
Cukup lama Gian berpacu dalam kesendirian, pria itu kini keluar dan terlihat lebih segar. Walaupun demikian, tetap saja guratan amarahnya tak semudah itu hilang, dalam diamnya, Gian memperhatikan sang Istri yang terlihat kesulitan melangkahkan kakinya.
Entah apa yang istrinya kerjakan selama ia di kamar mandi hingga memakai baju saja tak becus, pria itu dapat menangkap ketidakwarasan Radha yang membuat tawanya terjebak dalam amarah. Hingga walau di matanya terlihat lucu, ia berusaha sekuat tenaga menahan tawanya.
"Kakak."
Radha berusaha melangkah meski sulit, sejak tadi ia menanti. Berharap Gian takkan semarah itu lagi padanya, wanita itu berniat menghampiri Gian, setelah sebelumnya menyiapkan pakaian Gian dan ia letakkan di atas tempat tidur.
"Ehm, tidak perlu mendekat, Ra."
Hatinya terhenyak, sifat dingin Gian yang dahulu membuatnya ciut kini kembali ia rasa. Sakit, terbesit kalimat tanya, kenapa Gian kembali, namun bibirnya tercekat. Amarah yang ia ciptakan sendiri menjadi alasan kenapa radha memilih diam.
Enggan seolah-olah menjadi korban dari masalah yang ia buat sendiri, Radha sepenuhnya sadar bahwa memang ini salahnya. Walau bagaimanapun, tindakannya memang mengecewakan Gian.
"K-kak, aku mau bicara sebentar."
Wanita itu mencoba kembali membuka percakapan, meski di terima atau tidak, setidaknya kata maaf akan terlontar dari bibirnya, pikir Radha.
"Jangan banyak bergerak jika kau tak ingin semakin sakit, Ra."
Meski tanpa membalas tatapan penuh sesal itu, Gian tak dapat membiarkan istrinya terlalu lama terdiam sendiri. Pria itu meminta Radha untuk tetap diam, hanya duduk dan beristirahat jika memang sakit.
"Maaf, Kak."
Kalimat singkat, yang terdengar begitu manis di telinga Gian akhirnya terungkap. Dengan wajah penuh sesalnya, Radha tak sejenakpun melepaskan suaminya yang tengah memakai baju yang ia siapkan.
"Maaf tentang apa?" tanyanya semakin dingin, Gian ingin melihat sebesar apa usahanya melunturkan rasa kecewa yang kini tengah membekas di benaknya.
"Huft, kau tak mampu menjelaskannya bukan?"
Setelah beberapa saat Gian menanti, namun hanya kebisuan yang ia dapatkan. Radha tak jua menjawab pertanyaan sang Suami. Mungkin sebenarnya ia bingung, dan Gian sebenarnya berusaha paham untuk hal itu.
"Lupakan, aku tidak akan menuntutmu," ujarnya sekilas menatap Radha, mengerti manik indah istrinya tengah meminta pengertian.
"A-aku hanya belum mampu, Kak, berikan aku waktu sebentar lagi."
"Dan, aku tidak mau sekolahku terganggu jika nanti sampai hamil seperti yang Mama katakan," tambahnya kemudian, hanya dua kalimat, dua kalimat yang mengguncang jiwanya seakan dunia hendak kiamat.
Gian menghentikan aktivitasnya, pria itu sibuk mengeringkan rambut dan tengah menatap pantulan wajah tampannya di cermin. Terdiam sejenak sembari kembali meneliti arti ucapan Radha, kesiapan seperti apa yang Radha maksudkan, dan waktu? Berapa lama lagi yang Radha butuhkan.
Ia tak akan banyak bicara, cukuplah Radha mengerti semdiri apa yang seharusnya. Pria itu menghela napasnya perlahan, mendekat dan kini mengusap pundak mungil sang Istri.
__ADS_1
"Kakak akan menunggumu, Zura, kapanpun ketika kau memang benar-benar menerima aku sepenuhnya sebagai pemilikmu."
Ucapan itu begitu dalam, sungguh Radha merasa tengah berjalan di titian dosa. Mata pisau yang begitu tajamnya tengah ia pijaki, entah kapan mata pisau itu melukainya, hanya Radha lah yang mampu memprediksi.
"Benarkan bajumu, Sayang, Mama akan banyak bertanya jika melihatmu seperti ini."
Seulas senyum hangat mulai Radha dapatkan, secepat itu Gian kembali baik, namun tak menutup kemungkinan pria itu mampu berubah bak monster dalam waktu singkat. Dan jelas saja Radha tengah berusaha menyusaikan diri dengan sifat Gian.
"Ah? I-iya, Kak."
Semudah itu, hanya karena prihal kecil Radha memerah. Menyadari pakainnya terbalik membuatnya malu seketika. Jelas saja ia malu, karena hal itu dapat menunjukkan bagaimana kacaunya Radha hingga hal semacam itu bisa salah.
"Hm."
Gian beranjak, dan hendak menyemprotkan parfum di seluruh tubuhnya. Belum sepenuhnya kembali, Radha ingin Gian benar-benar tanpa amarah seperti sebelumnya. Hingga ia lupa bahwa kakinya masih sesakit itu.
"Aaakkkh!!"
