Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 243. Tak Sabar (Menanti)


__ADS_3

"Lihat apa?"


Reyhans menyadari Gian kini lebih tenang dari biasanya, sedikit aneh tapi lebih baik. Sempar berpikir bahwa Gian sakit, tapi sepertinya tidak demikian. Senyum tipisnya dapat menjelaskan bahwa kini ia tengah bahagia.


"Anak ku, cantik kan?"


Gian memperlihatkan foto dari hasil USG bayi dalam kandungan istrinya. Tak heran, lembaran itu memang dapat membuat siapapun sebahagia itu. Dan Reyhans memaklumi atasannya.


"Hm, cantik," jawab Reyhans, meski ia sendiri belum bisa melihat kecantikan calon bayi itu, demi memperkecil masalah ia memilih untuk mengiyakan ucapan Gian.


"Jangan lama-lama, nanti kau cinta," ujarnya menarik kembali lembaran kecil itu, padahal tadi dirinya sudah baik, tiba-tiba kembali berubah seperti aslinya.


"Aku sudah punya Evany," tutur Reyhans mencoba membalas ucapan Gian, meski ia tahu semua akan percuma.


"Tapi Evany belum bisa kasih yang seperti ini."


Dasar sialan, bisa-bisanya dia berucap demikian pada Reyhans. Jelas saja Evany tak bisa, anak kecil juga memgerti hal ini. Ingin rasanya Reyhans segera keluar dari ruangan ini, akan tetapi mengingat sebelumnya Gian meminta Reyhans tetap berada di ruangan sampai nanti pulang membuatnya memilih bersabar lebih lama.


"Ck, ya jelas belum bisa, aku bahkan belum menyentuhnya ... dasar gila kau," celetuk Reyhans meluapkan emosinya.


"Hahah sentuhlah, Rey ... berkembang biak itu tidak sesulit yang kau bayangkan," ucapnya tanpa merasa bersalah.


"Kau mau aku dipancung ayahnya?" Reyhans kesal lantaran Gian kini menjadikannya bahan candaan.


"Tidak akan terjadi jika kau nikahi baik-baik, kecuali kalau kau ajak dia berzina, tobatlah, Reyhans ... menikah itu lebih baik."


Nasihatnya memang amat baik, tapi entah kenapa Reyhans justru berniat memukul kepalanya saat ini juga.


"Aku tidak melakukannya, Gian, berhenti menuduhku macam-macam."


"Hah? Apa iya? Sejak kapan kau jadi pria baik, Reyhans?" Bola matanya membulat sempurna, seakan terkejut mendengar jawaban Reyhans.


"Memang aku baik, jangan samakan aku denganmu, Gian," celetuknya di titik kesabaran yang mulai menipis.


"Ahaha sialan kau, santai saja, bukankah rahasiamu aman denganku? Lagian itu hal wajar, kau dan Evany sama-sama sudah dewasa."


"Terserah kau saja, Gian."


Rasanya sudah lelah Reyhans menjelaskan bahwa dirinya tidak melakukan apa-apa bersama Evany. Akan tetapi Gian masih saja berpikir bahwa mereka segila itu, seakan semua sama dengan dirinya.


"Radha, apa sudah lebih baik?" tanya Reyhans mengalihkan perhatian, lelah dia jika Gian terus saja membahas tentang dirinya.


"Lumayan, dia hanya lelah ... keberatan badan," jawabnya terdengar asal tapi memang serius, Reyhans yang biasanya tak mudah tertawa kini ia tak bisa menahan diri, ini terlalu lucu baginya.

__ADS_1


"Syukurlah." Reyhans turut bersyukur kala mendengar kabar itu, setelah sebelumnya Radha sempat tak enak badan dan membuat heboh keluarga besar lantaran Gian mengira istrinya hendak melahirkan, kini semua tampak baik-baik saja.


"Hm, kapan anakku lahir, Rey ... aku tidak sabar," keluhnya, sudah berkali-kali hanya itu ucapan Gian, bahkan jika bisa ingin secepatnya mengambil tindakan, pikirannya hanya fokus tentang bayi dan bayi saja.


"Sabar, Gian ... tunggu sebentar lagi, aku rasa kau tidak ingin anakmu kenapa-kenapa nantinya," jelas Reyhans untuk kesekian kalinya, entah kenapa kecerdasan Gian seakan benar-benar hilang sejak menikah dan menjadi calon ayah untuk anaknya.


"Aku ingin memeluknya, tidur disampingnya, ah pasti menyenangkan sekali."


Dapat Gian tangkap betapa berharganya anak itu baginya, karena setiap hal yang berhubungan dengan anaknya Gian akan berubah seperti ini, matanya tak bisa berbohong jika memang tengah menanti hari-hari itu.


"Secepat dan setepatnya," tegas Reyhans singkat dan mendapat anggukan dari Gian.


Ia akan sabar menunggu, jawaban Reyhans sama seperti mamanya. Meski ia tahu, 2 bulan lagi bukanlah waktu yang singkat jika untuk waktu biasa, akan tetapi ini akan terasa lama jika dia menunggu kelahiran anaknya.


-


.


.


.


