
Gian tidak bercanda, istrinya benar-benar hanya ia perbolehkan makan satu potong. Tak peduli meski Radha merengek, takkan ia berikan walau satu gigit.
"Reyhans, kau tidak mau?"
Reyhans menggeleng, ia tak terlalu suka dengan buah berduri itu. Menatap Gian yang menghabiskan durian itu sendirian cukup membuatnya bergidik.
Drama pasangan suami istri akhirnya harus merepotkan Reyhans, perkara buka buah durian saja Gian menyerah. Banyak sekali alasan kenapa ia harus meminta Reyhans untuk melakukannya.
Jelas saja salah satu diantaranya karena Gian takut jarinya berdarah atau semacamnya. Beralih pada nanas yang telah siap dinikmati, masih cukup banyak dan Gian tak mengizinkan Radha untuk melahap buah itu.
"Bawa keluar, Evany pasti suka, siapa tahu kalian berdua butuh nanas, jika wanita itu belum mau kau nikahi."
"Aku tidak menghamilinya, Gian."
Harus berapa kali Reyhans menjelaskan bahwa dia tidak macam-macam. Sungguh fitnah Gian berbuntut panjang. Bahkan ia sampai menuduh Reyhans berkembang biak.
"Jangan malu-malu, akui saja, Rey ... rahasia kau aman padaku," tambah Gian sembari membersihkan tangamnya dengan tisu.
"Apakah masih ada yang Anda butuhkan? Jika tidak, saya permisi, Pak."
Merasa lelah dengan Gian, pria tampan itu memilih keluar dengan sopan. Karena nampaknya Gian tak pernah berhenti mengusiknya masalah itu.
"Tidak ada, terima kasih ... dan tolong minta seseorang bersihkan ruanganku," titah Gian merasa jika memang dirinya sudah benar, tanpa kesalahan dan tidak ada hal yang tidak tepat ia lakukan.
"Terima kasih, Kak, maaf merepotkan."
Sungguh malaikat, sangat disayangkan peri cantik ini mendapat suami persis Jin, pikir Reyhans.
"Sama-sama, Nona. Saya keluar dulu," pamit Reyhans menundukkan kepala sejenak, sebelum benar-benar berlalu dan meninggalkan Gian.
"Eh sebentar, Reyhans!!"
Baru saja beberapa langkah, suara itu sudah menghentikannya. Entah sampai kapan Akan tak merepotkan, jika harus Gian minta macam-macam lagi, sungguh Reyhans tak sesiap itu.
"Apalagi?" Bukan lagi seperti bawahan pada bosnya, Reyhans mulai mengurangi hormatnya untuk Gian.
"Kau lupa perintahku tadi apa? Bawa keluar," titah Gian dengan gerakan matanya, karena tak mungkin ia menghabiskan nanas sebanyak itu sedangkan lidahnya sempat gatal-gatal.
"Baiklah, maafkan saya."
-
__ADS_1
.
.
.
Pegal hatinya, namun Reyhans harus tahan dulu sementara. Karena kini pria gila itu tengah berada di titik kekuasaannya, bukan hanya karena dia atasan Reyhans, akan tetapi wanita yang berada disamping Gian yang menjadi alasan Reyhans tetap patuh walaupun hatinya jengkel.
Ia sempat melihat bagaimana Radha menatap sedih nanas segar yang harus didonasikan untuk orang lain itu. Akan tetapi, memang saat ini Reyhans tak mampu untuk memberikan apa yang Radha mau.
"Bye-bye Pineapple, miss you," bisiknya seakan memiliki kontak batin bersama buah itu.
"Reyhans, cepat," tekan Gian agar istrinya tak terlalu lama meratapi nanas segar itu, ia akui memang enak, karena Gian bahkan makan satu buah seorang diri, dengan alasan istrinya tak boleh makan banyak, maka dia mewakilinya.
"Ish, aku kan masih mau liat!!"
Apa yang Gian katakan ternyata dapat Radha dengar dengar sempurna, jelas saja dapat ia dengar. toh jarak mereka hanya beberapa centi saja.
"Kan udah, kok masih pengen," tutur Gian namun tak terlalu Radha gubris,
Ia sedih, karena hanya boleh makan satu potong. Sedikit menyesal ia datang, akan tetapi hal yang ia inginkan adalah makan nanas yang dikupas oleh Gian.
