Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 133. BOS GILA


__ADS_3

Berpindah dari kacaunya keluarga duda kurang waras sebelumnya, kini kembali pada pasangan manis yang tengah mesra-mesranya. Sejak tadi Gian memeluk istrinya yang hanya bisa pasrah menerima walau jujur saja ia sedikit sesak. Berada di perjalanan menuju sekolah dalam pengawasan Rey di depannya membuat Radha malu.


“Kak aku sesak,” keluh Radha yang membuat Rey menarik sudut bibir, ia menggeleng pelan mengingat bagaimana dulu bosnya ini begitu tidak suka dengan gadis yang ia anggap cabe-cabean seumuran Radha.


“Benarkah? Apa pelukan Kakak terlalu kuat, Sayang?”


“Pakek nanya lagi, iya dong,” ujarnya menampilkan gigi putihnya yang rapih, kalimatnya ia tahan lantaran sedikit kesal, seragam sekolahnya mungkin sedikit kusut nantinya.


“Begini?”


“Sedikit lagi.” Radha menghela napas pelan, Gian hanya merengganggkan sedikit saja dari pelukannya, menyesal ia tidak kabur dan pergi sendirian, pikir Radha.


Dengan kecepatan rendah, persis siput pecah cangkangnya kalau kata Radha, jika begini kapan dia akan tiba. Mungkin saja upacara bendera telah usai, dan Rey yang hanya seorang asisten hanya menurut saja ketika Gian memintanya menurunkan kecepatan.


“Kak Rey, bisakah lebih cepat? Aku sudah terlambat, Kak.”


“Rey ….” Gian menekan suaranya, isyarat bahwa Rey tak boleh menuruti apa yang Radha minta.


“Kak, ayolah … jangan bercanda, aku siswa baru tapi bertingkah, habis nanti.”


“Suamimu yang punya sekolahnya, bisakah kau diam Rhadania? Atau kau mau sekolahnya Kakak liburkan sementara?” ancamnya dengan tatapan tajam dan senyum begitu licik yang membuat Radha kesal bukan main.


“Iyaya diam.”


Menyaksikan kedua manusia ini, Rey hanya bisa memperbanyak stok sabarnya. Karena jujur saja, membawa mobil dengan kecepatan serendah ini membuatnya sedikit gemas. Pekerjaan di kantor begitu banyak, rapat yang harus Gian hadiri tinggal beberapa menit lagi, dan belum lagi janji temu yang telah Gian setujui hari ini cukup banyak.


Hingga kekhawatiran Radha itu berkurang ketika gerbang sekolah telah tampak di depan mata, dan dengan mudahnya penjaga sekolah itu membukakan gerbang padahal ia telat hampir setengah jam. Memang benar, kalimat “sekolah punya bapak lo” itu ada, pikir Radha.


“Kakak anter, dan kau tidak perlu ikut upacara, duduk manis di kelas saja, paham?”

__ADS_1


Lagi-lagi ia menganga, meski dahulu sempat ia mengidamkan bisa dibebaskan untuk tidak ikut upacara bendera tapi kini berbeda. Hidupnya ketika dalam ikatan bersama Gian terasa semudah itu dan tak punya aturan lagi.


Ia berjalan di sisi Gian, pria itu menggandeng istrinya dengan erat. Beberapa orang yang menyaksikan keduanya jelas menatap penuh tanya, dengan di dampingi salah satu guru BK yang paling ditakuti di sekolah itu membuat Radha akan terjaga dari segala serangan siswa lain, pikir Gian.


“Jaga adik saya dengan baik, pekerjaanmu jadi jaminannya.”


Eka, guru BK yang masih cukup muda itu hanya mengangguk patuh. Mengenal Gian sebagai sosok yang tak menerima kesalahan, ia hanya berharap tugas ini dapat ia lakukan dengan baik.


“Kakak pergi dulu, jangan pulang kalau tidak bersama Rey atau aku, mengerti?”


Dan tanpa peduli keberadaan Eka, Gian mengecup kening istrinya sebelum berlalu. Sempat mengusap wajahnya begitu lembut dan melemparkan senyum manisnya untuk Radha. Jelas hal itu membuat Eka bingung, sejak kapan ada sosok Kakak yang semanis ini pada adiknya.


“Iya, Kak.”


Radha menjawab seadanya meski sempat terkejut dengan aksi yang Gian lakukan, pengakuan Gian yang mengatakan dia adalah adiknya terdengar sedikit aneh bagi Radha, namun hal itu tak ingin ia pertanyakan karena memang sepertinya ia tak berhak tahu.


