
"Ada apa dengannya, Win?"
Baru saja Windy datang, Gian sudah menuntutnya dengan berbagai pertanyaan. Pria itu benar-benar tak dapat di ajak bersabar, belum juga Windy memeriksa Radha sedikitpun.
"Sabar, Gian, semua butuh waktu."
Sedikit heran, mengapa Gian sampai sekhawatir itu pada gadis remaja yang ada di hadapannya itu. Apa mungkin Gian tak bercanda dengan ucapannya melalui telepon tadi? Tapi rasanya tak mungkin, Radha terlalu kecil untuk dikatakan istri Gian, batin Windy mencoba untuk tenang.
"Bagaimana?"
"Sabar Astaga!! Aku baru hendak memeriksanya."
Sifat menyebalkan Gian masih saja sama, pria itu bahkan menuntut Windy yang sama sekali belum melakukan apa-apa.
Gian sejenak terdiam, memilih duduk di samping tubuh Radha. Seingatnya istri kecilnya baik-baik saja sebelum ia bekerja. Lantas mengapa kini pemilik surai indah itu terkulai lemas.
Dengan profesional, Windy memeriksa keadaan Radha. Ia menarik napas lega, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Anak itu baik-baik saja, bahkan sangat baik.
"Kau tidak perlu khawatir, dia hanya kelelahan saja."
Pria itu merasa lega, namun tentu saja ia ingin memastikan lebih lanjut apa yang terjadi pada Radha.
"Kelelahan? Kau yakin hanya itu, Win?"
Anggukan Windy dan senyum penuh ketenangan itu tak membuat Gian puas, ia khawatir jika nanti ada apa-apa dengan Radha. Memang mereka dari perjalanan jauh, dan ia tak ingin ada sesuatu yang tidak beres dengan Radha.
"Iya, Gian, dia hanya butuh istirahat. Kau lihat jarinya terlihat memerah, apa dia usai mengerjakan sesuatu?"
Rahang Gian mengeras, benar-benar kurang ajar. Dugaannya benar, Radha begini lantaran ulah gurunya yang memberikan tugas sebanyak itu.
"Lalu bagaimana?"
"Kau tenang saja, aku akan memberikannya vitamin agar daya tahan tubuhnya kembali stabil. Dan kau cukup pastikan dia istirahat dan makan dengan benar," jelas Windy begitu teliti pada sahabatnya itu.
"Baiklah, terima kasih dan pergilah."
Senyuman yang terlukis di wajah Windy mendadak pudar kala mendengar ucapan Gian yang benar-benar seenaknya. Bahkan tanpa menatapnya dan justru fokus pada wajah cantik istrinya.
"Tunggu apa lagi, Win? Kau mau uang?"
"Issh dasar kurang ajar."
Windy mencebik, bukan karena uang. Ia hanya kesal dengan tindakan Gian yang kini justru mengusirnya. Setelah tadi memaksanya datang kini dengan sesukanya Gian memintanya pergi.
"Ck, dasar aneh."
Gian tak peduli bagaimana wajah cemberut Windy. Yang ia pedulikan hanya keadaan Radha, bersyukur gadis itu tak kenapa-kenapa.
__ADS_1
Untuk saat ini ia biarkan Radha tertidur, pria itu berinisiatif merapikan buku-buku istrinya. Ia menarik sudut bibir sembari melirik Radha melalui ekor matanya.
******
Windy turun dengan langkah yang tak biasa, menghentakkan kaki semaunya tanpa sadar bahwa ini bukan Apartemen Gian, melainkan rumah utama.
"Windy?"
"Astaga, Tante," ujar Windy menggigit bibir bawahnya, kehadiran Jelita yang menatapnya penuh tanya membuat Windy merasa bersalah.
"Ada apa denganmu?" tanya Jelita menatap wajah panik Windy.
"Ah tidak, Tante, aku hanya terlalu senang saja."
Ia berkilah, tentu saja Windy takut Jelita akan merasa tersinggung. Namun ini bukan salahnya, Gianlah yang membuat masalah.
"Kau sudah makan?"
Perempuan cantik itu menggeleng singkat, ia merasa lega mendengar pertanyaan Jelita. Setidaknya dapat ia pastikan bahwa Jelita tak mempermasalahkan ulahnya.
"Makan, Sayang ... sana minta Layla ya, Tante mau ke kamar Gian."
Bukan hal aneh, bagi Jelita siapapun sahabat Gian adalah anaknya juga. Ia memberikan kebebasan untuk Windy agar merasa nyaman di kediamannya.
