Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 206. Malangnya Raka.


__ADS_3

"Ma, nggak pulang?"


Puas sudah hari ini, Gian yang merasa butuh istirahat memilih untuk pulang lebih dulu bersama Radha. Setelah sebelumnya puas makan cup cake yang ternyata hampir semua untuk dia, bukan Caterine ataupun Radha.


"Nggak, masih males sama Papamu."


"Ya ampun, Ma, kenapa ngambeknya harus lama begitu? Kasian Papa tiap malem sendirian, tidur meluk siapa coba."


"Salah papamu, udah tua nyebelin," jawab Jelita masih luar biasa kesal, jika ia ingat hal itu ingin rasanya ia acak-acak wajah putranya ini.


"Bukan salah Papa, Ma ... kan udah dibilangin semua demi Mama, ngatain Papa tua, padahal umurnya ga jauh beda."


"Haha, iya juga, tapi memang kalian menyebalkan, sulit rasanya memaafkan."


Jelita benar-benar dendam pada nyatanya, sebagai anak, Gian hanya merasa kasihan pada sang Papa yang bahkan harus tidur di luar seminggu lalu.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa Kak Raka juga mengeluh karena kamu tidak mau pulang? Jangan bilang karena Caterine dia merasa ditinggalkan, Kak."


Randy yang justru merasa terbebani. Pasalnya memang sejak beberapa hari lalu Jelita lebih memilih tidur di rumahnya dengan alasan menjaga Caterine, akan tetapi mengeluhnya Raka membuat Randy merasa bersalah.


"Biasa, Om, istri puber pengen hamil lagi, padahal udah punya menantu, dia sibuk mau anak juga."


"Is, Gian, mulutnya."


Walau kepada adik kandung, Jelita masih malu jika Randy mendengarnya langsung. Dan apa yang Gian ceritakan benar-benar membuatnya memerah.


"Hahah, wajar papamu bilang frustasi akhir-akhir ini, Gi."


"He'em, untuk Papa sabar."


"Iya, sabar sekali," tutur Randy memutar bola matanya malas, dari mana seorang Raka dapat dikatakan sabar, pikirnya.


"Tapi kamu tidak melakukan hal macam-macam kan? Sepertinya ilmu bela dirimu masih terlatih," ujar Randy sedikit curiga jika Raka dan Jelita bukan hanya adu mulut, tapi bisa dipastikan Kakaknya ini mengeluarkan jurus pamungkas jika memang dia tengah luar biasa marahnya.


Jelita hanya diam, untuk apa dia ceritakan, tentu ia akan malu luar biasa, pikirnya. Sebenarnya ia merasa bersalah, tapi untuk meminta maaf dia masih belum bisa.

__ADS_1


Flashback ... [🧘‍♀]


Satu minggu lalu ....


"Jahat kamu, Mas!! Aku cuma mau punya anak, tapi kamu larang dengan cara yang begini."


Dramatis sekali, Raka hanya mampu melihat putranya yang kini meniti anak tangga bersama menantunya. Sunguh lelaki tak setia kawan, pikir Raka.


"Ta, kesehatan kamu tidak sebaik dulu lagi, Sayang, belum lagi ketika melahirkan putra kita kamu operasi, aku hanya takut hal buruk terjadi," tutur Raka selembut dan setenang mungkin, karena jika sampai salah bicara istrinya ini akan salah menduga maksudnya.


"Maksud kamu aku bakal mati cepet gitu? Kamu tu ya, Mas, aku masih muda ... belum juga 50, ini lihat badan aku nggak kalah tuh sama Radha."


"Iya, 15 tahun lalu mungkin iya, tapi sekarang beda, Jelita binti Arman. Kita sudah punya menantu, Gian bisa mengabulkan keinginan kamu buat menghadirkan tangis bayi di rumah ini, Ta."


Tidak ada yang salah dari ucapan Raka, tapi hal ini seakan benar-benar menjadi masalah. Bahkan mungkin dirinya kini terancam tidak akan dapat tidur dengan tenang beberapa hari kemudian.


"Mas kok sampai bawa-bawa nama ayah sih, dia udah tenang juga ngapain pakek dipanggil lagi."


"Ya Allah, Ta. bukan gitu, Sayangku ... kamu dirawat di rumah sakit cukup lama, dan kamu baru berangsur membaik ketika Gian menikah, masa mau sakit lagi," jelas Raka mulai lelah, mau bagaimana caranya menjelaskan pada istrinya bahwa hamil tak selamanya jadi kabar baik.


"Memang aku selemah itu di mata kamu ya, Mas?"


BUGH


"Aaakkhh, sakit, Jelita."


