
Usai perdebatan yang cukup membuat panas hingga ubun-ubun, Gian kembali ke kamar dengan langkah panjang bak menghindari kerumunan yang meminta tanda tangan.
Tatapan sengit penuh dendam itu mengikuti kepergian mereka, Haidar mengepalkan tangannya kala Gian bahkan tak mengizinkan istrinya menghadap ke arah lainnya.
"Tetap menghadap ke depan, Zura."
Radha mungkin merasa tertekan kala Gian merangkul erat pundaknya dan mempercepat langkah sehingga Radha sulit mengimbangi. Persis anak kecil yang dipaksa pulang orang tuanya.
"Cepat, Zura, kenapa kau begitu lambat."
Merasa istrinya memang lambat, Gian tak sabar. Ia tahu saat ini Haidar masih menangkap sosok Radha dengan begitu sengaja.
"Aaaa!!! Apa yang Kakak lakukan?!!"
Bukan main terkejutnya, Radha memukul pelan pundak Gian yang tengah menggendongnya. Seberapa lambatnya ia hingga Gian harus membawanya bak benda mati, pikir wanita itu.
"Dasar lamban!! Kau bahkan tidak lebih cepat dari kura-kura."
Gian melangkah panjang tanpa peduli apa yang istrinya ucapkan, dengan kekuatan tak biasa ia membuka pintu dan menurunkan Radha cukup kasar di atas tempat tidur.
"Allahu Akbar!! Aaaah pinggangku ... Kakak, kenapa sekejam ini?"
Radha bertanya-tanya, sikap Gian yang benar-benar menimbulkan tanya. Secepat kilat kini ia telah mengunci pintu kamar, tentu saja ia tak ingin siapapun masuk ke sana.
Ia masih terdiam, dengan segala kesibukan yang membuatnya sangat cocok di juluki sebagai setrikaan saat ini. Radha tak melewatkan sedikitpun apa yang dilakukan suaminya.
"Mau apa dia keluar?"
Ia merasa tertarik untuk ikut kala Gian keluar menuju balkon, apa mungkin suaminya itu panas, pikirnya menerka-nerka. Demgan langkah pelan Radha mendekat, matanya masih fokus menatap apa yang Gian lakukan.
Deg
Radha bergetar, ia terdiam dan mulutnya terkunci seketika. Ia tak dapat bicara apapun, langkahnya seakan terhenti dan ingin rasanya ia memilih pergi. Mengapa hal ini harus ia ketahui, apa ia benar tak siap jika Gian memang benar seperti apa yang ia lihat? Sungguh batin Radha kini bergemuruh.
"Kenapa kau berdiri di sana?"
Gian baru menyadari kehadiran istrinya, waktu yang harusnya ia nikmati sendiri itu tak sedikitpun ia merasa terganggu. Ia tersenyum singkat dengan rokok yang kini tengah ia mainkan di sela-sela jemarinya.
"Kemarilah," perintahnya begitu lembut, Gian paham mungkin Radha akan terkejut. Namun, memang sudah sewajarnya ia paham jika memang suaminya tak sesempurna yang ia pikir.
Dengan raut yang tak dapat di defenisikan, Radha mendekat. Entah perasaan apa ini, kecewa atau sebenarnya ia tengah marah pada Gian, ia pun tak mampu menafsirkan.
"Mendekatlah, Sayang, kau terlalu jauh."
__ADS_1
1
Ia berdecak merasa tak sabar lantaran Radha masih berdiri dengan jarak yang cukup jauh darinya. Raut wajah itu jelas saja membuat Gian menarik sudut bibirnya tipis.
"Kak?"
"Hm? Apa?"
Seakan tak percaya, Radha menatap Gian begitu herannya. Matanya terfokus pada benda kecil berwarna putih di sela jemari kanannya.
"Apa aku tidak salah lihat?"
Dengan ragu-ragu, Radha mempertanyakan hal itu. Berharap Gian takkan marah dan tersinggung dengan ucapannya. Namun tetap saja, ada terbesit kecewa di hati wanita itu.
"Ini?"
Gian tertawa sumbang, wajah Radha yang kini menatapnya begitu heran membuatnya merasa lucu. Perlahan wanita itu semakin mendekat, Radha terkesiap kala Gian merangkul pundaknya agar jarak keduanya semakin dekat.
"Sesekali, Sayang, bukan tiap hari."
Radha tak menjawab, ia menatap jauh ke depan. Suasana malam ini cukup dingin, seakan menembus pertahanan kulitnya. Tanpa cahaya bulan, ia menatap bintang kecil di ufuk sana.
