
"Papa kenapa? Aku aneh ya?"
Randy tertegun, untuk kesekian kalinya dia terkagum-kagum akan kecantikan putri kesayangannya. Meski belum bisa setertutup itu, akan tetapi penampilan Caterine kini menyejukkan mata Randy. Pria itu menarik sudut bibir, Caterine cantik sekali, mengingat apa terjadi hati Randy hancur bertubi-tubi.
"Cantik, Sayang ... kalau begini udah cocok jadi istrinya ustadz," canda Randy membenarkan rambut Caterine yang keluar beberapa helai.
"Ish Papa apaan, ustadz mana yang mau sama aku," tuturnya menarik sudut bibir, dia sudah berdamai dengan lukanya, akan tetapi Caterine tidak akan lupa jika dirinya tak sebaik itu untuk mendapatkan pria baik.
"Kamu putri Papa yang paling cantik, siapa yang bisa menolak pesonamu hm?"
Seperti biasa Randy akan menjadi penenang dari segala kekacauan dalam diri Caterine. Kala luka itu menganga Randy akan selalu menjadi obat paling utama demi mempertahankan senyum putrinya.
"Hahah bisa aja, kenapa Papa aja gak cari istri."
Caterine menarik sudut bibir, menggoda Randy seakan menjadi hal paling menyenangkan baginya kini. Walau sebenarnya memang dia butuh sosok wanita yang bisa menyayanginya seperti Jelita.
"Kita bahas lain kali saja."
Tak ingin terlalu lama terjebak dalam candaan, Randy yang sudah salah tingkah sejak tadi memilih berlalu keluar lebih dulu.
Perjalanan mereka cukup jauh, walau Randy belum pernah datang sendiri ke sana akan tetapi jika dia cek melalui Maps sepertinya akan memakan waktu cukup lama untuk sampai di sana.
"Kak Gian dermawan ya, Pa?"
Pertanyaan Caterine membuatnya sedikit mual. Mengingat betapa menyebalkannya keponakannya itu, rasanya apapun yang Gian lakulan takkan membuat Randy kagum.
"Hm, lumayanlah ... setidaknya sifat kurang ajarnya sedikit tertutup."
Randy bicara kenyataan, memang Gian dapat dikatakan sebagai pria kurang ajar dan bertindak semaunya.
"Hahahah tapi kak Gian baik, dan yang buat aku salut dia benar-benar setia."
Sebuah fakta yang tak bisa Randy tolak. Gian memabg berbeda, jika perihal wanita dia bisa berubah bak malaikat tanpa sayap yang diturunkan Tuhan.
"Kalau itu ajaran Papa," ungkap Randy berbangga diri, padahal bukan hal semacam itu yang dia ajarkan pada Gian semasa pria itu masih remaja.
"Ajaran Papa? Tapi kenapa Mama bilang keluarga kita hancur karena wanita lain," tuturnya menatap lekat manik hitam Randy.
Pertanyaan yang berhasil membuat dada Randy terhenyak, dasar Sheinna kurang ajar, pikirnya. Bisa-bisanya dia mengarang cerita, beruntung saja Caterine tak menganggapnya sebagai papa yang gagal.
"Dia bilang begitu?"
Caterine mengangguk, meski selama ini dia terlihay diam akan tetapi begitu banyak hal yang tersimpan di otaknya. Dan itu sama-sama membuat sakit.
"Apa benar begitu, Pa?" Ia hanya ingin memastikan, kalaupun iya Caterine takkan marah.
Dia sudah cukup dewasa dalam menilai orang, bagaimana sosok Sheinna menurutnya wajar menerima hal semacam itu.
"Menurut kamu? Apa mungkin Papa melakukannya?"
Caterine menggeleng, sedikit banyak ia sudah mendengar cerita dari sudut pandang Jelita sebagai kakak kandung Jelita. Meski ia juga tak dapat menyalahkan mamanya karena memang Sheinna beberapa kali mengungkapkan jika mencintai Randy.
"Nggak, kalau beneran selingkuh aku sama Radha jadi saudara dong."
__ADS_1
Sedamai itu, padahal jika berbicara perihal perasaan. Caterine harusnya sakit di sini. Asmara kedua orang tuanya cukup mengiris kalbunya, bagaimana Randy yang bertahan tanpa cinta, dan Sheinna yang mengikat dengan cara yang salah.
"Sayangnya Papa tidak punya kesempatan untuk melakukan itu," ujar Randy melempar senyum pada putrinya.
Pembicaraan yang kini terbawa dalam canda, padahal itu adalah awal dari air mata Sheinna. Berhasil memiliki Randy namun terpaksa ikhlas kala perpisahan itu tak bisa ia tolak.
-
.
.
.
"Oh My God!!!'
Caterine berbinar, apa yang ia saksikan kini membuat jantungnya berdenyut kencang. Wajah polos dan senyum manis mereka membuatnya luluh, bertahun-tahun menjadi putri tunggal dan kini ia menatap sorot mata penuh keikhlasan ini di depannya.
"Papa mereka lucu sekali."
Ia terlampau gemas, mengapa anak sekecil ini begiru banyak terlantar dengan berbagai alasan yang membuat batin Caterine terisis.
Secepat itu Caterine berbaur dengan anak-anak tak berdosa itu. Randy menghela napas pelan, baginya Caterine akan tetap menjadi gadis kecil kesayangannya, tak perduli sekeras apa semesta mendewasakan putrinya.
"Terima kasih atas kunjungannya, Om?"
