Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 197. Keterkejutan Jelita (Tunjukkan!!)


__ADS_3

Berat, tapi Radha harus terima. Meski hati kecilnya belum terlalu ingin, namun melihat bahagianya Gian ia hanya mampu menarik sudut bibir.


Memutuskan untuk setia menemani Radha di rumah, Gian tak berniat untuk pergi ke kantor sama sekali. Tentu saja karena alasan Radha yang sendirian, meski ada asisten rumah tangganya, tanpa adanya Jelita suaminya itu tak percaya 100 persen.


"Kakak kenapa nggak makan?"


Gian menggeleng, memang beberapa hari terakhir nafsu makannya memang berkurang. Sedangkan Radha yang setiap harinya terlihat lemah justru makan dengan porsi biasa, bahkan meningkat.


Hanya selembar roti saja ia enggan, apalagi harus makan nasi goreng spesial dengan dua telur mata sapi seperti istrinya. Nafsu makan istrinya yang meningkat meman tak membuatnya heran, bahkan pujian dagu Radha bertambah itu sudah kerap Jelita ungkapkan setiap harinya.


"Laper banget ya abis nangis?"


Gian menarik sudut bibir, Radha mengangguk pasti dan tak menjawab lantaran perutnya yang kini terasa penuh. Seberat-beratnya ujian hidup tampaknya tak membuat nafsu makan Radha terganggu sama sekali


Seakan kegiatan itu adalah obat dan membuat Radha lupa jika sebelumnya ia meraung meratapi kehamilan yang belum ia inginkan sama sekali.


Apa yang ia makan tak pedas sama sekali, namun Radha berulang kali menyeka keringatnya seakan tengah melakukan olahraga berat.


"Kamu makan atau panjat tebing, Ra ... keringat sebanyak itu."


Meski mulutnya mengomel, Gian tetap membantunya menyeka keringat sang istri. Makannya pelan, santai dan sangat sopan, namun ia tak mengerti kenapa keringatnya yang heboh luar biasa.


Keharmonisan dua insan itu disaksikan langsung oleh dua wanita berbeda usia yang setia menanti di sudut dapur. Ada ketenangan dan juga rasa iri bersatu dalam hati masing-masing.


"Ya Tuhan, Gian sudah sedewasa ini, aku masih nggak nyangka."


Asih yang memang dari dulu mengabdi jelas merasa bersyukur dengan apa yang kini ia lihat. Bagaimana Gian dihiasi senyuman, dan hidup Gian tak lagi suram.


"Hm, memang kak Gian dewasa."


"Kak?" Asih menngernyitkan dahi kala mendengar panggilan itu ditujukan pada tuan mudanya.


"Maksudku, tuan muda."


Tak terlalu ia pedulikan Layla yang kini berlalu, terserah dia mau apa, pikir Asih. Karena memang gadis itu sedikit bertingkah akhir-akhir ini.


Hingga, kehadiran nyonya rumah itu mengalihkan perhatian Asih yang sejak tadi menatap lekat pasangan muda itu.


"Selamat pagi, menantuku mana ya?"


"Pagi Mama," jawab Radha dengan senyum manis menyambut mertuanya.


Gian mencebik menyadari kehadiran mamanya yang kini membawa kantong plastik besar entah apa isinya. Biasanya kangkung, pikir Gian.


"Ih Mama dateng-dateng cium dia, cuci tangan dulu kek, itu apaan lagi ... kan bisa kasih bi Asih dulu."


Bukannya senang dengan perlakuan mamanya pada Radha, Gian hanya khawatir jika Mamanya membuat istrinya bahaya.

__ADS_1


"Cerewet banget sih, cium mukanya doang, Mama kangen lah."


Jelita tak marah, meski putranya terkesan kurang dihajar dan halal untuk dipukul. Untung saja tidak ada Raka di sini, jika tidak mungkin suaminya takkan diam saja, pikir Jelita.


"Ya jangan geser tempat duduk aku juga dong, Mama kan bisa cium sebelahnya."


"Kamu tu ya, gini aja jadi masalah ... Mama masukin perut lagi mau kamu, Gian?"


Mendengar perdebatan mertua dan suaminya, Radha hanya tersenyum lagi dan lagi. Karena baginya hal semacam ini terkesan lucu dan menambah hangat suasana rumahnya.


"Masukin aja, kalau masih muat."


"Ih mulutnya, kapan tobatnya haah?! Kamu ini laki-laki apa perempuan si, Gi? Istri kamu aja kalah bawelnya."


Tak habis pikir, kenapa putranya ini sangat amat berbeda dari Haidar yang terkesan lembut dan lebih banyak diam jika tengah bersamanya.


"Laki-laki lah, Mama mau lihat?" tanya Gian dengan tanpa malunya hendak membuka ritsleting celananya.


Plak


"Dasar gila, nggak ada malunya heran."


