Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Hancur (Rencana Gian)


__ADS_3

Menyadari amarah Gian tak bercanda, Radha panik tentu saja. Ia menatap jauh berharap Jelita akan datang, apa perlu ia berteriak? Tapi, bisa jadi dirinya yang justru terkena amukan Gian, pikirnya.


Dan dengan bodohnya, lantaran takut dengan ancaman Gian, Layla menurut dan menghidupkan kompor dengan jemari bergetarnya. Sempat ia tatap wajah panik Radha yang tengah mengkhawatirkannya.


"Berani kau menatapnya?!!"


Ia menunduk, bentakan Gian semakin membuat tubuhnya lemas tanpa tulang. Bibirnya kini pucat, sembari berharap minyak itu tak panas dulu sebelum Jelita datang.


"Masukkan tanganmu," titahnya santai dan tak melepaskan Layla dari pandangan, apa mungkin ia harus menurut.


"Kak!! Mba jangan begok deh!! Pergi cepetan!!"


Ia tak kuasa menyembunyikan ketakutannya, Radha sudah menghentak-hentakkan kakinya. Tak peduli meski Layla memang sengaja melukainya seperti keyakinan Gian, namun menyaksikan suaminya hendak berbuat keji ini sungguh ia tak kan rela.


"Pergilah, jika kau mau tubuhmu itu patah dengan tanganku."


Ia berdecih, tak ada sedikitpun kasihan yang menyelinap dalam dirinya meski air mata Layla kini mengucur begitu derasnya. Bahkan paniknya Radha justru membuatnya semakin gila, entah mengapa hati istrinya itu tertutup kabut hingga tak bisa membedakan bagaimana sifat orang padanya.


"Ampun, Tuan ... Maafkan saya, tolong jangan hukum saya dengan cara ini."


"Lalu dengan cara apa? Kau membuat istriku celaka, dan itu sangat menyiksanya kau tau?!!"


Minyak itu sudah sangat panas, namun Gian masih menginginkan Layla menerima hukuman yang ia mau.


"Cepat!! Letakkan tanganmu di sana, kau bisa merasakan apakah sudah panas atau belum," tuturnya lembut bak memberikan petunjuk untuk melakukan sesuatu pada Layla.


"Astaga, Mba!! Nggak usah di turutin kan bisa?!!"

__ADS_1


Radha geram kala Layla mulai mengarahkan tangannya ke wajah luar biasa panas itu. Hendak berbuat banyak Radha tak bisa, Gian kini menahannya bahkan mengunci tubuh Radha dalam pelukan di sisi kirinya.


"Mama!!! Tolong!! Kebak ... pfft."


Mulutnya Gian tutup paksa dengan telapak tangan agar tidak menjerit persia tarzan itu. Namun percuma, kini Jelita berlari dengan cepatnya bahkan guling itu masih dalam pelukan, baru saja hendak tidur siang, pikirnya.


"Layla!!! Kamu mau bakar dapurku?!!"


Ia menggeser tubuh Layla hingga wanita itu terjatuh, segera ia matikan kompor yang tengah membara dan menciptakan minyak luar biasa panas itu.


"Kenapa kalian berdua di sini?!! Kau!! Pasti ulahmu kan?"


Ia menunjuk wajah Gian denga. emosi luar biasa membuncah. Ingin ia pukul putranya itu sekarang juga, minyak goreng kemasan besar itu hanya tersisa beberapa tetes saja.


"Ck, Mama benar-benar menghancurkan suasana. Bukankah ini saatnya Mama tidur siang sebentar?" Gian hapal rutinitas Mamanya, biasanya Jelita akan mandi walau sekilas usai masak dan di akhiri dengan tidur siang walau sekejab.


"Jangan mengalihkan perhatian, katakan kenapa kau meminta Layla menyiapkan minyak sebanyak itu?"


"Aduh Mama, aku cuma minta dia merasakan hukuman akibat kesalahannya."


"Kau tidak tahu kejadiannya, Gian, jangan sembarangan menimpakan kesalahan, dia sudah meminta maaf pada Mama."


Gian menghela napas kasar, yang ia butuhkan bukan maaf. Jujur saja ia tak butuh sama sekali, karena baginya wanita itu perlu diberi pelajaran.


"Ck aku tidak butuh kata Maaf, istriku tetap celaka kan karena kecerobohannya."


"Iya, Mama tau ... tapi, marahmu kali ini keterlaluan, Sayang, kau bisa di penjara karena hal semacam ini." Jelita menatapnya dengan napas penuh kelegaaan, karena jika Gian benar-benar membuat Layla celaka, ia akan tertimpa masalah nantinya.

__ADS_1


"Siapa yang berani memenjarakan aku? Wanita seperti dia mana mungkin mampu, Mama."


Entah apa sebenarnya yang telah Layla lakukan, kenapa sebegitu bencinya Gian seakan kesalahan ini bukanlah hal satu-satunya yang membuatnya marah. Gian melepaskan Radha kini, wanita itu menghirup napas dalam-dalam. Sungguh penyiksaan tiada akhir, pikirnya.


Ia menghampiri wanita yang kini tengah bersimpuh, ia menunduk dan menatap remeh wajah lemas itu. Gian menarik sudut bibir, wanita yang kini tiada daya terlihat sangat polos, wajar saja Jelita menyukai sosok Layla.


"Pergi dari sini, aku muak jika harus bertemu denganmu esok pagi."


Gian berlalu, usai mengucapkan kalimat itu ia meninggalkan tempat itu dengan langkah panjangnya. Tanpa sedikitpun peduli dengan Radha yang masih berada di sana.


"Maafkan kak Gian ya, Mba."


Dengan ketulusannya, Radha menghampiri Layla, bahkan menepuk pundak wanita itu agar ia tak lagi menangis. Sungguh pemandangan ini menyejukkan hati Jelita.


Tak ada jawaban dari Layla, lagi dan lagi wanita itu masih sama. Bahkan senyum tulus Radha tak ia balas sama sekali, ia justru memeluk Jelita yang kini juga juga menenangkannya.


"Terima kasih, Nyonya ... kalau Nyonya tidak ada, mungkin saya sudah benar-benar celaka."


Jelita menepuk pundak Layla beberapa kali, bagaimanapun, meski wanita ini hanya berstatus asisten rumah tangganya, namun Jelita sangat menyayanginya karena memang dari usia remaja, Layla datang ke rumah itu untuk mengabdi padanya.


"Maafkan putraku, dia memang tidak bisa mengendalikan emosi, kau paham dia kan," tuturnya berharap apa yang Gian lakukan tak membuat sakit hati siapapun.


"Iya, Nya."


Radha menghela napas pelan, entahlah mengapa kini dirinya yang seakan bersalah. Kedekatan antara Layla dan mertuanya cukup membuatnya terkejut, tak ia duga Jelita mampu sebaik itu pada orang yang bukan keluarganya.


"Ra, kembali ke kamar, tenangkan beruang madu itu ya, Sayang."

__ADS_1


Radha mengangguk, perintah Jellita baginya bersifat mutlak. Beruang madu? Tak salah memang sebutan itu melekat pada Gian. Karena pria itu persis beruang jika memang sedang marah, dan kini tugasnya untuk membuat pria itu lebih tenang lantaran kehendaknya untuk menuntaskan emosi tak terealisasikan.


......... Bersambung


__ADS_2