
“Sebentar lagi ya, Sayang.”
Sesungguhnya Sheinna tak memiliki keberanian sebesar ini untuk meminta Randy datang, namun kondisi anaknya yang semakin hari semakin kacau Sheinna tak punya pilihan. Terpaksa ia berbohong dengan mengatakan orangtua nya tak berada di rumah saat ini. Karena jika ia berkata jujur, tentu Randy akan menolak mentah-mentah.
“Papa,” paggilnya dalam lamunan masih dengan posisi tidur meringkuk memeluk guling itu erat-erat.
Ia tak punya siapa yang bisa dipercayai selain papanya kini. Karena pada nyatanya Sheinna yang telah berjanji selalu menjaganya pun justru membuatnya terjebak dalam situasi seburuk ini. Air matanya lagi-lagi mengalir tanpa ia minta, apa yang kini bisa ia harapkan dengan hidup semacam ini.
“Ya Tuhan … Caterine, maafkan aku.”
Di titik ini, ia merasa menjadi manusia paling gagal dalam segala hal. Gagal jadi anak, gagal jadi istri dan juga gagal jadi ibu. Kepercayaan yang Randy berikan untuk menjaga putri semata wayangnya itu hilang begitu saja, terlalu percaya pada seseorang membuat Caterine merasakan apa yang dahulu terjadi padanya.
Sudah dua minggu lebih, putrinya semakin buruk saja. Jangankan makan, bahkan minum pun ia enggan. Berkali-kali Caterine harus menerima perawatan di rumah lantaran tak ada asupan yang masuk ke dalam tubuhnya, meski harus dengan obat penenang.
Dan beberapa hari terakhir, Caterine yang biasanya hanya bungkam bahkan di sentuh saja enggan kerap memanggil papanya meski begitu lemah. Lingkar hitam di matanya menjelaskan bagaimana buruknya jam tidur Caterine.
“Kamu mau apa? Mandi dulu ya, Papa sebentar lagi tiba.”
Dengan lembut Sheinna menyentuh pundaknya, namun putrinya itu menghemas kasar tangan Sheinna. Manik tajamnya menatap nyalang Sheinna penuh kebencian, wajah cantik mamanya membuatnya semakin sakit saja.
“Caterine, kenapa kau membenci Mama? Mama juga tidak menyangka jika Harry memiliki niat seburuk itu, Nak.”
Semua telah terlambat, ia memang salah memberikan kepercayaan kepada junior di agensinya itu untuk menemani Caterine malam itu. Semua terjadi tanpa ia duga, dan sama sekali tak mengetahui bagaimana perasaan Harry yang terus mendekatinya sejak beberapa waktu terakhir.
Dunia putrinya benar-benar kacau, apapun yang ia lakukan takkan membuat Caterine kembali baik-baik saja. Walau ia tahu dengan cara meminta Randy untuk datang sama saja ia memberikan kesempatan Randy untuk membawa putrinya itu pergi.
“Aku nggak butuh Mama,” tuturnya datar namun begitu tajam terasa kala menusuk hati Sheinna.
__ADS_1
Sakitnya karena kini Caterine sebenci itu, dan menyaksikan bagaimana putrinya kini rasanya lebih sakit dua kali lipat dibandingkan ketika ia melahirkan Caterine 18 tahun lalu. Masih terlalu kecil bagi Caterine untuk merasakan suramnya hidup.
Tok tok tok
“Nyonya,” panggilan itu terdengar jelas, Sheinna menghela napas kala asisten rumah tangganya itu mengetuk pintu kamar Caterine, bisa dipastikan itu adalah Randy yang kini sudah tiba.
Cepat-cepat Sheinna buka pintu itu, sembari menyeka kasar air matanya. Sudah ada Randy di depannya, dengan wajah khawatir dan penuh kebingungan ia tak bertanya lebih dulu. Air mata Sheinna sudah menjadi salah satu jawaban bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres.
“Mana putriku?”
Ia bertanya dengan tergesa, melangkah masuk kamar melewati Sheinna begitu saja. Matanya membulat sempurna, Randy menganga begitu menatap putrinya beranjak dari tempat tidur dengan keadaan sekacau itu. Sungguh, seberapa malasanya Caterine hingga rambutnya bisa sekusut itu.
“Papa?”
