Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 233. Menerima (Radha)


__ADS_3

Candaan tapi memang Gian serius mengatakannya. Walau bukan berarti dia memaksakan Haidar untuk menikah secepatnya, akan tetapi ia tak ingin jika nanti adiknya patah untuk kesekian kalinya.


Makan malam terasa sangat berbeda, bertambahnya Rury dan Haidar di meja makan membuat Jelita merasa dunianya selengkap itu.


Kedatangan Haidar yang tanpa ia minta adalah hadiah paling baik yang pernah ia terima. Meski akan ada banyak stigma negatif nantinya lantaran perbedaan usia putranya dengan wanita yang Jelita yakini bukan hanya sekadar asisten pribadi Haidar.


Lain hanya dengan pasangan muda ini, karena siapapun yang berada di meja makan tak akan mengubah bagaimana mereka. Terutama Gian, ada saja hal yang ia lakukan dan membuatnya menjadi pusat perhatian.


Haidar sama sekali tak iri, akan tetapi lebih kepada perasaan kesal lantaran Gian yang benar-benar menunjukkan bagaimana bahagianya dia, sedangkan dirinya masih terbatas karena tidak seberani itu melakukan hal macam-macam di depan papanya.


"Gian, tanganmu tidak berfungsi lagi?"


"Masih, ini ada," jawabnya singkat, padat dan jelas sembari menunjukkan kedua tangannya.


Jika hanya meminta disiapkan Raka dapat memakluminya. Akan tetapi kini Gian justru minta disuapi, ada saja kelakuan yang membuat Raka kadang bingung yang hamil itu siapa.


"Kalau ada, makan sendiri masih bisa?"


"Bisa, tapi aku tidak mau, Pa."


Benar-benar tak terkalahkan, mungkin perkataan sejenis apapun akan kalah jika memang itu adalah keinginan Gian.


"Udah, Mas ... lagian sejak kapan dia mau kamu atur-atur," ungkap Jelita di sela makannya, putranya memang terkadang berbeda di segala situasi, terkadang dia memang terkesan dewasa, namun, ada kalanya dia berubah persis anak-anak.


Menempatkan diri sesuai posisi dan bagaimana harusnya ia menempatkan diri. Sebagai suami ia akan sesiaga itu tentang istrinya, terbukti dengan kepekaan Gian yang terkadang jauh lebih mengingat waktu periksa kandungan sang istri dibandingkan Radha sendiri.


Makan malam usai, Gian masih menyempatkan diri untuk berbincang bersama di ruang keluarga. Entah apa yang mereka akan bicarakan, yang jelas Gian tak ingin ketinggalan berita.


"Bagaimana? Jadi Jeny atau Rury?" tanya Raka tiba-tiba, dan sudah saatnya Gian mengambil kesempatan untuk bicara.


"Dua-duanya saja, Haidar ... bukankah kau suka semua?"


"Kau bisa diam tidak, ke kamarmu sana."


Sama sekali keberadaan Gian tak membuat semuanya lebih baik. Yang ada hanya membuat semakin pusing saja, membawa Rury menghadap papanya saja sudah membuat nyali Haidar terkuras sempurna, apalagi kini sang Kakak justru menjadikannya bahan candaan.


"Nikahkan saja dia secepatnya, Pa, Haidar sepertinya tidak punya keberanian melamar anak orang."


"Hm, setelah melihat kamu sepertinya Papa tidak akan memaksa anak Papa untuk nikah cepat-cepat lagi, terserah Haidar saja, Papa hanya bisa mendukung pilihanmu, Nak."


Sangat mengejutkan, bola mata Gian membulat sempurna begitu mendengar pernyataan sang Papa. Bagaimana tidak, bukankah dulu Raka sangat menginginkan Haidar untuk menikah.


"Tidak bisa!! Papa harus adil dong," celetuknya seakan tak terima, sedangkan Haidar hanya terkekeh menyadari bagaimana respon kakaknya.

__ADS_1


"Papa sudah adil, Gian ... Haidar masih perlu banyak waktu untuk berpikir, dan juga Papa belum siap jika Haidar juga akan sepertimu setelah menikah," ungkap Raka menghela napas panjangnya, jujur saja jika putra bungsunya berubah seperti Gian, ia tak sanggup, jadi akan lebih baik Raka menghindari penyebab sakit kepala.


"Memangnya aku kenapa?" tanya Gian seakan memang tak ada yang salah dengan dirinya sama sekali.


Haidar menghela napas kasar, sepertinya kembali ke kamarnya lebih baik. Percuma menghabiskan waktu dengan pria ini, yang ada dia yang kehilangan jati diri.


"Kau mau kemana?"


"Tidur," jawab Haidar singkat, berjalan dengan langkah panjangnya, tentu saja sekaligus memastikan kekasihnya beristirahat dengan baik di kamar tamu.


"Papa juga?" Gian beralih pada sang Papa yang kini masih berada berasamanya.


