
Selesai dengan cara yang ia anggap sebagai jalan pintas, nyatanya Gian justru semakin menjadi. Tempat tidur itu terlihat sangat nyaman, belum lagi tubuhnya kini yang terasa amat segar.
Bugh
"Aaaaakkkhh, nyamannya ...."
Matanya terpejam, namun manusia itu masih 100 persen sadar. Dia mendengar Radha kembali mengeluhkan tingkahnya, akan tetapi untuk kali ini Gian memilih untuk pura-pura tak mendengar dahulu.
Dia mengantuk, tidur siang untuk beberapa saat sepertinya bukan sesuatu yang salah, pikirnya masa bodo dan melanjutkan kembali perjalanannya di mimpi siang hari ini.
"Ashar nggak bangun aku siram ya, jangan pura-pura nggal denger."
Gian hanya menarik sudut bibir, ancaman istrinya benar-benar lucu. Andai saja Radha merasakan betapa lelahnya jadi dia, tidur cukup larut dan bangun paling awal adalah perjuangan bagi seorang Gian.
Tak butuh waktu lama bagi pria itu untuk tertidur pulas, meninggalkan Radha yang masih setia dengan omelannya. Sementara kini, Radha hanya menggeleng melihat Gian yang sudah terbaring begitu lelapnya maish dengan handuk lembab di rambutnya.
"Kebiasaan, dia beneran nggak ada risih-risihnya, heran."
Satu hal yang sangat Radha herankan dari Gian, pria ini mampu betah dengan segala kondisi. Bahkan tidur dengan mengenakan benda lembab itu ia masih mampu dan tak merasa risih sama sekali.
Menatap alarm di atas nakas, sengaja Radha atur agar 2 jam lagi Gian bisa terbangun dari tidurnya. Karena sejak tadi Radha sudah mengatakan jika di ingin ditemani untuk mencari menu berbuka yang sudah amat dia rindukan.
"Moga aja kebangun," tutur Radha sebelum kemudian pergi dari kamar tidurnya, kembali kepada Kama dan Kalila yang saat ini tentu tengah menantinya.
Radha meninggalkan kamar dengan sangat hati-hati agar pria itu tak terganggu. Karena biasanya, jika tidur baru dimulai dan dia merasa terganggu, Gian akan uring-uringan seakan dunia telah runtuh.
"Ra, suami kamu mana?"
Melihat menantunya turun sendirian, Jelita merasa heran. Karena biasanya dua sejoli ini selalu bersama-sama, seakan tak pernah bisa terpisah.
"Tidur, Ma, ngantuk katanya."
Hanya bisa mengungkap sebagian fakta yang Sesungguhnya, karena jujur saja jika Radha mengatakan bahwa Gian sempat berendam dan mandi demi menghilangkan dahaganya.
"Jangan lupa dibangunin, Gian sekalinya tidur siang kayak mati suri, Ra."
Fakta yang tak bisa dipungkiri, walau sebenarnya suami istri ini sejenis. Baik Radha maupun Gian, keduanya sama-sama tak tahu aturan jika sudah bertemu ranjang.
"Iya, Ma, pasti dibangunin."
Tentu saja Gian akan terbangun, kalau tidak juga sepertinya pria itu jelmaan kerbau. Menyaksikan Kama dan Kalila yang sama sekali belum menunjukkan aba-aba ingin istirahat, Radha merayu keduanya untuk tidur segera.
__ADS_1
-
.
.
.
Alarm itu sungguh mengganggu, Gian masih begitu nyaman dalam lelapnya. Pria itu berusaha mematikan sumber bunyi itu dengan tangan kanannya.
Brak
"Berisik!!"
Berani sekali dia berteriak, andai saja istrinya ada di dalam kamar, sudah tentu Gian akan menjadi bahan amukan Radha.
"Azan?" tanya Gian dalam hati kala terdengar sayup kumandang azan dari masjid terbesar yang tak jauh dari kediamannya.
Matanya mulai terbuka, kantuknya masih terasa bahkan menguap begitu lebarnya. Gian menggaruk lehernya, menatap sekeliling dan memang terlihat gelap lantaran semua tirai sengaja di tutup dan lampu mati di siang hari.
"Magrib? Apa iya? Aku tidur cukup lama ternyata."
Menduga hari memang sudah senja, Gian beranjak dari tempat tidur dan berniat menuju dapur. Pria itu masih setengah sadar, bahkan jika ada seseorang yang mendorongnya, mungkin dia akan terguling menyusuri anak tangga itu.
