Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 145. Godaan Pagi Hari


__ADS_3

Pagi menjelang, samar terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Gian masih belum terbangun sepenuhnya, pria itu masih nyaman bergemul dalam selimut dan memang Radha membiarkannya untuk beristirahat penuh hari ini..


Radha menikmati segarnya ari hangat di pagi hari, mengingat pelajarannya hari ini akan menggunakan kapasitas otak yang lebih tinggi lagi, ya!! Matematika, dan sungguh menjadi sebuah hal menantang bagi Radha, baginya meski terasa sulit namun pelajaran ini memberikan sebuah kesenangan tersendiri dalam hidupnya.


“Eits, kok bisa habis sabunnya? Perasaan masih banyak deh ….”


Radha berdecak kesal, ia mengingat kemarin sabun kesukaannya itu masih cukup berat, dan kini sudah hampir habis, hendak keluar tapi keadaannya begini, namun bagaimana mungkin ia akan mandi tanpa menggosok tubuhnya.


“Ck, ini pasti ulah dia, kebiasaan kalau mandi tuang sabun nggak kira-kira,” sungutnya mencoba mengisi kemasannya dengan air, mubazir dan hemat waktu pikirnya. Selagi bisa digunakan, kenapa harus dibuang.


“Denganmu, bagai terbang melayang ….” Ya, seperti biasa Radha akan melatih pita suaranya agar bisa tampil maksimal jika suatu saat ia lolos dalam ajang pencarian bakat.


Tok tok tok


“Ra,” panggil Gian cukup kuat yang membuat Radha menoleh ke arah pintu kamar mandi, ta kia duga Gian akan terbangun secepat ini, sedangkan dirinya masih butuh waktu untuk selesai. Seluruh tubuhnya masih busa semua, dan begitupun dengan rambutnya.


“Iyaaa?” Radha cemas berharap Gian hanya memanggil dan memastikan bahwa memang ia sedang mandi.


“Kakak masuk ya,” ujarnya dengan suara yang terdengar masih begitu berat.


“Bentar!!” teriak Radha menahan suaminya, dan satu fakta yang ia lupa bahwa pintu kamar mandi itu tidak ia kunci sama sekali.


Ceklek


“Huaaaaa!!! Heh … aku belum selesai!! Kakak ngapain masuk sekarang!!”


Ia menjerit memekakan telinga, sungguh kedatangan Gian dengan matanya yang masih mengantuk benar-benar membuatnya terkejut bukan main. Radha menutupi bagian dada dan bawahnya, dasar sial, ia begitu polos saat ini, untung saja busa sabun itu cukup banyak hingga membuat tubuhnya dapat bersembunyi di balik itu.


“Lebay!! Kebelet, kamu lama.”


Gian berlalu tanpa peduli dengan Radha yang kini tengah menatapnya bak laki-laki cabul yang mencuri kesempatan. Radha kesulitan, ia bingung hendak bagaimana, karena jika ia mengguyur tubuhnya otomatis Gian akan semakin bebas memandangi lekuk tubuhnya. Namun jika dia begini, sedikit khawatir juga karena bisa jadi Gian akan tetap jahil pada akhirnya.

__ADS_1


“Ya kan Kakak bisa bilang dulu, setidaknya aku udah pakek handuk kek.” Radha berucap pelan, jemarinya masih sibuk memainkan spons mandi dan berusaha menciptakan lebih banyak busa untuk menutupi aset berharganya.


“Kenapa harus bilang, kan ini kamarku juga, lagian salah sendiri pintunya tidak kau kunci, Kakak pikir boleh.”


Dengan santainya ia bicara, Gian usai dengan hajat kecilnya dan kini pria itu belum memiliki pikiran untuk kembali ke kamar segera. Ia mencuci muka dan menggosok gigi sebentar. Sebenarnya ia tak menganggu Radha sama sekali, tapi Radha yang merasa terancam dengan keberadaan pria itu.


“Kau sekolah hari ini?” tanya Gian sembari menggosok pelan wajahnya penuh perasaan, seakan benar-benar menganggap Radha baik-baik saja dengan keberadaannya.


“Ehm,” jawabnya singkat yang mengundang perhatian Gian untuk berbalik menatapnya.


“Kenapa wajahmu seperti itu? Airnya mati atau kenapa, Ra?" Gian bertanya dengan wajahnya masih busa semua, Pura-pura tak paham atau bagaimana, namun bibirnya yang tertarik begitu tipis dapat menjelaskan bahwa memang pria itu bermaksud menggodanya.


