Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 239. Tempat Luluhnya (Gian)


__ADS_3

Apa yang terjadi pada Gian nyatanya tak sesederhana itu, mungkin jika Jelita bukan mamanya, sepertinya dia akan membuat Jelita masuk penjara.


Tak hanya merepotkan, pria itu bahkan sengaja membuat drama seakan tak bisa kembali berjalan dengan normal. Kedatangan Haidar yang juga tiba-tiba membuat Gian semakin merepotkan banyak orang.


"Ck, menyesal sekali aku keluar kamar malam ini."


Haidar menggerutu, ia membantu Gian berjalan dengan rasa kantuk dan laparnya yang masih bersatu. Sebuah luka bakar yang memang sepertinya cukup menyiksa, akan tetapi banyaknya protes Gian membuat Haidar menarik napas dalam-dalam.


"Kau tidak ikhlas, Haidar?" tanya Gian menyadari adiknya tampak berceloteh namun terdengar samar.


"Ikhlas, Kak, pegang aku, kau jatuh dari tangga aku tidak tanggung jawab," tutur Haidar mulai kesal karena pria ini memang benar-benar lambat dalam melangkah.


"Hati-hati, Haidar, sepertinya yang terbakar bukan hanya kulit kakinya saja, tapi juga otot-otot di kakinya."


Jelita yang berada di belakang dengan membawa susu hangat untuk Radha kini justru membuat Gian semakin panas, sepertinya Jelita tak menyesal sebesar itu, mengingat putranya ini menyebalkan sekali.


"Mama mengejekku?" Gian menoleh dan menatap Jelita dengan tatapan menderitanya, sepertinya peperangan antara mereka akan semakin panjang.


"Tidak, Mama khawatir padamu, Sayang."


Pria itu membuang napas kasar, tak pernah mendapatkan pukulan ataupun kemarahan berlebih dari Jelita, sekalinya menyakiti kaki Gian seakan direbus bulat-bulat.


Tiba di depan pintu kamar, Haidar mengetuknya, karena tak mungkin ia akan menerobos masuk karena sudah pasti Radha berada di dalam sana.


Ceklek


Wajah Radha kini terpampang jelas di hadapan Haidar, sempat saling menatap namun secepat mungkin Haidar mengalihkan pandangan, sedangkan Gian yang justru semakin terlihat tersiksa jelas membuat Radha panik bukan main.


"Kak? Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Radha menyentuh wajah Gian, memeriksa kepalanya siapa tahu berdarah ataupun semacamnya, sungguh pikiran Radha sudah sejauh itu.


"Aaarrghh, diam dulu, Zura, tidak ada yang salah dari kepalaku."


Hendak menjelaskan namun Radha terlalu panik, hingga Haidar memilih diam dulu. Pria itu hanya bisa memaklumi perubahan mantan kekasihnya ini, Radha yang ia kenal sebagai wanita yang cukup anggun dan lebih dewasa dari umurnya, kini begitu berbeda.


"Terus kenapa? Kak Haidar, apa kak Gian jatuh dari tangga?" tanya Radha sepanik itu, kasian sekali, masker wajah yang sangat ia sayangkan retak sebelum turun, kini hancur persis kulit telur yang terbentur.


"Kakinya terkena air panas, Ra, tidak begitu parah, tapi suamimu lebay sekali." Haidar membantu Gian masuk kamar, ingin sekali ia dorong dan menghempaskan tubuh kakaknya ke tempat tidur, akan tetapi ia tak setega itu.

__ADS_1


"Ck, besok-besok siram mukanya, Ma ... biar tau gimana rasanya."


Dasar tidak tahu terima kasih, bisa-bisanya dia berucap demikian pada Haidar yang telah rela mengeluarkan tenaganya malam ini. Sungguh tak masuk akal.


"Maksudnya apa? Kakak nggak fokus atau gimana?" tanya Radha begitu halusnya, menatap kaki suaminya yang merah merona persis kepiting panggang itu ia sedikit bergidik, terbayang bagaimana rasanya.


"Mama sebabnya, Ra," ucapnya meringis, benar-benar mendalami peran, bahkan aktingnya kini mengalahkan kemampuan Haidar sebagai aktor ternama.


"Mama nggak sengaja, Ra ... muka Gian bikin takut, dia kaget karena Mama teriak, maaf ya," ucap Jelita begitu lembutnya, sepertinya meminta maaf dengan Radha lebih baik daripada Gian, karena menantunya ini tak segila putranya.


"Iya, Ma ... tidak apa-apa, semua salah aku, harusnya aku buat sendiri susunya tadi, maaf ya, Kak."


Benar kan, minta maaf paling logis adalah pada Radha. Karena jika pada Gian, semua itu hanya akan membuatnya mengungkit kesalahan.


"Kenapa kamu yang minta maaf? Kakak baik-baik saja, Sayang, tidak usah khawatir ... besok mungkin sembuh," tutur Gian kini berubah sangat lembut, sungguh Haidar tiba-tiba kenyang luar biasa, nafsu makannya hilang kala menyadari Gian terlihat baik-baik saja di hadapan Radha.