Suara serak itu terdengar lemah, dia kini sudah berada di meja makan dan duduk sembari menunggu kesadarannya benar-benar kembali.
"Ck, mereka kemana sih? Apa jangan-jangan buka bersama di luar tanpa aku?"
Prasangka buruk adalah keahlian Gian, pria itu bahkan mampu menciptakan berbagai pikiran buruk hanya dengan satu kejadian yang dia sendiri tak paham benar atau tidaknya.
"Huft, lama sekali ... masa aku buka puasa cuma pakai air putih, sendirian lagi."
Tangannya sudah meraih gelas dan menuang air mineral itu ke dalamnya. Kebetulan bangun tidur dan dia merasa haus, meski keinginannya sudah menggebu-gebu, Gian tetap membaca doa sebelum hendak minum.
"Heeeh!!! Tunggu, mau ngapain?"
Baru saja permukaan gelas itu bertemu dengan bibirnya, Radha justru menahan gerakan Gian dan segera menarik gelas itu dari tangan sang suami.
"Aduh, Ra ... belum sempat minum loh, sini buruan, kamu tau kan berbuka itu harus disegerakan."
Padahal tadi dia sempat emosi lantaran tak menemukan Radha di ruang makan, akan tetapi setelah bertemu bukannya dia membahas Radha dari mana, akan tetapi lebih fokus pada segelas air minum itu.
__ADS_1
"Berbuka? Buka apaan!!"
"Iya berbukalah, kan udah waktunya ... telinga kamu nggak berfungsi ya, Ra?" Gian berdecak, kenapa lagi dengan istrinya, pikir Gian.
"Masih lama, nggak usah ngarang deh ... cuci muka dulu sana."
Gian menatap bingung Radha, wajah bantalnya benar-benar memancing keinginan hati Radha untuk menyiramnya segera.
"Masih lama?" tanyanya tanpa dosa seakan tak mengerti sedunia.
"Iya, ini baru ashar, Kak, lagian kalau magrib nggak mungkin di meja makan cuma ada buah sama aer doang."
Sepertinya Gian memang tidak masalah jika tak puasa, karena seperti yang kita ketahui syarat berbuka juga harus sehat dan berakal.
"Kok gitu sih, Ra ... kenapa nggak setelah Kakak minum aja baru kamu ingetin, jahat banget sih jadi istri."
Mulai, dia drama luar biasa dan Radha semakin kesal dibuatnya. Umur berapa sebenarnya suaminya ini, lagipula sejak pagi Gian belum beraktivitas berat, lantas kenapa dia seakan menderita luar biasa.
"Astafirullahaladzim pak Ustadz, bukankah berdosa jika kita melakukan hal semacam itu?"
Gian menghela napas pelan, padahal dia mengorbankan rasa kantuknya demi segelas air untuk meredakan dahaganya.
"Iya juga sih, kamu dari mana? Kenapa nggak ada di kamar?"
Berusaha menerima keadaan, Gian kini mengalihkan pembicaraan. Megikuti langkah istrinya yang hendak menuju ruang kamarnya.
"Jagain Kama sama Kalila, mereka baru tidur jadi aku baru bisa tinggalin."
Gian mengangguk kecil, kembali ke kamar dan hendak merebahkan tubuhnya lagi. Namun secepat kilat Radha tarik bajunya dan membuat posisi Gian tertahan.
"Aarrgghh! Kenapa, Ra? Mau tidur lagi, belum magrib kan?"
Dasar ustadz gaddungan, Radha benar-benar tak habis pikir kenapa juga Raka setuju dengan ide pria ini yang ingin mendapat giliran untuk jadi penceramah selama bulan ramadhan.
"Nggak baik tidur setelah Ashar, nggak boleh!! Mandi kalau emang ngantuk, abis itu sholat."
Cerewet sekali, tapi dia menuruti kemauan sang istri. Gian tak membantah apa yang Radha katakan, kalau tetap saja dia bergerak dengan wajah datarnya itu.
"Kak, nanti kita cari takjil ya, aku udah gak sabar." Radha memperlihatkan wajah tak sabarnya, berbeda dengan Gian yang seakan enggan untuk keluar rumah.
"Hm," jawabnya sesingkat itu, tapi terserah, selagi dia tidak menolak, bagi Radha tidak mengapa.
__ADS_1
Part Cari Takjil Insya Allah Sore yađź’™ Btw untuk karya baru tungguin yaaa besti.