
Harap-harap cemas, Asih sudah menunggu di pintu belakang. Takut jika nanti Gian mengamuk dan melemparkan keranjang pakaian yang berada di sana.
"Bi, kenapa di sini? Dia juga belum pulang," tutur Jelita menenangkan Asih, karena pada nyatanya wanita paruh baya itu memang terlihat sangat gugup sekali.
"Dari pada saya kayak Layla mending siap-siap aja, Nyonya, den Gian lebih menyeramkan daripada majikan temen saya."
Masih teringat jelas di pikiran Asih kala Gian mengusir Layla dengan cara yang paling gila. Menganggapnya gadis rendahan lantaran sengaja mendorong Kama di taman belakang hingga membuat hidung putranya sampai mimisan.
Flashback satu bulan lalu.
"Dasar settaaan!! Mau apa kau sebenarnya!!!"
Teriakan Gian menggema di ruang tamu, tangis Kama yang belum berhenti dan Radha masih berusaha melakukan apapun agar darah itu terhenti. Dugaan Layla salah, dia terlalu tergesa-gesa dan tak berpikir bahwa hari sudah sore.
"Aku nggak sengaja, Kak."
"Jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu!! Kau tidak berhak!!" bentak Gian tak terima.
Tubuhnya bergetar dan bibirnya kini pucat pasi, sedikit menyesal tentu saja. Dia tak mengira apa yang dia lakukan menyebabkan hal segila ini, dia pikir Kama tidak akan terbentur sekeras itu.
"Gi," cegah Jelita ketika Gian hendak melayangkan pukulan tepat di kepala gadis itu.
"Kali ini Mama nggak usah ikut campur!! Semua ini karena Mama yang masih memberikan ruang untuk dia hidup di dalam keluarga kita!!" sentak Gian tak peduli meski predikat durhaka mungkin akan ia sandang.
Kemarahannya kali ini melampaui batas, jika dahulu Layla masih diberikan izin untuk hidup bebas setelah membuat istrinya celaka, kini Gian takkan tinggal diam.
"Jangan memukulnya, Gi," tahan Jelita takut, bukan karena dia masih menyayangi Layla, akan tetapi dia takut jika nanti Gian membuat anak itu masuk rumah sakit.
"Cih, Mama masih membelanya? Manusia tidak tahu diri seperti ini pantang dikasih hati, Ma ... yang ada ngelunjak!!" bentak Gian yang berhasil membuat Layla menitikkan air mata.
"Bukan begitu, Gi."
"Cukup belain dianya, Ma. Mending jagain Kalila sana," titahnya mengusap wajah kasar, dan sebagai ibu yang penurut Jelita mengikuti apa kata putranya.
Gian diam sesaat, memerhatikan penampilan Layla dari atas hingga bawah. Dia jadi bingung sebenarnya status anak ini apa di rumahnya, pakaian yang dia kenakan setara bahkan lebih mahal daripada milik istrinya.
Dia tak peduli sebenarnya, karena memang Jelita memperlakukan anak itu dengan baik dan dia hanya mengerjakan hal-hal yang ringan saja.
"Kalian semua cepat!!!!" desak Gian sudah tak tahan dengan keberadaan Layla di rumahnya, sengaja dia meminta Asih bersama Aryo dan juga Budi untuk mengemasi barang Layla agar lebih cepat.
Gedubrak!!
"Aduh, maaf, Den."
Budi yang terlalu buru-buru tak bisa mengendalikan diri ketika mendorong koper besar itu hingga dirinya tersungkur di hadapan Gian.
"Matanya dipakek kalau nggak mau saya copot satu-satu," ucap Gian begitu enteng dengan wajah datar dan tatapan misteriusnya.
Layla menggigit bibir bawahnya, Gian benar-benar tak Bercanda. Pengusiran besar-besaran dan nampaknya beberapa menit lagi adalah kali terakhir Layla menginjakkan kaki di istana keluarga Wijaya ini.
__ADS_1
"Hei, bisa lihat kesini?" tanya Gian dengan suara tak bersahabat sama sekali.
"I-iya, Tuan," jawab Layla gugup, sedikit demi sedikit dia paham bahwa Gian kini akan mengambil tindakan yang tak main-main.
"Aku rasa kau sudah cukup dewasa untuk memahami keadaan, silahkan pergi detik ini juga selagi aku masih baik," ungkap Gian menatap tajam mata Layla yang sudah memerah, bisa dipastikan jika anak ini luar biasa sedihnya.
"Jangan ada yang berani membantunya," cegah Gian kala Budi hendak membantu Layla membawa koper yang lebih sebesar itu.
"T-tapi, Den." Budi tak tega sebenarnya.
"Ya sudah, kemasi juga barangmu sekalian."
Enteng sekali, Gian berlalu usai mengucapkan hal itu. Sementara ketiga orang itu mematung, bingung hendak melakukan apa lantaran takut dengan ancaman Gian.
"Mama juga mau bantuin? Pergi sana sekalian," usirnya tanpa dosa ketika melewati Jelita yang menatap kasihan pada Layla.
"Kamu kok usir Mama?"
