
Gian melirik pergelangan tangan kirinya, ia berdecak lantaran Radha belum juga turun. Entah apa yang Jelita lakukan terhadap istrinya hingga pria itu tak boleh untuk tetap berada di sana.
Dengan balutan kemeja hitam yang begitu pas di badannya, Gian terlihat begitu tampan. Masih setia menanti sang Istri, pria itu bahkan sudah siap sejak 1 jam yang lalu. Sungguh, ia bahkan telah kehabisan cara untuk menghilangkan bosan dalam hal menunggu Radha.
"Ck, kenapa dia selama ini?"
Masih berusaha mengalihkan pikiran, Gian membalas pesan rekan kerjanya yang sejak tadi mendesak ia segera datang. Makan malam dengan rekan bisnisnya kali ini begitu berbeda.
Dan tentu Radha alasannya, pria itu berniat membawa bidadari kebanggaannya di depan orang-orang berpengaruh itu. Perasaannya begitu gugup malam ini, seakan tak percaya bahwa dirinya telah memiliki seorang pendamping.
"Gian!! Lihat istrimu, Sayang ... Haaa Mama memang pintar bukan?"
Gian menoleh, dan dari depannya tampak wanita cantik bak peri kecil meniti anak tangga bersama sang Mama. Ia terlihat malu dan menyembunyikan wajahnya, sungguh kecantikan Radha malam ini seakan mengubah dunianya.
"Ra?"
Matanya tak berkedip, bahkan untuk mengucapkan kalimat itu Gian terasa sulit. Ia terpukau, manakala Radha tersenyum ia semakin terbuai suasana.
"Bagaimana hasil karya Mama? Cantik kan?" tanya Jelita berharap Gian akan memuji hasil jerih payah tangannya selama satu jam full untuk Radha.
"Istriku memang sudah cantik sejak lama, Mama."
Gian mengulurkan tangannya, meminta agar Radha mendekat dan meraih jemarinya. Entah, mengapa ia sebahagia ini, menatap senyum malu-malu Radha, pria itu salah tingkah.
"Kau sudah siap?"
"Hm, siap, Kak."
Radha mengangguk, ia tersenyum dan balik menggenggam jemari Gian. Melangkah ke samping Gian sebelum mereka benar-benar meminta izin pada sang Mama.
"Aku pergi dulu ya, Ma ... izin bawa menantunya ya."
"Ehm, hati-hati ya, Sayang, dan ingat! Jangan pulang terlalu larut, istrimu bisa kelelahan."
Begitulah cara pamit yang paling Jelita sukai, wanita cantik itu akan lebih luluh jika Gian pamit dengan kalimat khususnya itu.
Keduanya melangkah pergi, meninggalkan Jelita. Dan tanpa mereka sadari, sepasang mata sendu tengah menatap kepergian mereka dari jendela kamar. Ia berusaha meraih bahagianya namun terhalang dinding kaca, Haidar menghela napas berat.
"Jaga dia jika memang kau malaikat yang Radha pilih, Kak."
__ADS_1
Tak ada kata lain, selain sakit yang ia rasa. Mungkin benar, keputusan yang pikirkan beberapa hari lalu adalah pilihan paling tepat. Dan dengan tiadanya ia, maka tidak akan ada luka dan bimbang yang menjadi dilema, batin Haidar begitu mantap.
********
"Wah? Kak, kita tidak salah kan?"
Gian tertawa sumbang, reaksi istrinya terlalu berlebihan. Memang ia sengaja tak memberitahukan kemana sebenarnya mereka. Karena jika Gian katakan, ia takut Radha akan tertekan sebelum pergi.
"Tidak, Sayang, ayo teruskan langkahmu."
Radha mengangguk, tempat ini terlalu berlebihan jika mereka hanya makan berdua, pikir Radha. Setiap langkahnya, Radha tengah bertanya-tanya. Untung saja ia tak menolak kala Jelita menyiapkan segala sesuatu untuknya malam ini, pikir wanita itu.
Meski sudah beberapa hari yang lalu dari tragedi kamar mandinya, Gian tetap sekhawatir itu prihal kaki istrinya. Walau berkali-kali Radha menegaskan bahwa tak ada lagi rasa sakit, namun pria itu masih saja sama.
"Kakak, kenapa ramai sekali?"
"Tenang, Ra, mereka tidak akan menggigitmu."
"Ays!! Bukan itu masalahnya, Kak, jantungku senam tiba-tiba."
Radha panik kala ia menyadari meja yang mereka tuju begitu ramai, lengkap dengan pasangan masing-masing. Sebelum benar-benar tiba, Radha menempelkan punggung tangan Gian di dadanya, menegaskan bahwa lelakinya harus benar-benar percaya.
"Hahah ... iya, tenang ya, Sayang. Ingat apa yang Mama katakan?"
"Apapun di depanmu, jangan menunduk!! Begitu kan?"
"Yes!! That's right." Gian kembali membimbing sang Istri neneruskan langkah.
