
Semua baik-baik saja, dan Gian memastikan sendiri dari Asih bahwa Radha tengah sibuk bermain bersama Hercules, sungguh Gian ingin marah pada Budi yang membuat Radha justru beralih hobi.
"Tolong jaga istriku, Bi ... aku tidak bisa pulang cepat, dan Mama juga harus menjaga Caterine," tutur Gian kemudian sebelum menutup sambungan teleponnya.
Sebenarnya Reyhans masih belum terlalu tenang, karena walau Gian meminta pembantunya untuk menjaga Radha, entah kenapa justru dirinya yang merasa tak ada yang beres.
Akan tetapi punya hak apa dia, Reyhans takut jika nanti apa yang ia sampaikan hanya akan membuat Gian merasa tak nyaman. Karena bagaimanapun salah paham antara Gian dan dirinya disebabkan karena Reyhans terlalu peduli pada wanita milik Gian saat itu.
"Jadwalku padat hari ini?"
"Iya, Pak, sangat padat."
Memang jadwal Gian luar biasa padatnya, hal ini dikarenakan banyaknya perusahaan lain yang membangun kerja sama bersamanya. Dan apapun yang kini ia terima harus Gian jalani dengan tanggung jawab sepenuhnya.
"Segera kita selesaikan, Reyhans ... kepalaku sangat pusing dengan semua ini."
Memang Gian sangat lelah, dan Reyhans tau itu. Karena di usianya dewasanya, yang menjadi tanggung jawab Gian bukan hanya pekerjaan, akan tetapi ada Radha yang juga tengah mengandung anaknya.
Dalam keadaan seperti ini, Reyhans hanya berharap semua akan baik-baik saja. Tidak ada hal yang perlu ia khawatirkan, dan kejadian-kejadian aneh itu jangan sampai terjadi pada Gian ataupun Radha.
-
.
.
.
"Eh, jangan di buka, Non ... Hercules terbang bisa nangis saya."
"Haha aman, Pak, kan aku pegangin."
Ketakutan tersendiri bagi Budi kala Nona mudanya ini bermain bersama peliharaannya, burung gagak kesayangannya ini ia beli dengan harga yang cukup mahal, dan butuh waktu lama untuknya dapat mengadopsi hewan itu.
"Hercules seneng main sama Nona, cantik katanya."
"Hercules laki-laki ya, Pak?" tanya Radha dengan manik polos dan indah yang kini membuat Budi merasa damai melihat senyum anak itu.
"Iya, Non, Hercules tu LAKIK!!"
"Wajar cakep," ujar Radha memuji peliharaan Budi, burung yang dipuji Budi yang salah tingkah.
Hampir satu jam, seakan Radha tak punya pekerjaan lain. Bermain dengan hal seseru ini benar-benar sejenak menghiburnya.
"Nona, ada surat untukmu."
__ADS_1
Kedatangan Aryo mengejutkan Radha yang kini tengah fokus dengan Hercules. Surat? Zaman sekarang masih surat-suratan, dasar aneh.
"Dari siapa, Pak?"
"Tidak ada nama pengirimnya, Non."
Radha meraihnya sedikit ragu, kertas merah muda paling mencurigakan yang pernah ia lihat. Radha terdiam sesaat, belum sama sekali berniat membacanya.
"Baca, Non, saya penasaran. Tuan muda romantis ternyata, satu kamar surat-suratan," ujar Budi menggoda Radha yang kini justru bingung, andai kata memang Gian, lantas dalam rangka apa pria itu melakukan hal manis semacam itu.
"Bukan urusan kamu, Budi, dasar tidak tahu aturan, sudah sana masukin burung jelekmu itu ke sangkarnya."
Budi mencebik, ucapan Aryo membuatnya kesal bukan main. Lebih tajam dari Gian, pikirnya. Ingin rasanya Budi memasukkan Aryo kedalam sangkar Hercules sekalian.
"Masuklah, Nona, tuan tidak mengizinkan anda terlalu dekat bersamanya."
Radha terkekeh, dua manusia ini tidak ingat umur atau bagaimana, nyatanya bukan hanya Jelita dan Gian yang setengah waras di sini, tapi juga para pekerjanya.
"Saya masuk dulu."
Radha berlalu, langkahnya sedikit lambat karena memang sembari memperhatikan surat itu. Ingin ia buka, tapi keraguan lebih besar dalam dirinya. Wanita itu menggigit bibirnya, ingin bertanya pada Gian tapi ia takut jika nanti hanya mengganggu waktu suaminya.
"Nanti aja lah, biar Kak Gian yang buka."
