Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 141. Kehilangan (Lagi)


__ADS_3

Sedangkan di sudut kota yang lain, keluarga ini terlihat seakan baik-baik saja. Siapa yang menduga bahwa mereka adalah keluarga yang sama sekali tak utuh sejak lama. Perjalanan yang ia rencanakan hari, nyatanya baru terlaksana di siang hari.


Meski sebenarnya Randy ingin secepatnya pergi bersama Caterine, tapi melihat air mata Sheina mendadak hatinya terhenyak. Karena bagaimanapun, Sheina adalah ibunya.


Cukup sulit bagi Sheina jika harus dipisahkan dari putrinya itu, setelah dahulu ia pernah merasakan kehilangan calon bayinya saat kehamilan pertama yang membuat mereka terikat dalam sebuah pernikahan.


“Sudah cukup, Nak … kau masih bisa menemui putrimu, Sheina.” Dinata menenangkan putrinya, sakit sebenarnya menatap Sheina yang mengiba lewat matanya untuk meminta kedua orang itu untuk tak pergi.


Melihat keadaan putrinya sekacau ini, pria itu paham bagaimana sakitnya Randy dahulu. Dan kini, Caterine sudah beranjak dewasa, lagipula ia dan putrinya nyatanya lengah dan tak bisa melindungi Caterine dengan baik membuat Marthadinata yakin bahwa Randy memang adalah tempat terbaik untuk cucunya pulang.


“Mas, kalian bakal balik kan?” Pertanyaan itu spontan ia berikan sembari memegang ujung kemeja Randy, menatap mantan suaminya itu begitu lekat, karena memang dari lubuk hatinya ia berharap pria itu akan kembali membawa putrinya.


“Hm, jika Tuhan mengizinkan, aku akan datang menemuimu sesekali … kau tenang saja,” ucapnya memberi harap, hatinya terlalu mudah memang untuk luluh, sebisa apapun ia menapikkan air mata Sheina, tetap saja hati nuraninya tak bisa berbohong.


“Jaga Caterine ya, aku percaya kamu.”


Sheina mengalihkan pandangannya sekilas pada putrinya yang sudah berada di dalam mobil sejak tadi. Tampaknya memang Caterine setak nyaman itu berada di rumahnya sekarang, setelah sebelumnya sempat ia peluk erat putrinya itu, namun baru beberapa menit Sheina sudah merasa tersiksa.


“Jangan khawatir, aku akan melakukan segalanya untuk dia.” Randy berucap seraya menoleh singkat pada putrinya, ada sejuta kelegaan dan sedikit tak menyangka bahwa hari ini akan ia temukan.


Melepas kepergian putri tersayangnya, Sheina masih melambaikan tangan walau mobil itu telah menjauh. Ia kini beralih pada sang Papa, menghambur ke pelukan Martadinata dan tangisnya itu semakin pecah. 18 tahun hidup bersama Caterine, memeluknya sejak kecil dan kini ia harus rela berpisah lantaran kesalahannya sendiri.


“Maafkan Papa, Sheina … semua berawal dari Papa,” ucap Martadinata pilu, ia mengusap pundak putrinya begitu lembut, memberikan kekuatan agar anaknya ini tak sejatuh itu.


Sementara kini, di perjalanan Randy sesekali tersenyum menatap putrinya yang kini menatap nanar keluar jendela. Rambut panjangnya tergerai rapi dan Caterine yang meminta Randy menatanya. Beberapa kali ia menghela napas, Randy bahagia meskipun hatinya juga sehancur ini mengetahui fakta tentang putrinya.

__ADS_1


“Caterine, apa yang kau lihat, Sayang?”


Caterine secepat itu mengalihkan pandangan, suara lembut Randy membuatnya menoleh dan manatap wajah teduh sang Papa. Ia tersenyum tipis, Randy mengusap lembut puncak kepalanya, perjalanan yang mereka tempuh akan cukup melelahkan. Dan kini, Randy tengah mengajaknya untuk makan terlebih dahulu.


“Kenapa berhenti? Rumah Papa di sini?” Randy tersenyum tipis dengan ulah putrinya, sebegitu jauhkah hingga Caterine sebuta ini tentang Papanya. Tenyata benar dugaan Randy, meski komunikasi berusaha ia jalin baik dengan Sheina untuk memastikan putrinya, masih banyak hal yang Sheina rahasiakan.