"Tentu saja, kamu di sini, Gian? Kalau mau akan Papa temani," tawar Raka baik-baik namun langsung mendapat penolakan dari Gian.


"Tidak, Pa ... aku mau istirahat, aarrgghh lelah sekali, tulang punggung keluarga ini ingin tidur, Pa." Tak lupa ia menggerakkan tubuhnya seakan manusia paling lelah sedunia.


"Hm, kembali ke kamarmu," ucapnya datar seperti biasa, dan juga hari mulai larut, dia juga butuh istirahat.


-


.


.


.


Pertanyaan basi yang ia lontarkan sebegitu halusnya, Gian menarik sudut bibir begitu menyadari istrinya masih duduk manis di depan cermin, memandangi kesempurnaan dirinya.


"Kak, aku gendut banget ya?"


"Enggak, mana coba yang gendutnya?" tanya Gian memeriksa sisi wajah istrinya, kanan kiri bahkan seteliti itu memeriksa dagunya.


"Gendut kan?"


"Enggak, cantik, Ra ... kamu cantik," ucapnya menghalangi pandangan Radha agar tak terfokus pada bayangannya di cermin itu.


"Ih awas, cerminnya gak bisa bohong ya, Kak."


"Berhenti liat atau besok Kakak ganti pakai cermin cekung mau?" ancam Gian demi menghentikan pikiran istrinya yang terlalu berlebihan, seakan tak sadar diri bahwa kebiasaannya lah yang membuat tubuhnya seperti itu.


"Iya nggak lah, gimana bentuknya kalau cekung." Bibirnya maju beberapa centi, dan jarinya secepat itu mencubit lengan Gian.


"Aarrggh, kukumu sepanjang ini, kapan terakhir potongnya?" tanya Gian memeriksa kuku sang istri yang memang sudah cukup untuk membuat kulitnya terluka.

__ADS_1


"Minggu kemaren, kan Kakak yang potong."


"Oh iya, harusnya hari ini ya, kenapa Kakak bisa lupa," tutur Gian sedikit menyesal, bukan karena Radha tak bisa, tapi memang Gian yang meminta.


"Besok aku potong sendiri, kata Mama jangan potong kuku malem-malem, nanti jarinya ikut kepotong," ucapnya asal dan membuat Gian membeliak, sungguh masuk akal sekali ucapannya.


"Bisa saja kamu, Ra ... oh iya, tadi pagi Mama bilang mau menemui kamu, jadi?" tanya Gian hati-hati, karena memang Radha belum terlalu membuka diri, bukan berarti ia enggan.


"Mama? Mama yang mana?" tanya Radha mengerutkan kening, ia lupa atau memang tidak mengerti.


"Mama kamu, ya Mama kita, Zura." Gian mengacak rambut istrinya, nampaknya wanita ini perlu beberapa ajian agar ingatannya tajam.


"Oh Mama, udah kok ... Kakak yang izinin Mama kesini ya?" tanya Radha karna dia sedikit terkejut dengan kehadiran Maya yang tiba-tiba.


"Iya, masa Kakak larang, Sayang."


Bisa saja dia beralasan, padahal dia sendiri yang meminta agar Maya datang ke kediamannya untuk menemui Radha, entah kenapa perpisahan mereka menjadi bayang-bayang yang terus saja menghantui Gian.


"Mama sendiri?" tanya Gian menatap lekat manik indah itu.


"Sama adik-adik aku, dianter sama suami barunya." Radha menceritakan apa adanya, meski ia belum menerima semudah itu akan tetapi tak bisa ia pungkiri jika rasa rindunya mengalahkan segala ego dan kekecewaan yang pernah ada.


"Oh begitu, sayang sekali tidak ketemu om Randy," sesal Gian, padahal ia sendiri tahu jika Wira dan Tandu bertemu bisa saja Randy kembali babak belur.


"Hahaha jangan dong, nanti ada adegan kekerasan lagi," ucapnya menarik sudut bibir tipis, tak bisa ia bayangkan jika dua pria itu bertemu.


"Lama dia di sini?" tanya Gian lagi.


"Lumayan, Arunika lucu, Kak ... kata Mama dia persis seperti aku," ucap Radha sembari memainkan kancing piyama Gian.


"Syukurlah kalau begitu, Kakak bahagia mendengarnya, Ra."


"Mama pinter masak, aku tadi bantuin."


"Bantu apa?" tanya Gian menarik sudut bibir, pembicaraan sederhana semacam ini benar-benar Gian sukai.


"Cuci beras," jawabnya cepat, seakan sebuah pencapaian baru dalam dirinya.


"Hahahaa, lumayan jauh perkembanganmu," puji Gian sudah pasti sedikit berbohong.


Malam kian larut, bersamaan dengan semakin dalamnya pembicaraan kedua insan ini. Hingga mulutnya berhenti berucap dan matanya sudah terpejam dalam pelukan Gian, wanita itu lelah sendiri pada akhirnya.


"Tidur juga akhirnya." Gian menghela napas pelan, pelan-pelan menyelimuti sang istri dengan selimut lembut itu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2