Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 260. Papa Paling Hebat


__ADS_3

Dalam pelukan Radha, Gian terlelap sangat nyenyak. Dia tidak meminta yang macam-macam, hanya menginginkan pelukan seperti cara Radha menidurkan kedua buah hatinya.


Suaminya akhir-akhir ini menurut dengan apa yang Radha katakan. Jika istrinya tak mengiyakan maka Gian akan mengalah.


Merasa suaminya sudah terlelap cukup lama, Radha melepaskan pelukannya pelan-pelan. Persis seperti melepaskan diri dari Kama dan Kalila yang terkadang merengek jika mereka merasakan Radha menjauh.


"Zuraa, mau kemana?"


Benar saja, baru saja berhasil beranjak dari tempat tidur. Gian sudah meraba ke sisi tempatnya berbaring, tempat itu terasa kosong dan dia kini membuka matanya pelan-pelan.


Radha sudah sangat amat pelan, akan tetapi Gian dapat merasakan istrinya bergerak meninggalkan dirinya.


"Ck, aku masih ngantuk, Ra."


Masih ngantuk tapi dia duduk, meraih pergelangan tangan Radha dan wajah sendunya memohon untuk jangan ditinggalkan.


"Mau liat anak-anak, biasanya sudah bangun."


Gian menghela napasnya kasar, dia belum puas, akan tetapi jika tidur tanpa pelukan Radha juga percuma. Gian menggerakkan tubuhnya serentak sembari menguap dan seperti biasa, mana sempat dia menutup mulutnya.


"Oh iya? Memangnya aku tidur berapa jam?"


Pria itu melirik pengelangan tangan kirinya, belum terlalu lama. Akan tetapi cukuplah jika dikategorikan sebagai tidur siang yang sudah hampir tak berlaku lagi itu.


"Cuma bentar, Kakak tidur lagi aja kalau masih ngantuk."


"Nggak, aku mau liat mereka ... anak-anak belum mandi kan ya?" tanya Gian yang membuat Radha agak ragu untuk menjawabnya, karena biasanya pria ini sama gilanya jika mandi bertiga bersama kedua buah hatinya.


"Belum," jawab Radha singkat, dan mendengar jawaban Radha, pria itu beranjak dan berlalu menuju kamar malaikat kecilnya.


"Issh, giliran mau tidur aja minta kekepin ... mereka bangun ditinggalin, kurang asem emang punya laki begitu."


Tentu saja ia ucapkan ketika Gian sudah berada jauh darinya. Mana berani Radha mengatakan hal itu di depannya, karena jika sampai Gian mendengar itu sama saja dengan Radha yang meminta waktu untuk berdua bagi Gian.


Kantuknya hilang entah kemana, manakala Gian membuka pintu dan Kama sudah menyambutnya dengan mata bulat dan senyum lebar itu.


"Aaaahh pangeranku sudah bangun, sang putri mana, Sayang?"


Gian menghampiri putranya yang kini merentangkan tangannya. Ya walaupun Kama kerap menyakiti Gian secara tidak sengaja, akan tetapi anak itu sangat jelas mencintai papanya.


"Pinter banget sih, kok nggak nangis."


Kedua buah hatinya memang cukup berbeda, Kama lebih tenang dibandingkan Kalila yang apa-apa terkadang heboh duluan. Mulutnya yang mungil selalu menjadi hal yang Gian sukai, walau dari Kama yang ia dengar hanya sebutan Mama yang belum sejelas itu.


"Wangi banget kamuuuu, resep mulut wanginya apa, Pak?" Gian gemas pada putranya, dan pertanyaan itu ia lontrakan ketika Radha sudah berada di dekatnya.


Hanya celoteh yang belum dapat dimengerti dengan jelas, namun yang pasti Kama hanya kesal lantaran Gian menciumnya persis vakum cleaner dan itu menyebalkan, pipi anaknya bahkan merah, tak puas mencium terkadang giginya mendarat di wajah bulat Kama.


"Sayang, mulutnya wangi banget coba cium deh."


Gian mengarahkan Kama pada Radha, tanpa Gian lakukan hal itu Radha juga tahu. Yang menghabiskan waktu lebih banyak bersama mereka adalah Radha, mana mungkin ia tak sadar jika putranya lebih wangi dari parfum berjuta-juta itu.


"Nggak ah, sekarang udah bau, pipi Kama sampai basah karena Kakak eeewwhh."


