Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 232. Waktunya (Pertemuan)


__ADS_3

Waktu berjalan secepat itu, Radha mulai sedikit risih dan merasa kesulitan dengan berat badannya yang terus saja naik layaknya harga sembako, tak jarang dia kesal sendiri kala menatap pantulan tubuhnya dI cermin.


Kandungannya mulai membesar, dan Gian bukan main perhatiannya. Bahkan pria itu rela walau harus pulang pergi lebih sering demi memastikan istrinya baik-baik saja di siang hari.


Perkembangan bayinya cukup baik, dan ia tak perlu khawatir meski usia Radha semuda itu. Walau demikian tetap saja Gian sangat-sangat memperhatikan kesehatan istrinya.


"Satu lagi boleh?"


Radha bertanya sekaligus meminta izin pada suaminya. Mereka tengah berada di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kotanya, tentu saja tempat favorit Radha adalah food court yang seakan menjadi surganya.


Iya, dia memang hanya stres ketika menatap tubuhnya di depan cermin, bukan di hadapan makanan. Dan kini, es krim dengan rasa yang sama sudah kedua kalinya ia minta pada Gian.


"Baiklah, terakhir kali ya," ucapnya menyerah, karena kalaupun dilarang Gian sendiri yang akan pusing nantinya.


"Iya."


Jawaban yang terdengar sangat menenangkan, tapi percayalah itu hanya sementara, dan memang jika perihal makanan apa yang Radha katakan cukup sulit dipercaya.


"Masih ada yang kamu mau? Kalau nggak kita pulang ya," tutur Gian sangat lembut, ia takut jika nanti istrinya akan tersinggung dan justru merusak suasana hatinya.


"Cukup, pinggangku juga sudah pegal," jawabnya pasti usai menimbang keputusan sulitnya, ia menatap lekat situasi tempat itu memastikan apa ada makanan yang belum ia rasakan.


Beralih pada belanjaan yang berada di tangan Gian, dan semuanya adalah makanan untuk Radha. Sungguh wanita itu tidak memikirkan hal lain sama sekali, karena bagi Radha hidup untuk makan.


"Sini, kamu sebelah kiri."


Bahkan berjalanpun ada aturannya, Gian benar-benar menjaga istrinya setulus itu. Sedetikpun tak ia lepaskan genggaman tangannya, bukan hanya karena takut Radha tertabrak orang lain, akan tetapi Gian lebih takut kehilangan jejak karena wanitanya ini tak bisa menahan diri ketika ada sesuatu yang menarik di matanya.


Baru saja beberapa langkah, Radha menghentikan langkahnya. Matanya menatap datar ke depan dan hampir saja es krim Vanila itu jatuh dari tangannya.


"Eh, Radha!!!!! Kok bisa ketemu di sini?"


Gian mengalihkan pandangannya, suara itu cukup membuatnya terkejut karena memang cukup memekakkan telinga.


"Bukannya lu di Singapura?"


Helena melihatnya dengan tatapan penuh kerinduan, beberapa waktu terpisah membuat Helena merasa kehilangan sosok periang seperti Radha.


"Pulang bentar, papa gue sakit, Ra," ucap Helena sembari menepuk-nepuk pundak Radha, bagaimana penampilan sahabatnya ini sempat membuatnya terkejut.


"Terus gimana sekarang?"


"Baik kok, BTW lu subur amat gilaak!! Makan apa, Ra?" Ia bahkan merasa gemas lantaran tubuh Radha yang memang jauh lebih berisi dibandingkan pertemuan terakhirnya.


"Makan semuanya, Ele."

__ADS_1


"Ahaha bisa aja, lu hamil ya, Ra?" Helena menutup mulutnya usai bertanya dengan suara yang tak kecil, bahkan orang di sekitarnya bisa menjadi dengar dengan sangat jelas.


"He'em, kenapa? Nih kelihatan nggak?"


