
Malam yang cukup kelam, drama gila yang tadi membuat Radha pucat nyatanya menjadi kesempatan emas bagi Gian. Pria itu hanya tersenyum tiada henti karena sang istri terus saja memeluknya dan meminta Gian berkali-kali membaca ayat kursi hingga tenggorokannya terasa kering.
“Ra, boleh minum dulu gak?”
“Enggg!! Nggak mau, minum di bawah kan?”
Radha enggan melepaskan Gian, tak peduli pria itu kini tampak kelelahan. Bukan hanya karena takut, tapi ia mengkhawatirkan Gian akan kenapa-napa nantinya. Pikirannya seburuk itu, karena baginya lebih baik berhati-hati daripada terluka kemudian hari.
“Telpon bi Asih aja, Kak.”
Gian terbahak, ketakutan istrinya berlebihan dan baginya ini luar biasa lucu. Wanita ini bahkan sampai berkeringat karena meminta peluk Gian dan selimut tebal membalut tubuh mereka. Gian hendak bernapas lega saja pun susah, ingin rasanya ia melepas piyama, karena memang panasnya luar biasa.
“Huft … Kakak habis napas, Ra.”
Pria itu membuka selimut dan mengambil napasnya dalam-dalam. Sejenak dingin dan kini Radha hanya menatap ke arah dada bidangnya saja. Benar kata Jelita, pacar Randy dulu penakut luar biasa, dan kini putrinya ikut jejak mamanya, pikir Gian.
“Kakak cepet masuk selimut lagi, Kakak nggak akan mati walau selimutan lebih dari tiga hari.”
Bisa saja istrinya menjawab, dan Gian enggan untuk mengikutinya lagi. Cukup sudah, satu jam lebih dia berada dibawah selimut tebal sembari membacakan ayat suci itu. Mendadak kamarnya menjadi Islami sekali.
“Sayang, udah ya … kan kamar kita baik-baik aja, lagian yang aneh Cuma di lantai satu, pasti itu karena Papa yang bawa sial.”
Bugh
“Aaakhh!! Sakit, Ra.”
Pukulan itu mendarat tepat di dadanya, ucapan asal Gian yang mengatakan bahwa Raka yang membawa sial benar-benar membuat Radha tak percaya. Bisa-bisanya seorang anak yang berbakti kepada bangsa dan negara ini mencaci papanya sendiri.
Hingga Gian benar-benar tak mampu menahannya, beruntung Asih bersedia mengantarkan air mineral untuk pasangan ini. Tentu saja Radha dan Gian banyak mau, harus yang dingin dan gelasnya juga harus pasangan.
Entah kenapa di saat terdesak semacam ini kedua orang itu masih saja berulah.
__ADS_1
Tidur, sudah terlalu larut dan tidak mungkin Gian memaksa meminta sunah kedua sedangkan Radha hanya memikirkan mistisnya lantai bawah. Ketakutannya mengalahkan gairah Gian untuk bercinta.
“Aku tidak mau tau, pokoknya besok Kakak buang benda sialan itu.”
Bahkan sudah terpejam, namun Radha masih membahas benda antik yang Gian dapatkan entah dari mana. Gian tak punya jawaban lain selain iya, perlahan ia memilih untuk mengelus pundak Radha perlahan, menidurkan bayi besarnya ini adalah tujuannya kini.
-
.
.
Salah satu yang Gian tak suka, hari senin. Kenapa hari itu harus ada, pikirnya. Setelah sebelumnya sempat menghabiskan waktu bersama Radha di akhir pekannya, kini pria itu harus kembali pada realita kehidupannya.
Rey telah menunggu di depan rumah, dan Jelita yang sejak sebelum sarapan meminta agar diizinkan mengantar Radha kesekolah terpaksa Gian iyakan. Kini ia harus rela kala istrinya berada di mobil berbeda bersama papa dan mamanya.
Mungkin Jelita butuh waktu bersama Radha, Gian tak mau memberikan batas terlalu berlebihan pada mamanya. Toh memang Jelita berhak, namun yang ta kia suka kini adalah berdua bersama Rey. Kedudukan pria ini yang menggantikan Adji membuat Gian tak nyaman sebenarnya.