“Bukan, Sayang … kita makan dulu ya, kamu lapar kan?”


Caterine hanya mengangguk, sebenarnya ia tak begitu lapar. Yang ia pikirkan hanya segera tiba di rumah barunya dan tidur dengan nyaman. Mungkin dengan cara itu ia bisa sejenak melupakan mimpi buruk yang menciptakan noda dalam hidupnya di kota itu.


Bagaikan tuan putri, Randy memperlakukan putrinya seperti seorang ratu. Ia membukakan pintu dan mengulurkan tangan untuk menggenggam erat jemari putrinya. Sebagai seorang yang sudah lama tak meraskan kasih sayang Papa sejak lama, Caterine jelas saja tersentuh, selama ini seseorang memang pernah memperlakukannya seperti ini, namun ternyata tak lebih baik dari sampah, pikir Caterine.


“Putri Papa mau makan apa?” Randy bertanya dengan suara lembutnya, merapikan beberapa helai rambut yang sedikit mengganggu di wajah putrinya.


Beberapa orang yang menyadari keberadaan mereka bahkan berpikir bahwa mereka sepasang kekasih karena memang Randy tak menunjukkan tanda-tanda penuaan. Belum lagi kulit dan tubuhnya yang terawatt semakin membuat seseorang tak percaya jika pria itu sudah hampir setengah abad.


Benar-benar duplikat Sheina, pikir Randy sejenak mengingat masa lalunya. Bagaimana cara Caterine dan wajahnya memang benar-benar terlihat seperti Sheina muda.


“Papa, masih lama ya?”


“Ehm, kita baru setengah perjalanan, mungkin 1 jam lagi, sabar ya.” Randy memperkirakan perjalanan yang akan ia tempuh sembari menatap pergelangan tangannya. Ia tentu tak bisa secepat ketika mendatangi kediaman Sheina, karena kini ia tak sendiri.


“Yaah, kenapa jauh sekali.” Ia mengeluh bukan karena tak terbiasa pergi jauh, melainkan ia tak sabar untuk segera tiba di rumah papanya.


“Sabar dong,” ujarnya menggeleng pelan, rengekan Caterine masih sama saja seperti ia kecil dahulu.

__ADS_1


Secepat itu waktu berlalu, hingga kini putrinya sebesar ini. Tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan bahkan terlihat sempurna, wajah blasteran yang diturunkan Sheina dan tubuh tinggi yang ia dapatkan dari Randy benar-benar membuatnya siapapun akan jatuh cinta pada pandangan pertama.


Namun sayang beribu kali sayang, Randy kini menatap sendu putrinya yang tengah menikmati makannya. Kenapa harus Caterine menerimanya, hal gila yang seharusnya tak pernah ia terima, namun bagi Randy, sejak mengangkat kaki dari rumah itu, maka sama halnya Caterine menutup kisah kelam itu dalam hidupnya.


Bersama Randy, putrinya itu akan menjalani hidup yang baru, dengan Caterine yang sama namun tidak dengan kelukaannya. Janji itu Randy ucap dalam diamnya, apapun dan bagaimanapun Caterine akan menjadi hal paling utama dan dia akan melakukan apapun untuk putrinya.


Dan tujuan utamanya adalah rumahnya, dengan meminta bantuan Jelita untuk meminta salah satu asisten rumah tangganya untuk menyiapkan kamar Caterine saat ini juga, ia mengirimkan pesan singkat dan Radha dengan cepat meresponnya.


Kak Jelitur


“Caterine pulang sama kamu? Demi apa, aku kangen banget sama dia, Ran.”


“Iya, semua demi kebaikannya.”


“Terus Sheina? Jangan bilang dia ikut kamu juga ya, Ran!!”


“Ck, dasar gila!! Kau pikir aku sekonyol itu?”


“Syukurlah kalau Mamanya nggak ikut.”


“Yaya terserah, jangan sampai lupa permintaanku, aku lupa kalau ART ku lagi pulang kampung, tolong Kakak urus ya.”


“Aman, aku akan urus semuanya.”


Randy menyimpan ponselnya, ia menarik sudut bibir mengetahui bagaimana respon Jelita mengenai putrinya. Sebegitu cintanya Jelita pada Caterine yang dahulu begitu cantik dan menjadi rebutan Gian dan Haidar jika Randy membawa putri kecilnya itu ke rumah Jelita.

__ADS_1


Semangat😇


__ADS_2