Radha sengaja menarik bagian belakang bajunya agar perutnya terlihat menonjol, sontak hal itu menjadi perhatian Gian dan cepat-cepat dia membenarkan pakaian istrinya.


"Sayang, jangan banyak tingkah." Ia berbisik dan menatap tajam Helena, sungguh pria ini tidak ramah sama sekali, sangat berbeda dengan waktu ia bertemu dulu, pikir Helena.


"Berapa bulan, Ra?" tanya Helena mencoba mengabaikan bagaimana Gian terhadapnya, entah ada dendam apa hingga mata Gian hendak mengulitinya.


"Berapa ya, 5 kalau nggak salah, Ele," jawabnya ragu karena memang Radha sedikit gugup dan tak siap dengan pertemuan ini.


"Sehat selalu ya, aaah gue seneng banget!! Kalau lahiran kabarin gue ya, Ra," pinta Helena benar-benar ingin sahabatnya ini akan memberikan kabar baik segera.


"Pasti, bawa gandengan ya nanti, udah ada penggantinya kan sekarang?" goda Radha sengaja membuat Helena memerah.


Perkembangan asmaranya tak lepas dari jangkauan Radha. Bagaimana tidak, Helena mengumbar kemesraannya dengan sang kekasih yang kini menjadi penguasa hatinya, Devano.


"Ketuan hobi kepo," desis Helena tersenyum malu, walau tak bisa ia pungkiri kebahagiaan memang tengah menyertainya, berhasil mendapatkan cinta dari lelaki idamannya di SMA itu adalah hadiah paling indah.


-


.


.


"Sejak kapan kau datang?" tanya Gian singkat, matanya menatap ke arah Haidar, tapi pikirannya tengah mencari keberadaan Radha.


"2 jam lalu, kenapa memangnya?"


"Hanya bertanya, kenapa tidak bilang? Kan Kakak bisa jemput," tuturnya manis sekali, seakan Haidar sama sekali tak percaya bahwa yang berada di depannya ini adalah Gian.


"Sejak kapan kau baik, kerasukan, Kak?"


Haidar menarik sudut bibir, entah kenapa hal-hal seperti ini justru membuat Gian lucu di matanya. Tak ada tatapan kematian seperti dulu, keduanya seakan tak pernah terjerat hubungan yang berat sebelumnya.


"Dari dulu aku baik, Haidar, matamu saja yang tertutup," ucapnya sembari memukul pelan pundak adiknya.


Beberapa bulan tak bertemu, Haidar terlihat baik-baik saja. Dan jelas saja lebih tampan dari sebelumnya, andai kata Radha belum mencintainya jelas Gian akan ketar ketir melihat perubahan adiknya.


"Mama yang minta kamu pulang?"


"Bukan, aku yang mau ...." Ucapan Haidar nampak sengaja ia gantung, membuat penasaran saja.


Gian mengangguk mengerti, Haidar masih sama, ponsel adalah hal utama dan tak tergantikan. Gian menggelengkan kepala, sampai kapan adiknya dapat berpisah dari benda itu, pikirnya.

__ADS_1


"Kak, udah pulang?"


Suara lembut itu mengalihkan dunianya, tatapan Gian lebih membunuh dari biasanya kala menyadari pakaian Radha terlihat lebih pendek dari biasanya, tidak terlalu akan tetapi berada di atas lutut.


"Hm, kamu abis ngapain? Jangan bilang berenang lagi," ujar Gian seraya menghela napas pelan, sedikit heran kenapa istrinya lebih suka di air.


"Ahaa tau aja, aku sama Mama, Kak, nggak sendirian."


Wajar saja ia makin betah, nyatanya nyonya rumah merestui apa yang Radha lakukan. Dan kini Gian justru beralih pada Haidar yang masih fokus menatap ponselnya, kecurigaan itu tiba-tiba saja ada.


