Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 198. Ternyata!! (Ulah Suami)


__ADS_3

"Radha cepat, Mama tidak akan memakanmu."


Dengan kakinya yang gemetar, Radha menuju laci tempat dimana ia menyimpan obat itu. Menunduk malu bahkan ia tak berani menatap Gian.


"Ini obatnya?"


Radha mengangguk, ia menautkan jemarinya dan mencoba untuk tenang sesaat.


"Loh? Inikah obat Mama? Kenapa bisa sama kamu?" tanya Jelita kaget bukan main, obat yang seharusnya ia konsumsi karena memang masih menginginkan anak lagi kini berada di kamar putranya, jelas saja ia kaget.


"Hah? Obat Mama? Itu obat aku kok, Ma."


Merasa tak melakukan kesalahan, Radha menolak pernyataan sang Mama yang mengakui bahwa itu adalah obatnya.


"Sayang, ini obat Mama minum biar kalian bisa punya adik lagi, kenapa bisa? Ya Tuhan," tutur Radha memijat belakang kepalanya, sungguh ia tak mampu lagi berkata-kata.


"Gian? Bisa jelaskan, kenapa obat Mama justru ada di kamar kamu?"


Tak ada tersangka lain, pasti manusia ini, pikir Jelita. Karena di rumah ini yang bebas asal masuk keluar kamar Raka dan Jelita hanya Gian seorang. Dan kini putranya menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali semakin membuat Jelita curiga.


"Gian?!!" bentak Jelita mulai kesal lantaran Gian menatapnya tanpa rasa bersalah.


"Hm, apa Mama?"


"Jawab, ulah kamu kan?"


"I-iya, lagian Mama ngapain masih mau punya anak lagi? Mau saingan sama aku atau gimana?" Karena sudah tertangkap basah, Gian mengaku dengan santainya.


"Jadi bener kamu tuker obat Mama sama Radha?" tanya Jelita memastikan untuk kedua kalinya.


"Ehm, iya, Ma ... maafin aku."


"Dasar kurang ajaar!! Siapa yang kasih ide beginian, hah?!!"


"Papa."


"Ya Allah, kapan Mama bisa hamilnya kalau yang Mama minum itu, Gian peak!!"


"Papa juga yang peak, kenapa nyalahin aku."


Tak bisa berkata-kata lagi, kenapa baik anak maupun papanya sama-sama membuat Jelita sakit kepala. Hidup di antara manusia ini sangatlah menyiksa.

__ADS_1


"Ya Tuhan, enggak ada akhlaknya kamu Gian beneran deh, Mama pingsan ini."


"Gitu aja mau pingsan, pakek gaya-gayaan mau hamil," celetuk Gian kecil namun masih cukup jelas terdengar.


Radha yang panik melihat mamanya kehilangan keseimbangan mencoba menahan agar Jelita tak tumbang. Nampaknya ia benar-benar terpukul mengetahui ulah suaminya yang dengan bodohnya melibatkan Gian.


"Maaf, Ma ... tapi, Papa bilang jika Mama hamil lagi, akan membahayakan Mama sendiri."


Gian mencoba memberi pengertian untuk kedua wanita yang ada di depannya, bukan hanya Jelita tapi juga Radha. Ia tak ingin apa yang menjadi keputusannya membuat keduanya salah paham.


"Tapi kamu jahat, Gian!! Obat mama dituker, ya Tuhan."


Kecewa? Iya, Jelita memang kecewa. Apa yang dilakukan putranya benar-benar menyakitkan bagi Jelita. Namun, kehadiran calon cucunya dapat sedikit melegakan kemarahan Jelita walau sesaat.


"Aku jahat demi Mama, demi Papa dan juga demi aku sendiri, maaf."


Permintaan maaf itu bukan untuk Jelita, tapi untuk Radha. Istrinya yang tak mengerti jalan pikir Gian hanya menatapnya pasrah tanpa sepatah kalimatpun.


Meski demikian, masih ada secercah rasa takut karena memang Radha melakukan hal itu diluar izin Gian. Ia tak mengatakan apapun pada Gian kala obat itu ia konsumsi sejak awal pernikahan, dan kapan Gian menukarnya, Radha juga tak paham.


-


.


.


.


