Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 253. Harmonis (Tapi Tak Sempurna)


__ADS_3

Kehadiran Randy sudah cukup membuat suasana rumah berbeda dari biasanya. Dan kini ditambah dengan kehadiran Maya dan juga Wira beserta kedua putrinya.


"Kebiasaan, dia kalau udah maksa kesini pasti ada yang tidak beres."


Randy berbisik pada Ardi yang kini tengah merasa tengah terjebak utnuk menyaksikan kebahagiaan ketiga pasangan di depannya. Kenapa juga dia mau memenuhi undangan makan malam yang tiba-tiba Jelita sampaikan padahal dirinya dalam keadaan yang tak begitu sehat.


"Hm, semakin terasa kita pria tak bertuan di sini," sahut Ardi meratapi kemalangan hidupnya.


Dua pria ini sama-sama merasakan kesepian yang sama, walau memiliki putri yang sudah cukup dewasa mereka tentu tak bisa berbohong jika ada ruang hati yang terasa kosong.


Terutama Ardi, pasca perceraiannya dari Dewi pria itu benar-benar tak membuka diri perihal pasangan. Meski Dewi berulang kali meminta untuk kembali, pun Celine yang juga meminta agar Ardi tetap menjadi papanya, ia tak menerima maaf sedikitpun.


"Mata suaminya mengerikan, mataku panas," ujar Randy mengalihkan pandangan, ia tampak menunduk namun bibirnya masih lancar membicarakan Wira.


"Hm, tidak ada lembutnya sama sekali pada kita, tapi kenapa pada Raka dia berbeda, apa kita kurang kaya ya?" tanya Ardi yang tak menyadari apa alasan Wira sangat tidak menyukai dirinya.


"Ck, kalau kau tidak seharusnya masih bertanya, bukankah sudah jelas itu karena masa lalumu yang pernah jadi suami tak tau diri beberapa tahun lalu?"


Sama sekali tidak disaring terlebih dahulu, Ardi menarik napas dalam-dalam. Ucapan Randy sempat membuatnya panas, namun sebisa mungkin ia mencoba menahannya.


"Dan kau pernah jadi mantan kekasihnya, pria bodoh yang tidak punya pendirian," cicit Ardi begitu kecil, bahkan mulutnya tak terlihat sedang bicara.


Bisik-bisik tetangga yang sangat merusak pemandangan, hubungan Raka dan Wira memang perlahan membaik bahkan sangat baik sejak beberapa bulan lalu.


Namun ia tetap menutup diri dari Ardi maupun Tandu karena merasa kedua makhluk itu hanya membuatnya kacau saja.


"Ehem, maaf aku izin ke pulang dulu, sudah malam ... putri saya di rumah sendirian," pamit Randy merasa tak tahan lagi berada di tempat ini.


Sontak Ardi yang sejak tadi menjadi teman bisik-bisiknya membulatkan bola matanya sempurna. Bisa-bisanya Randy meninggalkannya tiba-tiba padahal suasana sedang genting begini.


"Heh, mau kemana kau? Dasar curang," ucap Ardi begitu kecil sembari menginjak kaki Randy agar pria itu mengurungkan niatnya.


"Pulang? Hujan begini, emang nggak masalah, Ran?" tanya Jelita menatap heran Randy yang kini beranjak dari sofa.


"Enggak, udah mulai reda ... takutnya Caterine khawatir, Kak." Sakit di kakinya berusaha ia tahan, berharap mimik kesakitannya tak terlihat oleh beberapa orang di ruangan ini.


Ingin melarang namun tak bisa, karena memang alasan Randy sudah cukup kuat dan Jelita tak mungkin memaksanya untuk tetap berada di rumah ini.


"Kok cepet, Bang? Nggak nyaman ada kita ya?" tanya Maya tanpa diduga sebelumnya, sial!! Kenapa juga wanita ini harus bertanya, hal ini membuat hati Randy justru seakan tertahan untuk tak pulang dulu.


"Jangan sungkan, Randy, kita juga belum mengobrol lebih dekat, sesekali boleh dicoba sepertinya." Wira menimpali, namun bukannya berkeinginan untuk tetap berada di sini, Randy justru semakin yakin dengan keputusannya.

__ADS_1


"Ahahah tidak, lain kali saja, putriku tidak biasa sendirian," ujarnya lagi.


"Bisa aja, padahal kemaren Caterine ditinggal tiga hari ke luar kota, nggak nangis tuh dia."


Randy lupa bahwa di sini ada Gian, pemilik mulut tajam yang sesukanya bicara tanpa memikirkan bahwa ini adalah pertahanan yang tengah ia bangun, bisa-bisanya Gian hancurkan.


"Aku serius, Gian, Caterine memang tidak menangis di hadapanmu, tapi aslinya kan kau tidak tau," elak Randy mencoba menepis pernyataan Gian yang sebenarnya tidak salah salah sekali.


"Ya sudah, tidak apa-apa jika memang harus pulang, Randy, hati-hati." Beruntung Raka angkat bicara, jika tidak pernyataan Gian dapat membuatnya kembali terpenjara di tempat ini.