"Haidar, kau tidak melihatnya kan?"


"Apa? Lihat apa?" Haidar bertanya dan menatap bingung sang kakak, dia sejak tadi hanya di kamar, ruang makan dan duduk di ruang tamu untuk menikmati waktu senggangnya sesaat.


"Nggak kok, Kak Haidar nggak liat ... Kakak tenang saja," sahut Radha menenangkan suasana, tak ingin jika suaminya panas tiba-tiba.


"Astaga, Kak ... kau pikir aku semesum itu? Untuk apa aku melakukannya, dasar gilaa."


Haidar menggeleng tak habis pikir, di antara fitnah yang ia dapatkan sepertinya baru kali ini yang paling kejam. Baru saja pulang Gian sudah menuduhnya macam-macam.


Matanya sakit jika melihat Radha berpakaian seperti itu, Gian meminta Radha untuk mengganti pakaiannya segera. Karena yang ada di rumah ini bukan hanya dia, akan tetapi ada Haidar juga.


"Kau di sini?" Baru saja maju beberapa langkah, ia menyadari kehadiran seseorang yang lain di rumah ini.


"Hai, selamat siang tuan muda, istrimu sangat baik ternyata."


"Berhenti mengejekku, Rury, kau urus bayimu sana."


Wanita itu hanya menarik sudut bibir, Gian masih sama, menyebalkan. Sudah lama tak bertemu dan kini dipertemukan dengan keadaan yang Rury rasa jauh lebih baik.


"Ma, kenapa dia bisa ada di sini juga?" tanya Gian kala Jelita juga menghampiri mereka.


"Aku yang memintanya, memangnya aku belum dizinkan membawa wanita ke rumah?" Suara itu menyambar tanpa diminta, Gian menatap sang adik yang masih saja berada di tempat duduknya semula.


"Wah lihat ini siapa yang bicara? Kalian pacaran, Rury?" tanya Gian dengan wajah antusiasnya, ini adalah berita paling baik yang pernah ia dengar.


"Jangan tanya dia, Kak ... Rury mana mau ngaku," celetuk Haidar yang membuat Gian menganga sesaat, apa tadi? Haidar memanggil Rury tanpa sebutan kakak seperti biasanya.


"Hahaha dasar aneh, kau kenapa? Santai saja, aku sangat sangat merestui kalian." Karena ini adalah cara agar Gian tak menyimpan ketakutan dalam dirinya.


"Oh iya, Haidar jangan sampai gagal lagi ya, menikah itu tidak sesulit yang kau bayangkan," tutur Gian yang mendapat tatapan tajam dari Rury, entah semalu apa dia kini.


🧞‍♀


Kemarin ada yang komen Radha nggak ketemu sama Temen-temennya dulu ya, Kak? Jawabannya enggak. Karena apa? Bentar aku cerita dikit ya. Dulu karya ini aku tulis dengan memasukkan tokoh asli dalam fiksi, teman-teman Radha itu adalah teman author di MT. Dan karakternya memang sama seperti itu, mereka seseru itu, intinya sama seperti yang aku tuliskan. Akan tetapi, ada hal yang buat nggak bisa sama-sama lagi, pilihan sulit tapi akunya harus pilih mau temen atau laki-laki, dan aku memutuskan buat milih seseorang yang memahami aku. karena itu aku ubah alur Radha pindah sekolah dan aku buat dia sendirian, sampai akhirnya punya teman si Helena. **Abian sama Nisya kok enggak? Iya, enggak aja. Mereka aku pertahankan karena sosok Abian memang fiksi. So begitu guys ❣️ Aku lihat jumlah pembaca dan dukungan Gian Radha semakin berkurang, jadi aku memutuskan untuk segera menciptakan akhir dari kisah mereka. Sebelum benar-benar anyep, tapi bulan berarti aku buat mereka end kepaksa ya.

__ADS_1


Bye**


__ADS_2