"Gimana? Masih kuat kan aku, diinjek gini aja kamu teriak, padahal kaki aku kecil, Mas. Artinya masih kuat," tuturnya santai tapi tak melepaskan sejenakpun kaki Raka yang menjadi korban.


"Atau kamu mau yang lain? Nih, rasain."


Sudah Raka duga, firasat buruknya hari ini benar-benar nyata. Jambakan istrinya masih sama-sama menyakitkan, kapan terakhir ia merasakan penyiksaan seperti ini, mungkin beberapa tahun lalu.


"Lepas, Ta, kamu nggak malu begini? Ya Tuhan ... Budi!! Kenapa cuma diam disitu?!!"


Ingin balik memukul, tapi mana mungkin ia tega. Wanita manjanya ini memang mengerikan jika tengah marah, bukan hanya menarik rambut dan menginjak kakinya kuat-kuat, Jelita juga berhasil menggigit telinga Raka.

__ADS_1


"Maaf, Tuan, sepertinya Hercules belum saya masukkan kembali ke dalam sangkar."


"Astafirullah, Budi ... bisa-bisanya kau lebih peduli burung peliharaanmu daripada aku?!!"


Mau kemana Raka meminta tolong, putranya angkat kaki, dan Budi angkat tangan. Mereka lebih dari takut jika berhadapan dengan singa betina yang tengah mengamuk.


"Hayo, mau sama siapa coba kamu minta tolong? Nggak ada kan yang peduli sama kamu, Mas!! Makanya jangan usil banget jadi suami."


Raka memejamkan matanya, setidaknya gigi runcing itu tak lagi menyiksa telinganya, tapi rambut dan kakinya masih tersiksa tentu saja.


"Siapa yang usil, Jelita. Lepaskan! Aku bisa pingsan nanti."


"Terserah, bodo amat! Kamu udah lama kan gak dirawat di rumah sakit? Biar rasain sesekali." Bukannya merasa iba, Jelita menambah kekuatannya, mungkin jika di kepala Raka ada hewan lain, nampaknya lebih memilih untuk pergi sebelum di basmi.


"Aaarrrgggghhh!! Kamu bener-bener penyiksa paling kejam ya, Ta." Raka tak punya kekuatan bahkan untuk melepaskan diri, nampaknya istrinya ini benar-benar paham titik kelemahannya.


"Oh iya dong, kamu lupa siapa aku, Abima Raka Wijaya? Is, aku cabut nyawa kamu hari ini bisa ya, Mas."


Puas dengan membuat suaminya memerah lantaran menahan sakit, Jelita mendorongnya hingga pria itu terhuyung kehilangan keseimbangan. Hari paling buruk bagi Raka, belum pernah ia lihat Jelita semarah ini.


"Heeh!! Sadar, Ta, aku benar-benar bisa mati, jangan bercanda, Sayang. Itu keras." Melihat Jelita yang kini mengangkat guci yang ia yakini milik putranya itu, mata Raka membulat sempurna.


Napas Jelita yang kini memburu, matanya memerah dan jemarinya gemetar sebenarnya. Kenapa dia sampai kesetanan begini, sadar jika kini ia meraih guci sialan itu, Jelita melemparnya ke lantai hingga benda itu hancur berkeping-keping


PRANK


Raka hanya memejamkan mata, ia pikir mungkin akhir hidupnya sebentar lagi. Perlahan ia membuka mata, Jelita telah berlalu ke kamar dan membanting pintunya dengan sangat keras, bisa jadi rusak, pikir Raka.


"Hampir tidak pernah marah, sekalinya marah gila."


Merasa hidupnya terselamatkan, Raka mengelus dadanya. Tak lupa mengucap syukur pada Tuhan dan berterima kasih pada malaikat karena menunda kematiannya.


"Huft, sulitnya memahami wanita," tutur Raka menghela napas kasar.


Bukannya ia tak ingin memiliki putri seperti yang Jelita harapkan, akan tetapi jika resikonya tinggi ia tak mungkin siap jika harus kehilangan Jelita. Cukup dengan kelahiran Gian dan Haidar ia hampir gila, bagaimana Jelita yang hampir meregang nyawa, dan Raka tak mau lagi menyaksikan hal semacam itu.

__ADS_1


Flashback Off ... [🧘‍♀]


Sebenarnya aku rada takut, karena karakter Jelita di Novelnya memang jadi musuh bagi pembaca yang suka Raka😂 Tapi ini memang dia ya, karakter ini melekat dalam diri Jelita, dan aku beneran rasain karakter ini paling kuat diantara tokoh cewek yang aku buat. Ni cewek tegas dari awal, pelakor dibuat ciut depan mata, dan emang kalau cewek-cewek yang gak suka sama cewek kasar bakal gak suka sama dia. But, aku yakin, cewek diluar sana justru banyak yang kayak Jelita.


__ADS_2