Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Kamu Punya Aku, Ra (Gian)


__ADS_3

Cukup lelah hari ini, usai memanjakan Radha dengan membebaskan apa yang ia inginkan membuat Gian sejenak meregangkan ototnya. Belum terlalu larut, sejak selesai makan malam Radha hanya fokus melihat hasil fotonya tadi siang.


Gian membiarkan Radha dengan kesibukannya, sedang dirinya berusaha menahan beratnya mata dengan bayangan senyum yang di hadapannya.


"Udah, Ra."


Tak mengerti kenapa Radha sebegitu senangnya hingga mengabaikan Gian yang teramat lelah. Ia mengambil alih ponsel sang istri lantaran merasa sepi sejak tadi.


"Kamu kirim kemana?"


"Papa," jawabnya datar.


Gian fokus membaca apa yang istrinya sampaikan pada Ardi, fotonya bersama Gian menjadi tujuan utama. Di sana tertulis ucapan terima kasih pada Ardi karena mengenalkan sosok itu dalam hidupnya.


Walau tanpa balasan dari Ardi, bahkan beberapa pesan yang Radha kirimkan sejak minggu lalu belum Ardi baca. Ada kesakitan dan amarah kala ia menyadari sebegitu tak ternilaikah Radha di hadapan orang tuanya.


"Kamu kirim ini untuk apa, Ra?"


"Hm, biar Papa baca dong," ucapnya seraya menghela napas pelan, memang ada sakit di sana, karena mengirimkan pesan pada Ardi sama halnya menuliskan kalimat dalam selembar kertas usang.


"Baca? Chat kamu seminggu yang lalu saja belum dia baca, Ra." Ucapan itu murni tanpa sadar Gian, tak berniat ia menimbulkan kebencian dalam benak istrinya pada sang Mertua.


"Ya kalau Papa gak mau baca gapapa, yang jelas aku udah kasih kabar tiap hari sama Papa, iya kan?"


Dalam diamnya Radha, yang tak terlihat mengemis kasih sayang. Sebenarnya mengharap kasih Papanya walau tak sebesar kasih sayang Ardi untuk keluarga barunya.


"Tapi, Ra ... Papa kamu tidak layak di sebut Papa." Gian mengepalkan tangannya, menatap manik sendu sang Istri membuatnya ingin menghabisi Ardi saat ini juga.


"Tapi setidaknya dia jadi Papa yang baik buat aku," tutur Radha dengan suara yang hampir tak terdengar di telinga Gian.


"Baik kamu bilang? Baik darimana, Zura?" Gian membuang napas kasar, sungguh kenapa dia sesakit ini melihat bagaimana Radha seakan tak memiliki ruang di benak Ardi.


"Buktinya Papa kasih Kakak dalam hidup aku." Matanya tulus memandang, Radha berucap dengan senyum manis di bibirnya.


Hening, Gian merasakan sesuatu dalam hatinya kala ucapan itu ia dengar. Bagaimana bisa kalimat manis itu membuat hatinya terasa begitu hangat, mengalir dalam relung jiwa dan membuat amarah membuncah yang berusaha ia tahan itu lenyap seketika.


Gian luluh, pria itu masih tak percaya istrinya mengucapkan itu. Gian membentangkan kedua tangannya, matanya seakan memanas. Kantuk yang tadi telah sebesar gunung seakan hilang begitu saja.


"Mendekat, Ra," tuturnya, layaknya sebuah perintah yang harus Radha turuti.

__ADS_1


Entah mengapa, Radha terbawa suasana atau memang kehendak dalam batinnya yang terlanjur candu berada dalam pelukan suaminya.


"Aaakkkh!!"


"Maaf, Kak."


Terlalu bersemangat ia datang, hingga membuat Gian hampir jatuh. Untung saja Gian mampu menopang berat tubuh istrinya, walau tak berapa lama kini Gian yang mengeratkan pelukannya.


"Hm, nyaman."


"Kamu dengar Kakak, jangan lagi lakukan hal itu, kamu bisa cerita tentang apapun padaku, walau kamu hanya mengirimkan tanda koma pun akan Kakak baca, Ra."


