
"Kenapa makannya begitu?"
Radha mencebik, sepertinya kemarahan Gian menjalar kemana-mana. Hanya karena ia minum kopi cukup banyak dan kini berdampak dalam aktivitas selanjutnya.
"Memangnya salahku apa?"
Gian memejamkan mata, sepertinya istrinya ini memang tercipta dengan kadar kewarasan minimum. Terlihat jelas dengan keputusannya yang benar makan sembari berenang dan Gian harus sabar menyuapinya di pinggir kolam.
"Pakai nanya, kamu nggak kasian sama suami?" tanya Gian serius dan membuang napas kasar, cuaca memang tak terlalu terik dan tidak mungkin kulit Radha akan terbakar karena cahaya matahari.
"Kan tadi Kakak udah makannya, sekarang gantian dong temenin aku."
Pasrah, Gian membuang napas kasar lagi dan lagi. Menjadi pusat perhatian Reyhans yang kini berbincang bersama Jelita, sungguh ia merasa tengah kehilangan harga diri.
"Kenapa harus sambil berenang? Nggak takut airnya masuk mulut, Zura?"
Dengan kacamata hitamnya. Pria itu persis seorang ayah yang tengah menemani putrinya liburan. Duduk di pinggiran kolam dengan jiwa takut-takut jika nanti kemejanya basah kuyup.
"Nggak dong, ini buktinya aman-aman saja." Pintar sekali menjawab, keinginan ini bersifat tiba-tiba, dengan alasan udara panas ia memutuskan untuk makan sambil berenang, karena keduanya tak dapat ia pilih salah satu.
"Cepat, Zura ... Kakak harus kembali ke kantor, kamu lihat muka Reyhans sudah ditekuk begitu?"
Menjadikan Reyhans kambing hitam, padahal pria itu tengah asik berbincang dengan Jelita entah apa yang mereka katakan, namun sepertinya tak jauh dari menggunjingkan Gian dan juga Radha.
"Kak Reyhans tampan juga ya kalau diperhatikan," ungkap Radha yang membuat Gian terdiam sejenak, ia menoleh dan menatap sengit Reyhans.
"Kamu mau Kakak tenggelamkan, Zura? Berani-beraninya memuji pria lain didepanku," ancam Gian dengan suara penuh penekanan, sangat menakutkan namun tidak sama sekali bagi Radha.
"Kan kenyataan, tapi Kakak lebih tampan sedikit," jelas Radha demi mengurangi kadar amarah Gian yang tak tertolong sama sekali.
"Sedikit?" tanya Gian dengan suara lantangnya, seakan sengaja membuat perhatian tertuju padanya.
"Hm, badan Kakak lebih tinggi segini dari dia." Radha menunjukkan perbedaan antara suaminya dan Reyhans yang hanya 4 jari, sangat penting sekali, pikir Gian.
"Cepatlah, Kakak hanya memberimu waktu 20 menit, Zura, jangan banyak ulah." Ia mengingatkan sebelum Radha terlena karena Gian tak mengingatkannya.
Berusaha menunda kepergian Gian, ia melakukan segala cara agar suaminya tetap di sana. Salah satunya dengan cara mengunyah makananya dengan sangat lama.
"Zura, sebentar ... ini kenapa? Bisul?" Gian menarik istrinya agar lebih dekat, sesuatu di pundaknya menarik perhatian.
"Mana?" tanya Radha kesulitan berusaha melihatnya juga.
__ADS_1
"Ini," tutur Gian seraya menyentuhnya pelan-pelan.
"Gigit nyamuk, sembarangan!!" Nada bicaranya naik, mungkin marah karena diduga bisulan.
"Kenapa bisa?" Gian mengerutkan dahi, pasalnya ia tak merasakan kamarnya banyak makhluk itu.
"Nggak tau," jawabnya cuek, karena memang dia tidak mengetahui darimana asalnya.
"Pakai baju yang bener makanya," ucap Gian lebih ke arah sedikit menekan Radha untuk menurut padanya.
"Udah bener, kan nyamuk bisa gigit dari luar, Kak."
"Berarti kamu pakai baju setipis kulit bawang," ujarnya mengusap pundak Radha, hanya sekecil itu dan Gian dapat melihat kesalahan di tubuh istrinya.
-
.
.
.
"Iya, Tante," jawab Reyhans membenarkan ucapan Jelita.
Apa yang mereka lihat terlalu manis, dahulu Gian sesulit itu untuk menikmati hidup. Kesalahpahaman yang membuat dia berpikir bahwa tiada lagi orang baik dalam hidupnya.