Menatap punggung Gian yang semakin menjauh, baru Radha sadari postur tubuh suaminya persis seperti pria yang kerap ia gambarkan seperti sosok pangeran dalam khayalnya. Radha menghela napas pelan, ia menatap Eka yang justru fokus menatap ke arah perginya Gian.


“Ah iya, kamu bebas ya hari ini, tunggu saja di kelas,” ujarnya dengan suara lembut namun tatapannya begitu teliti menatap Radha dari ujung kepala hingga ujung kaki.


“Kamu pindahan darimana? Anak baru kan ya?”


Eka mengangguk mengerti usai Radha menjelaskan asal sekolahnya. Memang tak seterkenal sekolahnya saat ini, SMA KUSUMA BANGSA. Begitu bangga Radha menyebutnya. Dengan sejuta kenangan yang sesakit itu terpaksa ia tinggalkan.


“Adiknya pak Dirgantara, kenapa tidak sejak awal sekolah di sini?” tanya Eka benar-benar penasaran, pasalnya jika memang ia adiknya kenapa baru sekarang dan sekolah sebelumnya pun berada di kota yang sama.


“Hmm jauh, Bu ….” Radha menjawab hati-hati berharap tidak akan timbul kecurigaan nantinya.


******

__ADS_1


“Ays!! Kenapa bisa semacet ini, Rey? Kau tidak bisa memilih jalan atau bagaimana?”


Inilah yang paling Rey tak suka dari Gian. Pria ini benar-benar bertindak sesukanya, sebelumnya juga ia baik-baik saja meski jalanan macet bahkan meminta untuk berjalan begitu pelan. Dan kini, hanya lampu merah saja ia emosi, pria itu gusar menatap jam di pergelangan tangan kirinya.


“Astaga, kau lihat?!! !5 menit lagi, bisakah kau lebih cepat? Trobos saja, Rey!!”


“Maaf, Pak … kita akan terkena masalah, dan urusannya akan lebih panjang jika nanti berurusan dengan mereka.”


Rey menunjuk beberapa pria dengan seragam coklatnya, memang tuannya ini tak bisa patuh sedikit saja jika ia mulai gila. Jika memang takut terlambat, kenapa rela mengundur waktu ketika mengantar Radha ke sekolahnya.


“Sial, kenapa juga mereka berada di sana? Dan kau, sejak kapan kau takut pada mereka, Rey?”


“Bukannya takut, Pak … tapi sebagai warga negara kita memang wajib patuh dengan segala peraturan yang ada,” tutur Rey yang membuat Gian bergidik ngeri, sejak kapan pria ini patuh dan berpikir sejauh ini.


“Ck, sejak kapan kau bijaksana begini?”


“Sejak kemarin, Pak … saya harus membayar denda akibat melanggar lalu lintas, dan itu cukup sekali … saya malu,” tutur Rey menjelaskan alasannya, masih ia ingat bagaimana dia menjadi pusat perhatian karena ulahnya itu.


“Kau saja yang sial.”


Gian tak terima alasan, karena baginya hal semacam itu terjadi hanya bagi orang-orang yang tak bisa menghindar, dan strateginya kurang jitu. Gian mendesak Rey begitu lampu merah itu telah berganti, hanya tersisa waktu 10 menit. Dan dalam waktu yang sangat singkat itu ia harus sudah tiba di kantor.


“Anda yakin, Pak?” tanya Rey memastikan, karena memang jarak ke kantor masih membutuhkan waktu sekitar 20 menit dengan kecepatan normal.


“Iya, kenapa memangnya? Atau kau mau bertukar posisi?”


“Tidak, baiklah akan aku coba.” Rey bertindak cepat, karena jika Gian yang mengambil alih kemudi, bisa dipastikan ia akan berkendara seenak jidatnya, dan Rey tak berkeinginan untuk menemani pria ini balap liar tanpa lawan.


“10 menit harus tiba di kantor, jika kau masih ingin asistenku, lakukan dengan maksimal, paham?” lagi-lagi ancaman klise itu ia keluarkan lagi, meski terdengar basi namun Rey tak punya keberanian untuk melanggarnya.

__ADS_1


“Dasar bos gila!!” Batin Rey kini menjerit, sungguh tersiksa sebenarnya, tapi memang gaji yang Gian berikan padanya tak main-main.


Bersambung


__ADS_2