"Tapi Kak Gian pulangnya masih lama, apa aku minta anterin ke sana aja ya."
Beberapa kali ikut Gian ke kantor, kini Radha menjadi terbiasa dan memilih kantor sebagai tempat larinya. Karena bagaimanapun sendirian nyatanya membuat Radha kesepian.
Walaupun ada Asih yang terkadang tiba-tiba memijat seluruh tubuhnya tanpa diminta, dan Budi yang menghibur dengan segala kelucuannya tetap tak membuat Radha nyaman berada di rumah ini.
Seharusnya ia menemui Helena, tapi Radha merasa kesal lantaran dari kemarin sahabatnya itu sangat sulit dihibungi. Sungguh hal yang aneh bagi Radha.
-
.
.
.
Jauh dari keberadaan Radha, kini di sebuah kamar hotel pria tampan yang tengah bertelanjang dada hanya mengepalkan tangan begitu mendengar laporan orang suruhannya.
"Awasi terus, kemanapun dia pergi."
"Kau mau kemana? Kita baru bertemu, kau tidak merindukanku? Hm?"
__ADS_1
Wanita itu bergelayut manja di tubuhnya, sungguh mengganggu namun Juan butuh uangnya. Ia tak sekaya Gian, dan hanya dengan uluran tangan kekasihnya ini Juan bisa mengendalikan keadaan.
"Aku ada urusan, bukankah kita baru selesai melakukannya? Kau kurang puas atau bagaimana?"
Wanita itu mencebik, kesal namun ia tak bisa menahannya lebih lama. Bisa menikmati waktu berdua bersama Juan yang dengan sejuta alasan adalah hal yang sangat sulit ia dapatkan.
"Aku merindukanmu, aku stres dan butuh kamu, Juan, pahami aku sekali saja," pintanya dengan sedikit mengiba.
Ia sudah mengorbankan banyak hal untuk Juan, dan pria ini seakan tak punya waktu untuknya walau hanya sesaat saja. Entah apa yang sebenarnya Juan lakukan hingga perhatian itu tak ia dapatkan lagi.
"Maaf, Sayang ... tapi, aku sedang berusaha membangun bisnisku, dan itu untuk kita nantinya," tutur Juan manis sekali, ucapan yang benar-benar mampu membuat siapapun merasa hangat jika mendengarnya.
"Untuk kita?"
"Hm, untuk kita, lalu untuk siapa lagi?"
Terkadang kalimat-kalimat seperti ini yang menjadi senjata buaya rawa untuk menundukkan mangsanya. Sungguh bodoh dan ia percaya dengan bualan manis yang tiada habisnya.
"Tapi, sepertinya modalnya masih kurang, Sayang. Kau tau kan, jika memulai dari 0 akan sangat sulit berkembang, dan aku butuh modal tambahan segera."
Drama kembali dimulai, Juan menepikan rambut kekasihnya, memang cantik dan juga sangatlah bodoh, penurut dan rela memberikan segalanya untuk Juan tanpa pikir panjang.
"Maaf, Sayang ... aku tidak mungkin menguras rekening Papa, karena ulahku mulai ketahuan," tuturnya sedikit menyesal tak mampu memberikan apa-apa kali ini.
Karena mau memaksa juga percuma, ia tak memiliki kesempatan yang sama seperti sebelumnya. Ia tak sebebas dulu dan segalanya terbatas, bahkan papanya seakan tak peduli lagi.
"Ayolah, Sayang ... ini demi kita, masa depan kita, dan juga bukankah kau ingin menunjukkan pada orang tuamu kalau mampu berdiri sendiri dan lepas dari mereka?"
Seribu cara Juan lakukan, demi membalaskan segala dendam ia rela merogoh kocek dalam-dalam. dari mana pun asalnya, uang itu harus ada. Rencana yang telah ia susun harus berhasil dan membuat Gian hancur perlahan, jika bukan melalui perusahaan maka Radha adalah umpan terbaik bagi Juan.
"Kalungmu, bisa kau jual kan?"
Sungguh tajam penglihatan Juan, kalung yang berada di leher wanitanya ini adalah salah satu yang bisa ia manfaatkan, pikirnya.
🌻 Bersambung
Yang belum favorit, mohon pencet love nya ya, terima kasih ❣️
Tebak-tebakan 😎 Saha etah.
Ya Allah jujur capek ngetik karena auto-correct, ngetik satu kata bahkan bisa berkali-kali. Mau nangis banget ya Allah, dan ini sudah aku atur tetap gabisa!!
Nangis karena sedih : No
Nangis karena auto-correct : Iyes.
__ADS_1