Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Amarah Gian (Berbeda)


__ADS_3

"Matilah aku," batin Radha kala mobil memasuki halaman rumah mewah itu.


Telapak tangannya membasah, ia menelan salivanya pahit. Habis sudah riwayat mereka hari ini, mobil Gian sudah terparkir di sana. Entah kemana makhluk itu, mungkin saja tengah merendam tubuhnya di air dingin, pikir Radha.


"Santai, Ra, biar Kakak yang bicara."


Haidar tahu ketakutan wanita di sampingnya, bahkan degub itu dapat Haidar tebak bagaimana paniknya. Ia sadar apa yang ia lakukan memang tak semestinya, ia telah membawa Radha dengan kebohongan.


Beralasan ingin meminta maaf dan berbicara baik-baik pada Gian, pria itu meminta izin pada Raka pagi tadi. Nyatanya ia menguntit Radha dan merencanakan menculiknya untuk sehari saja, tak lebih.


"Bagaimana aku bisa santai, kau tak paham bagaimana marahnya Om-om itu padaku, Kak."


"Om-om?" Haidar mengerutkan dahi, pasalnya paniknya Radha justru membuatnya semakin terlihat lucu.


"Ah apalah sebutannya, intinya itu. Ayo cepat!! Aku harap ia tak melihat kedatangan kita."


Haidar menarik sudut bibir, bahkan bayangan Gian secara nyata ia lihat di jendela kamar lantai dua. Paham benar setajam apa tatapan sang Kakak di balik kaca bening itu, bukannya panik Haidar bertingkah sebaik mungkin agar ia tak terlihat salah.


Merasa aman, Radha turun perlahan dan mengendap-endap agar kedatangannya tak diketahui. Dasar otak udang, suaminya dengan nyata melihat gerak geriknya, dan dia benar-benar mendalami peran sebagai pencuri sore ini.


"Jangan coba-coba sakiti dia."


Mata itu berbicara, ia menatap tajam Gian yang mungkin tak bisa melihat wajahnya, namun Haidar tahu pria itu berdiri di sana untuk menunjukkan bahwa dia takkan tinggal diam.


Selepas Radha masuk, Haidar ikut turun. Ia tak ingin semata-mata mengikuti rencanya, ia tak ingin sandiwaranya diketahui lebih dahulu.


"Mama," sapa Haidar seakan tak terjadi apa-apa.


Jelita menatap lekat begitu heran sang Putra yang kini terlihat lebih baik, sementara menantu kecilnya hanya duduk di sofa sembari memegang tangannya. Jelas ia curiga ada hal yang terjadi antara kedua insan de dekatnya kini.


"Kalian pulang bersama?"


"Iya, Ma."


"Enggak, Ma."


Haidar memejamkan mata kala Radha mengiyakan pertanyaan sang Mama. Apa Radha terlampau menurut, pikirnya. Haidar hanya mampu menggigit bibirnya, sandiwara yang ia maksudnya justru membuatnya terjebak.


"Siapa yang benar, Radha atau Kamu?"


"Kak Haidar, Ma."


"Radha, Ma."


Hadoh, niat hati mengikuti perkataan Radha yang tampaknya memilih jujur, nyatanya ia salah. Sudah pasti Radha pun mencoba mengimbangi Randy yang mengajaknya berbohong.


"Kalian kenapa sebenarnya?"


"Ehm, anu Ma, sebenarnya."


Haidar menatap manik Radha yang jua menanti jawabannya, sudah pasti ia akan mengiyakan jawaban Haidar nantinya jika diperlukan.


"Sebenarnya apa?"


"Radha terjebak, Ma ... tdi siang hujan dan kebetulan aku merindukan sekolahku, jadi aku mengajaknya pulang daripada nanti telat."

__ADS_1


Dasar bodoh!! Nyatanya kaulah yang membuatnya telat pulang Haidar, Gian menyaksikan drama singkat yang sedang di mainkan oleh adiknya dari salah satu anak tangga.


Ia takkan bertanya, takkan pula ia marah, dan Gian takkan membuat keributan untuk sementara. Amarahnya memang membuncah, apalagi melihat Radha yang kini temgah membelakanginya.


