Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 167. Tak Terduga Lagi


__ADS_3

“Hanya itu? Kinerja kalian semakin lemah, apa yang sebenarnya kalian pikirkan hah?!!”


Ya, entah karena Raka yang kini kadang diam dengan bawahannya yang mulai main api hingga membuat mereka semakin berani. Dan Gian, tentu takkan diam. Sudah jadi kekhawatira Reyhans sebelumnya, atasannya ini takkan mampu menahan emosi.


Masalah seperti ini tak kunjung usai, Gian telah meminta Raka untuk menendang jauh para pihak yang menjadi benalu di perusahaan. Namun dengan alasan jasa mereka ketika muda membuat Raka menunda dengan harapan mereka dapat kembali baik-baik.


“Tuntaskan, Rey … keberadaan mereka hanya membuat Papa sakit.”


Meninggalkan ruangan rapat dengan langkah panjang, setelah membuat para petinggi itu ketar ketir karena mulut pedasnya. Tak peduli yang ia hadapi adalah orang-orang yang lebih tua dari sang papa, bagi Gian apa yang mereka lakukan sama saja dengan merendahkan harga diri papanya.


“Baik, lalu bagaimana jika pak Raka menentang?” tanya Reyhans serius karena dalam hal ini Raka dan Gian masih agak bertentangan.


“Pecat juga Papa sekalian.”


Reyhans membeliak, bola matanya membulat sempurna. Tak habis pikir kenapa bisa Gian berucap demikian. Jika ada penghargaan paling tidak sopan, mungkin Gian bisa masuk salah satu nominasinya.


“Ck kenapa memangnya? Kau mau juga aku pecat?”


Pria itu bahkan menghentikan langkah karena sadar kini Reyhans menatapnya aneh. Mungkin hati Reyhans tengah dipenuhi umpatan.


“T-tidak, Pak … maafkan saya.”


Reyhans membuang napasnya kasar, “Sekalian pecat saja seluruhnya, biar kau sendiri di kantor ini,” tutur batin Reyhans namun tetap mencoba bersabar dengan kelakuan pangeran keluarga Wijaya ini.


“Oh iya, aku tidak ingin ditemui siapapun setelah ini, bilang saja aku sakit, mengerti?”


Lagi lagi Gian membuat alasan yang luar biasa masuk akal untuk menghindari para tamunya. Reyhans hanya mengangguk patuh, ia lupa bahwa di dalam ruangannya ada bidadari hingga membuat jaka tarub ini enggan berhubungan dengan makhluk lain.


“Iya, Pak.”


Masuknya Gian ke ruangannya adalah hal baik bagi Reyhans, setidaknya dia tak akan menghadapi pria ini untuk beberapa jam kemudian. Rasanya lebih baik ia berhadapan dengan tumpukan pekerjaan dibandingkan dengan Gian sendiri.


-


.


.

__ADS_1


“Hm? Tidur?”


Gian melangkah perlahan, istrinya itu kini tampak terlelap dengan posisinya yang masih duduk manis. Memang janji Gian tak setepat itu, ia menjanjikan 30 menit, namun nyatanya rapat itu berlangsung lebih lama.


“Ra,” panggil Gian pelan dan menyentuh wajah imutnya, mulut Radha yang terbuka membuanya gemas seketika.


“Kartun?”


Pada nyatanya, Radha memang masih memiliki hobi layaknya anak-anak. Gian begitu hati-hati ketika menghentikan kartun alam bawah laut itu. Masih cukup siang, ia berniat mengajak istrinya membeli gaun untuk menghadiri pesta sahabatnya malan nanti. Namun, lelapnya Radha membuat Gian tak yakin dengan rencananya.


“Nyenyak banget tidurnya, apa semalam tidurmu kurang, Ra?”


Gian berucap dalam diamnya, memandangi inci demi inci wajah cantik istrinya. Teduh seakan menjadi pengobat diantara seluruh amarahnya. Cukup lama ia terdiam, Gian bahkan tak beralih posisi dan tetap memandangi wajah cantik itu.


Tak tega melihat istrinya tidur dengan posisi duduk, Gian berniat memindahkannya ke sofa untuk sementara. Baru juga menyentuh bahunya, matanya terbuka pelan. Radha tak berucap, sama sekali. Hal yang menjadi kebiasaan Radha dan membuat Gian ketar-ketir, dan ini kerap sekali terjadi.


“Ra? Kamu masih tidur apa kenapa?”