"Ayo turun, Ma, sepertinya dia baik-baik saja," ajak Haidar meraih susu itu dan meletakkannya di atas nakas, dapat ia lihat sang mama memperhatikan Gian sekhawatir itu.


Menarik pelan pergelangan tangan Jelita yang kini tampak menyesal, padahal jika ia melihat Gian kini sepertinya luka itu masih kurang, pikir Haidar.


"Obati dia ya, Ra, dan susunya jangan lupa dihabiskan," titah Jelita sebelum meninggalkan kamar putranya, tak bisa dipungkiri memang saat ini yang mampu membuat Gian luluh adalah istrinya, entah bawaan bayi atau memang sedalam itu cinta Gian pada sang istri.


.


.


.


"Perih banget ya?"


Pelan-pelan, Radha melakukan apa yang Jelita perintahkan, meski tanpa perintah ia memang akan lakukan. Setelah sebelumnya membantu Gian mencuci mukanya, kini Radha fokus pada kaki sang suami.


"Enggak, biasa saja."


Gian berbohong demi membuat istrinya tak sepanik itu. Padahal memang rasa perih dan panas itu masih menyatu. Namun ia tak mau membuat Radha lagi-lagi merasa bersalah.


"Maaf ya, Kak, aku tau ini perih."

__ADS_1


Dia tak sebodoh itu, walau Gian menutupi penderitaannya tetap saja wanita itu mengetahui dengan jelas bagaimana perasaan suaminya.


"Jangan minta maaf terus, Ra, kamu tidak salah."


Gian menegaskan dengan nada bicaranya yang amat serius. Sekali ia berkata, seharusnya Radha bisa mengerti, dan itu yang Gian mau.


"Terus bolehnya minta apa?" tanya Radha mencoba membuat suasana sedikit lebih baik, mengajak Gian bercanda terkadang memang pilihan terbaik.


"Minta yang lain, minta belai, minta cium, minta peluk contohnya, jangan minta maaf intinya."


Begitu jelas, dan tanpa bantahan. Karena memang Gian tak suka kala istrinya mengulang kalimat yang sudah ia katakan untuk berhenti mengucapkannya.


"Itu kan Kakak yang mau, bukan cuma aku." Radha mencebik, bisa-bisanya Gian memanfaatkan keadaan, padahal dia sendiri yang menginginkan hal itu.


"Habiskan susumu sana, abis itu kita tidur ... Kakak ngantuk, Ra." Gian memejamkan matanya sesaat, bayangan tragedi menyedihkan di dapur itu masih membuat hatinya trauma.


"Kakak nggak mau ikut minum juga?" tawar Radha konyol, sejak kapan laki-laki minum susu hamil, pikir Gian.


"Coba kamu renungkan lagi, Zura, siapa yang mengungkapkan teori jika pria dianjurkan minum susu hamil." Gian menggeleng pelan, istrinya kerap menanyakan hal di luar logika.


"Aku kan Bumil, berarti Kakak Pakmil ... jadi tidak ada salahnya dong minum juga," ucapnya usai menegak susu itu hampir tandas, Gian menatapnya dengan mata yang hampir terpejam, ia takkan tidur lebih dulu sebelum istrinya terlelap.


"Iya, memang tidak ada salahnya, tapi tidak ada gunanya juga, Zura." Suaranya mulai terdengar berat, Radha hanya menarik sudut bibir mendengar jawaban Gian yang menganggap dia seserius itu.


"Apa iya begitu?" tanya Radha kini mendekati suaminya, sedekat itu bahkan wajah mereka hampir bersentuhan.


"Hm, kamu mau apa?" tanya Gian tertawa sumbang, masih berusaha menahan kantuknya, istrinya berulah sedangkan kakinya tengah tersiksa.


"Tidak ada, Kakak lagi sakit, besok-besok saja."


Beralih mendekap suaminya seerat itu, Gian bahkan merasa kesulitan bernapas. Istrinya benar-benar membuat Gian harus menahan cobaan, bisa-bisanya Radha memancingnya di saat begini.


"Kalau kamu yang minta Kakak masih bisa," ujarnya berucap dengan santainya, mungkin kalaupun kakinya terluka lebih parah Gian akan melupakannya sesaat.


Cukup lama menunggu namun tak ada jawaban dari Radha, napas istrinya mulai teratur dan kini pria itu tersadar bahwa Radha telah lebih dulu berlalu ke alam mimpi.


"Ck, siallan, berani-beraninya dia tidur usai membuat suaminya berharap lebih," ucap Gian mencebikan bibir, tak bisa berbuat banyak dan kini terpaksa Gian membalas pelukan istrinya, pasrah dan menanti esok dengan harapan lukanya sudah baik-baik saja.

__ADS_1


❣️


__ADS_2