Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Ulat (Gatal!!)


__ADS_3

Evany menatap kecewa pada Reyhans, sungguh dia tak pernah berpikir karirnya akan terhenti secara tak hormat seperti ini. Susah payah dia perjuangkan dari awal akan tetapi semudah itu hancur lantaran hal yang tak ia inginkan.


"Maaf, Eva."


Untuk kesekian kali, Reyhans mengungkapkan maaf pada Evany. Walau dia tidak sedih Gian memecat istrinya meski secara tidak hormat. Karena hal ini adalah yang ia inginkan namun tak punya cara untuk meminta Evany berhenti.


"Mas anter ya," tutur Reyhans sembari membantu Evany merapikan barangnya, mata itu sembab, sebegitu sayangnya dia dengan pekerjaan ini.


"Nggak usah, ini kan jam kerja ... aku bisa sendiri, Mas."


"Enggak, kamu mau diantar siapa memangnya? Nggak bisa, Mas yang antar."


Jujur saja dia takut jika Evany akan mendapat uluran tangan pria lain. Karena di lantai bawah pemuja Evany cukup banyak, jika Evany keluar kantor dengan keadaan begini, sudah pasti akan banyak yang menghampirinya, pikir Reyhans.


Dia mengambil alih kotak besar yang ternyata isinya cukup merepotkan. Benar saja, istrinya bahkan membawa bantal dan sendal ganti yang cukup banyak di kantor.


"Ayo jalan, apus dulu air matanya."


Istrinya masih meratapi meja kesayangannya itu, meski sempat kesal dengan Gian yang menghadiahinya meja mahal itu, kini dia merasa kehilangan yang luar biasa.


"Huft, aku dipecat ... tidak hormat," decihnya sembari tersenyum miring, seakan tak percaya jika dirinya benar-benar akan merasakan hal semacam ini.


"Jangan sedih, kamu dipecat bukan karena cara kerja kamu yang buruk, tapi kesalahanku ... andai saja aku sekaya Gian, mungkin tidak akan jadi bawahan, maaf ya," tutur Reyhans entah untuk keberapa kali dia meminta maaf pada Evany.


Mendengar ungkapan hati Reyhans kali ini, dia gugup seketika. Kenapa rasanya sangat sakit dan Evany seakan menguliti Reyhans dengan kuku-kukunya. Dia tidak menuntut Reyhans sekaya Gian atau berkuasa seperti makhluk itu, sama sekali tidak.


"Mas, kamu kok bahasnya begini?"


"Ck, lupakan, Eva ... sekarang sudah saatnya kita pulang, mau pamit sama temen kamu dulu?"


Evany menggeleng, mana ada dia teman di tempat ini. Yang ada hanya saingan dan bisa jadi mereka tersenyum senang melihat nasibnya kini. Sungguh mengenaskan nasib seorang evany.


"Ya sudah, pulang, tidur, nanti malem kita makan di luar."


Bisa saja menghibur, Evany menarik sudut bibir kala Reyhans berusaha mempertahankan senyumnya. Dia paham bagaimana sosok prianya memahami dia walau sulit, Reyhans yang dulu lebih menantang dari Gian kini seluluh ini di hadapannya.


"Nonton juga ya, Mas," tambah Evany seketika, matanya berbinar kala membayangkan waktu ketika mereka menghabiskan waktu bersama.


"Iya, apapun yang kamu mau," ucapnya lugas, untuk saat ini Reyhans akan berusaha bagaimana caranya agar Eva betah dirumah, walau ia tahu mungkin akan sangat sulit.

__ADS_1


"Pulangnya malem ya!!"


"Hm, malem."


"Beli sate madura ya, Mas?" rengek Evany seakan lupa jika dirinya tengah dirundung duka.


"Hm, iya, apapun yang kamu mau," jawab Reyhans menarik sudut bibir kala istrinya bergelayut di lengannya, kenapa sesulit ini membuat Eva manja.


Keduanya berlalu, meninggalkan meja kenangan dan tempat berjulit ria membahas atasannya, Gian.


"Dasar sinting."


Tanpa mereka sadari, interaksi keduanya mendaoat tatapan julit dari balik pintu celah kaca kecil di pintu ruangannya. Dirgantara Avgian, entah sejak kapan dia punya hobi mengintip, setelah tadi sempat penasaran dengan cekcok yang ia yakin dari ruangan Reyhans, kini dia kembali mencari tahu bagaimana kelanjutan mereka setelah Evany dia pecat.


