
"Angyeonghaseo, Eoni ... pakabar, dianter siapa tdi sekolahnya?"
Baru saja masuk kelas, Helena sudah mejamunnya persis putri kerajaan. Bahkan dengan gaya santainya, Helena membungkuk 90 derajat sebagai bentuk hormat pada Radha.
"Apaan si aelah."
Tidak di rumah, dan kini di sekolah ia menemukan spesies yang menyerupai Gian. Entah sebenarnya hidupnya terkena sial atau apa, akan tetapi apa yang ia alami cukup untuk alasan ia mengurut dada.
"Ih cemberut, lu kenapa nyet?"
"Aduh, Ele udah deh gue mual lama-lama lu ngintil mulu ma gue."
Radha mulai lelah dengan kehadiran Helena yang seakan tak bisa lepas darinya. Kelas bagai milik berdua, bahkan ia sama sekali tak peduli dengan beberapa tatapan tajam siswa lain di sana.
"Kok sensi banget, Ra ... kenapa si lu? Datang bulan ya?"
Radha menggeleng, tampak mengingat karena memang ia merasa harusnya tanggal ini adalah waktunya. Kenapa bisa telat, belum sempat menjawab Radha sudah pusing sendiri.
"Gawat."
Matanya membulat sempurna, dan Helena yang berada di depannya jelas panik luar biasa. Seakan bukan hanya bencana bagi Radha, akan tetapi kini Helena tengah memperjuangkan nasib jantungnya.
"Ga-gawat kenapa, Ra?"
"Gawat, Helena ... mati gue!"
"Ya kenapa sih, cerita yang jelas biar gue paham, Ra."
Tak mungkin ia membahas hal ini di sini, Radha memilih bungkam dan duduk ke tempatnya. Mengatur napas dalam-dalam dan lagi-lagi mencoba menghitung serta mengingat-ngingat tanggal biasanya dia kedatangan tamu.
"Gue nggak mungkin salah inget, ini tanggal berapa?"
"25, nape?"
"Sial, mampuus gue ... apa gue lupa minum ya, perasaan gak mungkin lupa deh." Radha menjerit dalam batinnya, bagaimana jika memang benar. Belum lagi Gian sejak lama selalu membahas kehamilan yang belum sama sekali ia inginkan.
"Ra, kenapa sih?"
"Enggak, gue kira tanggal 31 ... mau minta duit jajan tadi," ujar Radha mengalihkan pembicaraan, menghindar dengan jalan seperti ini rasanya lebih baik daripada harus menjawab dengan alasan yang tak akan Helena mengerti.
"Bikin panik aja tau nggak, gue pikir apa."
Helena menghela napas perlahan, ia sudah berpikir macam-macam. Ia bahkan kacau dan justru lebih panik dari Radha.
"Santai, gue No Father," tutur Radha nembuat Helena loading sejenak, kalimat Radha cukup sulit untuk dipahami.
"Nggak Papa," jelas Radha yang hanya mendapat anggukan pasrah dari Helena, nampaknya sahabatnya ini tak sadar diri, kerap mengatakan dia gila nyatanya lebih gila dirinya.
__ADS_1
Pelajaran tak lagi begitu berat, karena memang ujian mereka tinggal menghitung hari. Pertemanan Radha memang tak terlalu besar, hanya ada Helena sebagai tempatnya berbincang ini dan itu. Sedangkan lainnya hanya sekadar mengenal wajahnya saja.
"Ra, kita jalan kapan? Lu nggak jadi-jadi ajak gue jalan sama Abang Gian."
"Abang-abang, palelu Abang! Laki gue itu," celetuk Radha dengan emosinya yang sedikit memuncak, sensi luar biasa memang jika orang lain memperlihatkan bagaimana ketertarikannya pada Gian.
"Iya, suamimu."
"Dia sibuk, dari pagi sampe sore udah di kantor, malem baru ada."
"Yaudah, kita jalan malem aja gimana?" tawar Helena bernegosiasi, wajah cantik Radha makin mengkerut saja begitu mendengar ucapan Helena.
"Malem makin nggak bisa, kita berdua makin sibuk."
Helena mencebik, banyak sekali alasan Radha hingga memberikan 1000 alasan demi menolak ajakannya.
"Pelit banget si," keluh Helena seakan tengah tersakiti lahir batinnya.
"Au ah."
Saat ini, yang Radha pikirkan hanya perihal dirinya. Bukan tentang Helena yang kini mengamuk juga bukan tentang ujian yang sudah menghitung hari.
