Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 169. Luka Yang Sesungguhnya ~ Pesta Manjalita.


__ADS_3

Plak


“Masih berani berbohong? Hm?”


Rindunya membawa malapetaka, keberanian Maya untuk keluar tanpa Wira akhirnya dapat pria itu ketahui dengan mudah. Kemarahan kini tergambar jelas dari pria tampan berwatak keras itu, malam kelam bagi Maya, dan ini sudah kesekian kalinya.


“Mas, aku juga punya hak untuk menemuinya, dia putriku juga dan kamu tidak seharusnya membuat hubungan kami terputus begitu saja!”


Tak peduli meski ia akan mati malam ini, sudah terlalu lelah jika Wira terus saja membuatnya terluka dengan cara yang sama. Cinta Wira terlampau buta, hingga perihal Radha ia merasa cemburu, karena bagaimanapun Radha adalah buah cinta Maya bersama pria lain, dan itu tidak dapat Wira terima.


“Kamu pengkhianat, Maya! Kamu lupa, janjimu apa? Melepas semua hal tentang Ardi dari hidupmu, termasuk putrinya.”


Wira menatap tajam istrinya itu, sakit dalam benaknya membuat jiwanya bergetar. Tak ada maaf bagi siapapun yang berani mengingkarinya.


“Janji? Aku tidak pernah mengungkapkan janji itu, Mas … tapi kamu yang membuat aku terjebak dalam kalimat yang kamu buat sendiri.”


Rasanya ia sudah hilang akal, keributan malam ini mungkin terdengar oleh beberapa pekerja bahkan kedua putrinya. Akan tetapi, Maya sudah tak peduli lagi. Terlalu lelah untuk hidup dalam ikatan gila Wira yang mengatasnamakan segala hal dengan cinta.


“Tapi kamu sendiri yang mengiyakan janji itu?”


“Aku memang mengiyakan janji untuk melupakan Ardi, tapi tidak untuk Radha, Mas … dia anakku, darah dagingku! Sama halnya seperti Kenanga dan juga Jingga.”


Pria itu menggigit bibirnya, wajahnya kini merah padam lantaran amarah dan tangis menjadi satu. Yang ada dalam benak Wira saat ini hanyalah ketakutan, takut jika Radha akan kembali pada kehidupannya yang dahulu, terlebih lagi ia tahu pria yang dahulu merupakan masa lalu Maya hadir di antara mereka.


“Jangan membuatku marah, May … kau sayang putrimu kan?”


Manik hitam itu menatapnya lekat, senyum tipis dan suara yang terdengar seperti ancaman itu membuat Maya bergetar. Dalam sekejap kini tangannya terasa dingin, hembusan napas Wira dapat ia rasakan bak hunusan pedang yang perlahan menyayatnya.


“Jika kau sayang, maka sayangi dia dengan caramu selama ini.”

__ADS_1


Maya mejerit dalam batinnya, bagaimana ia keluar dari jerat cinta pria tak berhati nurani ini. Hanya demi menuruti cintanya, Wira menutup cinta yang lain untuk Maya. Bahkan ia tak segan membatasi ruang gerak Bobby yang merupakan saudara kandung Maya.


Terpaksa berpura-pura tak peduli, menyembunyikan rasa sayang dan kerinduan tak terbendung adalah luka paling besar bagi Maya. Menerima Wira dengan harapan menghapuskan luka lama perihal Ardi, nyatanya justru luka yang ia dapat lebih menyiksa daripada sebuah perselingkuhan.


“Aku butuh waktu sendiri, Mas … kamu boleh keluar sebentar,” ujar Maya dengan lemahnya, meski tahu suaminya kini tengah di ambang amarah, namun ia tak peduli.


Jiwanya benar-benar lelah, ingin rasanya beristirahat dengan tenang. Ia ingin kembali tersenyum dan hidup tanpa beban sesakit ini. Meski ia berakhir lebam begini, setidaknya Maya bahagia karena telah berjumpa dengan malaikat kecilnya walau tanpa sengaja.


“Semoga kamu suka gaunnya, Radhania, maaf karena Mama kamu menerima banyak luka.”


