Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Kenapa Istriku Berbeda.


__ADS_3

Hari pertama, ia berhasil melewatinya dengan sangat baik. Tak begitu sulit ia beradaptasi walau memang Radha belum mendapatkan satu orang teman pun. Pun ada, sejujurnya untuk saat ini ia tak terlalu membutuhkannya, dan ia bertekat hanya fokus untuk menyelesaikan pendidikannya.


Sedikit kesulitan meneruskan langkah lantaran gerbang sekolah di penuhi para siswi yang tengah berkerumun bak memenangkan sebuah undian. Bisik-bisik dan ungkapan kagum mereka dapat sampai ke telinga Radha.


Untuk ikut berdiam diri Radha tak punya waktu, Gian memintanya untuk pulang tepat waktu. Dan jelas ia tak ingin suaminya akan salah paham lagi nantinya.


Kerumunan itu begitu riuh, dan Rey sedikit kesulitan membukakan jalan untuk wanita itu. Benar-benar menyulitkan, kenapa harus ada hal gila semacam ini, pikir Rey sedikit kesal namun tetap dengan wajah datarnya.


Dengan bantuan Rey, ia berhasil menerobos keluar gerbang. Hingga hal yang menjadi pusat perhatian para siswi itu dapat Radha simpulkan segera, karena jujur saja ia penasaran sejak tadi.


"Haaaaaaaaaaaaaaaah??"


Rasa penasarannya pecah, manakala di hadapannya kini berdiri pria tampan yang tengah berdiri begitu gagahnya. Kemeja hitam yang sengaja dia gulung hingga siku, dan tangan yang dia masukkan ke saku menambah kharismanya sebagai pria dewasa.


Kaca mata hitam dan rambut yang tertata rapi membuat pria itu seakan berkhianat dari umurnya. Radha menganga, tak menyangka bahwa hal yang membuat sekelilingnya penasaran adalah seseorang yang justru bagian dalam hidupnya.


"Tuan muda?"


"Hm, kau kembali ke kantor, Rey ... aku akan pulang bersamanya."


Tak peduli meski Rey telah menghampiri Gian lebih dulu, Radha masih saja tercengang seakan tak percaya siapa yang kini berada di depannya. Apa Gian sengaja tebar pesona di depan teman-temannya, pikir Radha mencebik kesal.


Usai kepergian Rey, bisik-bisik yang terdengar begitu riuh semakin menjadi. Pasalnya bukan penasaran prihal Gian saja, tapi juga Radha yang menjadi buah bibir mereka yang berada di sana.


Gian masih diam, membiarkan Radha tenggelam dalam keterkejutannya. Ia menarik sudut bibirnya tipis bahkan hampir tak terlihat, wajah terkejut Radha begitu menggemaskan, dan tentu saja ia ingin menikmati untuk sementara.


"Hei kau, anak kecil yang berada di depanku, cepat kesini ... aku menunggumu sejak tadi," ujar Gian dengan suara lantang memerintahkan Radha untuk menghampirinya.


Gerakan tangan yang ia lakukan berulang kali tak membuat Radha berminat untuk mendekat sama sekali, bila di mata orang disana Gian terlihat keren, tidak bagi Radha. Lebih tepatnya ia kesal lantaran ucapan Gian yang menganggapnya anak kecil.


Tanpa peduli, ia berlalu dengan langkah pastinya. Radha berjalan melewati Gian yang masih tebar pesona di sana, ia melirik sekilas penampilan suaminya. Yaya, lebih mirip aktor yang akan menghadiri acara penghargaan dibandingkan suami yang menjemput istrinya untuk pulang.


"Heey, Nona kau meninggalkanku begitu saja? Hoooo? Ays benar-benar kau ya!!"


Gian menggeleng, menatap punggung sang Istri yang semakin menjauh. Seragam yang membalut tubuh mungil Radha semakin membuatnya terlihat lebih muda dari umurnya, bahkan Gian lebih pantas di juluki penculik yang tengah berusaha mengejar sasarannya.

__ADS_1


Di hadapan banyak gadis cantik seumuran Radha, Gian mendapat penolakan dari istrinya sendiri. Namun bagaimanapun, Gian tetaplah Gian, baginya tidak ada yang perlu dipedulikan jika tak penting dalam hidupnya.


Kembali dengan wajah datar dan kepala yang pantang menunduk, Gian kembali masuk ke mobil usai mengulas senyum tipis yang membuat teriakan histeris menyertai kepergiaannya.


"Dasar centil, Ck ... tapi kenapa istriku berbeda," ujarnya sembari melaju pelan, mengikuti arah jalan dan mencari sosok Radha yang ia yakin masih berada di sekitar sini.