Radha tak berani berucap, sedangkan Gian juga sama. Malu, dan rasa bersalah sama-sama keduanya rasakan. Merasa telah saling membohongi, Gian menghela napasnya pelan-pelan.


"Ra," tutur Gian memulai percakapan, ia meraih jemari istrinya dan mengecup punggung tangan Radha berkali-kali.


"Maafkan, Kakak, Ra ... seharusnya Kakak tidak seegois ini."


Radha menunduk lagi dan lagi, ia harus meminta maaf juga atau bagaimana. Pasalnya di sini ia juga salah, tapi yang lebih kurang kerjaan lagi adalah Gian.


Ia tak menangis, ataupun mengamuk seperti sebelumnya. Radha masih butuh waktu untuk sejenak tenang, Gian tahu dia lelah, bahkan mungkin kecewa.


"Zura, tatap mataku, maafin nggak?"


"Hm, maafin."

__ADS_1


Radha mengangguk tak ikhlas, tapi ia takkan meminta maaf perihal dirinya. Karena nyatanya obat itu sama sekali tak masuk ke dalam tubuhnya.


"Kakak lakuin itu semua, karena sayang, Ra ... dan juga, kamu lakukan itu tanpa seizin dan sepengetahuan Kakak, jadi anggap itu hukumannya."


Gian menarik sudut bibir, bisa saja memutar keadaan dan membuat dirinya bertahan di posisi paling benar. Sedangkan Radha yang kini merasa dibodohi keadaan hanya menatap kesal Gian tak henti.


"Tapi kenapa Mama dihukum juga?" tanya Radha dengan suara lemahnya, tak habis pikir kerja sama dua pria di rumah ini membuatnya drama seberat ini.


"Bukan Kakak yang hukum Mama, tapi Papa."


Semua sudah terlanjur, semarah apapun Radha juga percuma karena kini buah cinta mereka sudah tumbuh dengan baik di dalam rahimnya.


Dan sebagai seseorang yang berada di balik layarnya, Gian hanya berseru yes, dan mengibarkan bendera kemenangan. Hal ini akan menjadi berita besar, karena demi kehamilan Radha, Gian harus mendapat izin dulu dari Raka.


Meski cara dia mendapat izin Raka cukup licik, yaitu dengan syarat Gian menghalangi kehamilan Jelita. Karena memang Raka tak seberani itu untuk bertindak mengenai istrinya.


"Kamu belum mandi pagi kan? Mandi sana, amis bibirnya."


Benar-benar merusak suasana, ucapan Gian tanpa filter yang membuat Radha menyesal mau dia cium sebagai ungkapan maaf.


"Siapa suruh pakek acara nyosor ke gue," sahut Radha yang kini lupa siapa lawan bicaranya.


"Heh? Kenapa bicaranya gitu?" Gian menyadari cara bicara Radha padanya sedikit berbeda, dan tentu ia tak ingin ini menjadi kebiasaan Radha.


"Maaf, Nggak lagi."


Saat ini, Radha bukan takut. Tapi lebih kepada segan terhadap suaminya. Karena memang sedetail itu Gian memperhatikan istrinya.


Berendam di kamar mandi, Radha tampak mengingat kembali kejadian dan hal-hal yang telah terjadi. Wajar saja Gian sangat amat berbeda padanya akhir-akhir ini.


"Apa mungkin dia emang tau sebelum gue kasih tau ya?"


Jika memang ulah Gian, sebenarnya tak menutup kemungkinan pria itu memang tahu. Akan tetapi, ia masih sangat kesal dengan ulah suaminya itu jujur saja.


Perutnya memang sedikit berlemak, Radha menyentuhnya beberapa kali. Wajar saja Gian kerap melepas ikat pinggangnya, pikir Radha. Belum lagi hal-hal kecil seperti tak memberinya izin untuk berjalan terlalu jauh, dan selalu memastikan dia minum dan makan dengan teratur.


"Dasar tidak dapat ditebak, jangan-jangan dia dukun beranak sebenarnya."


Karena bagi Radha, seorang laki-laki yang sepaham itu tentang dirinya sedikit mencurigakan.


BersambungšŸ˜™

__ADS_1


See Youā£ļø


Alhamdulillah Kelar masalah ini🌻


__ADS_2