"Iya, Tante."
Ragu, namun Windy takkan mampu menahan lebih lama. Tatapannya mengatakan tak ingin Jelita berlalu sebelum pertanyaannya terjawab.
"Hem, kenapa?"
Jelita menghentikan langkah, terlihat jelas Windy menyimpan banyak tanya.
"Ehm, anak perempuan di kamar Gian itu ... siapa?"
Sudah Jelita duga, Windy akan menanyakan hal ini. Sedikit ragu, ia takut Gian sebenarnya mengatakan hal yang tidak-tidak tentang Radha.
"Oh itu ... namanya Radha, menantu tante."
Jleb
Jawaban Jelita berhasil membuat Windy membeliak, apa yang Gian ucapkan nyatanya tak membual. Istri? Tapi kapan, bukankah Gian tidak memiliki hubungan pada wanita manapun usai perpisahan dengan kekasihnya, pikir Windy masih bertanya-tanya.
"Me-menantu?"
"He'em, Tante harap kau tidak menyebarluaskan apa yang kau tahu, Windy."
Ia berlalu usai memberi penegasan pada Windy, paham betul bahwa jawabannya akan membuat Windy terperanga. Pasalnya pernikahan Gian memang tertutup, belum lagi ini semua karena kecelakaan yang tak di inginkan setiap keluarga.
__ADS_1
Sepeninggal Jelita, kini Windy terdiam sembari meratap dalam kebimbangan. Mengapa secepat itu, hatinya tercekat, napasnya tertahan dan tatapan nanar itu berubah sendu, kelu tanpa harapan.
Tidak, ia takkan mampu makan di keadaan seperti ini. Windy memilih pergi tanpa menanti kehadiran Jelita kembali. Nafsu makannya mendadak hilang, ia hanya ingin pergi dengan tenang.
*****
"Gian?"
"Astaga Mama!!"
Gian beranjak segera dari tempat tidurnya, ia terperanjat kaget kala Jelita tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Sedang apa kau?"
"Ti-tidak ada, Mama kenapa tidak mengetuk pintu lebih dahulu?"
Jelita terkekeh, putranya tengah berusaha berlari dari kenyataan. Jelas-jelas ia melihat Gian menemani Radha yang tengah beristirahat, namun putranya begitu panik kala ia masuk dan menatapnya dalam keadaan seperti itu.
"Apa dia baik-baik saja?"
Sama halnya seperti Gian, Jelita juga khawatir. Sejak kedatangan Windy memang ia sudah curiga Radha yang tidak baik-baik saja.
"Tidak, bocah ini hanya kelelahan."
Ia menarik sudut bibir, bahkan putranya menyebut Radha dengan panggilan itu. Padahal jelas-jelas ia menatap seberapa lembut Gian beberapa saat yang lalu.
"Syukurlah,"
"Kalau dia bangun, kau temani makan. Sejak tadi dia hanya fokus dengan PR-Nya, Gi."
"What?!! Belum makan?"
Jelita mengangguk, wajah garang Gian kini terlihat. Ia paham putranya sebentar lagi akan mengamuk dan menyalahkan segala sesuatu atas keteledoran ini.
"Mama bagaimana? Lihat ... astaga, wajar saja dia sampai sakit. Apa Mama tidak memintanya? Atau memaksanya?"
Pertanyaan penuh tuntutan dengan sejuta kepanikan itu membuat Jelita kehabisan kata. Sejak tadi ia meminta Radha untuk makan dan berhenti sejenak. Bahkan ia membawakan susu hangat agar Radha tak terlalu lemah, namun bisa dilihat bahwa susu itu masih berada di sana tanpa berkurang sedikitpun.
"Gian, kau tenang dulu, Sayang."
"Tenang bagaimana? Kalau dia sampai sakit bagaimana? Aduh Mama ...."
Pria itu memijit pangkal hidungnya, kepalanya mulai terasa pening. Tanpa sadar dirinya kini tengah kalang kabut, dan Jelita tentu saja tersenyum menang. Baginya ini adalah suatu prihal yang baik dan tak harus di bingungkan.
"Mama kenapa?" tanya Gian menyadari Jelita tak berhenti tersenyum sejak tadi, sungguh ia merasa Mamanya manusia aneh.
"Mama?"
__ADS_1
Keduanya menatap ke arah suara serentak, wajah antusias namun penuh kekhawatiran itu masih menguasai keduanya.
Tbc