Sejak mendengar suara Randy yang melangkah masuk, Caterine menyingkirkan selimut yang membalut tubuhnya. Kerinduan ini terlalu besar, ia beranjak dan menghambur ke pelukan sang papa dengan tangis yang kini benar-benar pecah.
“Papa jahat, kenapa baru pulang sekarang,” ujarnya dengan suara tak jelas lantaran tangisannya.
Randy terhenyak menghadapi putrinya yang kini hanya menangis dalam pelukannya, rasa bersalah itu kian besar. Sungguh, begitu bodohnya dia yang baru bisa memeluk putrinya namun keadaannya sekacau ini.
“Katakan, ada apa sebenarnya, Sheinna?!!”
Tanpa melepaskan pelukan Caterine, manik hitam itu menuntut penjelasan wanita yang berada tak jauh darinya, gelagat Sheinna yang sejak tadi hanya menyeka air matanya berkali-kali membuat Randy kesal.
“Mas … kau tenangkan dia lebih dulu, kita bicara nanti.” Ia hendak bicara, namun tercekat di tenggorokan. Karena jika ia membuka mulutnya, Randy tentu akan marah besar.
Benar juga, karena menuntut penjelasaan saat tangis putrinya masih pecah begini tak akan menghasilkan apa-apa. Namun sebagai seorang ayah, Randy tak punya kesabaran sebesar itu ketka melihat putrinya seperti ini.
__ADS_1
Kembali fokus pada Caterine, ia mengelus pundak putrinya dengan kasih sayang. Meski belum pasti apa yang menyebabkan tangis putrinya, Randy berusaha membuatnya sedikit tenang.
“Aku takut, Pa.”
Suara lirih itu kembali ia dengar, di sela isakan tangisnya Caterine berucap dengan bibirnya yang bergetar. Tentu Randy semakin bingung, takut apa yang Caterine maksudkan.
“Tenang, Sayang … ada Papa di sini.”
Kalimat itu terdengar menenangkan, begitu sabar ia menanti putrinya ini dapat bicara dan mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Keringat membasahi pelipis putrinya, dengan lembut ia usap dan mengecup puncak kepala putrinya itu berkali-kali.
“Kenapa putriku bisa begini, Tuhan.” Ia menjerit, susah payah menahan ia menahan kesedihannya, matanya sudah memerah dan sesakit itu rasanya. Dahulu ia meninggalkan Caterine yang terus meangisi kepergiannya, dan kini ia kembali memeluk Caterine dengan keadaan yang sama.
“Aku mau Papa, jangan tinggalkan aku lagi, Pa.”
“Iya, Papa tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi.”
Randy menjawab mantap dengan bibirnya yang kini bergetar, menatap lekat putrinya yang berucap dengan matanya yang terpejam. Terdengar putrinya itu kini menghela napas panjang berkali-kali. Berada dalam pelukan sang papa membuatnya sejenak merasa aman, ia sudah sangat lelah sebenarnya.
“Kamu terlihat lelah, tidur ya,” perintah Randy dan di angguki putrinya. Tanpa banya berpikir, ia menggendong putrinya yang kini sudah beranjak dewasa itu menuju tempat tidur.
Dengan lembut ia menurunkan putrinya di ranjang king size yang nyaman itu. Memang benar, nyatanya hidup dengan kekayaan berlimpah tak dapat menjamin bahagianya seseorang. Randy menyelimuti putrinya itu, mengusap puncak kepalanya dengan halus dan menatap sedih wajah pucat Caterine.
Setelah cukup lama ia menjaga Caterine, memastikan bahwa putrinya kini sudah benar-benar tertidur, Randy beranjak pelan-pelan lantaran takut putrinya akan kembali terbangun. Melakukan hal yang sama seperti beberapa tahun lalu, menidurkan putrinya hingga lelap dan berlalu setelahnya.
“Dia udah tidur, Mas?”
Sheina sengaja menunggu di luar, ia ingin memberikan ruang untuk putrinya agar memiliki ruang bersama papanya. Meski ia bertanya dengan suara yang terdengar tenang, percayalah saat ini dirinya di kecam ketakutan akan kemarahan Randy.
__ADS_1
“Kau berhutang penjelasan padaku,” ujar Randy begitu dinginnya, kerinduan yang sedikit tertuju untuk Sheina sebelumnya kini hilang sudah.
Haduh💔 Udah crazy up, tapi votenya Gian belom ada nambah tuh, ini para Aunty gamau kasih dia hadiah gitu? Awal minggu loh.