Pengkhianatan, Gian hanya berpikir semua orang sama, dan sesulit itu dia untuk kembali percaya pada orang baru. Memilih tinggal sendiri walau Jelita larang, Gian menikmati hidup dengan caranya.
Berbagai cara Jelita lakukan, mencoba mengenalkan beberapa wanita pada Gian, nyatanya semua ia tolak mentah-mentah dengan alasan bukan selera.
Dan kini, Radha justru mematahkan pendirian Gian tentang selera atau apapun itu. Jika dilihat Radha sama sekali bukan tipenya, bahkan mungkin pria itu rasanya keberatan memiliki pendamping semuda itu, akan tetapi senyum yang mana yang menunjukkan Gian tak bahagia bersama istrinya.
"Bagaimana denganmu, Reyhans?" Pertanyaan yang paling berusaha Reyhans hindari, kenapa harus orang-orang mempertanyakan hal semacam ini.
Hanya tersenyum, ia tak bisa menjawab untuk saat ini. Karena memang tidak ada wanita yang bisa ia katakan benar-benar miliknya.
"Berusahalah membuka diri, umurmu sudah sangat cukup untuk menikah, jangan terus mengabdi untuk makhluk itu saja," tutur Jelita lembut, ia paham Reyhans terjebak dalam sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak sepenuhnya karena dia.
"Nanti saja, Tante ... untuk saat ini, Gian bahagia itu sudah lebih dari cukup." Dengan mantap, Reyhan mengatakan hal itu, karena tujuannya saat ini hanya untuk itu.
"Dia sudah bahagia, dan juga apa kepalamu itu tidak pusing menghadapi dia, Rey?"
__ADS_1
"Sedikit, tapi bisa aku atasi sendiri." Reyhans menarik sudut bibir, jelas saja ia pusing menghadapi watak Gian yang lebih menyebalkan dari elang hamil.
Sudah hampir dua jam, istirahat makan siang macam apa yang selama ini. Reyhans tak bisa berbuat apa-apa, hanya menunggu Gian kembali dan siap untuk ke kantor lagi.
Dan kini, ketika hendak kembali ke kantor Reyhans harus kembali melihat bagaimana pasangan itu seakan tak mau saling melepaskan.
"Jangan pergi kemana-mana, diam dan tunggu Kakak pulang," titah Gian dan Radha hanya mengangguk patuh, lagipula memang dia tidak punya rencana hendak pergi kemanapun.
Gian berlalu, menghampiri Reyhans yang sudah menunggunya. Baru saja beberapa langkah Gian justru berbalik, panik seakan ada yang ia tinggalkan.
"Give me a kiss," ucapnya begitu kembali ke hadapan Radha, sebuah permintaan yang sulit dilakukan jika ada orang lain di antara mereka.
"Kakak aja yang cium, aku nggak sampe," tolak Radha halus sengaja menundukkan tubuhnya dan Membuat Gian bergerak cepat, dasar kurang ajar, pikirnya.
"Cepat, jangan banyak alasan."
"Ish malu," desis Radha seraya menggigit bibirnya, karena kini mereka bukan di kamar tidur, tapi di teras rumah.
"Kenapa malu? Kan sudah pakai baju," ucap Gian enteng, seakan tidak ada masalah sama sekali.
Sesulit itu, karena tak sabar dan tak terima alasan Radha, Gian mengangkat tubuh istrinya, tidak ada alasan jika tak bisa meraih wajah Gian.
"Cepat, mau alasan apalagi?" Gian menarik sudut bibir, menatap rona kemerahan di wajah istrinya, suatu kebahagiaan bagi Gian.
Baiklah, toh memang suami miliknya. Tak peduli kini tengah menjadi pusat perhatian, mata mereka Radha kutuk jika berani mengintip.
Cup
Singkat sekali, dan Gian merasa tidak puas tentu saja.
"Tidak berasa, pakek suara dong."
"Muach!!!!!" Radha mengulangnya, sedikit kesal karena Gian mulai meminta hal macam-macam, dan sudah pasti suaminya sesenang itu.
"Udah sana, jangan pulang malam ya," ucapnya lembut dan memang benar-benar meminta, karena memang Gian pulang tak bisa ditebak, kadang lebih cepat kadang juga terlambat.
"Hm, Kakak usahakan."
Pamit berjilid-jilid, harus berapa kali mereka melakukan cium tangan dan kening itu bergantian, kalau Reyhans ingat-ingat, sepertinya sudah 4 kali.
Bersambung ❣️
__ADS_1