"Huft, apa yang aku lakukan."


Baru sadar jika dirinya sedikit aneh, sempat ingin melarang Reyhans untuk menghantarkan Evany karena emosinya masih menyatu dengan dendam kesumat yang luar biasa dalamnya, akan tetapi dia tetap memikirkan naluri Reyhans sebagai suami.


-


.


.


.


"Kama aku dapat!!" teriak Kalila menghampiri Kama dengan senyum sumringahnya.


"Iyyyuuuhh! Gamau ... Mama," teriak Kama memekakkan telinga, Radha yang berada tak jauh dari mereka segera menghampiri apa yang anaknya lakukan.


"Ada apa, Kama?" tanya Radha begitu halus, teriakan Kama menjelaskan jika dirinya takut.


"Mama, Kalila dapat," ungkap putrinya memperlihatkan apa yang kini berada di telapak tangannya.


"Aarrrrrgggghh Kalila buang!!!"


Sungguh Radha merinding luar biasa. Keturunan siapa Kalila seberani ini, menjijikkan sekali. Ulat bulu berwarna hijau dan demi Tuhan untuk menatapnya saja Radha enggan.


"Kenapa Mama?" tanya Kalila polos, karena di matanya hewan lunak itu sangat lucu.

__ADS_1


"Mama!!! Bi Asih!!!"


Kama yang tadinya sempat takut, kini justru heran melihat mamanya justru berteriak bahkan menatap ke arah Kalila saja dia sudah tak sanggup.


"Mama tolong!!" teriak Radha lagi, namun sialnya Jelita tak jua datang.


"Mama kenapa?" Kalila menghampiri dan tentu saja masih dengan membawa ulat bulu itu telapak tangannya, dia berpikir itu mutiara atau bagaimana, pikir Radha.


"Kalila buang, Sayang!! Itu ulat, iyyuuuuhhh!!" Tubuhnya benar-benar bergidik, sungguh menjijikkan hewan itu.


"T-tapi lucu, Mama."


"Lucu apanya, Kalila!!"


Ya Tuhan, kenapa putrinya ini. Radha memang setakut itu, kalaupun jauh darinya tapi membayangkan teksturnya saja dia takut.


"Ra!! Kenapa?"


Jelita yang kini baru datang jelas saja takut melihat Radha yang bersimpuh bahkan seakan tak mampu lagi untuk bediri. Wajahnya memerah dan matanya kini tertutup rapat.


"Tolong singkirkan ulat di tangan Kalila itu, Ma, aku takut!!" teriak Radha tak tertahankan, andai saja ada Gian mungkin istrinya akan dijadikan tontonan sementara.


"Astaga, hahaha itu bukan mainan, Sayang ... ini ulat, nanti tangannya gatal, buang ya," tutur Jelita begitu halus, meski jujur saja dia juga merinding karena ukuran ulat itu sudah cukup besar.


"Tapi lucu, Oma." Dia mendongak, menatap lekat wajah Jelita, Omanya begitu lembut dan membuatnya tenang walau sebenarnya dia tak sanggup berpisaj dengan mainan barunya ini.


"Nanti minta Papa beliin mainan lagi ya, kalau yang seperti ini bahaya kalau Kalila pegang ... Mamanya aja takut, nggak boleh ya lain kali."


Ingin terbahak, namun kasihan menantunya. Wajah polos Kalila dengan butiran keringat membasahi wajahnya membuat Kalila amat lucu.


"Iya, Oma." Menurut sekali, sementara tak jauh dari sana Kama tengah menenangkan mamanya, memeluk Radha tanpa melepaskan batu kerikil yang ia dapatkan dari sudut sana.


"Ayo masuk, kalian semua keringatan begini. Ayo, Ra," ajak Jelita pada menantunya, sementara dirinya kini sudah menggendong Kalila karena tangan cucunya secepat mungkin harus dicuci tentu saja.


"Bentar, Ma ... aku masih lemas," jawab Radha pelan karena memang tubuhnya bahkan terasa bergetar lantaran shock melihat hewan itu.



Dayli rutin mulai Mei kalau niat wkwk. Yang di MT tetap ada ya, Babang Gio otw tunggu aja.

__ADS_1



__ADS_2