Pembicaraan yang hanya mereka dapat dengar, Radha berusaha sebaik mungkin agar Gian tak malu membawanya. Karena jika ia lihat dari segi penampilan tampaknya mereka adalah kalangan menengah ke atas.
Kedatangan Gian seketika menjadi pusat perhatian, bukan hanya karena ketampanannya. Melainkan sosok wanita cantik yang begitu terlihat muda di sisinya, Radhania benar-benar membuat mereka terpukau sejenak.
"Ini dia yang kita tunggu, 30 menit hanya untuk menantimu, Dirgantara Avgian."
Erick, pria matang yang merupakan sahabat karib Gian memang kerap menyapa dengan kalimat spontan tanpa pikir panjang. Memang makan malam kali ini tidak ada kaitannya dengan pekerjaan mereka, hanya makan malam biasa namun tetap saja Gian sebisa mungkin berinteraksi sesuai porsinya.
"Maaf, saya terjebak macet, Pak."
Bukannya menjawab sapaan Erick, pria itu meminta maaf kepada beberapa orang di sana. Bahkan ada di antara mereka yang seumuran dengan Raka, jelas ia harus mengedepankan sopannya.
__ADS_1
Kesalahan yang tak terlalu fatal, toh mereka juga sedikit telat dari perkiraan. Erick saja yang terlalu patuh pada janji yang ia ciptakan.
"Tidak masalah, Pak. Terima kasih Anda bersedia untuk bergabung bersama kami," ucap salah satu pria dengan senyum kekaguman di hadapan Gian.
Terlihat tenang, namun percayalah Radha bahkan hampir membeku duduk di antara orang-orang itu. Kecantikannya memang begitu menonjol lantaran para pendamping pria di sana tampak lebih dewasa di bandingkan dirinya.
Pujian yang menyerbunya hanya mampu Radha tanggapi dengan senyuman, dengan bangganya Gian mengatakan bahwa memang istrinya. Walau di mata mereka memang Radha sudah di kenal sebagai menantu Raka, namun beberapa dari mereka belum mengetahui fakta itu.
"Oh jadi Anda sudah menikah, Pak?" tanya Abraham, salah satu rekan bisnis Erick yang meminta untuk di izinkan masuk ke lingkungan mereka.
"Hm, beberapa waktu lalu aku memutuskan untuk menikahinya," ujar Gian menatap Radha sekilas, dan tentu saja pasangan ini seketika menjadi bahasan menarik.
"Tapi, dia terlihat sangat muda, Nak Gian, jika saya boleh tahu, berapa umurnya?" Pertanyaan paling mengusik Gian, seseorang yang Gian kenal sebagai salah satu rekan bisnis terbaik Papanya itu tampak bingung melihat Radha yang bahkan seumuran dengan putranya.
"23, Pak ... tapi memang wajahnya terlihat 17 tahunan."
Menangkap Gian terdiam sesaat, Erick mengambil peran. Ia paham posisi Gian, dan ia tak mau Gian tertimpa masalah. Karena biasanya pria itu akan mengatakan sejujurnya ketika ia berbicara dengan orang yang menurutnya pantas.
"23 semuda ini? Saya kira dia seumuran putraku, dia sangat cantik, beruntungnya kau."
Pria itu tersenyum hangat, menatap lekat wajah Radha yang teramat familiar di pandangannya. Entah dimana, namun sungguh ia merasa mengenal bidadari yang Gian perkenalkan ini.
Sepanjang acara makan malam berlangsung, Radha terlihat tetap tenang. Sedang beberapa mata masih terus memandang, ia tak peduli dengan tatapan itu. Ia paham, di balik senyuman itu akan banyak pikiran buruk tentang hubungannya dan Gian.
Dan alasan lain ia tetap biasa saja, karena memang ia lapar. Tak segan Gian mengelap sudut bibir Radha usai wanita itu menuntaskan makannya. Sengaja ia lakukan karena Erick membawa Laura sebagai pasangannya, dan jelas saja wanita itu mendidih.
"Cih, awas saja kau anak kecil!!" Laura hanya memakan sedikit dari apa yang tersaji, menyadari apa yang kini berada di hadapannya membuat selera makannya hilang seketika.
Pengakuan Gian cukup menyesakkan dadanya, kalimat-kalimat yang Gian ucapkan cukup menjelaskan betapa bangganya dia memiliki Radha. Dan fakta bahwa Erick mengetahui rahasia Gian adalah hal paling menyebalkan bagi Laura.
"Kakak, malu." Radha berbisik di telinga Gian, beberapa pandangan mata yang manyadari hal manis itu membuat Radha memerah.
Seperti biasa, Hanya senyum manisnya yang ia berikan sebagai jawaban. Gian takkan berucap untuk sementara, dan baginya menatap Radha yang seperti ini adalah hal yang menyenangkan.
......... Bersambung🐧
Kepoin Vino, Gio di sini ya🐧
__ADS_1