Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Kembalikan Dia Padaku


__ADS_3

Matahari mulai sayu, Haidar menanti malam dalam kesendirian. Ia tak berminat untuk memakan sesuap pun nasi yang Layla siapkan. Rasa laparnya seakan samar beriringan dengan amarah dan kecewa yang menyatu dalam jiwanya.


Haidar menghela napas perlahan, ia beranjak ke kamar mandi untuk sejenak menenangkan diri. Ia tak begitu paham kapan Raka pulang, namun setidaknya ia menemui sang Papa dengan keadaan yang lebih tenang.


Cukup lama ia menghabiskan waktu di dalam kamar mandi, air yang begitu dingin seakan tak mengusik kulitnya. Ia bertahan untuk waktu yang cukup lama, berharap kepalanya akan terasa sedikit dingin setelah ini.


Haidar mengusaikan urusannya, ia masuk ke kamar dengan handuk yang kini melilit di pinggangnya. Pria itu menggosok rambutnya perlahan, sejenak ia memandang pantulan wajahnya. Ia menarik sudut bibir, tawa sumbang kembali terbit.


Tok tok tok


Ia menoleh sekilas ke arah pintu kala ketukan itu terdengar sopan. Sebenarnya Haidar tak berkeinginan sama sekali untuk membukanya, namun ketukan kesekian kalinya membuat Haidar merasa terganggu.


"Ck, menyebalkan."


Haidar membuka sedikit pintu kamar, memberikan sedikit celah untuk mengetahui siapa yang mengetuk pintunya.


"Ada apa?" tanya Haidar dengan wajah datarnya, wajah pias Layla begitu jelas di depannya.


"Makan malam, Den," ujar Layla dengan wajah tertunduk patuh lantaran takut akan amarah Haidar.


"Makan malam?" tanya Haidar mengerutkan keningnya, baru ia tersadar begitu lama dirinya mengurung diri di kamar.


"Iya, Den, Tuan dan Nyonya sudah menunggu."


"Astaga ...."


Haidar mengusap wajahnya kasar, ia mengangguk dan meminta Layla untuk berlalu. Ia tidak lapar, hanya saja perkataan Layla membuatnya terpaksa mengiyakan.


Dengan langkah lemahnya, Haidar beranjak menuju lemari. Mengganti pakaian dengan piyama yang letaknya tak terlalu dalam. Mungkin lantaran suasana hatinya membuat Haidar bersikap demikian.


"Ck, astaga!! Kenapa kau masih di sini?" tanya Haidar dengan keterkejutannya, pria itu hampir saja berteriak menyadari Layla kini berada di depannya.


Layla tak meninggalkannya, gadis cantik itu masih setia menunggu kehadiran Haidar di depan pintu kamar. Ia hanya menjalankan tugas Raka yabg memastikan bahwa Haidar benar-benar turun.


Pria itu berlalu, tanpa peduli gerak tubuh Layla yang berusaha hendak menjelaskan maksud dan tujuannya. Dengan rambut yang kini masih lembab Haidar turun meniti anak tangga satu persatu menuju ruang makan.


Deg


Dadanya berdegub tak karuan kala menatap Gian dan Radha juga berada di meja yang sama. Sejenak ia menghentikkan langkah, rasanya ia tak sanggup untuk melangkah lebih lama.

__ADS_1


Langkahnya terasa makin berat, belum lagi tatapab Radha yang teramat membuatnya luka semakin menambah sakitnya. Napasnya tercekat, berusaha menyembunyikan dukanya di mata Raka.


Ia tak perlu apapun selain penjelasan Raka, saat ini mungkin memang tak seharusnya. Namun ia cukup paham bahwa Raka adalah seseorang yang tidak bisa dibantah.


"Duduklah," ujar Raka tanpa menatap wajah Haidar.


Jujur saja, ia masih marah. Namun bagaimana, ia tak punya alasan untuk meluapkan amarahnya. Sebesar apapun rasa malu, tetap saja semua berawal dari dirinya sendiri.


Brugh


Ia membanting tubuhnya di kursi, Raka sejenak menoleh lantaran merasa Haidar benar-benar tak ada sopannya. Ia menghela napas kasar, tak mungkin ia mengamuk putra sulungnya.


"Makanlah," perintah Raka tak terbantahkan, mau tidak mau Haidar harus makan meski hanya sedikit.


Bagaimana bisa Haidar menelan makannya, pun itu hanya sesuap. Pemandangan yang ia lihat sangat amat menyakitkan, bak pedang yang menghunus dadanya berkali.


