Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Bahaya (Jelita)


__ADS_3

Reyhans menatap meja kerja Evany yang kini kosong tak terisi, biasanya dia akan menemukan tatapan genit dari sang istri jika tengah mendampingi Gian. Dan kini, dalam Reyhans takkan menemukan hal itu kembali.


Siang ini masih sama, Gian benar-benar memposisikan diri seprofesional mungkin. Pria itu sama sekali tak menatapnya sebagai teman seperti biasa, dan mulutnya masih terkunci untuk mengungkapkan apapun terhadap Reyhans.


Perjalanan benar-benar sekaku itu, dan kurang asemnya lagi, Gian memilih duduk di belakang layaknya seorang bos yang menikmati perjalanan bersama sopirnya, luar biasa sekali bukan cara marahnya.


"Hallo ... Sabar ya, nggak lama lagi Papa pulang," ungkap Gian mengerti jika sudah dihubungi begini sebenarnya istri dan anaknya meminta Gian pulang lebih cepat.


"Cepat, Papa!!" desak Kalila tiba-tiba menangis setelah sebelumnya dia hanya terlihat tak nyaman


"Sayang ... kenapa nangis, hm?"


"Gatal, Papa."


Gian mengerutkan dahi, putrinya menangis tapi mengeluh gatal sembari menunjukkan telapak tangannya yang merah-merah. Hendak bertanya pada Radha akan tetapi sangat sulit karena Kalila menguasai ponselnya.


"Rey pulang," titah Gian merubah perjalananya, sebelumnya pria ini hendak menuju kediaman Erick yang mengabarkan kelahiran putra mereka, akan tetapi jika sudah begini Gian tak bisa menunda kepulangannya.


Reyhans putar arah dan menambah kecepatannya, karena tangisan Kalila memang membuatnya khawatir.


"Tunggu ya, Papa pulang, sabar-sabar."


Gian kalang kabut, jika sudah kacau begini dia ikutan kacau. Di sana terdengar Radha tengah menenangkan Kalila, akan tetapi putrinya hanya menginginkan sosok papa dan bahkan enggan Radha sentuh.


"Kak buruan, Kalila maunya kamu," teriak Radha dapat Gian dengar meski sedikit terganggu lantaran tangisan Kalila.


"Tenangin dulu sebentar, Ra ... Kakak juga usaha, ini sopir kita nggak bisa ngebut."


Sialan, dia benar-benar meganggap Reyhans sebagai sopirnya. Pria itu kembali menambah kecepatan, memecah lalu lalang kendaraan dengan kecepatan tinggi jelas saja menjadi pusat perhatian.


"Ada-ada saja ya Tuhan, kenapa juga bisa gatal begitu, Ra?"


Ttuuut tuuut


"Kampret, istri kurang asem memang begini ... Reyhans, bisa cepat sedikit tidak? Putriku lagi dalam bahaya kau paham tidak!"


"Sabar, Gian ... kau tidak merasakan aku sudah secepat ini," tutur Reyhans merasa dirinya tak salah sama sekali, karena memang dia sudah melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi bahkan bagi Reyhans ini sudah melampaui.


"Cepat apanya, kalau bawa orang hamil aku rasa lahiran di mobil jika kau begini," omelnya membawa masalah lain, kenapa juga dia samakan Reyhans dengan sopir ambulance.

__ADS_1


Padahal jaraknya sedikit lagi, dan Gian bisa-bisanya mengomel seakan semua salah. Alasan dia saja ingin mencaci pria itu.


Reyhans tak ingin menjawab apa-apa lagi, karena kini yang ia inginkan hanya Gian lebih cepat tiba sesuai keinginannya.


Memasuki kediamannya, Gian membuka jendela dan berteriak memanggil Budi yang ternyata tidur di tempat biasa dia jaga.


"Budiman!!! Buka pintu woeey!!"


Sopan sekali dia, Reyhans sudah memberi isyarat dengan klakson pada mereka sebenarnya. Untuk apa Gian berteriak seperti orang demo di depan gedung pemerintah, pikir Reyhans.


Buru-buru Budi membuka pagar besi itu, tubuh kurus dan terlihat sangat lelah itu memprihatinkan di mata Gian, kasian efek puasa.


"Terima kasih!!!"


Meski dia mengucapkan terima kasih, akan tetapi itu tak sebaik maknanya. Super ngeggas dan cukup membuat nyali seseorang sedikit ciut dibuatnya.


-


.


.


.


"Dia masih jadi atlet lari ternyata," ungkap Reyhans menyusul turun namun sudah kalah jauh lantaran Gian masuk ke rumahnya dengan langkah secepat kilat.