Gian menarik napas sejenak, masih sesak ia rasa mengetahui fakta bahwa Radha sebegitunya pada Ardi.


"Kamu sekarang punya aku, Ra, bukan hanya papa kamu laki-laki yang kamu punya di dunia ini," sambungnya kemudian dengan suara lembutnya.


Tak ada jawaban Radha, ia hanya mengangguk karena apa yang Gian ucapkan nyata adanya. Hingga Gian merasakan berbeda, Radha sejak tadi bicara.


"Ra? Kenapa nangis?"


"Mana ada aku nangis," ujarnya menunduk segera, sungguh tanpa sadar sebenarnya.


"Terus ini apa? Masa iya mata air."


"Ck, apaan."


Radha yang mulanya terbawa suasana, kini tersenyum lantaran Gian yang kini berusaha menatap wajahnya. Walau kesulitan Gian tetap coba, bahkan kini wajah Gian tepat berada di bawah wajahnya.


"Hahah, lucu sekali anak SMA ini, masih kecil sudah jadi istri orang."


Hinaan atau apalagi ini, seakan tak habis kalimat Gian untuk membuat istrinya kesal luar biasa. Masih dengan posisi yang sama, Gian menatap lekat mata di atasnya.


Radha tersenyum, hangat nan begitu manis di mata Gian. Tak ada yang ia tak suka dari Radha, wajar saja Haidar mencintai istrinya begitu luar biasa, pikir Gian.


"Ra, perempuan seusia kamu sudah mengerti makna cinta?"


"Kenapa Kakak menanyakan hal konyol semacam itu?"


Ia tak suka, karena jika nanti salah bicara. Bisa jadi Gian akan marah tujuh hari tujuh malam. Dan mana mau ia menikmati liburan dengan amarah yang menyelimuti suaminya nanti.

__ADS_1


"Itu bukan konyol, Ra, tapi hal utama yang sebenarnya harus ada dalam setiap hubungan."


"Apa iya?"


"Kau seperti mengejekku," ujarnya kemudian, merasa Radha enggan membahas hal semacam ini, Gian menarik Radha agar turut berbaring sepertinya.


Aarrrggh


"Kenapa harus ditarik si, Kak!!"


"Kamu kurang peka, makanya Kakak tarik."


"Ya tapi kan sakit," sungutnya terlampau kesal lantaran Gian kerap melakukan hal yang tak pernah ia duga.


Beberapa menit hening, hanya bisikan malam yang terdengar mendayu memeluk alam. Dewi malam tak seindah kemarin, rintik hujan yang terdengar damai menyertai malam mereka.


"Kamu ngantuk?"


"Belum," jawab Radha menggeleng dengan mantapnya, karena memang ia belum mengantuk sama sekali.


Sejak tadi menatap langit-langit kamar bersama Gian tak membuatnya ngantuk sedikitpun, padahal sebenarnya ia lelah, seharusnya Radha dapat tidur lebih cepat dari biasanya.


"Kenapa belum? Ini sudah larut, Ra."


"Gak bisa tidur, Kak, nggak ngantuk sama sekali."


"Mau Kakak buat tidur lebih cepat?"


"Heh? Ma-maksudnya apa?"


Tatapan mata Gian membuatnya bergidik, wajahnya yang semakin mendekat dan berjarak hanya beberapa centi itu membuat detak jantung Radha tak beraturan.


"Kau takkan menolak lagi kali ini, Ra," tutur sebegitu halusnya, layaknya bulu angsa, putih bersih dan membuat Radha mengangguk tanpa sadar yang ia hadapi kini.


"Jangan berteriak, hujan di luar bahkan lebih besar daripada suaramu, pahamkan?"


"Ehm, paham."


Sebuah isyarat bahwa Radha tak boleh melakukan hal yang sama seperti kemarin, karena percuma, jarak kamar mereka cukup jauh belum lagi suara hujan yang mendominasi malam akan menyamarkan keributan dalam bentuk apapun dari mereka.

__ADS_1


............ Bye!!!


__ADS_2