Rangkulan yang tadinya semakin erat, berubah menjadi pelukan. Gian tahu Radha merasa dingin, bukan hal yang biasa bagi mereka menghabiskan waktu di balkon kamar seperti malam ini.
"Kenapa kau diam? Marah?"
"Kenapa, Ra?"
"Mulut kakak bau, sana jauhan."
Bahkan tanpa ragu ia mendorong pelan wajah suaminya agar tak mencuri kesempatan untuk kedua kalinya. Entah kenapa ia merasa begitu kesal lantaran mengetahui kebiasaan Gian yang sangat tak ia sukai.
"Hahahah ... kenapa kau terlalu lucu," ujarnya semakin mengeratkan pelukan.
Ia paham Radha tak nyaman dengan rokok yang masih terselip di jemarinya. Gian segera mematikan dan melemparnya ke sembarang arah, meski ia baru merasakan beberapa hisapan, ia membuangnya karena Radha benar-benar merasa terganggu.
"Heeeh!! Kenapa di buang sembarangan, Kakak ...."
Radha menekan kalimatnya, suaminya memang kerap membuatnya darahnya mendidih tiba-tiba. Gian menatap teduh wajah istrinya yang kini menunjukkan ketidaksukaan.
"Kenapa memangnya?"
"Kebiasaan buruk yang harus Kakak ubah," ucapnya sedatar mungkin. Meski tak dapat di tutupi ia merasa dihargai kala Gian melakukan apa yang ia ingin tanpa diberitahukan lebih dahulu.
__ADS_1
"Begitukah?"
Wanita itu hanya mengangguk kecil, kembali menatap langit dan menghela napasnya perlahan. Apa yang terjadi padanya terkadang begitu melelahkan, Radha bersandar seakan menunjukkan betapa nyamannya dia saat ini.
"Sayang, boleh kakak tanya sesuatu?"
"Apa?"
Radha mengerutkan kening, ia merasa Gian akan mempertanyakan hal yang penting jika sebelumnya ia bertanya prihal boleh atau tidaknya.
"Bagaimana perasaanmu saat ini?"
Pertanyaan sederhana namun sesulit itu Radha menemukan jawabnya. Ia terbungkam dengan satu kalimat yang membuatnya pikirannya teramat berat.
"Ma-maksud, Kakak apa?"
"Ya perasaanmu saat ini, tentang semua yang kini kita alami."
Sungguh, Radha tercekat. Jika boleh ia jelaskan, sebenarnya ia ingin berontak. Bahkan jika pergi bukan suatu masalah, ia lebih memilih jalan itu. Merasa sebagai sumber perpecahan antara dua saudara kandung yang begitu lama berpisah adalah suatu bencana bagi Radha.
"Ra? Apa pertanyaan Kakak terlalu sulit?"
Cukup lama Gian memberi waktu, namun bibir mungil istrinya tetap saja bungkam. Hingga ia berusaha mengerti bahwa waktu untuk menjawab yang Radha butuhkan, melainkan waktu untuk memahami perasaannya sendiri.
"Kak, aku ...."
Gian menatap lekat wajah istrinya, tampak hendak mengungkap seberapa sesaknya di posisinya. Ia sabar dan memang akan tetap sabar bagaimanapun dan apapun yang akan Radha ungkapkan nantinya.
"Maaf, Kak ... aku ...."
"Sudah, Sayang ... tak perlu kau jelaskan jika memang tak mampu."
Ia mengelus puncak kepala istrinya, menariknya dalam peluk hangat berusaha meyakinkan bahwa memang semuanya baik-baik saja. Meski titik itu masih harus menunggu nanti.
"Kita masuk?"
"Nanti, Kak ... sebentar saja," pinta Radha yang sungguh membuat Gian terheran.
Terlampau nyaman atau memang Radha butuh suasana ini, ia menginginkan waktu bersama Gian lebih lama, dalam suasana penuh kehangatan dan ketenangan yang meneduhkan relung hatinya.
*Haruskah aku katakan, seberapa sakit dan mencekiknya situasi yang di restui alam. Aku jatuh, dan aku tengah berusaha untuk sembuh. Sembuh dari luka yang mengharapkan mimpi indah itu akan selalu nyata, aku berusaha untuk baik-baik saja, untukmu, dia dan diriku sendiri.
~Radhania Azzura*
__ADS_1
.........Bersambung🕊
Maaf ya telat up🤗 Terima kasih, sehat selalu kalian semua.