Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 156. GUCI DARI CHINA!!


__ADS_3

Gian yang memang sedang dalam situasi hati yang tak baik-baik saja, semakin emosi kala nomor yang tak ia kenal itu menghubungi istrinya berkali-kali, dengan sapaan yang tak biasa dan membuat Gian ingin mual dibuatnya.


"Pertemuan kita tak terduga, kamu yang datang dengan langkah terburu, dan hatiku justru menggebu. Kenapa harus kamu datang hari itu, kenapa tidak sedari dulu wahai bungaku. Dan sialnya, belum apa-apa, pembatas antara kita sudah setinggi itu. Radha, namamu benar-benar cantik ... kau membiusku dalam lautan rindu, dan dalam pesan pertamaku, izinkan aku mengenalmu," ~ By Juan


"Uweeek!!! Bisa-bisanya aku ingat, darimana datangnya bocah itu, ngajak kenalan sudah seperti ikut event puisi saja, dasar tidak jelas."


Gian membuang napas kasar, niat hati pulang dari rumah Randy agar hatinya sedikit dingin. Namun melihat notif yang bermunculan di ponsel sang istri membuatnya panas berkali-kali.


Ingin rasanya ia menghampiri laki-laki bernama Juan itu, jika ia lihat dari foto profile yang pria itu gunakan, nampaknya Juan dapat dengan mudah Gian hadiahi bogem mentah.


"Gian, mau kemana?!!"


"Ke kantor," jawab Gian seadanya, pertanyaan Jelita seakan ia abaikan begitu saja.


Sedangkan kini Jelita hanya terpaku, ia sedikit heran untuk apa putranya itu ke kantor padahal hari sudah sore. Bahkan Raka sudah dalam perjalanan pulang.


"Dasar kurang waras, kantor siapa yang akan dia datangi."


Jelita tak terlalu peduli, ia berlalu ke kamar dengan membawa beberapa tempe mendoan yang tak habis juga sejak tadi, bahkan sudah dingin dan rahang Jelita sudah pegal mengunyahnya.


"Andai tetanggaku seperti dulu di rumah Ibu, pasti udah habis ini."


Lingkungan mereka berbeda, meski Jelita dikenal sebagai pribadi yang baik, tetangganya di sini berbeda dengan yang dahulu berada di sekitar rumahnya. Jelita tak seberani itu untuk mengetok pintu pagar rumah-rumah mewah itu.


*****


"Mana rumahnya?"


Gian berbohong besar, nyatanya ia tidak ke kantor. Melainkan. kini berada di depan masjid tempat dia melaksanakan shlalat jumat tadi siang.


Ia mengelilingi tempat itu, siapa yang bernama Juan, pria itu masih mencari dan dia ingin memberi pelajaran pada penyair sialan itu.


"Cari siapa, Kang?"

__ADS_1


Ia terperanjat kaget kala wanita cantik berdaster tipis itu bertanya dengan lembutnya. Wajah ayu dan kini tengah menyuapi bayinya membuat Gian sejenak tertegun.


"Juan, apa Anda mengenalnya?"


"Oh, itu anaknya koh Malih, warung paling gede itu, Kang. Tapi udah tutup tuh, coba ketok aja, kali dia ada di dalem."


Gian menunduk sebagai ucapan terima kasihnya, ternyata mereka cukup ramah, ia pikir masyarakat di sini tak bersahabat pada orang baru.


"Aduh cakepnya, bang Juan punya kenalan cakep kenapa ga kasih tau aku sih, mana udah terlanjur nikah sama bang Ipul."


Wanita itu tengah meratapi nasibnya yang merupakan salah satu korban hasil comblang Juan. Ratri menghela napas pelan menatap putranya yang kini mengunyah makanannya.


"Mana ni bayi persis Ipul lagi, moga nasibmu nggak kayak bapakmu ya, Nak."


Ratri mengelus kepala putranya, tak ingin jika nanti anaknya mengikuti jejak sang ayah yang menjadi pengganguran tak berpenghujung.


"Ratri!!! Celana dalem Abang mana?!!"


Baru saja ia hendak tenang, namun suara paling menyebalkan itu kini membuyarkan lamunannya. Benar-benar menyebalkan, ingin rasanya nasi bayi itu ia lempar di wajah suaminya itu.


