya?" tanya Radha merubah posisi duduknya sesuai kemauan Gian.
"Nggak gitu juga, jalannya ketutup muka kamu semua kalau begini." Gian mendorong tubuh wanita mungil itu, beruntung saja Gian tidak melaju dengan kecepatan tinggi.
"Duduk yang bener, Ra," titah Gian membuang napas kasar, sedari dulu istrinya memang tak seperti wanita lainnya, mungkin ia samakan dengan naik perahu.
"Udah bener perasaan." Radha mencebikkan bibir, merasa semuanya serba salah, padahal memang.
"Sepertinya harus rutin memeriksakan kandunganmu itu, jangan sampai anakku naik ke lambung." Pribahasa Gian karena istrinya selalu saja membuat khawatir dalam setiap waktu.
"Maksudnya?"
"Tidak ada, kan memang seharusnya ... tidak percaya tanya saja sama Papa."
"Tapi aku nggak mau periksa sama Papa," tutur Radha menggeleng cepat.
"Kenapa?"
"Nggak mau, Papa sudah tua."
Gian membeliak, bisa-bisanya dia mengatakan Ardi tua. Walau itu fakta, namun rasanya sangat tidak sopan, pikir Gian.
"Kenapa? Aku salah? Emang bener Papa udah tua."
"Hm, terserah kamu saja."
"Papa sudah pulang, Kak?" tanya Radha yang tak terlalu peduli papanya sudah pulang atau belum.
"Yang tadi malam ke rumah kita siapa kalau bukan Papa? Jin?" Sungguh, selain aneh Radha juga pelupa bukan main ketika hamil, entah karena apa dia sampai benar-benar lupa.
__ADS_1
"Oh iya, lupa, Kak ... maklum hamil," tuturnya mencari alasan paling tepat, hamil yang mana bisa menyebabkan pikun, pikir Gian.
TBC