"Hm, kan cuma satu potong," keluhnya sedikit tak puas, iri dengan Gian yang bahkan bisa makan satu buah tanpa ada yang mengganggu.
Belum Berniat menlakukannya, namun Gian sudah memberikan peringatan keras. Karena jika sampai istrinya berani macam-macam, akan menjadi bahaya, pikir Gian.
"Hm, iya enggak."
"Good girl, Kakak serius, Ra ... Kakak bisa tau walau kau sembunyikan."
"Iyaaaaaaaaa, okay."
"Yang ikhlas jawabnya, nggak Kakak kasih duit jajan kamu mau?"
"Ya jangan dong, apaan begitu."
Ancaman paling tepat, karena Radha tak mendapatkan dari Ardi lagi. Dan memang dia tak pernah meminta dari papanya, sementara kini dirinya mulai banyak keinginan dan jelas saja ia butuh uang.
Jika sampai ATM berjalannya ini enggan memberinya lagi, maka hidup Radha akan terancam tak baik-baik saja.
"Makanya nurut, apa-apa itu izin suami dulu ... kalau nggak boleh jangan dilakuin, kalau boleh ya lakuin."
__ADS_1
Begitu lembut, tak ada sedikitpun cara Gian mendidik istrinya dengan kekerasan. Ia hanya tak ingin, jika Radha terkontaminasi sifat mamanya. Mau itu tegas atau apapun alasannya, penurut itu wajib bagi Gian.
"Iya," sahut Radha sembari mengangguk patuh.
Bersama Gian terkadang dia merasa lebih dari sekadar suami. Akan tetapi ia mendapatkan sosok ayah dan juga saudara laki-laki sekaligus.
"Oh iya, Kak ... ada yang kasih aku surat, tapi aku nggak tau dari siapa."
Tanpa Gian minta, Radha memberikan surat tak jelas itu. Belum ia buka sama sekali, ia memang menyerahkan itu untuk Gian dapat baca sendiri.
"Kapan kamu terima?
Menatap Radha penuh ketelitian, Gian kini tengah menginterogasi istrinya sebelum lembaran kertas itu ia buka sempurna.
"Tadi pagi, pak Aryo yang terima."
Tanpa menjawab, Gian membuka pelan-pelan surat itu. Membaca kata demi kata dan ia sedikit menjauh dari Radha yang berusaha membacanya juga, dan Radha yang tak banyak protes mengerti jika GIan ingin memahami isi surat itu sendirian.
Belum setengah, Gian mengeraskan rahangnya. Mata Gian memerah, dan kertas itu ia remuk sempurna. Radha yang tak memahami jelas saja menatap bingung suaminya.
"Kenapa diremuk, Kak?"
"Tidak penting, jangan terima apapun lagi, Ra."
Wajah Gian langsung berubah, namun Radha belum mengetahui isi suratnya karena terlalu cepat Gian hancurkan, tak tanggung-tanggung ia bahkan membakar kertas itu langsung di kotak sampai, beruntung sampahnya tidak banyak, jika tidak, apa kata dunia diluar sana.
"Korek ... Kakak masih merokok ya?!!"
Celaka, Gian memang bodoh. Dia menunjukkan apa yang ia jaga sejak lama. Sejak menikah memang kebiasaan itu berkurang, tapi bukan berarti Gian bisa berhenti dengan sempurna.
"Kakak tidak pernah berjanji untuk berhenti, Ra." Gian berucap sembari kembali duduk di sisi Radha.
"Oh iya juga sih," tutur Radha menghela napas kasar, ia hanya terkejut karena hal itu tak pernah lagi Radha temui dari Gian ketika di rumah.
"Isinya apa? Aku kan belum baca," pinta Radha akan penjelasan yang memang sangat ia butuhkan.
"Tidak perlu tau lebih baik, Ra ... cukup Kakak yang membacanya."
Bersyukur sekali, Radha tak banyak menuntut padanya. Dan memang dia tak terlalu penasaran akan hal itu, karena baginya apapun keputusan Gian adalah hal yang paling benar diantara semua pilihan.
Tbc
__ADS_1
Lanjut up, mungkin nanti malem ya.