
Brugh
Bukan sebuah hal asing jika Gian kerap melemparnya bak bantal guling. Memperlakukannya sebagai anak kecil dengan manjanya. Gian, menghujani wanitanya dengan kecupan singkat di wajahnya.
Seakan tak ingin hilang kesempatan, setiap incinya sedikitpun tak ia lewatkan. Gian menatap lekat wanitanya, manik itu terlampau indah. Tak pernah ia sangka, gadis sekecil itu mampu membuatnya tak mau lepas walau sesaat saja.
"Gantilah bajumu, tidur lebih cepat ya, Sayang, besok kau harus sekolah kan."
Gian beranjak usai memberikan kecupan terakhirnya sebelum benar-benar menjauh. Ia hendak melepas pakaiannya, Radha yang masih terbaring menatap lekat Gian yang kini tetap tersenyum padanya.
Seperti yang Jelita ajarkan, Radha segera beranjak dan mendekati sang Suami. Gian yang menyadari istrinya perlahan mendekat tiba-tiba saja berdegub tak karuan.
Jemari itu mulai meraih dasinya, melepaskan benda itu dengan begitu hati-hati. Jarak keduanya begitu dekat, deru napas Gian menerma wajah wajah cantik Radha. Tak berkedip, matanya hanya menatap lekat wajah itu.
Sebenarnya Radha masih kaku, namun Jelita kerap kali memberitahunya tentang hal kecil yang harus ia mulai lakukan sebagai sosok istri bagi Gian. Perlahan, kini ia beralih ke kemejanya.
Membuka satu persatu kancing itu tanpa suara. Begitupun dengan Gian, ia biarkan istrinya melakukan hal tanpa ia minta. Gemetarnya jemari Radha dapat Gian tangkap, dan semakin bertambah manakala tubuhnya perlahan terbuka.
Pria itu menarik sudut bibir, ia tak tahan melihat ekspresi Radha yang terperanjat dan mencoba untuk terlihat biasa saja. Dan bagaimanapun Radha, ia dapat menangkapnya.
"Cih, bahkan kau telah melihat lebih dari ini, kenapa kau begitu terkejut, hm? Malu kah?"
Radha membeliak, ia segera mengalihkan pandangan. Gian benar-benar membuatnya mati kutu, sungguh pria itu pandai membuat pasangannya diselimuti rasa malu.
"Siapa yang malu!! Lagian aku tidak melihat apa-apa," dalih Radha menarik paksa kemeja Gian. Jika berlama-lama, maka Gian akan semakin macam-macam, pikirnya.
"Ah ya? Benarkah begitu, lalu kenapa pipimu memerah?"
Dengan santainya, ia mencubit hidung Radha hingga memerah. Radha mendelik dan tangannya tak terkendali hingga spontan memukulnya. "Aaaakkkh, Ra?" Tak begitu kuat, namun cukup membuat Gian meringis lantaran tepat mengenai perutnya.
"Kakak memang menyebalkan."
"Hahaha, dia marah," ejek Gian merasa menang kala Radha memilih berlalu meninggalkannya. Wanita itu memasukkan kemeja Gian ke keranjang baju kotor, niatnya memang akan membantu Gian hingga tahap yang lebih ekstrim, namun usilnya pria itu membuat Radha enggan.
__ADS_1
Tak ingin terlalu lama berdebat, Radha memilih membersihkan sisa make-up nya sembari Gian membersihkan diri. Tak mungkin ia akan tidur dengan penampilan secetar itu, pikir Radha.
Ia tidak akan mandi dua kali, berbeda dengan Gian baginya mandi hanya memboros shampo dan perlengkapan lainnya. Wanita itu memilih piyama biru muda ia kenakan malam ini, tak lupa setelah itu menyiapkan pakaian untuk Gian juga.
"Haah, astaga ... gue laper lagi," keluhnya setelah semuanya usai, memang kebiasaan wanita itu takkan mampu menahan keinginannya walau telah selesai makan di luar.
Radha menimbang pilihan, jika harus menunggu Gian jelas masih lama. Namun, perutnya sudah menuntut saat ini, dan di saat seperti ini makanan-makanan yang menjadi kesukaannya seakan minta untuk segera di temui.
"Gabisa, gue gak bakal tidur sampe besok kalau laper begini."
Setelah berpikir cukup panjang, tepatnya hampir satu menit menimbang pilihan akhirnya Radha memutuskan untuk turun dan mengganjal perutnya dengan apa yang ada di sana.
*******
Ia meniti anak tangga, tampak sepi dan bisa ia pastikan mereka telah tidur semua. Kalaupun tidak tentu telah berada di kamar menanti rasa kantuk, pikir Jelita berjalan menuju ruang makan tanpa beban sedikitpun.