Mengerikan, kehidupan masyarakat di sini ternyata luar biasa keras, pikir Gian. Anak baru sekecil itu dan sudah jelas terlihat tanda-tanda memanasnya rumah tangga.


Sebentar, Gian lupa apa tujuannya. Kini ia menghela napas kasar kala pria paruh baya keluar dari tempat itu. Sebuah toko yang cukup besar dan sepertinya sekaligus tempat tinggal.


"Haiyaaa cari apa aaa?"


"Cari Juan, ada?"


"Haiyaaa saya tidak jual anak saya aaa."


Tak salah memang jika Juan sedikit kurang drama, buktinya ayahnya memang rada-rada. Gian menghela napas kasar, ia hanya berusaha bersikap baik dan cara bicara Malih sama sekali tak terdengar lucu kini.


"Saya serius, Koh."

__ADS_1


"Haiyaa, lu olang ada perlu apa aah? Juan pergi, lu olang terlambat."


Sial, Gian terlambat. Ia yakin betul pria yang bernama Juan itu adalah pria yang hampir menabraknya beberapa saat sebelum menemukan Ratri tadi. Dan memang hanya dia sosok pria yang di mata Gian masih muda.


"Pergi, Koh?"


"Aduuh anak muda jaman sekalang kenapa tuli-tuli aaah," ucap koh Malih yang membuat Gian ingin berkata kasar.


Gian berlalu, nampaknya dendamnya harus ia tunda sesaat. Memilih untuk kembali, namun koh Malih justru memberinya dua guci yang ia tak paham apa artinya.


"Untuk apa, Koh?"


"Haiyaaa lu olang bisa pakai untuk minyak goreng aa, ini asli China punya aah, peninggalan Dinasti Tang," ucapnya begitu lancar dan membuat Gian semakin emosi saja.


Sebenarnya pria ini baik atau apa, ingin menolak tapi ia rasanya sangat tidak sopan sekali. Hingga pria itu memutuskan untuk kembali dengan membawa oleh-oleh paling tak masuk akal yang pernah ia bawa.


"Terima kasih," ucap Gian dan mendapat senyuman hangat dari pria berkacamata itu.


Langkahnya semakin cepat, angin sepoy mengiringi perjalanannya. Dengan dua guci di sisi kanan dan kirinya, langkah Gian sangat cocok jika di iringi musik-musik khas negeri tirai bambu itu.


"Dasar ngaco!!! Kenapa tidak ada yang waras hari ini?!!"


Gian menutup pintu mobil dengan kasarnya, pria itu benar-benar tak habis pikir apa dunia memang segila ini. Benar-benar menyebalkan, pikirnya.


Menjelang magrib, ia masih terjebak macet. Dan Gian gerah luar biasa, bukan karena udara tapi karena suasana hati yang luar biasa panasnya.


"Juan Abian, kenapa nama-nama sejenis itu membuatku murka seluar biasa ini!!!"


Ia lupa bahwa nama dia juga seirama dengan nama-nama pria yang ia sebutkan itu. Beberapa pengamen yang kini bernyanyi di luar mobilnya juga turun terkena imbasnya.


"Ays!! Jangan dangdutan sekarang!! Magrib, paham kalian?" Sontak mereka berlari terbirit-birit begitu Gian membuka kaca dan mengeluarkan amarahnya, berharap dapat penghasilan besar karena mobil Gian sudah menjelaskan seberapa kaya dirinya.


"Ada-ada saja, aku pukul pakai guci ini baru tau rasa kalian ya!!"

__ADS_1


😭😭😭😭


Hahaha aku nggak kehabisan ide ya gaes😭 cuma emang kalau ngetik yang ginian suka bablas. Babay, aku up malem munculnya bisa besok ini😭 Haiyaaaa, mana vote nya Aaah, itu Gian udah keluar dari 200 besar aaaah, btw dapat rekom lagi aaah, otw crazy up lagi😎😎😎😎 Love You Netijen!! Yang nanya kapan Zura hamil, wait yaaa!! Gapapa lah ya alur kita rada lambat, karena othornya mau nulis sekalian hibur diri aaah😚


__ADS_2