“Reyhans, pertemuan bersama model iklannya kenapa kau tunda?” Gian mengerutkan dahi kala pertemuan yang ia nantikan itu justru berada di tangal berbeda.
“Mereka yang meminta untuk ditunda beberapa hari, Pak.”
Reyhans menjelaskan apa adanya, karena memang manager pria itu tak mengatakan dengan jelas apa alasan modelnya meminta jadwal itu ditunda.
“Batalkan saja, aku tidak suka orang yang tidak konsisten dengan ucapannya,” tutur Gian membuat Reyhans membeliak, pasalnya perjanjian ini melibatkan banyak pihak, dan jika Gian sembarangan membatalkan kerja sama jelas akan merugikan banyak pihak.
“Maaf, Pak … jika seperti itu saya tidak bisa melakukannya, karena pak Raka juga mem ….”
“Ssssttt … kau ini tidak punya pendirian, apa-apa selalu pak Raka, kau asisten siapa sebenarnya? Asistenku atau asisten Papa?”
“Saya asisten Bapak, tapi bapak bawahan pak Raka iya kan,” tutur Reyhans ambil aman, karena ia tak bisa menundukan Gian kecuali dengan membawa nama Raka.
__ADS_1
Gian menatapnya nyalang, karena memang pria itu kerap mengatasnamakan Raka dan membuatnya merasa tak berkuasa penuh, padahal memang iya tak terlalu berkuasa.
“Tutup mulutmu, aku potong gajimu baru tau rasa.”
Reyhans tak peduli, karena kalaupun Gian mengancamnya Raka akan tetap ambil tindakan. Pria itu takkan tinggal diam, pikirnya.
Memasuki loby perkantoran, tatapan para karyawan sudah terfokus pada dua pria tampan itu. Tajir melintir, dan beberapa dari mereka menjuluki Gian sebagai ATM berjalan. Keberadaannya yang diketahui sebagai pewaris satu-satunya keluarga Wijaya tetap menjadi polemik lantaran mulut ember yang mengatakan Gian bukan putra satu-satunya.
“Kau lihat? Betapa mereka mengagumi saya, Rey?”
“Iya, Pak. Saya paham,” ujar Reyhans memutar bola matanya malas, tanpa ia perjelas Reyhans juga tahu.
Ia berjalan mengiringi langkah Gian, tatapan kagum itu sebenarnya bukan untuk Gian seorang. Tapi pria itu tak terima jika sadar Reyhans juga cukup dikagumi semenjak menjadi asistennya. Terlalu asik menikmati perasaan bahwa dirinya dikagumi banya orang, Gian lupa bahwa kini lift yang ia naiki telah terbuka sejak tadi.
“Mohon maaf, Pak, apakah Bapak keram?”
Reyhans menyadarkan Gian yang sejak tadi hanya diam. Jelas saja ia bingung kenapa atasannya ini bengong dan sejak tadi tebar pesona dengan gaya yang sama. Begitu berubahnya Gian, seakan butuh pengakuan jika dirinya luar biasa tampan.
“Dirgantara Avgian, kau dengar aku?” tegur Reyhans sekali lagi dan sukses membuat lamunan Gian buyar, entah tengah membayangkan apa, hanya saja senyuman tipis itu sejak tadi tak henti ia ukirkan.
“Ck, bisa-bisanya kau memanggilku seperti itu.”
“Anda tuli, Pak … maaf.”
Ia membuang napas kasar, asistennya tak tanggung bahkan menyebut pendengaran Gian tak berfungsi dengan baik. Mukanya luar biasa kusut, dan ingin rasanya ia tendang sekarang juga pria itu.
“Kenapa kalian?! Berani menggunjingkan atasan?!”
Salah apa mereka? Hanya bergabung di lift yang sama dan membuat beberapa orang di sana menjadi sasaran empuk Gian. Sebagai pegawai yang memahami watak Gian, tidak ada perasaan tersinggung dalam benak mereka.
“Radha keren bisa kuat memiliki suami seperti dia,” tutur batin Reyhans menggeleng pelan.
__ADS_1
Bersambung🏺🏺