Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Wanita Masa Lalu?


__ADS_3

"Nggak mau tau, jemput sekarang!!"


Emosi kini menyelimuti pria yang baru saja mandi itu. Entah ia mendadak panas pagi ini, menyesal ia mencari tahu hal yang tak seharusnya.


"Dasar ponakan sialan!! Bisa-bisanya, dia lupa kalau aku ada di sini atau bagaimana?!!"


Kesal Randy mengomel tak jelas sementara teleponnya masih tersambung. Menguubungi Jelita sembari mengadukan hal macam-macam yang mejadi sebab marahnya.


"Kau bisa pulang sendiri jika mau, jangan membentak istriku, Gila!!"


Sialan, ia salah sasaran. Rupanya Raka mendengar celotehnya, Randy mendadak diam dan kini pria itu bingung harus melakukan apa untuk membuat keadaan menjadi seperti semula.


"Ah, Kakak ... aku bercanda, aku hanya mengasah aktingku, masih sama atau tidak."


Alasan paling tak masuk akal yang Raka terima, meski memang pria yang ia takuti itu tak memperluas masalah tetap saja ia menyesal.


"Apapun yang putraku lakukan, itu haknya!! Kau saja kurang kerjaan ingin tahu urusan orang, sudah tahu dia pengantin baru, salahmu sendiri cari penyakit, Randy."


Yaya memang salah dia, Randy sadar memang ia salah. Pria tampan itu bungkam dan menjauhkan ponsel dari telinganya, sakit kepala jika harus ia dengar semua ocehan Raka.


Randy menunggu hingga sambungan telepon itu Raka yang akhiri, karena sama halnya bunuh diri jika ia memutuskan telepon sepihak kala Raka sedang bicara.


"Satu keluarga sama saja, sama-sama suka menindas!!"


Andai saja tubuhnya baik-baik saja, sudah pasti Randy telah pergi mencari hal yang dapat meredakan ledakan emosinya.


"Ni si Wira pakek gebukin gue seenak jidat, mana Mbok Siti udah meninggal, urut dimana gue coba."


Ia tampak putus asa, kala ingat tetangga samping rumahnya telah tiada. Randy mengingat banyak hal sesungguhnya, dan tentu saja mendiang ibunya.

__ADS_1


Randy tersenyum tipis, menatap pemandangan di luar sana dari balik jendela memang menenangkan. Ia dapat menikmati hidup begitu baik, kehidupan sederhana yang dahulu mereka jalani mengajarkan Randy untuk tetap menjadi sosok yang ibunya ingini.


Di tengah lamunannya, ponselnya tiba-tiba saja bergetar. Panggilan masuk dari nomor yang sama sekali tak ia kenali. Randy menautkan alisnya, merasa heran lantaran nomor itu tetap saja mencoba menghubunginya meski tak ia terima.


"Ck, maaf, Mba!! Saya nggak butuh kredit, nggak usah nawarin saya deh."


Sudah biasa memang, mulutnya terlampau kreatif terhadap hal-hal yang belum pasti. Karena emosi yang masih bersemayam dalam dadanya, Randy spontan dengan tingkah konyolnya.


"Ra...." tutur wanita terpotong karena Randy terlalu cepat memberikan tanggapan.


"Udah deh, Mba!! Saya bilang nggak ya enggak, saya gak miskin loh. Mba kenal suara saya kan? Saya aktor hey, anda salah orang kalau mau nawarin kredit."


"Iya, Randy ... aku tau."


Suara itu begitu lembut, tawa renyah perempuan itu membuat Randy terdiam. Ia mengenali suara ini, sangat mengenalnya.


"Hm, kamu kenapa ngomel-ngomel gak jelas gitu?"


Randy terdiam, dalam rangka apa mantan istrinya ini menghubunginya. Bukankah sejak beberapa tahun lalu wanita itu yang memilih pergi tanpa berita? Sungguh, ia tak dapat menebak isi kepala wanita.


"Untuk apa kau menghubungiku?" tanya Randy dengan suara dinginnya, tak ada hal lucu yang harusnya di tertawakan jika bersama wanita ini, pikir Randy.


"Tidak ada, kamu di Indonesia kan?"


Randy diam, suara Sheinna masih membuatnya tercekat. Lembut dan sedikit mengiris kalbunya, wanita itu terdengar tak gugup sama sekali, seakan hubungan mereka tak pernah renggang sedikitpun.


"Iya, lalu kenapa?" Tidak ada keramahan di sana, Randy masih sama. Rasanya lebih baik menjadi tukang kredit untuk sementara.


"Aku boleh minta sesuatu nggak? Aku mohon, M-mas."

__ADS_1


Suara itu terdengar berbeda, ada keraguan kala ia memanggil Randy dengan sebutan yang telah lama tak ia ucapkan dari bibirnya.


"Minta apa?"


"Caterine nanyain Papanya akhir-akhir ini, kamu laungin waktu kamu ya, Mas ... satu atau dua hari aja udah cukup, kok."


Caterine, putri semata wayangnya. Gadis kecil yang dahulu terpaksa ia tinggalkan kala orang tua Sheinna turut campur kehidupan rumah tangganya. Usaha Sheinna untuk bertahan bersama pria yang ia mintai pertanggung jawaban atas skandal yang menjebak keduanya itu pupus begitu saja.


"Papa kamu gimana?"


"Papa di Paris ... dan juga dia tidak punya hak melarang kamu."


"Hm, akan aku pertimbangkan."


"Terima kasih, maaf merepotkanmu."


Sambungan telepon itu terputus, bertahun-tahun mereka menjalani kehidupan seakan tak mengenal satu sama lain. Fokus pada karir masing-masing dan menganggap apa yang terjadi di masa lalu hanya sebagian dari seni peran.


Ada getaran berbeda yang kini menyergap dalam dada, suara wanita itu masih sama. Persis seperti beberapa tahun lalu kala Sheinna meminta untuk tetap bersamanya, namun lantaran Randy yang memang tak menerima sang istri sepenuhnya membuat Randy memilih pergi ketika orangtua Sheinna memintanya pergi dari kehidupan Aktris cantik itu.


"Aku masih punya Caterine, kenapa aku sebodoh ini?"


Ia tengah mentertawakan diri sendiri, merasa hidupnya seakan hanya terarah pada naskah yang harus ia ikuti. Lupa bahwa dirinya sudah memiliki jalan bahagia sendiri, memiliki seorang putri dari wanita yang tidak ia cintai sepenuhnya bukan keinginan Randy pada awalnya. Tetapi, pencarian yang tiada henti itu akan berhenti jika Caterine berada dalam peluknya.


"Maafkan, aku gagal jadi orangtua, Bu."


Malu, Randy berucap demikian menatap nanar tanpa arah. Berharap Ibunya akan mendengar keluhnya, menatap air matanya dan menghapus lukanya segera.


............❣️

__ADS_1


__ADS_2