"Berani sekali anak kucing ini," batinnya menatap Radha begitu lekat, berharap istrinya akan berbalik arah segera dan menyaksikan tatapan mautnya.


"Teruskan, aku akan bertindak dengan caraku, Zura, kau lihat saja nanti."


**********


"Haidar stop!! Kenapa dari tadi jawaban kalian tidak ada yang nyambung. Radha bilang iya kamu bilang tidak, begitu sebaliknya," ujar Jelita akhirnya lelah manakala dua orang yang ia cintai ini mempermasalahkan bagaimana mereka bisa bersama saat pulang.


"Katakan Radha, sebenarnya kalian dari mana?"


"M-makan siang, Ma."


Jelita menghela napas perlahan, menatap keduanya begitu lekat. Baik Radha maupun Haidar kini hanya mampu menunduk lemah. Tidak ada yang salah, ia pun tak berniat untuk marah, karena bagaimanapun perpisahan yang mereka alami terlalu buru-buru dan membuat keduanya merasa tak adil tentu saja.


"Sayang, sedari tadi Mama hanya bertanya, tidak akan marah. Hanya saja, kalian harus paham posisi ya, Sayang. Mama tahu itu sulit terutama untukmu, Haidar. Tapi, mobon mengerti ya, Nak."


Haidar tertawa sumbang, ia lega Radha tak terkena amukan Jelita. Namun, batinnya terluka separah itu mengingat kalimat terakhir yang Jelita ucapkan, terlalu sakit meski ia telah paham keadaan.


"Iya, Ma."


"Sayang, masuklah. Jelaskan padanya bahwa aku yang memintamu, dan jangan pernah diam jika dia menyakitimu."


Bahkan baru beberapa detik Haidar mengiyakan ucapan Jelita, nyatanya ia tak semudah itu menerima dengan benar-benar dari hatinya pengertian yang Jelita mohonkan.


"Haidar," ujar sang Mama memejamkan matanya menahan segala ucap yang kini tercekat.


"Aku masuk, Ma, lelah."


********


Sial, nyatanya permintaan Radha tak direstui alam. Gian dengan posisi membelakanginya menatap jauh ke luar, masih dengan pakaian kerjanya, kemeja hitam yang ia gulung hingga siku itu membuat Radha bertambah takut.


"Kak," sapanya sehalus mungkin, berharap pria itu akan luluh dengan suara manisnya.


"Hm, sudah pulang?"


Gian belum balik menatapnya, pria itu masih setia dengan posisinya. Dalam keadaan ini, Radha bukan merasa aman melainkan semakin takut akan hal gila yang bisa saja Gian lakukan.


"Hm, iya, maaf telat, Kak."


Tidak ada jawaban dari Gian, pria itu masih membeku, suasana ruangan mendadak sedingin ini, Gian membuatnya takut walau tak berbuat apa-apa.


Sepersekian menit Radha menunggu, bahkan ia mulai pegal lantaran Gian yang masih bertahan akan posisinya. Dan dia pun tak berani merubah sedikitpun bagaimana dirinya, hanya mampu menunggu apa yang akan Haidar lakukan sesaat lagi.


"Telat ya?"


"Berapa jam kau telat, Istriku?"


Gelagat aneh mulai terlihat, bahkan Gian kini membuka jam tangannya. Menatap Radha begitu tajam dan melangkah perlahan layaknya seseorang yang hendak menghabisi nyawa lawannya.


"Darimana saja kau, hm?"

__ADS_1


Tiada ia duga, Gian nyatanya lebih menyeramkan dari yang sebelummya. Ia mencengkram dagu Radha hingga membuat wanita itu meringis lantaran sakit yang ia rasa.


"Sa-sakit, Kak."


"Sakit?"


"Lalu kenapa berani melawan perintah Kakak?"


Bukannya melemah, ia mencengkram Radha semakin keras. Radha hanya mampu memejamkan mata, bahkan untuk berteriak ia tak mampu bersuara.


"Kak, lepas ... saaakiit," rintihnya meminta ampun, deru napas Gian dapat ia rasakan, memang benar suaminya tengah marah, sangat amat marah.


"Bagaimana kalau ini?"


"Hhhmmmppp ...."