Radha menatap nanar keluar, ia sudah merasa kacau. Maka akan lebih kacau lagi jika ia memikirkan hal lain. Bagaimana nasibnya nanti, hanya sebuah pernikahan saja ia sudah ruang geraknya begitu terbatas, lantas bagaimana jika ia benar-benar hamil.
"Enggak, belum waktunya."
Ia meraba perutnya yang kini memang tak serata dahulu, tapi dengan keyakinan penuh ia berharap itu adalah tumpukan lemak.
Berusaha untuk tak memperlihatkan bagaimana kacaunya dia kini, Radha bahkan masih berusaha fokus kala Helena mengajaknya membicarakan hal lain. Matanya memang menatap ke Helena, tapi pikirannya jauh entah kemana.
-
.
.
.
"Selamat siang, Gian."
"Bisakah kau ketuk pintu dulu, Reyhans ... aku benar-benar lelah hari ini."
Lelah apanya, perkara ia bekerja tanpa adanya Radha seakan dunianya sangat amat melelahkan. Gian masih bersandar di kursi kebesarannya, mata tajam itu kini terpejam, sama sekali tak semangat.
"Tapi, pak Randy menunggumu sudah hampir 30 menit, Gian."
"Mau apa orangtua itu, katakan saja aku sakit, Rey ... pasti dia pulang."
__ADS_1
Benar-benar tak punya akhlak, padahal dia sendiri yang meminta Randy untuk datang ke kantornya satu jam lalu. Dan kini, mendadak dirinya seakan tak mau diganggu sama sekali.
"Jangan membuatnya kecewa, Gi, bagaimanapun dia harus dihormati."
"Dia bukan bendera, Reyhans, ada-ada saja kau."
Habis sudah kalimat yang bisa Reyhans keluarkan, nampaknya memang menjadi paman dari seorang Gian tak 100 persen bisa dibilang keberuntungan, mungkin hanya 25 persen, sisanya sial semua.
"Kasian om Randy," tutur Reyhans tak bisa menutupi bagaimana nuraninya kini, sungguh malang nasib duda tampan paripurna itu.
"Kasih di sedikit uang jika kau kasihan, aku benar-benar lelah, suruh ketemu Papa saja ... aku sudah bilang kalau om Randy akan menemui Papa."
Kurang ajar apalagi yang belum ia lakukan, bahkan Raka yang seharusnya tak dipusingkan dengan hal semacam ini harus menerima akibat dari ulah putra sulungnya.
"Baiklah, akan kusampaikan."
Meski terdengar tak masuk akal, selagi yang berkata itu adalah Gian maka tak masalah. Bahkan sekalipun Gian meminta Reyhans untuk menampung air mata semut akan ialakukan.
Satu menit
Dua menit
Tiga menit
"Ays!! Menyebalkan sekali, apa aku jemput saja ya," tutur Gian mengacak rambutnya.
Sedari tadi ia tak tenang, apa yang sebenarnya ia khawatirkan. Untuk pertama kalinya Gian menyesali keputusan untuk merampas ponsel Radha usai membaca puisi dari Juan.
"Aku tidak mampu menahannya."
Gian berlalu, ia melepas jas dan hanya dengan kemeja biru muda yang lengannya ia gulung hingga siku.Tatapannya tajam dan langkah yang ia ambil begitu pasti, tak heran jika lagi-lagi pesona Gian membuat para wanita di kantornya meleleh seketika.
"Aah, rahim gue anget liat pak Gian." Sonya sudah diluar batas, ia bahkan tak malu berkata demikian didepan sahabatny.
"Hust, jaga bicaranya!!"
"Kutunggu dudamu, Pak," sahut sahabatnya ikut-ikut, seakan tak mau kalah dari Sonya.
"Astafirullah, Romi!! Ingat jati diri, lu lupa diri atau gimana!"
"Gue normal, tapi kalau sama pak Gian bisa dibicarakan," ujar Romi entah serius atau memang hanya menambah rusuh keadaan lantaran Sonya yang tak henti memuji Gian jika melewati mereka.
"Sepertinya pak Gian harus evaluasi seluruh karyawan, otak-otak geser kek kalian kudu di PHK masal," ujar Sabira yang merasa geli dengan kelakuan mereka.
"Halah, gaya amat lu, kalau diajak kawin sam dia mau kan?"
"Hahah iya juga sih, mana mungkin gue tolak."
__ADS_1
🌻
Hai-Hai, aku baru pulang. Dan Babay🤗