"Cukup," ujar Gian begitu halus kala Radha menyiapkan makannya.


Sakit, seharusnya hal sepahit ini tidak ia lihat. Haidar benar-benar terluka, ia benar-nenar sakit. Hatinya Memanas seakan tak mampu menahan amarah yang kian lama kian membuncah.


Tangannya mengepal keras, tak sedikitpun ia lewatkan hal yang Gian lakukan pada Radha di meja makan. Terlihat sengaja mematik api yang membuat jiwanya seakan terbakar habis.


"Pa," ujar Haidar membuka percakapan, ia takkan bisa menahan lebih lama sesak di benaknya. Ingin ia tuntaskan segera, entah ada hasilnya atau tidak. Namun yang jelas, ia hanya ingin semua terjawab.


Ia paham betul putranya mungkin takkan peduli dengan kesehatannya. Tak ada niat sedikitpun untuk menyakiti putranya, namun ia harus menghadapi segala kenyataan yang ada. Meski perlahan, Haidar harus siap.


"Baiklah," keluh Haidar mengalah, ia hanya tak mau memperpanjang masalah meski sakitnya seakan tak terganti.


Dengan malas dan sangat amat terpaksa Haidar terpaksa menyuap makannya, bahkan rasanya kini sangat pahit dan Haidar tak dapat menikmatinya dengan baik.


Tatapannya tak tentu arah, sesekali ia menatap wajah Radha meski harus curi-curi pandang. Padahal ia akan marah besar jika Radha mencuri pandang ataupun dicuri pandang oleh siapa saja.


Tidak ada pembicaraan, hanya dentingan sendok yang seakan berperang. Baik Gian dan Haidar maupun kedua orangtua-Nya hanya diam. Radha merasakan canggung yang teramat sangat, ia sungguh merasa tak nyaman dengan situasi yang kini ia hadapi.


Sama halnya dengan Haidar, Radha juga merasakan hal yang sama. Sama sakitnya dan sungguh luar biasa remuknya, bagaimana bisa ia duduk di satu meja dengan kekasihnya namun kini statusnya berubah menjadi adik ipar.


"Pa, bolehkah aku bertanya sekarang?"


"Ehm," timpal Raka menatap Haidar sesaat.

__ADS_1


Meski di ruang makan, rasanya tak apa bahas. Haidar hanya butuh jawaban dan Raka tidak akan memberi penjelasan panjang.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa Radha berada di rumah ini dengan status sebagai menantu Papa."


Haidar tertawa sumbang, ia hanya menatap sekilas Radha yang kini hanya diam dan menudukkan kepala. Tak ia temukan lagi manik indah yang senantiasa tersenyum padanya.


"Maafkan, Papa, Haidar. Semua salah Papa, dan tak seharusnya kau merasakan luka sedalam ini."


Tak dapat dipungkiri, memang benar adanya bahwa Raka yang salah. Dan diapun tidak menghindar dari salahnya, jika tak seegois itu, mungkin takkan terjadi. Niat hati memberikan kebahagiaan, namun yang terjadi luka menyakitkan.


"Tapi kenapa, Pa?"


"Cara Papa salah, maafkan Papa."


Penuh sesal Raka berucap kelu, untuk pertama kali ia tak begitu membela dirinya. Luka di gurat wajah Haidar membuatnya memilih mengalah, tak apa, toh memang salahnya.


Namun percuma, luka tetaplah luka, dan sakit tetap saja sakit. Semua telah terjadi dan Haidar terpaksa menjadi korban lantaran kesalahannya jua.


BRAK!!


"Haidar!!" bentak Raka kala putranya menggebrak meja, tak ia duga Haidar dapat menunjukkan amarah di depannya.


"Papa benar-benar manusia egois!! Dimana pikiran Papa? Dan kau pun sama, Kak."


Raka terdiam, pun Gian dan juga Jelita. Ia tak dapat membela diri kala Haidar meluapkan amarahnya.


"Kembalikan dia padaku, kau belum menyentuhnya kan?"


Gian meradang kala Haidar berani berucap demikian, sungguh gila ucapannya. Dasar tidak waras, gila dan segala macam umpatan keluar dari benak Gian.


"Jaga bicaramu. Haidar!!"


Ruang makan yang semula sunyi kini menjadi gaduh lantaran ulah kedua pria tampan itu.


"Kenapa? Kau takut, haaa?!!"


"Benar kan? Mana mungkin Zura sudi disentuh pria bejjat sepertimu!!"


PLAK!!

__ADS_1


Tbc


Dah babay, kebelet gue beneran😭


__ADS_2