Tak peduli bagaimana sulitnya Radha, Gian mendaratkan bibirnya paksa, hingga wanitanya kesulitan bernapas. Tak peduli bagaimana sakitnya, bahkan darah dari bibir istrinya dapat ia rasa lantaran Gian sengaja mengigit bibir ranum itu.


"Aaaw ... Saa-sakit, Kak."


Radha mencoba memukul dada Gian berulang kali, sayang tenaganya tak sebanding untuk melawan pria dewasa layaknya Gian. Secepat itu Gian mengunci tangan Radha hanya dengan sebelah tangannya, sedang tangan kanan menekan tekuk lehernya.


"Bagaimana? Hm? Kurang?!!!"


Radha masih berusaha mengambil napas kala Gian melepaskannya, wajah itu hanya berjarak beberapa centi, Gian tak melepaskan Radha sepenuhnya. Air mata yang kini membasah di pipinya seakan tak menjadi senjata untuk melemahkan Gian.


"Maaf, Ra, Kakak tidak akan melepaskanmu kali ini."


Kalimat penuh penekanan yang kini membuat Radha gemetar, mencoba berontak dengan sisa tenaga dan air mata yang ia punya. Meski belum apa-apa dirinya sudah lemah.


"Kenapa? Kau takut padaku, Zura? Bahkan seluruh tubuhmu adalah hakku, kau tidak punya pilihan jika aku menginginkanmu."


"Kakak, Please!!!"


"Diam, Ra atau kau mau aku ......"


............... Mau Ape?😭 Kagak taoo, Komen ya!!❣️


Baca sampe abis, Author mo bagi-bagi dalam rangka Ultah Papanya Gian❣️


**HBD, Tepat 1 Tahun Raka Jelita lahir, aku tulis abis subuh dan dia perlahan membesar sebagai anak pertama❣️🤗 Tepat satu tahun lalu aku mencoba ambil langkah agar keluar dari zona nyaman yang sekedar cuma baca dan baca, terkadang agak kecewa lantaran pemeran yang aku suka selalu patah, dan aku mencoba menuliskan Raka ku sendiri, dengan nama Jelita sebagai wanitanya yang sebenarnya asal pilih.


Dan Kini Berlanjut dengan kisah Alvino Dirgantara, Giovani Andra Karsya dan juga Dirgantara Avgian. Yang sebenarnya berawal dari kisah utama itu, dan aku kembangkan agar keluargaku jadi gede dan anakku banyak🐧🐧 Tapi, ternyata ga semulus itu, aku gagal nulis Vino, karena seharusnya tidak seperti itu dan Vino memang punya banyak Mama yang asuh dia, sedangkan Andra jauh dari apa yang aku bayangkan. Garis besar hingga end jauh berbeda dengan kisah yang telah tertulis, bahkan aku hanya mampu menulis 49 Eps, pernah ajukan hapus tapi MT menolak hingga akhirnya aku coba buat up lagi eps baru tapi gak bisa di terima. (Yaudeh nasib gue, Thor ~ Andra😑)


Terima kasih buat para pembaca yang telah memilih mereka sebagai bahan bacaan🤗 Terima kasih karena membaca tak memandang Popularitas yang harus MM an. Banyak dipertemukan orang baik di sini, love you MT, semuanya.


See You When I See You❣️


09-09-2020-09-09-2021, ga pernah nyangka bisa bertahan selama ini, kalaupun Gian sering telat up, maaf ya🤗 Karena berbeda dari karya pertama, Author belum sesibuk saat ini, kadang emang sulit bagi waktunya.


Doa baik untuk kita semua, sehat selalu, semoga tetap dalam lindungan Allah, Allah limpahkan rezeki yang berkah dunia akhirat, apapun tetap dalam keadaan baik ya semua.


Tumben lebay thor? Emang aslinya siih.


Oh iya, Aku akan pilih komen terbaik dari eps ini, buat tiga orang yak, abis komen pastikan follow biar aku follback buat nanti aku bisa hubungin langsung yak.

__ADS_1


🐄 : Hadiahnya ape Thor? Rahasiah, komen aja makanya.


🐧 : Shopeepay lah minimal, atau token listrik? Yang pasti ga mungkin gue kirim panci😌**


__ADS_2