Sedikit ragu, Hulya mencoba membuka kembali pembicaraan. Panggilan itu rasanya tidak sopan lantaran fisik Randy masih begitu muda di matanya. Akan tetapi, mengingat dia adalah teman Gian, maka Hulya memilih menyesuaikan saja.
"Om? Memangnya aku setua itu di matamu."
"Maaf, Gian mengenalkan Anda sebagai omnya kemarin," jelas Hulya takut jika Randy benar-benar tersinggung.
Caranya berucap selembut itu, tak pernah ia berinteraksi dengan wanita sesopan Hulya. Bahkan sebagai permintaan maaf, wanita itu menunduk pada Randy.
"Santai saja, aku hanya bercanda."
Merasa tak tega, padahal sebelumnya dia memang tersinggung. Tak sengaja, tatapan keduanya bertemu kala Hulya mendongak sekilas.
"Saya ke sana dulu, kalau butuh apa-apa panggil saja," tuturnya sopan, etikanya memang patut diacungi jempol.
Sialan!! Kenapa matanya seteduh itu. Randy mencubit pangkal hidungnya. Senyumnya tak bisa ia tahan, beberapa kali menyembunyikannya, akan tetapi di sana bukan hanya mereka saja.
Beberapa kali Randy menggosok hidungnya, hal yang kerap ia lakukan ketika berusaha tetap tenang padahal hatinya tengah kacau.
"Hulya namanya," ujar seorang pria payuh baya yang tiba-tiba muncul di belakang Randy.
Pria itu mengerutkan dahi, dia sama sekali tak bertanya, akan tetapi kenapa wanita ini tiba-tiba muncul tanpa ia minta.
"Hulya? Dia sudah menikah?" tanya Randy spontan dan sekita menutup mulutnya rapat-rapat.
Ingin ia tarik namun sudah terlanjur terucap. Randy harus menutupi rasa malunya dengan cara apa. Pria itu memejamkan mata dan mengacak rambutnya asal.
"Belum, entah pria seperti apa yang dia tunggu ... saya sudah kehabisan cara membujuknya untuk menikah."
__ADS_1
Ratri, wanita yang sejak tadi mengangkap gelagat Randy itu bicara dengan nada lembutnya. Terbiasa hidup di lingkungan yang hampir tiap hari rusuh, kini Randy merasakan perbedaan yang luar biasa.
"Tapi dia masih muda, wajar saja belum memikirkan rumah tangga."
Sangat aneh bagi Randy, karena jika dilihat Hulya masih begitu muda. Bahkan terlihat seumuran Caterine, entah karena wajah Caterine yang terlalu cepat dewasa atau memang Hulya awet muda.
"Tahun ini umurnya jalan 27, untuk wanita umur segitu sudah sangat cukup menikah."
Randy mengangguk paham, wajar saja. Jika memang dia teman dekat Gian, maka umur mereka takkan berbeda jauh.
"27 ... masih muda," ucap Randy singkat tanpa menatap lawan bicaranya, untuk sementara waktu Gian tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, kebetulan putrinya masih terlalu sibuk dengan anak-anak itu.
-
.
.
.
"Terima kasih, Om ... maaf sekali merepotkanmu, lain kali aku akan kesana sendiri."
Gian berucap dengan satu kakinya tampak santai sekali berada di atas meja rias Radha. Seakan tak punya cara lain untuk bersantai.
"Tidak apa-apa, sama sekali tidak merepotkan, besok-besok juga om mau, Gian. Caterine suka tempat itu."
Jawaban Randy membuat Gian tertawa sumbang, dengan mengatasnamakan Caterine padahal dia sendiri yang menyukai tempat itu dengan alasan yNg berbeda.
"Bagaimana? Sudah kukatakan jika beramal itu akan selalu mendatangkan hal baik, Om, sebagaimana terdapat dalam ...."
"Kak!!!"
Belum juga sempat ceramah, Radha mengacaukan semuanya. Gian mengerutkan dahi menatap kehadiran istrinya yang datang dengan wajah paniknya.
"Kenapa, Sayang?"
"Cincin ... cincin aku ilang, kemana ya?"
Gian terdiam, ia tatap jemari Radha dan memang yang dia maksud adalah cincin pernikahan. Tak ingin marah, tapi Gian merasa kecewa lantaran Radha bisa seceroboh itu.
"Kenapa bisa? Kamu dari mana?"
Ia beranjak, sambungan telepon belum ia tutup. Karena memang pembicaraan mereka belum selesai.
"Ya nggak tau, bantuin dong," rengek Radha merasa kehilangan harta paling berharga. Karena memang benda itu tak dapat tergantikan oleh perhiasan semahal apapun.
"Hm, jangan panik ... tapi tangan kamu nggak Kalila gigit kan, Sayang?" Gian hanya takut jika cicin itu tak sengaja tertelan, walau terdengar konyol tetap saja Gian takut.
"Enggak, dari pulang mereka cuma tidur belum main sama aku."
Sedikit tenang, namun bukan berarti tak panik sama sekali. Dia buru-buru keluar dan meminta Radha menunjuukkan dimana saja Radha pernah menetap.
"Om, ceramahnya lanjut nanti malam ... cincin istriku hilang, oke, Om?!!"
__ADS_1
Siapa juga yang berniat mendengar ceramahnya, tidak ada sama sekali yang menginginkan siraman rohani dari Gian, kalaupun ada itu adalah kaum-kaum yang stresnya sudah di atas rata-rata.
😌