Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 242. Permintaan (Gian)


__ADS_3

"Kenapa tidurnya begitu?" tanya Gian kala memasuki kamarnya.


Kebiasaan, Radha lebih memilih tidur di lantai dan kaki yang sengaja ia angkat ke atas tempat tidur. Sebelumnya memang tidur istrinya sesuka hati, akan tetapi dengan bertambahnya usia kandungan Radha, Gian sampai kebingungan dengan kebiasaan Radha yang kian menjadi.


"Capek, Kakak baru pulang ya?"


"Hm, tidur yang bener ... nanti masuk angin, Sayang," tutur Gian seraya melepas pakaiannya, menyisakan celana pendek bercorak macan itu.


Masih belum terlalu membaik, Gian meringis begitu melihat keadaan kakinya. Namun ia takkan memperlihatkan itu sama sekali pada sang Istri.


"Enak begini, Bosen di ranjang, Kak."


Dia berucap dengan mata terpejam, setengah mengantuk karena memang perutnya kenyang luar biasa. Hendak bangun dan membantu Gian ia tak sanggup, tubuhnya terasa amat berat dan malas luar biasa untuk bergerak.


"Ya sudah, besok Kakak pindahkan ranjangnya ke gudang, biar kamu enak guling-guling di lantai, mau?"


"Nggak gitu juga, tega banget sih mulutnya," kesal Radha mendengar jawaban Gian yang mengira bahwa dirinya tak butuh lagi tempat tidur itu.


Gian menarik sudut bibir, meraih satu bantal dan kini ikut bergabung di sisi istrinya. Memeluk erat tubuh Radha seraya menghujani wajah sang istri dengan dengan kecupan hangatnya.


"Nyamannya," ucapnya kini juga merasakan apa yang Radha rasakan, nyaman dan membuatnya cukup tenang.


"Kak," panggil Radha dengan suara lembutnya, curiga jika Gian justru tertidur setelah berada di sisinya.


"Apa? Mau nanya apa?"


"Udah sembuh?" tanya Radha mengalihkan pandangan ke arah kaki Gian yang malang itu, anggukan sang suami sempat membuatnya ragu, namun Gian tak mengizinkan istrinya hendak melihat dari dekat.


"Udah, lebih baik dari sebelumnya."


Gian benar-benar tak membuka matanya, mungkin ia memang lelah. Dan Radha memahami hal itu.


"Kalau mau tidur jangan di sini, ranjang ada, gede lagi," ucap Radha sarkas mengingat kembali apa yang Gian ucapkan padanya beberapa waktu lalu.


"Gak, di sini aja ... nyaman ternyata," ungkap Gian seakan lupa apa yang ia katakan, kebetulan memang dia benar-benar panas.


"Dibilang juga apa, enak kan?"


"Eehm, mulutnya bau daging sapi, kamu gosok gigi gak sih? Hm?"


Dia menghina, namun menahan tekuk leher Radha agar wajah mereka sedekat itu, sesekali mencuri kecupan dan kembali memberikan pernyataan yang membuat Radha kesal bukan main.

__ADS_1


"Enggak, sayang kalau gosok gigi, belum tentu besok aku bisa makan lagi," jawab Radha jujur beserta dengan alasan dia membiarkan semua berjalan apa adanya.


"Wajar, amis." Semakin mendekatkan wajahnya dan membuat Radha tak habis pikir.


"Yaudah sana jauh kalau nggak mau."


Radha mendorong pelan wajahnya yang semakin saja menempel, mulut dan apa yang dia lakukan sama sekali tidak sesuai. Mata pria itu terpejam kini, seakan tak peduli bahwa Radha tengah kesal luar biasa dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Diem, Ra, lima menit saja."


Baiklah, lima menit mungkin memang Gian butuhkan, dan tak menutup kemungkinan jika pria ini memang amat sangat lelah luar biasa, entah apa yang sebenarnya terjadi, akan tetapi raut wajahnya tak bisa berbohong.


-


.


.


.


Malam, rintik hujan kali ini menciptakan kedamaian di antara mereka. Begitu betah Gian dalam pelukan, pria itu benar-benar menjadikan alasan luka di kakinya untuk dapat perhatian lebih dari Radha, beberapa hal ia sampaikan, termasuk tentang karyawan laki-lakinya yang cukup mencurigakan.


"Ra, nanti kalau anak kita perempuan Kakak yang tentukan gaya rambutnya ya," ucap Gian tiba-tiba, sama sekali Radha tak membahas hal itu, dan dia mengatakan keinginan itu.


"Iya Kakak juga," jawab Gian singkat, keinginan itu sejak lama ia idamkan, Gian memang tak dapat menahan diri dari bayi perempuan, walau hanya sekadar melihat pertama kali, ia tak bisa menolak pesona bayi itu.


"Mau banget perempuan?" Pertanyaan Radha memang terkesan singkat-singkat, berbeda dengan Gian yang makin lama semakin cerewet.


"Kalau Tuhan izinkan, maunya gitu ... nanti ada laki-laki lain dalam hidup kamu kalau anak kita laki-laki," ucapnya santai namun berhasil membuat bola mata Radha membeliak, benar-benar di luar dugaan jawaban sang suami.