"Eh bentar, bawain makan malam untuk Caterine ... dia pasti suka," ucap Jelita kini berlalu ke dapur dan meminta Randy untuk menunggu sejenak.


Ardi hendak melakukan hal yang sama, namun Radha sudah mengetahui gelagat papanya lebih dulu. Dengan cepat dia menghampiri sang Papa sembari membawa Kalila bersamanya.


"Titip Kalila dulu, Pa, aku sakit perut."


Ardi menarik napas dalam-dalam, ingin berteriak namun sekerasnya. Namun wajah lucu cucunya sejenak membuat Ardi lagi-lagi tersihir, mata bulat begitupun dengan wajahnya seakan menjadi candu bagi Ardi saat ini.


"Papa jago gendong anak kecil ternyata," puji Gian sarkas dan membuat Randy yang masih menunggu kehadiran Jelita tak bisa menahan tawanya.


"Buahahah iya lah, dia juga pernah punya bayi, Gian."


"Ih ketawanya kenceng banget, untuk anak Gian nggak kagetan."


Jelita datang dengan kotak makanan yang sudah tentu isinya akan sangat cukup untuk dinikmati dia dan Caterine bersama-sama. Meski sudah makan malam, hal itu tak menjamin Randy kenyang.


"Maaf-maaf, besanmu lucu soalnya, Kak."


Jelita menatap pada Ardi yang kini hanya berusaha menghilangkan kegugupan dibalik candanya bersama Kalila.


"Sudah pulang sana, jangan ngebut, kasihan mobilnya kalau kenapa-kenapa," tutur Jelita serius, ia tak bercanda dan memang benar itu terucap begitu saja.


"Terima kasih perhatiannya," jawab Randy kesal.


Kepergian Randy tak mengubah suasana bagi mereka. Obrolan masih berlangsung seperti biasa, semua baik-baik saja dan bahkan mereka terlihat seperti keluarga besar yang sangat amat harmonis. Terkecuali Ardi, beruntung Kalila berada dalam pelukannya, jika tidak mungkin dia akan terlihat seperti anak hilang.


-


.


.

__ADS_1


.


Malam hari di kamar tidur, mereka sudah kembali. Pertemuan keluarga yang cukup membuat hubungan mereka bertambah hangat, Radha yang juga merindukan sang papa merasa bahagia meski terserat kesedihan kala Ardi lebih banyak diam ketika mereka berbicara.


"Hoam, ngantuk banget, Sayang ... udah ya," keluh Gian yang kini merasa ngantuk namun Kama dan Kalila belum menunjukkan tanda-tanda ingin tidur.


"Katanya mau puas-puas sama anaknya."


Radha hanya menarik sudut bibir, kedua buah hatinya sedang aktif-aktifnya. Dan Gian merasa lelah lahir batin kala Kama yang menangis begitu Gian menarik tangannya dari mulut Kama.


"Tapi nggak gini juga, Ra ... hampir tengah malam," ucap Gian, belum lagi Kalila yang masih sibuk menelusuri wajah Gian dengan jemarinya.


Mana mungkin Gian kuat, malam ini memang tubuhnya terasa lemah. Belum apa-apa, matanya sudah terpejam lebih dulu. Jika biasanya dia harus tidur setelah Radha terlelap, kini ia tak sekuat itu.


"Capek banget kayaknya, dia ngerjain apa aja hari ini."


Ketampanan Gian masih sama, terutama ketika pria itu tertidur. Radha tak bisa pungkiri jika Gian memang setampan itu di matanya.


Radha sabar menanti anaknya lelah sendiri, hingga satu persatu tidur. Jelas saja tidur, bisa dipastikan Kama dan Kalila sangat kenyang.


Setelah usai dengan Kama dan Kalila, Radha kini hendak membenarkan posisi tidur Gian yang sebelumnya asal menggeletak. Cukup berat namun akan ia usahakan posisi Gian kembali berubah tanpa membuat suaminya terbangun.


"Bismillah ... ya Tuhan berat juga." Radha menggigit bibir bawahnya, sudah berusaha berkali-kali namun tetap tak berhasil.


"Hmm, berat banget ya?"


Matanya masih terpejam, namun sudut bibirnya tertarik sempurna. Entah sejak kapan Gian sebenarnya sadar namun memilih menikmati usaha Radha untuk membuatnya berpindah posisi.


"Kenapa bangun?"


"Kebangun, kenapa harus usaha sendiri, kalau salah urat gimana?" Gian bertanya dengan suara serak khas ngantuknya.


"Mereka mana? Udah tidur?" tanya Gian masih dengan nyawa yang belum terkumpul sempurna.


"Udah," jawab Radha singkat dan kini ikut merebahkan tubuhnya.


Menarik Radha dalam pelukan, Gian ingin memberikan kenyamanan juga untuk istrinya.


"Tidurlah, kamu kurang tidur akhir-akhir ini," ucap Gian diiringi kecupan manis setelahnya, Gian sama sekali tak berubah, selalu ada hal yang membuat Radha jatuh cinta berkali-kali padanya.


__ADS_1


__ADS_2