
Dengan tergesa-gesa Gian melangkah, membanting pintu mobil dan tak lagi menunggu Rey yang kini mengelus dada. Ya, kembali lagi kesalahan berada pada dirinya. Pria tampan berlesung pipi ini hanya menarik napas dalam-dalam sebelum ia menyusul masuk ke dalam kantor.
Bahkan tas kerja bosnya itu masih tertinggal, benar-benar tak punya perasaan. Rey dengan sabar membawakan tas itu meski ia tahu bahwa nanti akan mendapatkan omelan lagi dari Gian. Benar kata Raka, jika bekerja pada pria itu selain mental dan fisik yang paling diperlukan ternyata sabar.
“Tidak masalah, Rey … pikirkan uangnya, bulan ini sebentar lagi berakhir.”
Kembali lagi, buah dari kesabarannya memang cukup besar. Cukup untuk memberikan fasilitas hidup dan masa depannya dengan baik. Jika saja gaji yang ia terima tak sebesar itu, sudah sejak lama dia beralih profesi menjadi guru ngaji. Agar sabarnya murni menjadi ibadah, pikirnya.
Dan benar saja dugaannya, wajah suram dan aura menakutkan itu tengah menunggunya di depan ruang rapat. Sudah tentu karena pria itu tak bisa masuk karena hal-hal yang akan ia bahas Rey lah yang memegangnya.
“Kenapa kau lambat sekali?”
“Kaki saya tidak sepanjang kaki Anda, Pak … dan saya tidak bisa begitu saja turun mengabaikan semua yang masih tertinggal di mobil.”
Jawaban lebih terdengar seperti sindiran, karena memang Gian berlalu sesukanya tanpa ingat bahwa percuma dirinya masuk hanya dengan membawa badan saja. Tak ada jawaban lagi dari Gian, mungkin memang ia merasa Rey benar kali ini.
Gian menarik napas dalam-dalam, karena segarang-garangnya ia tetap saja takut pada Raka, sang papa. Pria itu sejak tadi sudah menyiapkan mental untuk menghadapi kemarahan Raka, karena ketika di rumah papanya telah meminta untuk pergi bersama saja, sedangkan yang mengantarkan Radha cukup Rey saja.
Akan tetapi, dengan alasan ingin mengistimewakan istrinya di hari pertama masuk sekolah kembali setelah liburannya, Gian menolak mentah-mentah ajakan sang papa. Walau keadaannya begini, sudah tentu sama sekali ia tak menyalahkan Radha.
“Kau saja masuk duluan.”
“Kenapa harus saya? Bukankah biasanya saya selalu berada di belakang Anda, Pak?” tanya Rey menahan tawa dibalik wajah datarnya itu.
Untuk pertama kalinya, Gian kembali merasakan gugup seperti dahulu dia duduk di bangku SMP. Dorong-dorongan karena ia merasa dirinya sedang tidak aman. Namun tanpa ia duga, ketika Gian sedang bernego meminta Rey masuk duluan, asistennya itu membukakan pintu untuk Gian sembari menunduk dan membuatnya harus masuk duluan.
“Kurang ajar kau, Reyhans.”
Ia berucap pelan namun tetap harus terlihat baik-baik saja seakan tidak terjadi keributan di antara mereka. Di depan sana Raka sudah menunggunya dengan wajah datar dan tatapan begitu tajamnya, hatinya semakin berdegub tak tentu arah.
“Darimana saja Anda, Dirgantara?”
“Maaf, Pak … jalanan macet dan membuat perjalanan saya terhambat.”
Raka menghela napasnya kasar, pertanyaan itu sengaja dia lontarkan untuk memberikan Gian sedikit pelajaran hari ini. Menjelaskan bahwa tidak ada pembedaan meski dirinya adalah putra dari pemilik utama perusahaan ini.
Kekesalan lantaran putranya ini mendadak lelet dan tidak dispilin selama menikah membuat Raka hanya menggelengkan kepala. Dirinya dulu pernah merasakan apa Gian rasakan, tapi dia tidak segila ini. Dan karena keterlambatan Gian, rapat yang putranya pimpin itu terhambat 10 menit karena menunggunya.
“Baik rapat bisa kita mulai.”
__ADS_1
Ie menghela napas lega, beruntung ia tak Raka usir kali ini. Karena bila benar terjadi, hancur sudah reputasinya. Dalam kesempatan ini, ia harus kembali professional, beberapa hal yang tidak beres di perusahaan ini harus Gian tuntaskan.
Sejak dahulu masih saja sama, ada saja hal-hal semacam ini yang terjadi dan menyebabkan perusahaan rugi ratusan juta dalam beberapa hari saja. Jika terus di biarkan, besar kemungkinan hal ini akan menjadi masalah serius.
******
“Yang belakang, bisakah kau memperhatikan dengan benar? Apa yang kau lihat di luar sana?”
Suara guru biologi itu lebih menyeramkan dari bendahara kelas, Radha terperanjat kaget begitu Helena, teman sebangkunya menepuk pundak Radha,
“Kenapa?”
