
"Hujan," ujar Radha dalam senyumnya, matanya menatap nanar jalanan hampa. Rintik hujan di luar tampak indah dimatanya, ia begitu menyukainya, walau pelangi bukan menjadi alasannya.
"Kau suka?"
"Hem, sangat suka."
Radha berbalik, menatap lekat Gian yang tengah fokus dengan kemudinya. Sedikit bingung kenapa Gian bisa mendengarnya, padahal ia mengucapkannya begitu kecil.
"Sama," ujar Gian kemudian, pria itu tak mengalihkan pandangannya. Namun tetap saja yang ia pikirkan tak hanya itu, melainkan juga terfokus pada sang Istri.
Menikmati perjalanan pulang, Gian tak dapat melupakan tragedi unik beberapa saat lalu. Perang batin yang memang cukup panas, Radha membuat Gian tak dapat berkata-kata. Teriakan Laura yang cukup menggemparkan satu meja memang benar ulah istrinya.
"Ehm, Ra ... boleh Kakak tanya?"
"Apa, Kak?"
"Laura, apa yang kau lakukan padanya, Ra?"
Jika sebelumnya Gian tak dapat menuntut penjelasan Radha lantaran Erick menutup rapat mulut Laura dengan telapak tangannya. Ia paham istri Gian perlu di jaga reputasinya, dan jika keduanya di biarkan bertengkar maka citra Gian akan rusak tentu saja.
"Kenapa Kakak tanya sekarang?" Raut wajahnya berubah seketika, cantiknya tetap tak luntur, namun begitu jelas kekesalan Radha mengingat apa yang di ucapkan wanita itu padanya.
"Hm, salah ya?" Gian semakin melemahkan suaranya, berharap Radha tak akan meledak seperti sebelumnya.
"Tidak juga, tapi bingung saja kenapa baru sekarang Kakak tanya."
Serba salah, memang berhadapan dengan wanita yang tengah di selimuti emosi adalah hal paling membahayakan. Tapi jika tidak, akan selamanya hal itu menjadi tanya. Karena Gian tak mungkin bertanya pada Laura yang tentu akan memberikan jawaban yang takkan mungkin Gian percaya.
"Kau harus mengerti, Ra, semarah apapun jangan seperti tadi ya, Sayang."
Ia hanya berusaha memberikan pengertian, pasalnya meski keributan mereka tak terlalu jelas beberapa orang di sana tetap menjadikan Laura dan Radha sebagai pusat perhatian. Belum lagi teman wanitanya itu sampai meringis memperlihatkan betapa sakitnya, namun Gian tak mengerti apa yang Radha lakukan terhadap sahabatnya itu.
"Mengerti apa? Dia yang memulai, aku hanya meresponnya sedikit."
Radha geram tentu saja, pantang baginya di tindas. Dan itu yang Laura coba lakukan. Dengan sengaja Laura mengikutinya ke toilet hanya untuk menyampaikan hal yang menyakitkan hati Radha.
Tak puas dengan hal itu, ketika kembali ke meja, Laura tak melepaskannya dari pandangan sengit seakan menakutinya dengan tajamnya manik mata. Dia bukan lagi balita yang akan takut dengan ancaman yang Laura berikan lewat matanya.
__ADS_1
Hingga ketika ia tak bisa menahan lagi emosi yang membludak di benaknya. Dengan mengumpulkan niatnya, Radha menendang tulang kering Laura yang ternyata tepat sasaran.
Bagaimana sakitnya, tentu dapat di jelaskan dengan teriakan tertahan dari wanita itu. Dan dengan wajah datar namun begitu puas, Radha sungguh tak menyangka bahwa kakinya benar-benar tepat sasaran.
Tak sia-sia ia menerima sepatu yang Jelita pilihkan, kekuatannya cukup untuk membuat memar di kaki mulus Laura. Entah besok atau lusa, tentu saja akan lebam membiru, pikirnya tanpa dosa.
"Zura, kau belum menjawab pertanyaan Kakak," ujar Gian menyadarkan wanitanya yang tengah tenggelam dalam bayangan, entah apa yang ia pikirkan hanya Radha lah yang mengerti.
"Aku hanya berniat memberinya sedikit pelajaran, tapi ternyata sepatu yang Mama berikan lebih keras dari batu ... hahah, mungkin tulang keringnya hampir retak," ujar Radha disertai tawa renyahnya.
Gian membeliak, Radha memperagakan ia tengah menendang sesuatu. Dan bisa di pastikan penjelasannya itu mengungkapkan apa yang Radha lakukan padanya.
"Hah? Kau tidak bercanda kan, Sayang?" Gian memastikan, berharap jika wanitanya tak menyakiti wanita lain dengan cara sekasar itu.
"He'em, untuk apa aku mengarang?"
"Jadi wajar Laura berteriak seperti tadi," tutur Gian mengangguk paham, sempat berpikir bahwa sahabatnya itu mencari perhatian, namun setelah mendengar penjelasan Radha memang benar adanya wanita itu tersiksa akibat ulah istrinya.