"Masa begitu? Sama anak cemburu?"


Tak bisa menahan diri, kalimat itu benar-benar lucu bagi Radha. Ia bahkan hampir menangis, suaminya kenapa sampai memiliki pikiran seperti ini.


"Iya dong, nanti kamu sama dia terus, terus ketampanan papanya kalah, kayak Papa yang kalah sama aku sekarang, aku takut nanti kamu kayak Mama, lebih sayang Haidar daripada Papa."


Benar-benar pikiran balita, Gian lupa umur. Dalam berbagai hal memang dia sangat dewasa, namun jika berhadapan dengan sang istri dia akan menjelma menjadi sosok yang sama sekali tak terbayangkan oleh orang lain.


"Dasar aneh, kalau perempuan juga tetep aku sama dia, jagain dia, apa-apa sama dia, gak ada bedanya," jelas Radha memang masuk akal, namun tetap saja bagi Gian berbeda.


"Tapi kan dia nggak akan bisa lebih ganteng dari aku," celetuknya tak mau kalah, meski alasan utama bukan karena ini, jelas karena sejak lama Gian memang menginginkan adik perempuan, itu saja.

__ADS_1


"Hahah bisa saja," ucapnya sembari mengusap pelan rambut Gian, suaminya itu kini menempelkan wajahnya di perut sang istri, entah ia tengah merundikan apa bersama calon bayinya.


"Jawab dulu, boleh kan? Aku suka perempuan yang rambutnya panjang, anak kita gitu ya nanti?"


"Iyaya terserah Kakak aja lah."


Radha menyerah, memang saat ini semua terserah Gian. Pria itu memang tak pernah mau mengalah jika soal ini pada Istrinya.


Tak sabar menanti, pertanyaan yang kerap Gian lontarkan pada dokter jika mereka periksa kandungan kurang lebih sama. Hanya bertanya kapan istrinya melahirkan, kenapa lama sekali, kenapa manusia harus lama berbeda dengan kucing peliharaan Asih dan lain-lain.


Sebuah pertanyaan yang bahkan membuat Dokterny tak yakin jika Gian adalah orang penting dan berpengaruh. Begitupun dengan Radha, ia tiba-tiba tak yakin jika suaminya sekolah tinggi hingga ke luar negeri jika hasilnya begini.


Rasanya dia lebih percaya jika suaminya lulusan tadilah mesra. Karena apa yang ia ucapkan memang rata-rata bertentangan dengan penampilannya.


"Kak, dulu kuliahnya kelar nggak sih? Atau cuma daftar aja?" tanya Radha pada akhirnya, ia tak bisa tidur tenang jika terus menyimpan ini dalam tanya.


"Kelar, kenapa kamu tanya gitu?"


Gian menjawab datar, bisa-bisanya Radha ragu tentang prestasinya yang membuat Raka bangga bukan main. IQ di atas rata-rata dan kecerdasan berbeda dari teman-temannya, Gian kini menatap lekat manik istrinya.


"Nanya doang, siapa tau nanti aku tertarik," elak Radha demi menutupi raut keraguannya.


"Apa? Mau juga?" tanya Gian yang justru menganggapnya serius, karena memang sama sekali Gian tak ingin menjadikan pernikahan sebagai penghalang istrinya dalam menjalani apa yang ia mau.


"Boleh?"


"Boleh, kalau saatnya sudah tepat, tapi harus sama Kakak, dimanapun kalau mau," ucap Gian serius, Radha masih cukup muda, dan kecerdasan istrinya yang cukup pantas untuk dipertimbangkan itu memang disayangkan jika Radha hanya sebatas sekolah menengah atas, akan tetapi ketakutan jika istrinya terlalu bebas tetap saja ada.


"Nggak lah, aku kan udah jadi istri Kakak, nanti nggak fokus," ucapnya dengan nada lembut, sama sekali keinginan itu sudah tidak ada, kebetulan Radha memang tak sesuka itu belajar, jodoh datang secepat itu adalah jalan terbaik yang patut disyukuri bagi Radha.


"Nggak, jika memang kamu mau, Kakak akan usahakan, Ra, lumayan kan buat nambahin nama kalau ada gelarnya."


Radha pikir Gian akan mengatakan apa, ternyata hanya tentang bertambahnya huruf di namanya nanti. Sungguh ia tak dapat berkata-kata lagi dengan pola pikir Gian.


"Nggak ah, kan udah ada nama Kakak di nama aku, lumayan panjang tuh," jawab Radha mengakhiri pembicaraannya, jika dibahas terus jawaban Gian akan selalu ada.


"Yakin nggak mau? Beasiswa loh, Ra ... Kakak bayarin sampai lulus."


"Beasiswa apaan, itu tanggung jawab namanya." Radha mendorong wajah Gian yang kini tersenyum usil.


"Hahaha kan sama konsepnya." Gian menarik istrinya dalam pelukan, kalimat canda yang sebenarnya fakta dan Gian sungguh-sungguh mengatakannya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2