Gian melempar tas kerjanya ke sofa, sedikit kasar namun sepertinya aman saja dan tidak akan merusak benda berharga di dalamnya.


"Papa ...." Putrinya merengek sembari menghampiri papanya.


Menunjukkan telapak tangan yang sudah memerah bengkak. Gian menghapus air mata putrinya, kasihan sekali melihatnya menderita begini.


"Kenapa? Hm? Coba ceritain sama Papa kenapa bisa begini?" tanya Gian meraih telapak tangan putrinya, gatal dibagian itu memang teramat menyiksa dan sangat amat menyiksa.


"Huuaaaaa." Bukannya menjelaskan, dia malah menenggelamkan wajah di dada bidang sang papa.


Mencari ketenangan dan mengadu tanpa bicara, Radha yang melihatnya hanya menggelengkan kepala. Sudah berapa banyak minyak kayu hitam yang dia oleskan di sana, bahkan mungkin tangan Kalila seakan panas dibuatnya, masih saja rasa gatal itu belum hilang.


"Sayang, kenapa dia bisa pegang ulat? Kamu biarin gitu aja?"

__ADS_1


Radha menghela napas perlahan, memang tak dapat dipungkiri ini adalah kesalahannya. Radha tak menjaga Kalila dengan baik dan juga tak menyelamatkan tangan putrinya dengan cepat lantaran rasa takut dan geli lebih besar dari tubuhnya sendiri.


"Aku nggak biarin, Kak, tapi memang aku beneran gatau kalau dia udah nangkep ulat," jelas Radha seadanya, karena memang semua terjadi begitu cepat, Kama dan Kalila main tak begitu jauh, Kama fokus dengan kerikil yang berada tak jauh dari tanaman kesayangan Jelita, sementara Kalila sibuk dengan daunnya.


"Kenapa juga bisa ada ulat, dimana dia dapetnya?"


Jelita ngeri-ngeri sedap kala Gian menanyakan asal ulatnya darimana. Matilah dia, bisa habis tanaman kacang panjang kesayangannya kalau Gian marah pada sumbernya.


"Dari bunga Oma, Papa."


Astaga, percuma dia mempertahankan jika Kalila justru mengatakan hal itu dengan sendirinya. Habis sudah, bisa-bisa tanaman itu Gian ratakan dengan tanah.


"Bunga? Bunga yang mana, Sayang? Kasih tau Papa," pinta Gian yang membuat Jelita dan Radha saling menatap, sementara Kama yang duduk manis menonton televisi tak begitu peduli dengan keributan yang disebabkan adiknya, acuh sekali memang.


"Di sana, Pa," tuturnya menunjuk arah taman belakang, tanpa banyak bicara Gian melangkah dan menuju tempat yang Kalila tunjukkan.


"Aduh, Ra!!Bahaya!!! Gimana, abis tanaman Mama."


Mengerikan sekali, Reyhans sedikit menyesal jika ia tahu permasalahannya akan begini. Ingin pulang juga tak enak, karena sudah terlanjur masuk ke dalam rumah.


"Susulin, Ma!! Cepet," teriak Radha mengambil langkah, karena Jelita merawat tanamannya penuh kasih sayang, jelas saja dia takut mertuanya akan bersedih nantinya.


"Aduh, Kak Rey tolong jagain Kama bentar ya."


Grasak grusuk, kedua wanita itu tengah mempertahankan hak hidup tanaman itu. Sungguh dua orang itu mengancam kehidupan yang sudah Jelita ciptakan, benar-benar tak dapat dipercaya.


"Kama sama Om ya." Reyhans menghampiri Kama yang duduk manis bak bos besar yang tengah mendatangi rapat petinggi perusahaan.


"Hm," jawab Kama sesingkat itu, jika papanya banyak bicara, lain halnya dengan Kama yang lebih memilih diam dibandingkan celoteh tak berguna.


"Nonton apa?" tanya Reyhans basa-basi sembari mengelus rambut lembutnya, anak ini benar-benar tampan, pikir Reyhans.


"Gatau, Om, tonton aja ya," ujarnya polos, dia memang tidak tahu karena tayangan ini berbeda dari sebelumnya, dan jawaban Kama sukses membuat Reyhans tertawa renyah.


"Hahah iya, ini Om tonton juga."


Bisa-bisa anak sekecil Kama membuat Reyhans seakan bodoh, mengutarakan hal konyol dan dan dijawab dengan realita paling pasti.


👶👧

__ADS_1


__ADS_2