"Entahlah, aku juga tak menyangka kalau teriakannya akan sekeras itu."
Suasana yang sebelumnya hening, terasa hangat seketika kala tawa puas Radha mendominasi. Jika Gian perhatikan, di usianya sekarang istrinya tidak memiliki ketakutan pada siapapun.
*********
Pulang, rumah yang menjadi tempat ternyaman. Saat ini, suasana di tempat ini memang terasa hidup. Lengkap, dan Jelita pernah menginginkan hal ini. Hanya saja, suasana hati yang kini terjadi tak seperti yang seharusnya. Ada luka, dan ia tak dapat menemukan obatnya.
Haidar bahkan tak tidur sebelum Gian dan Radha kembali, ia hanya menatap kosong. Tanpa senyum, dan bahkan Haidar membiarkan perutnya kosong sejak tadi. Makanan yang Layla siapkan tak tersentuh sedikitpun, sungguh Haidar merasa hilang separuhnya.
"Haidar, kau belum makan juga?"
"Hm, aku tidak lapar, Ma."
Meski tanpa melihat, Haidar tetap sadar akan kehadiran Jelita. Hampa, wanita itu hancur putranya berhias luka. Ia menghela napas perlahan, menarik sudut bibir paksa dan melangkah mendekati putranya.
"Kau bisa masuk angin, Haidar."
Entah apa yang putranya harapkan hingga dengan sengaja membuka jendela kamar, seakan tak puas memandang rintiknya dari balik kaca.
__ADS_1
Tak memberikan jawaban, ia juga tak mengucapkan apa-apa ketika Jelita menutup jendela itu. Ia hanya ingin merasakan damainya rintik hujan berselimut angin malam, Haidar tak menginginkan hal sebesar itu lagi.
Hujan, hal yang menjadi titik kenangan. Manakala ia menyapa, makan senyum gadis itu kembali terbayang di benaknya. Cinta pertama, dan dahulu ia yakinkan sebagai yang terakhir menyukai hal yang sama.
"Ma ...."
"Ada apa, Haidar?"
"Kak Gian belum pulang?" tanya Haidar begitu polos menatap manik Jelita, tatapan itu begitu sayu dan Jelita sesakit itu membelai lembut rambut putranya yang mulai panjang.
"Belum, Sayang, mungkin sebentar lagi."
Haidar tak menjawab, ia hanya tersenyum kecil. Ia bertanya prihal Gian, karena ia hanya mengkhawatirkan prihal Radha. Karena yang ia tahu, wanita itu akan berinteraksi secara langsung dengan rintiknya, meski ia tak berhak sedalam itu lagi. Kekhawatiran akan dinginnya Radha tetap menghantui.
"Temani aku sebentar ya, Ma. A-aku, aku kesepian."
Sebuah kalimat yang sedari dahulu ingin Haidar ucapkan, dan kini seakan makin sempurna. Senyumnya, pergi dan memilih tak menjadi haknya lagi. Haidar punya cinta seluas itu, namun ia kehilangan pemiliknya.
"Iya, Mama di sini, untuk kamu."
Bersusah payah ia tahan, kristal bening itu tak mampu ia bendung. Dalam pelukan sang Mama, Haidar melepaskan tangisnya. Tak berbeda, melihat putranya bergetar, Jelita hanya mampu mengeratkan peluknya.
Memang ia rindu, memeluk Haidar dengan sayangnya. Tapi, tak pernah ia harapkan pelukan tangis seperti yang kini putranya rasakan. Perlakuan hangat yang keduanya sama-sama rindukan, Jelita ingin bersama putranya lebih lama.
Jika ia lepaskan, dan Haidar kembali pada kehidupan sebelumnya, Jelita takut putranya akan lebih parah dari ini. Sudah ia bicarakan pada Raka, namun kali ini Raka tak ingin membuat Haidar terjebak dalam luka akibat ulahnya lagi.
Keputusan ada di tangan putranya, Raka hanya mampu mendukung apa yang ia pilih nanti. Meski demikian, Raka telah menyiapkan masa depan Gian jika putra bungsunya memilih untuk tetap berada di sisi sang Mama.
Ketukan pintu kamar terdengar berkali-kali, Jelita hendak meninggalkan putranya dan melepas sejenak peluk hangat itu. Namun, Haidar menggeleng cepat seakan enggan ia tinggalkan walau sesaat.
"Haidar aku masuk ya."
Suara itu terdengar jelas, Haidar enggan membuka menanggapinya. Bahkan ia tak membiarkan Jelita untuk membuka pintunya.
"Mama, tetap di sini."
Tak dapat bertindak banyak, Jelita hanya berusaha memberikan ketenangan. Paham betul bahwa putranya kini tak ingin di ganggu, ia tengah berusaha berjalan di atas titian lukanya.
__ADS_1
......... Bersambung❣️