Gian tak menjawab, dia kini beralih pada Kama yang masih belum terlalu tenang. Rasa bersalah Gian luar biasa besar, saat ini dia hanya ingin menyalahkan semua orang di rumah ini, termasuk Radha yang sejak tadi sudah meminta maaf lantaran lengah perihal putranya.
"Jagoan Papa masih sakit ya?" tanya Gian sembari mengelus pelan wajah Kama dengan jemarinya.
"He-em." Kama mengangguk sembari menghapus air matanya, pelukan Gian memang membuatnya lebih tenang, meski sejak tadi Radha sudah membuatnya cukup baik.
"Maafin aku, Kak," ungkap Radha kesekian kali meski sejak tadi Gian sudah tak lagi membahasnya.
"Papa marah?" tanya Kalila dengan manik polosnya, seharusnya putrinya tak melihat kejadian ini, akan tetapi semua sudah terlanjur karena Radha tak sempat mengajak Kalila masuk kamar lebih dulu dan Gian sudah pulang.
"Nggak, Sayang, Papa nggak marah." Senyum Radha berusaha menunjukkan bahwa memang tidak ada masalah dan Gian tidak marah.
"Mukanya kenapa begini, Mama?" tanya Kalila mempraktekan mimik wajah Gian yang membuat Radha sontak terbahak dan lupa bahwa tadi suaminya marah besar.
"Ada-ada aja, kok bisa niruin Papa begitu," ungkap Radha tak bisa menahan gemas kala putrinya menirukan alis tajam Gian.
Flashback Off
-
.
.
.
"Kenapa bisa? Kamu nggak periksa baju Kakak dulu, Ra?"
Setelah panjang lebar menjelaskan, Radha pikir suaminya sudah santai dan tidak akan marah. Namun sepertinya dugaan Radha salah.
"Maaf, Kak ... kan sengaja, lagian biasanya Kakak selalu simpen HP di atas nakas atau ga di meja, ngapain juga ada di saku kemeja."
__ADS_1
Gian menghela napas pelan, sebenarnya ini adalah berita yang masih bisa dikatakan baik lantaran ponselnya tak jatuh ke tangan orang lain. Akan tetapi tetap saja, Gian sedih karena HP nya separah ini.
"Bi Asih...." Pria itu memejamkan mata sembari mengepalkan tangan.
"Heh!! Jangan macem-macem ya, ini kesalahan kita berdua. Jangan pernah nyalahin bi Asih, apalagi mau pecat dia," ujar Radha sedikit takut dan deg-degan sebenarnya.
"Kita? Bi Asih lah yang salah!! Ingat ya majikan tidak pernah salah."
"Ih harusnya makasih loh, kan HP nya dicuci sama bi Asih," ucap Radha berusaha mengendalikan keadaan agar sedikit lucu.
"Ck, tidak lucu, Radhania!" Dengan tanpa dosa, Gian menoyor kepala istrinya hingga Radha tak bisa berkata-kata.
"Aku nggak ngelawak, Kak, tapi tolong jangan pecat bi Asih ya, nanti kita susah cari gantinya," pinta Radha dengan wajah yang sengaja dibuat menggemaskan dan memeluk suaminya sore ini.
"Demi bi Asih aku begini," batin Radha menghela napas pelan kala Gian masih tetap diam walau sudah dengan rayuan maut semacam ini.
"Kamu ngapain begini? Jangan pernah goda-goda aku ya, nggak tertarik!! Sana!!"
Brugh
"Njir, kok didorong sih, Kak!!" desis Radha karena memang Gian mendorongnya hingga terjerambab di tempat tidur.
"Heeh!! Mulutnya, bilang apa kamu tadi?"
Radha lupa, jika suaminya anti dengan kalimat-kalimat spontan yang sebenarnya tak sengaja dia ungkapkan seperti ini.
"Nggak, Kak."
"Ulangi," desak Gian yang kini sudah mengunci tubuhnya.
"Nggak ada!! Sana, udah tau berat maen timpa-timpa begini," keluh Radha sembari menahan dada suaminya yang tanpa dosa menghimpit tubuhnya.
"Tadi godain, diladenin malah nggak mau," ujarnya sembari menarik sudut bibir.
"Sinting!! Nggak gitu maksudnya."
"Terus maksudnya yang bagaimana?" Sengaja semakin membuat tubuh istrinya tersiksa.
"Patah tulangku, Kak, jangan begini tolonglah."
"Apa iya patah? Perasaan biasa begini nggak patah tuh," ucapnya benar-benar tanpa dosa sama sekali.
"Sana, aku mau bantu Mama siapin buat buka puasa!!"
"Kita berdua bukanya di kamar aja, sini aku bantuin bukanya." Jemarinya sudah mulai meraih kancing piyama Radha.
"Bukan buka yang begini astaga, besok-besok sepertinya Kakak yang harus masuk mesin cuci." Mnyesal dia merayu Gian demi mendapat maaf dan memastika Asih tidak dipecat, jika tau akhirnya begini, Radha takkan pernah melakukannya.
🌻👽
__ADS_1