Pulang, rumah menjadi tujuan. Gian tak ingin menunda perjalanan. Kerinduan pada wanita paling berharganya seakan tak tertahan, padahal baru berpisah beberapa jam saja.


"Zura mana, Ma?"


"Tidur, capek sepertinya."


Jelita menjawab seadanya, sebelumnya Radha mengatakan kalau dirinya sedikit lelah. Wajar sebenarnya jika Radha, walau yang ia lakukan hanya makan dan menyiram tanaman kesayangannya.


"Capek?"


"Hm, sana samperin ... tadi nanya mulu kapan kamu pulang," ucap Jelita yang membuat Gian berbunga, senyumnya terbit dan kini berlalu segera usai mengecup paksa pipi sang mama.


"Ya Tuhan, kenapa putraku jadi begini?" Jelita mengelus dada, wajahnya terasa sedikit lembab karena Gian sengaja menjilatnya, memang anaknya kerap melakukan hal demikian.


Dengan langkah panjangnya, Gian menuju kamarnya. Membuka pelan pintu kamar takut jika nanti istrinya tengah tertidur, walau sebenarnya Gian tak suka jika istrinya tidur sore-sore begini.


"Dia tidur begitu lagi."


Menatap istrinya yang tergeletak di lantai dan kaki yang sengaja ia angkat ke tempat tidur Gian hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan pelan.


Memang tempat itu paling Radha sukai, dan yang Gian bisa lakukan hanya berusaha mengangkat tubuh istrinya pelan agar tak terjaga, karena tak bisa dipungkiri Gian tetap saja takut jika istrinya masuk angin.

__ADS_1


"Berat juga." Gian menggigit bibirnya, bobot Radha memang cukup berbeda dari sebelumnya, akan tetapi dengan bertambahnya berat badan istrinya, Gian justru merasa berhasil menjadi seorang suami.


Baru saja tubuhnya menyentuh tempat tidur empuk itu, kini Radha membuka matanya perlahan, sadar jika dirinya tak lagi berada di tempat paling nyaman, dan wajah pria yang sejak tadi ia rindukan kini jelas berada di depannya.


"Baru pulang ya?" tanya Radha dengan suara ngantuknya.


"Iya, Kakak ganggu tidur kamu ya?" tanya Gian lembut, sorot mata istrinya dapat menjelaskan jika dirinya memang sangat lelah.


"Nggak, kenapa lama pulangnya?"


"Lama? Kakak pulang seperti biasa, Ra ... kamu nunggu ya?"


Turut merebahkan tubuhnya di samping sang istri, dengan pakaian yang masih melekat sempurna. Gian merasakan kenyamanan yang tak ia dapatkan dimanapun.


"Iya nunggu, kakiku kepentok ujung meja, sakit."


Ingin marah, tapi wajah menyedihkan Radha membuatnya justru tertawa. Sudah lama Radha tak mengadu, dan kini ia mengadu karena hal itu, sungguh istrinya ini benar-benar membuat candu.


"Sakit? Mana coba liat." Gian duduk dan kini menatap jemari yang Radha maksud, memang sedikit mengkhawatirkan, dan kini Gian menggigit bibirnya karena merasakan ngilu tiba-tiba.


"Sayang, kenapa bisa begini? kamu tentang mejanya atau bagaimana?" Sebelumnya ia hanya menduga jika kaki Radha hanya sedikit terluka, namun jika dilihat kini justru Gian merasakan sakitnya juga.


"Nggak sengaja, Kakak juga kenapa mejanya di geser kesana semalem, kan kaki aku yang kena." Terlihat seperti korban paling teraniaya, Radha menyalahkan semua karena ulah suaminya.


"Tapi kamu yang minta Kakak mindahin mejanya, Sayang, kamu yang gak lihat jalannya, Ra." Gian mengusap lehernya, mendadak haus jika begini.


"Kok nyalahin aku, aku korban loh di sini." Menatap nyalang Gian, karena baginya tetap salah Gian.


"Iyaya, nggak nyalahin ... nanti kakak pindahin ya mejanya, jangan marah." Gian menenangkan sang istri, tak ingin jika perdebatan mereka membuat suasana hati Radha memburuk.


"Sakit tau," ucapnya terkejut karena Gian sembarangan menyentuh lukanya.


"Iya maaf, Kakak nggak sengaja ... tapi tadi nggak jatuh kan, Sayang?" tanya Gian memastikan, takut jika istrinya mengalami hal serius.


"Enggak, kenapa? Kakak berharap aku nyungsep gitu? Jahatnya jadi suami." Menatap Gian semakin tajam, ia merindukan Gian tapi ketika pulang suaminya menyebalkan.


"Ya Tuhan enggak, Zura ... Kakak cuma takut, bukan berharap," ucapnya dengan napas tertahan, sungguh terkadang Gian justru mengingat Reyhans jika di saat begini, apa mungkin karma karena dia sedikit menyebalkan, pikirnya.


"Au ah, obatin dung ... tolong ya," pinta Radha kini berubah manis, entah bagaimana istrinya mampu merubah mood secepat ini.


"Hm, tunggu di sini, jangan banyak gerak kalau tidak mau kukunya copot."


"Nyumpahin?"

__ADS_1


"Enggak, siapa yang begitu."


Tbc


__ADS_2