“Ck, siswi baru kamu ya?” Radha menghadap ke depan begitu mendengar pertanyaan guru yang ia ketahui bernama Mega itu.
“Iya, Bu … saya siswi baru.”
“Kamu mengerti apa yang Ibu ajarkan?” tanya Mega sembari membetulkaan kaca matanya.
“Eh enggak, Bu … saya rabun jauh, gak bisa baca yang ibu tulis.”
Dengan polosnya ia menjawab karena memang sejak tadi ia tak mengerti, belum lagi awan biru di luar sana lebih menarik bagi Radha. Beberapa siswa yang berada di kelas mengalihkan pandangan pada Radha, mereka seakan terpana karena dengan santainya berani menjawab pertanyaan guru yang di kenal menyeramkan itu.
“Iya, enggak bisa, tulisannya kekecilan itu, Bu.”
Mereka semua berbisik, namun karena status Radha yang anak baru dapat mereka pahami mungkin belum mengenali watak Mega sebagai salah satu guru yang mereka takuti.
“Perhatikan pelajaran, sekalipun kamu buta tapi hargai saya sebagai guru yang mengajar, mengerti.”
Radha menelan salivanya pahit, dimana-mana memang guru Biologi mengerikan. Salah satu alasan ia tak suka pelajaran ini ialah karena gurunya lebih mengerikan dari sulitnya ujian hidup.
Dengan rasa bosannya, ia masih berusaha memahami pelajaran yang tak ia suaki sama sekali itu. Jam pelajaran yang lebih panjang, dan tidak memiliki teman hingga saat ini membuat Radha terkadang merindukan sekolahnya yang lama.
Meski sempat terlibat perkelahian yang membuat namanya di kenal hingga adik kelas di tingkat pertama rasanya lebih baik daripada berada di sekolah elite namun dirinya tak bebas melakukan apa yang ia mau.
[ ……. Bel berbunyi]
Benar-benar bagaikan angin surga, mereka berlari keluar begitu bel itu berbunyi. Dan begitupun dengan Radha yang meski ia tak memiliki tujuan pasti, ia tetap keluar kelas.
“Lu ikut gue aja, gapunya temen kan?”
__ADS_1
Pertanyaan Helena terdengar sedikit aneh untuk seseorang yang baru kenal. Namun Radha yang tak terlalu peduli dengan hal itu mengangguk dan menjawab singkat pertanyaan itu.
“Punya, tapi gak disini.” Ia menjawab demikian dan membuat Helena tertawa renyah.
“Ya artinya gapunya, Radha … benerkan Radha?” Ia memastikan nama Radha yang sebelumnya hanya ia lihat di buku tulis Radha.
“Iya, Lu?”
“Helena, panggil aja Ele ya.”
Helena memperlihatkan senyumnya, sebagai murid yang tidak memiliki banyak teman di sekolah ini ia merasa senang bisa berkenalan dengan salah satu siswi yang ia tebak dari kelompok biasa-biasa saja.
Tanpa ia tahu siapa Radha, yang bahkan dari janin sudah kaya, lahir dari pasangan dokter dan kini menjadi menantu dari keluarga konglomerat dan suami tajir melintir tentu akan membuat Helena menganga jika mengetahuinya.
“Kalau Lena aja gimana?” tawar Radha merasa sedikit sulit jika harus menyebut Ele jika memanggil temannya.
“Ogah, nama bini kedua bokap gue itu, enak aja lu.”
“Hah? Kok bisa kebetulan sama namanya?” Radha mengerutkan dahi, dan memang semudah ini ia dekat jika lawan bicaranya menerimanya dengan baik.
“Iye, ternyata nama gue tu terinspirasi dari nama mantan bokap gue, pas gue gede mereka balikan, tau-tau udah nikah aja Papa gue ama tu kaleng sarden.”
Mendengar jawaban Helena, Radha sontak terbahak tak ingat tempat. Nyablaknya Helena benar-benar nyata, dan tampak jelas betapa bencinya teman barunya ini dengan nama itu. Keduanya berlalu dan tanpa sadar bahwa kecantikan Radha menjadi pusat perhatian ketika tiba di kantin sekolah.
Tbc
Yippi!! Radha ketemu temen baru, gue yang semangat buat ngetik.
🐻 : Thor, perasaan gue ama Radha kejer tayang mulu dah, capek juga nih kita.
🐼 : Sstt, lu diem aja, yang lebih capek itu gue, paham lu.
🐻 : Widih Vote lu dah mayan tuh, gak kek kemaren-kemaren, Ngenes!! Radha reduest Adegan dia sama gue banyakin panas-panasnya kata dia.
🐼 : Idih itumah maunya elu, apa-apa mintanya ke arah sono, lu mau gue bakar, Gi?
🐻Ya gagitu juga, gue cuma kasih saran biar yang baca kita kek nopel-nopel laen.
Gian : Makasih buat yang dah vote karya dia guys, pinggangnya sakit beneran, kemaren gue gebukin soalnya. Sering-sering komen, ni otor suka ga ketebak, biasanya kalau waras dia suka kasih jajan tiba-tiba. (Sedikit info)
__ADS_1