Senyum itu terukir pelan, penakut atau bagaimana hingga wajah Gian kerap pucat jika menghadapinya yang terkadang butuh waktu cukup lama demi menyesuaikan diri dimana ia berada.


“Jangan kebiasaan, Ra … aku takut kamu begitu.”


Ingin Radha terbahak, hanya karena kebiasaan lamanya itu Gian bahkan takut. Ia beranjak bangun dan meregangkan ototnya. Gian masih diam dan menatap lekat apapun yang kini istrinya lakukan.


“Lama juga ya aku tidurnya, Kakak kok lama sih?” Bukannya menjawab pernyataan Gian, Radha justru bertanya hal itu dengan santainya.


“Hm, banyak yang perlu dibahas.”


Gian menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya, diikuti Radha yang kini mengekor di belakangnya. Masih saja menguap berkali-kali hingga matanya sedikit berair.


“Kakak ganggu tidurnya ya? Tidur lagi sana,” tutur Gian merasa bersalah lantaran tidur istrinya itu tak senyaman biasanya.


“Enggak kok, aku nunggu Kakak makanya ketiduran.” Tak dapat dipungkiri, pernyataan bahwa Radha memang menunggunya membuat Gian berbunga-bunga.


******


“Tumben ngajak aku ke sini,” tutur Radha menyadari dimana kini dirinya berada, susah payah ia bertanya kemana Gian akan mengajaknya pergi sebelumnya.

__ADS_1


“Nanti malam temani Kakak, Erick tunangan … jadi kita beli baju dulu ya buat kamu.”


Erick? Siapa manusia itu. Radha tak terlalu ingin tahu kehidupan pertemanan Gian hingga meski pernikahan mereka sudah berjalan beberapa bulan, ia belum mengenali teman-teman Gian. Namun yang jelas, Radha memiliki ketakutan sendiri karena di awal pernikahan, Radha sempat terjebak dalam situasi tak nyaman ketika ikut Gian mendatangi kediaman Laura.


“Hm, terserah Kakak saja,” tutur Radha tak bersemangat sama sekali, karena baginya berhubungan dengan beberapa orang dewasa yang seumuran Gian adalah hal yang paling tak ia suka.


“Kamu kenapa? Sakit?” tanya Gian kini mengeratkan genggamannya, langkah istrinya yang kian pelan membuat Gian sedikit heran.


“Bukan, capek aja dikit.” Hanya senyum tipis terukir di sana, entahlah kenapa perasaannya mendadak tak nyaman.


“Maaf ya,” ucap Gian menyentuh dagu Radha dengan usilnya.


Sebagai wanita yang tak banyak mau, Radha menyerahkan pilihan terbaik pada Gian. Karena baginya, Gian lebih paham dirinya melebihi dia sendiri.


Sejak memasuki tempat itu, mata Gian tertuju pada gaun coklat muda yang ia rasa pilihan paling pas untuk istrinya kenakan malam nanti. Gaun sederhana namun mewah benar-benar menggambarkan diri Radha di mata Gian.


“Saya mau yang ini.”


Dalam waktu yang sama, seorang wanita cantik yang ternyata memiliki selera yang sama dengan Gian tiba-tiba datang dan mengutarakan keinginanya. Kehadiran wanita itu membuat suasana kini membeku, gerakannya terhenti dan Radha sempat menatap mata indahnya.


“Buat kamu saja, saya cari yang lain.”


Belum apa-apa, wanita itu justru mengalah dan mengulas senyum hangat pada Gian. Matanya tertuju pada Radha yang kini hanya menunduk dan menggenggam jemari Gian kian erat.


Gian masih terdiam, ia beralih pada sang Istri yang kini tampak tak nyaman. Dapat Gian rasakan ketika Radha melangkah agar semakin dekat padanya.


“Tidak apa-apa, saya akan mencarikan yang lain untuknya,” tutur Gian luar biasa sopan.


Yang menjadi permasalahan adalah gaun itu hanya ada satu, dan memang harganya setinggi langit.


Jika yang menginginkan gaun itu adalah orang lain yang tak ia kenal, maka Gian akan melakukan cara apapun agar gaun itu menjadi milik istrinya, namun kali ini berbeda.


“Saya saja cari yang lain, Radha cantik dengan gaun itu.” Sebuah kalimat yang membuat mata Radha membasah setelah mendengarnya, hatinya terhenyak, segala ucapan kini hanya tercekat di tenggorkannya.


Babay🤗


Besok lagi ya gengs, see you. Btw besok senin! tau lah yaaa ewkwk.

__ADS_1


__ADS_2