Begitu lambat, Gian tak ingin kehilangan Radha kali ini. Pandangannya tetap terbagi antara kemudi dan juga keberadaan sang Istri, hingga beberapa menit kemudian hilal cintanya itu mulai terlihat.


"Ketemu juga kau akhirnya," ucapnya menarik sudut bibir, karena Radha telah membuatnya terlihat di abaikan siang ini, ia ingin membalas dendam, pikirnya jahat sekali.


Tiiiiiiiiiiit tiiiiiiiiiiiit


"Aaarrrrrrrggggghhhh!!"


Rasakan, Gian begitu puas ketika istrinya hampir saja jatuh karena terkejut akibat ulahnya. Wajah pias Radha membangkitkan senyumnya, Gian membuka jendela dan menatap istrinya begitu datarnya.


"Aaahh!!! Kakak sengaja kan?!!!"


"Tidak, sengaja apanya. Kau saja yang tuli, aku memanggilmu sejak tadi tapi kau malah pergi."


Jantungnya masih berdegub kencang, napasnya masih tak teratur lantaran terkejut yang membuatnya benar-benar kacau. Beruntung saja ia tak membuat kekacauan yang menyebabkan para pedagang kaki lima dalam bahaya.


"Huft, itu Kakak yang berlebihan."


"Lupakan, cepat masuk, Ra."


Karena merasa tak punya alasan, ia takkan menolak kali ini. Meski memang tadi alasan dia hanya karena merasa Gian terlalu lebay hingga ia malas untuk ikut pulang bersamanya.


"Bagaimana sekolahmu? Apa kau sudah mendapatkan teman?"


"Baik, aku mencoba terbiasa dengan suasana di sini yang tak jauh berbeda. Ehm kalau teman, belum Kak."


"Oh iya, haaa istriku pintar sekali."


Layaknya anak kecil yang menceritakan banyak hal pada orangtuanya, Gian mendengarkan begitu baik apa yang me jadi keluh kesahnya. Seakan tak habis, walau Gian tahu apa yang istrinya pikirkan tak sesederhana itu.

__ADS_1


Hari ini, Gian tak ingin membuat Radha tertekan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum masalah yang tengah membelenggu Radha dan juga Haidar reda, ia takkan memberikan waktu untuk Radha bersama ponselnya.


Bagaimanapun caranya, Gian yang akan membuat harinya berarti walau tanpa benda pipih itu. Meski harus nengorbankan waktu istirahat Rey namun Gian tak peduli, baginya membuat Radha tersenyum adalah hal yang paling menjadi prioritasnya.


"Zura,"


"Iya, kenapa, Kak?"


"Apa ada tempat yang sangat kau rindukan? Kakak akan menemanimu hari ini, kemana saja."


Radha sejenak terdiam, ia sedikit ragu menjawab pertanyaan Gian. Jika prihal apa yang ia rindukan, tentu saja kasih sayang kedua orangtuanya. Kehidupan baik dan senyum yang dahulu pernah ada, hanya itu yang ia impikan.


"Sayang, kenapa kau diam? Katakan saja." Gian menatap sekilas sang Istri yang kini terlihat murung usai ia memberikan pertanyaan.


"Hah? Kakak yakin?"


"Hm, tentu saja, apapun yang kau minta."


"Papa ... dan Mama."


Jawabannya terdengar pilu, Gian menepi sementara. Ia salah, yang Radha inginkan ternyata jauh dari apa yang ia pikirkan. Jika Gian berpikir bahwa Radha akan meminta banyak hal, nyatanya hanya itu.


"Kau rindu Papa, ya?"


Anggukan pelan Radha membuatnya terhenyak, memang sejak pernikahan keduanya Ardi bak di telan bumi bahkan bertanya prihal keadaan pada putrinya tak pernah. Gian menatap teduh wajah Radha, membelai lembut pipi mulusnya dan menggeleng pelan sebagai isyarat agar Radha tak menangis.


"Kita kesana ya, jangan menangis Kakak tidak sedang menculikmu."


Bugh


Tangan Radha terlampau ringan jika hanya tentang pukul memukul, spontan ia mendaratkan pukulannya meski tak terlalu kuat di bahu Gian usai pria itu dengan sengaja menyentuh dagu Radha layaknya preman yang menggoda mangsanya.


"Aakkh, ya Tuhan ... kau mantan atlet atau apa, Ra?" tanya Gian tertawa sumbang, ia mengacak pelan rambut istri kecilnya hingga sedikit berantakan.


Memiliki Gian, sebagai sosok suami yang merangkap bak kakak dan juga ayah adalah suatu hal manis yang tak pernah Radha kira akan ia dapatkan saat ini. Walau terkadang ia bahkan tak mengenali Gian jikalau tengah kesetanan, tetap saja hadirnya Gian membuat hidupnya begitu berarti.

__ADS_1


............Bersambung🦕


__ADS_2