Dengan kekuasan santai namun cukup menyakitkan, telapak tangan Jelita mendarat tepat di kening Gian. Sakit? Iya, sedikit.


"Aarrgghh kejam sekali," keluh Gian mengusap jidatnya berkali-kali.


Jelita tak peduli dengan putranya kini, yang ia perdulikan kini adalah menantunya. Radha yang sejak tadi menikmati nasi gorengnya tampak nikmat membuat Jelita menginginkannya juga.


"Kok tumben telurnya harus dua? Ini juga, suaminya nggak makan? Kenapa?" tanya Jelita menepikan anak rambut yang sedikit menghalangi wajah cantik menantunya.


"Maunya dua, Ma ... Kak Gian nggak mau makan, diet katanya."


"Oh gitu, yang penting kamu suka, kalau makhluk itu dia mau makan piring juga terserah," tutur Jelita mengusap puncak kepala Radha, sungguh ia merasa benar-benar di sayang saat ini.


-


.


.


.


"Ra? Kenapa sedih gitu?"


Jelita sedikit heran menatap menantunya yang turun sendiri dengan wajah murungnya. Radha menghampiri Jelita yang kini tengah sibuk membaca majalah di tangannya.


"Mama, aku ...."

__ADS_1


"Kenapa?"


Menduga ada masalah dengan putranya, Jelita menarik menantunya dalam pelukan. Dan jika sampai benar terjadi, bisa jadi rambut putranya itu akan ia pangkas habis.


"Gian macem-macem sama kamu? Dia usil sama kamu atau kenapa?" tanya Jelita khawatir, karena baru kali ini dia melihat menantunya sesedih ini.


Belum lagi kala Radha kini mengangguk dalam pelukannya, jelas saja Jelita panik bukan main.


"Kenapa? Bilang sama Mama, jangan ditutup-tutupi," desak Jelita dengan emosi yang kini menyeruak dalam dada.


"Dia hamilin aku, Ma, usil banget kan?"


Byar!! Jelita menganga mendengar aduan Radha. Ia sekhawatir itu dan ternyata yang ia dengar justru kabar baik diantara kabar baik yang pernah ada. Sejak lama ia mendambakan tangis bayi kembali hadir di rumah ini, dan kini ia mendengar sendiri kabar baik dari Radha.


"Masya Allah, ini kabar baik, Sayang ... kenapa harus sedih?"


Sama seperti Gian, Jelita bahkan meneteskan air mata. Dan Radha masih mengangguk dengan sudut bibirnya tertarik tipis, dua senyum ia saksikan pagi ini, walau hatinya kacau tapi nampaknya kehadiran anaknya justru menjadi pusat kebahagiaan bagi yang lainnya.


"Aaarrrrgggghhh!! Mama harus kabarin Papa, dan semua keluarga kita," teriak Jelita yang seakan lupa jika dirinya bukan seusia Radha, kebahagiaan ini terlampau besar hingga membuat Jelita heboh luar biasa.


"Haa, Mama jangan!! Aku malu," pinta Radha seraya menggeleng pelan.


"Kamu malu? Kenapa, Sayang?"


"Aku, sejujurnya belum siap, Ma ... tapi, kak Gian menginginkan kehadirannya sejak awal, jadi apa boleh buat."


"Belum siap? Lalu kenapa kamu nggak minta tunda dulu, Ra?" Meski Jelita bahagia, akan tetapi wajah menantunya tak bisa berbohong jika memang kaget dengan keadaannya.


"Aku udah usaha tunda kok, Ma, walau tanpa izin kak Gian."


"Radha? Kamu tunda tanpa sepengetahuan Gian?" Jelita menelan salivanya, tak ia duga jika ini akan jadi hal memberatkan bagi Radha.


"He'em, aku minum pilnya setiap hari, tapi anehnya aku malah hamil cepet."


Fatal, Jelita bahkan kesulitan mengatur napasnya. Tak ia duga jika menantunya sembarangan mengambil langkah, secepat itu dia meminta Radha untuk menunjukkan obat yang Radha konsumsi, takut jika itu justru menimbulkan efek yang lain pada tubuh menantunya.


Mengikuti langkah Jelita yang menuju ke kamarnya, Radha kini merasa menyesal telah mengatakan hal itu pada mertuanya. Dapat dipastikan perubahan raut wajah Jelita menunjukkan bahwa ia tak senang.


Ceklek


"Mama?" Gian yang baru selesai mandi jelas kaget dengan kehadiran Mamanya.


"Tunjukkan, mana obatnya, Radha."


Matilah, Radha gemetar, kini ada Gian di depannya. Sedangkan ia merahasiakan benda itu dari Gian, akan bagaimana nanti setelah mamanya keluar, pikir Radha was-was.


🌻

__ADS_1


Aku up tiga hari ini, tungguin dan jan lupa teken likenya yang adil Jubaedah😙


__ADS_2