Gaun itu, bukan untuk hadiah ulang tahun atau semacamnya. Hanya saja, hati Maya tersentuh dan terfokus mengingat putrinya kala matanya berjumpa gaun itu untuk pertama kalinya. Pertemuan tak terduga yang ia yakin Tuhan yang berperan di dalamnya seakan menjadi titik bahagianya Maya walau Radha menolak pelukannya.





“Hadeuh mikir apa sih gue, udah kawin juga ngayal beginian.”


Radha menghela napas kasar, tak sadar jika penampilannya yang memukau menjadi pusat perhatian teman-teman Gian. Dan benar kata Jelita, penampilan super memukau Radha bahkan mengalahkan pesona pasangan yang punya acara.


“Ra, mikir apa hei?” Gian menyadarkan sang istri yang kini melongo entah apa yang ia lihat.


“Kapan pulang? Aku ngantuk, Kak.”


Ia tak terlalu menyukai tempat semacam ini, tunangan macam apa yang dilakukan hingga larut malam, pikirnya. Di antara banyak waktu kenapa harus tengah malam, seakan tak punya waktu lain. Cinderella, tema yang dipakai dalam pesta ini sungguh membuat Radha malas.


“Sabar, Sayang … bentar lagi ya,” bujuk Gian mengecup wajah cantik istrinya yang kini manyun tak punya semangat hidup, dan sialnya hal itu Gian lakukan di depan teman-temannya yang masih sendiri.

__ADS_1


“Dasar sintingg!! Kau tidak bisa melakukannnya di tempat lain, hah?!”


Heru yang duduk tepat di depan Gian membuang napas kasar, ingin ia tenggelamkan Gian detik ini juga. Kenapa dia memiliki sahabat setengil Gian yang sengaja mengumbar kemesraan di depan pria-pria kesepian seperti mereka.


“Rey, kau betah jadi asisten pria tak punya akhlak ini?” tanya Andrew kemudian, sungguh membayangkan berada di posisi Reyhans sebagai asisten Gian adalah hal paling menyebalkan di dunia.


“Hm, terpaksa,” jawab Reyhans singkat, ia sudah biasa menyaksikan bagaimana Gian kerap mengumbar kemesraan, bahkan sudah jadi makanan sehari-hari baginya.


“Ck, diamlah… istriku bisa takut berada di antara orang-orang seperti kalian,” tutur Gian tanpa beban dan membuat Radha menatapnya sejenak.


“Beruntung sekali kau mendapatkan bidadari seperti dia, dan kau … kenapa mau jadi istri pria gila seperti dia adik kecil?”


“Jaga mulutmu, Andrew!”


Sebenarnya Radha berada di saat-saat malasnya, namun celetukan para teman-teman Gian membuatnya sejenak tersenyum dan kantuknya mulai menghilang. Namun tetap saja, rasa laparnya belum terbayarkan, tidak ada makanan yang pas di lidah Radha saat ini.


“Kak,” panggil Radha sembari menarik ujung kemeja Gian pelan-pelan, ia tak bisa lebih lama di sini, pikirannya sudah kemana-mana.


“Apa? Kamu haus?” tanya Gian serius, manik indah istrinya menjelaskan jika ada keinginan yang tersirat di dalamnya.


“Mm bukan, aku pengen ….” Ucapan Radha terhenti dan sedikit ragu ia untuk melanjutkannya, ini masih di tengah keramaian dan pesta pertunangan ini belum separuhnya, Namun percayalah, Radha sudah benar-benar ingin berlalu.


“Pengen apa?” Gian menyipitkan mata, ucapan istrinya yang menggantung membuat Gian bingung.


“Pengen … Kakak denger nggak sih.” Matanya menatap kanan kiri dan kini dan berbisik dengan cepat agar rahasia negara ini terjaga dengan baik.


“Ssst, jangan di sini, banyak orang … kamu mau Kakak gila?” Gian tak tahan jika rengekan istrinya seperti ini, kemana ia akan berlari sementara keadaan seramai ini.


“Ck, Kakak mikirnya apa sih.”

__ADS_1


__ADS_2