Hampir saja ia terjatuh, niat hati ingin mengikuti langkah Gian namun wanita itu justru mendapatkan hal buruk semacam ini, beruntung Gian dengan cepat meraih tubuhnya.
"Zura!! Perhatikan langkahmu, astaga!!"
"Kau ini benar-benar bodoh atau bagaimana? Apa kau tak mengerti juga? Duduk, Zura ... jangan banyak bergerak!"
Penuh tekanan, Gian menghela napas kasar. Memang kali ini istrinya luar biasa melawan. Dan Gian memejamkan matanya, menahan segala ucapan yang takut ia keluarkan dan menyakiti Radha lantaran khawatirnya yang memang berlebihan.
"Aku hanya ingin ikut Kakak."
"Cih, bisa saja kau, sebelumnya kau berlari seakan aku penjahat bagimu, dasar anak kecil."
"Kan beda situasinya," elak Radha mencebikkan bibirnya.
Pada akhirnya memang Gian tak bertahan dalam amarahnya, suara lembut dan wajah imut Radha seakan membuatnya lupa bahwa seharusnya ia memang marah.
"Haaah, kau memang benar-benar merepotkan, Zura."
Ia menganggkat tubuh mungil istrinya, dan sofa di sudut kamar menjadi tujuannya. Jika ia diamkan, mungkin kaki Radha akan membengkak esok hari.
Pelan-pelamn, Gian menurunkan istrinya. Tak seperti sebelumnya, ia ingin istrinya baik-baik saja. Gian berlutut dan memeriksa kaki Radha, terdapat beberapa titik kemerahan di sana, dan tentu saja itu sakit.
"Aaaww!! Kakak jangan di tekan," ujarnya meringis sembari menahan jemari Gian yang hendak memeriksa beberapa tanda kemerahan itu.
__ADS_1
"Sakit ya?"
Pertanyaan konyol, mengapa perlu di pertanyakan. Tanpa Radha berteriak pun harusnya Gian mampu menafsirkan. Dan sebagai suami yang baik, Gian dengan sedikit kemampuan prihal persendian mencoba mengurut pergelangan kaki istrinya.
"Kakak!! Jangan kuat-kuat dong."
"Belum juga aku memulainya," ujar Gian mendelik sembari menarik sudut bibir, kaki wanita itu sudah di pastikan terkilir, karena Radha jatuh cukup kuat lantaran langkahnya memang cepat.
Begitu pelan, Gian memijat pergelangan kakinya. Radha menggigit bibirnya. Sepelan apapun Gian melakukannya tetap saja ia merasakan sakit. Memang, seharusnya Gian lakukan sejak tadi, namun demi menghindari hal-hal yang tak baik akibat emosi, Gian memilih menundanya.
"Dia terlalu baik," batin Radha terjebak dalam rasa bersalahnya, menatap Gian yang begitu tulus dan perhatian meski usai emosi luar biasa membuat Radha seakan tercekat.
Sadar betul, dalam hal ini ia harus belajar dewasa. Menempatkan diri sesuai posisi dan menghapus apa yang tak ia perlukan dalam hidup. Tanpa sadar senyumnya memgembang begitu hangat, menatap Gian yang kini merawat kakinya.
Andai Gian dapat mengerti, ketakutan dan semua yang ada di pikiran Radha. Mungkin, prihal hak yang selalu Gian harapkan lewat pemaksaan halus itu tak akan terjadi lagi.
Seakan enggan lepas, manik indah itu masih terus berlabuh untuk pria baiknya. Sosok yang ditakuti banyak orang, namun teramat hangat bila berhadapan dengannya.
"Ra? Zura?"
Radha terkesiap, manakala Gian menepuk wajahnya. Wanita itu terlampau dalam merenung dan membuatnya tak sadar dengan lingkungan.
"Ehm, udah ya, Kak?"
"Yaa, apa masih sakit?"
Pria itu duduk di sisi Radha, memperhatikan wajah cantik istrinya yang kini lagi-lagi memberikan senyum padanya. Ucapan terima kasihnya, sakit di kakinya seakan berkurang dan Gian hanya membalas dengan senyuman jua.
"Lain kali hati-hati ya, dan tidak usah lari dari Kakak ... tolak baik-baik jika memang kau tak mau, Sayang."
"Kakak menyayangimu, Zura, dan Kakak tidak rela jika kau terluka sedikitpun, itu saja," tambahnya membelai lembut pipi mulusnya, Gian berusaha sebaik mungkin agar tak ada konflik batin.
Begitu lembut, namun kalimat itu dapat ia artikan sebagai puncak kecewa paling tinggi. Radha menunduk, menautkan jemarinya dan bingung harus menjawab dengan kalimat apa.
"Ck, rambutmu lebih mirip kumpulan ijuk, kau belum merapikannya, hm?"
Mengalihkan pembicaraan, Gian tak mau membuat Radha merasa semakin salah. Pria itu membelai surai hitam sang Istri yang luar biasa kusutnya, memang benar, pria itu akan mampu luluh jika yang ia hadapi adalah wanita yang ia cinta.
............ Bersmbung❣️
Oh iya, buat kalian yang pembaca Alvino Dirgantara, kalau ga ketemu dia ganti judul ya temen-temen🤗 "My Bastard Husband" Terima kasih🕊
__ADS_1