Ia terkekeh, sungguh kasihan sekali putranya. Kama hanya pasrah menghadapi serangan Gian yang tak berhenti walau dia sudah merengek dan mendaratkan tangan gempalnya di bibir Gian.

__ADS_1


"Idih aawwh eewwh, padahal kamu juga suka Kakak buat basah begini."


"Hiih, stres."


Radha mendelik, cubitan itu sangat amat kecil mendarat di perut Gian. Dia salah tingkah, pipinya memerah padahal Gian tidak berbicara macam-macam.


"Hahah kamu kenapa?" tanya Gian tanpa melepaskan tatapannya dari Radha, dan wanita itu semakin ditatap semakin salah tingkah.


"Nggak usah gitu matanya, Kama juga ngapain ikutan liatin Mama." Untuk pertama kalinya Radha malu pada putranya yang bahkan belum mengerti arah pembicaraannya kemana.


"Kama, Mama kamu salah tingkah ... Memangnya Papa bilang apa? Yang ngeres otaknya siapa, Sayang? Mama atau Papa?"


Menatap lekat Kama yang dengan polosnya mengucapkan Mama. Dan Gian yang sempat bertanya jelas merasa merdeka dan semakin mengejek Radha hingga wanita itu semakin memerah.


"Anak kecil biasanya gak bohong, Ra, apalagi dia cowok."


"Halah, karangan Kakak aja, lagian Kama juga baru bisa bilang Mama, jadi dia jawab aja sebisa dia," ujar Radha membela dirinya, jika ditanya apakah dia malu saat ini? Jelas sangat malu.


"Gak terima kenyataan ya, Bu, padahal memang otaknya mikir kesana kan," tebak Gian sembari menyentuh pelan kening Radha, meski sedang bercanda tak sekalipun Gian kasar walau Radha kerap sebaliknya.


"Ya memang enggak, Ih Kakak apaan sih."


Dia mencebik, berharap sekali Kalila bangun secepatnya. Karena biasanya hal pertama yang Kalila lakukan adalah mencari dirinya.


"Kalaupun iya nggak apa-apa, Sayang, sama suami sendiri juga."


Radha kehabisan kata-kata, sepertinya hidup Radha sudah terbiasa bersama teman-teman cerewet dan mulut yang luar biasa kreatif sebelumnya. Akan tetapi mereka belum ada apa-apanya jika dibandingkan Gian.


"Terserah, udah sana mandi kalian berdua."


Radha mendorong Gian agar segera berlalu dari sisinya. Tanpa banyak berpikir Gian segera membawa putranya ke kamar mandi, memang ini yang dia mau. Sejak kedua buah hatinya lahir, Gian memang sangat menyukai air.


-


Mereka berbagi tugas, Gian yang seteliti itu menjaga Kama layaknya sosok ibu. Walau memang semaunya, sudah berapa kali Radha mengomel lantaran sejak tadi Kama belum memakai sehelai kain pun.


"Dia lucu begini, Ra," tutur Gian yang memang tak berdosa jika ditendang.


Membiarkan bayinya tak mengenakan apa-apa dengan alasan lucu dan mengabadikan Kama lewat ponselnya tanpa henti.


"Kak, kalau dia masuk angin nggak lucu lagi, jangan aneh-aneh deh jadi orang."


Jika dilihat dari umurnya memang Radha yang seakan belum pantas memiliki anak karena dia masih bisa disebut anak-anak. Akan tetapi, jika dari apa yang mereka lakukan, sepertinya Gian yang lebih pantas disebut anak-anak.


"Iya," sahutnya patuh, Gian menurut akan tetapi durasinya sangat lama, seakan ia sedih berpisah dengan tubuh polos Kama.


Selesai dengan Kama, Gian turun membawa putranya. Hendak membawa Kalila juga, akan tetapi anak itu belum mau berhenti minum susu dari sang mama hingga membuat Gian cemburu lahir batin lantaran Kalila lebih memilih Radha.


"Kama ...."


"Duh, ada nyai lagi, kita harus lari," ucap Gian kemudian berlalu dari Jelita yang sudah menyambut mereka dengan senyum manisnya.


"Dasar anak kurang ajar, kebiasaan banget si Gian."


Raka harus bicara apa, kali ini memang putranya yang kurang kerjaan. Sengaja memilih lewat pintu belakang padahal mereka berada di ruang keluarga, sebegitu takutnya Jelita akan mengambil cucunya.