Layaknya di rumah sendiri, ia berjalan ke sana dan melihat makanan apa yang masih tersedia. Sayangnya, ia menggeleng begitu saja ketika segala lauk pauk itu justru membuatnya menelan ludah. Seketika perutnya semakin mendesak agar Radha memasukkan makanan lezat itu.
"Bodo amat sama timbangan, gue laper banget gimana dong."
Wanita itu menghela napas perlahan, berdoa sebelum ia menyuap makannya, berharap tidak akan terlalu menjadi bencana. Hingga derab langkah yang terdengar begitu halus membuatnya sadar seketika bahw kini tidak sendirian.
"Haaaaahh?!! Astaga." Tak dapat menutupi keterkejutan, ia hampir saja berteriak ketika menyadari Haidar berada di depannya. Entah sejak kapan pria itu di sana, yang jelas ketika ia membuka mata dan usai berdoa Haidar telah berada di sana.
"Ehem, boleh Kakak duduk?" tanya Haidar dengan senyum tipisnya, wajah panik Radha membuatnya terhibur sejenak.
"Hm, sejak kapan Kakak di sini?" Belum menjawab, Radha justru balik bertanya.
"Jauh sebelum kau turun, Zura."
Tanpa menunggu jawaban Radha atas pertanyaannya, pria itu telah duduk tepat di depan Radha. Ia ingin melihat Radha secara terang-terangan, tanpa harus menguntit bak penjahat.
"Ke-kenapa, Kak? Memangnya tadi dimana?" Ia masih heran, lantaran sejak awal dia ke ruang makan tak sedikitpun ia melihat sosok orang lain selain dia, pikir Radha.
__ADS_1
Berniat hanya mengawasi, Haidar tak dapat menahan dirinya untuk tidak menemui Radha. Sejak tadi ia bersembunyi di sudut ruangan yang memang sedikit gelap, memandangi Radha dengan segala hal yang ia lakukan membuat Haidar tersenyum.
Masih tenggelam dalam keterkejutannya, wanita itu tak dapat berpikir jernih. Radha ingin beranjak, meninggalkan Haidar sendiri di sana. "Tunggu, Ra!! Mau kemana?"
"Jangan pergi, teruskan saja makanmu ... Kakak yang akan pergi, maaf ya."
"Ti-tidak, Kak, aku saja yang pergi," ucap Radha hendak melangkah, laparnya seakan hilang begitu saja kala menyadari betapa menyedihkannya wajah Haidar.
Ia tahu, pasti alasan pria itu berada di tempat ini sama dengannya. Dan mata Haidar yang memerah, membuat wanita itu merasa bersalah sebegitu besarnya.
"Ra, habiskan makananmu, Kakak tidak pernah mengajarimu membuang makanan kan?"
Haidar berucap selembut itu, hal kecil semacam itu kerap menjadi pembahasan mereka semasa masih saling memiliki, walau hanya virtual semata, Haidar memperhatikan hal-hal kecil semacam itu pada kekaksihnya.
"Hm, akan aku habiskan di kamar saja," ujar Radha mengambil jalan tengah, sebab tak menutup kemungkinan Gian akan turun mencarinya nanti. Dan akan jadi bencana jika ia menemui Haidar sedang bersamanya.
Pria itu terdiam, tak ada yang dapat ia bicarakan. Keputusan Radha akan selalu ia hormati, mengiyakan dengan anggukan pelannya, walau batinnya menjerit agar tetap di sini.
"Kak,"
"Hm?" Haidar menatap lekat Radha yang kini mengurungkan langkahnya, menoleh dan sejenak berinteraksi dengan manik indahnya.
"Jangan siksa tubuhmu, makanlah walau sedikit."
Sebelum benar-benar berlalu, Radha berucap kalimat yang entah akan berpengaruh bagi Haidar atau tidak. Ia hanya tak ingin hal buruk akan terjadi pada pria itu, sejak kemarin ia tak melihat Haidar turun walau hanya untuk minum.
Dan lebih parahnya lagi, Radha melihat Layla yang membawa kembali makanan untuk Haidar yang belum tersentuh sama sekali.
"Iya, Kakak makan, terima kasih, Radhania."
Senyum tulus ia berikan, Haidar menatap punggung Radha yang mulai menjauh. Terbesit bayangan hal manis dalam benaknya, "Dia masih saja sama, cantik," ucapnya tersenyum singkat.
Bidadari kecilnya, terlihat semakin cantik dan juga dewasa, namun ia sadar bahwa memang bukan dia pangerannya. Malam ini, meski begitu kecil, perhatian Radha membuat Haidar seakan mau untuk hidup. "Hm, makan walau sedikit."
__ADS_1
......... Bersambung