“Tidak, Kakak cepet sana, aku mau lanjut mandi,” ucapnya tanpa berani menatap Gian, karena bagaimanapun juga tetap saja rasa malu itu menyelimutinya.


“Lanjutkan saja, Kakak tidak akan mengganggumu.”


Sungguh, bagaimana lagi harus menjelaskannya, kenapa pria ini benar-benar batu dan membuat Radha merasa panas padahal ini masih benar-benar pagi.


Dengan sejuta keberanian yang terkumpul akhirnya ia berhasil melontarkan kalimat ini meski terdengar sedikit gugup.


“Ra, aku suamimu, bukan orang lain, Sayang … sakit hatiku mendengarnya, aakkkhhh!!”


Mulai, kebiasaan Gian drama seperti biasa, pagi hari ia sudah mulai berulah. Menahan dada seakan tengah merasakan sakit yang luar biasa, dasar manusia manipulatif, pikir Radha.


“Duh udah deh!! Kakak keluar sekarang, aku bisa kedinginan,” rengeknya mulai kesal karena kini Gian benar-benar berniat menggodanya.


“Makanya jangan kelamaan, kau lupa cara mandi atau bagaimana.”


Andai tubuhnya tak lelah, mungkin Gian akan menggoda istrinya lebih ekstrem lagi. Namun sayang, kondisi Gian tak memungkinkan untuk dia berbuat lebih walau sebenarnya sangat ingin.


“Aaaarrrrrggghh!! Dasar jahil … Mama!!”

__ADS_1


Tak bisa menggoda kemolekan tubuh istrinya, Gian membuat kesal wanita itu dengan cara lain. Menarik handuk Radha dan meletakkannya di pintu kamar mandi yang sengaja tak ia tutup kembali adalah perbuatan paling menyebalkan yang Gian pertunjukkan padanya selama satu bulan terakhir.


“Jangan berteriak!! Kau bukan mandi di hutan, Zura.”


Pria itu kembali naik ke tempat tidur empuknya, tubuhnya masih lelah meski perutnya tak sekurang ajar semalam. Gian menghela napas lega, akhirnya ia dapat kembali seperti manusia normal pagi ini. Tak sia-sia ia bahkan sempat mengerluarkan air mata ketika meminum obat yang mertuanya berikan.


Drrrt Drrrt Drrrt


Ponsel Radha bergetar, sedangkan sang pemiliknya belum juga kembali. Selain merasa terganggu Gian juga sedikit penasaran tentang siapa yang mengubungi istrinya ini pagi-pagi. Benar-benar sebuah hal yang tak biasa.


Gian mengernyit, karena nomor itu tidak memiliki nama. Ia tampak berpikir dan memutuskan untuk mengangkat telepon itu ketika nomor menghubungi untuk kedua kalinya. Ia terdiam dan mendengar begitu teliti siapa yang bicara bersamanya di seberang sana.


“Ya Tuhan, akhirnya kau angkat juga, Ra … kemana saja kamu haaa?!!”


Baru kalimat pertama, namun Gian sudah sekesal itu mendengarnya. Tanpa perlu ia bertanya ia dapat mengenali pemiliki suara itu, cara bicara bahkan cara bernapasnya saja Gian ingat persis.


“Mau apa kau?” Gian menjawab dingin pemuda yang kini berani menelepon istrinya, mood Gian benar-benar rusak kali ini.


“Anda siapa? Kenapa ponsel Radha ada padamu?”


“Sebaiknya kau berhenti menghubunginya anak tengil, urus saja nilaimu, hancur seperti itu bagaimana bisa lulus, Abian!!”


Ia berucap datar namun tetap seperti kalimat amarah yang membuat lawan bicaranya sudah pasti ciut, helaan napas panjang terdengar oleh Gian, bisa dipastikan kini Abian tengah menebak-nebak siapa yang kini bicara padanya.


“Katakan padaku dimana, Radha!! Kau siapa dan apa maksudmu membahas nilaiku, siapa kau sebenarnya?” tanya Abian lewat telepon terdengar begitu menuntut.


“Ck, dasar tidak berguna.” Gian memutuskan panggilan sepihak tanpa peduli bagaimana lawan bicaranya kini menilai dirinya.


TBC


Hari terakhir di promoin🤗 Cepet Gede Anak aku❣️ Semoga kamu juga beruntung ya, Love You Ragi🌻

__ADS_1


__ADS_2