__ADS_1


"Mas, lihat anak kesayangan kamu, makin gede makin ngelunjak."


Ingin rasanya dia menangis, Jelita harus menelan pahit lantaran apa yang ia harapkan jika putranya menikah akan membuat hidupnya semakin ramai nyatanya tidaklah nyata. Jelita kerap disiksa rindu pada cucunya, terutama jika makhluk itu ada di rumah.


"Dia juga rindu, Sayang, Gian hanya punya waktu beberapa jam di rumah, wajar saja jika dia pulang hanya ingin anak-anaknya."


Raka meminta pengertian pada istrinya, karena memang dia juga cukup paham bagaimana rasanya di posisi Gian. Karena dirinya juga pernah muda, dan membagi waktu dengan merelakan waktu harus terbagi itu sangatlah sulit.


"Tapi dia pelitnya kelewatan, Mas. Kalau salah satunya nggak apa-apa, lah dia dua-duanya nggak dia izinin buat sama aku, masa tiap sore harus diculik dulu baru aku bisa peluk mereka."


Jelita harus mengeluh yang bagaimana lagi, walau memang kala Gian tak ada waktu untuknya cukup banyak, akan tetapi rasanya Jelita seperti curi-curi waktu.


"Hahahaha, Gian masih beruntung ... rebutannya cuma sama kamu, Mas dulu rebutan sama dua-duanya, mana cuma punya satu."


Kilas balik kala Gian masih kecil, Raka bahkan harus masuk Diam-diam ke kamar orang tuanya karena Gian dikuasai mamanya. Jadi wajar saja jika sekarang Gian segila itu ingin selalu bersama putranya.


"Tapi kamu nggak pelit, Mas, sifat dia kenapa begitu sih, perasaan aku nggak nyebelin pas muda," ujar Jelita dengan percaya diri paling besar dan membuat Raka menarik sudut bibir, tak tahan mendengar bualan istrinya.


"Nggak ya? Masa iya nggak?" Raka tertawa mendengar pengakuan Jelita, Jelita tak sadar jika putranya adalah wujud dirinya dalam versi yang berbeda.


"Seinget aku enggak sih."


Lagi-lagi Raka menggeleng pelan, benar saja, detik ini saja dia persis Gian yang kerap tak sadar diri padahal nyata sangat amat menyebalkan.


-


Tanpa seizin istrinya, Gian membawa Kama keluar sore ini. Dengan kecepatan sedang, dia berhati-hati sekali, menghabiskan waktu hingga senja menjelang di taman kota yang tak jauh dari kediaman mereka.


Nalurinya berjalan begitu saja, hanya dengan membawa susu sebagai persiapan jika nanti Kama merasa lapar, Gian berjalan mengelilingi tempat itu.


Penampilan sederhana dengan putra yang mengundang perhatian, meski adanya Kama dan cincin yang tersemat di jarinya sudah menunjukkan dengan jelas statusnya tetap saja masih banyak wanita yang nekat jatuh hati.


"Adiknya lucu sekali, abang pasti anak pertama," tebak salah satu gadis yang membuat Gian menarik sudut bibir.


"Apa aku masih terlihat semuda itu?" tanya Gian tanpa melepas kacamatanya.


"Kan memang masih muda," ucap satunya lagi, nampaknya Gian mengajak Kama bermain ke tempat yang salah.


"Aku tidak semuda itu, ini anakku ... satunya lagi sama mamanya."


Tanpa Gian tutup-tutupi, jawaban Gian membuat mereka terdiam sejenak. Merasa tak yakin lantaran bagi mereka Gian memang masih semuda itu. Hanya Radha saja yang kerap mengutuknya sebagai pria tua.


"Owh dah nikah ternyata, kirain belum ... aku kaget."


"Santai saja, banyak yang mengira seperti itu."


Selepas mereka berlalu, Kama masih menoleh seakan pada gadis yang telah menggoda papanya. Gian hanya menarik sudut bibir menyadari respon putranya yang seakan mengerti apa yang tengah terjadi.


"Kama jaga rahasia ya, jangan sampai Mama tau."


Dia berbisik, dan Kama seakan mengerti ucapan papanya. Walau Gian tak paham jika beberapa bulan lagi mungkin putranya akan mengadu tentang apapun yang Gian lakukan dibelakang Radha.



Kama : Sesuai Aplikasi ya, Onty ❣️

__ADS_1


__ADS_2