Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 237. PHO


__ADS_3

Membiarkan istrinya kini terlelap akibat ulahnya, Gian kembali bersiap ke kantor. Jika biasanya Gian akan konsisten dan sangat menghargai waktu, beda cerita jika berkaitan dengan Radha.


Malas-malasan, bahkan seharusnya ia sudah bisa menemui Reyhans sejak 15 menit yang lalu. Tapi nyatanya, memang pulang adalah jebakan yang membuatnya semakin tak suka pekerjaan.


"Lama sekali, kau memang gila, Gian," umpat Reyhan begitu Gian menghampirinya.


Cukup lama ia menghabiskan waktu di ruang tamu, bahkan pria itu sudah menghabiskan satu gelas jus jeruk lantaran menunggu Gian yang tak juga kembali.


"Ck, aku tidak tega meninggalkan Zura begitu saja, Rey."


Bisa saja dia mencari alasan, Reyhans tak sebodoh itu. Pembukaan yang sempat ia saksikan cukup untuk menjadi pintu utama terbukanya pikiran Reyhans, belum lagi pria ini kini berganti pakaian dari atas hingga bawah.


"Kau mandi?" tanya Reyhans kala menyadari rambut Gian yang memang basah, jelas sudah bukti bahwa memang pria gila ini sengaja menonaktifkan ponselnya untuk memenuhi hassratnya sejenak.


"Iya, kenapa memangnya? Tubuhku lengket semua, istriku memang tidak ada tandingannya," ucap Gian mengedipkan matanya, ingin rasanya Reyhans pukul saat ini juga.


"Terserah kau saja, ayo pergi ... kau sudah sangat terlambat, Gian."


"Itu perusahaan Papa, terserah aku dong," ucapnya tak mau kalah, karena memang kuasanya membuat Reyhans tak mampu berkata apa-apa.


Melangkah lebih dulu, tanpa sedikitpun merasa malu pada Reyhans yang kini menatapnya tak habis pikir.


Bagaikan langit dan bumi, perbedaan keduanya sangat amat jelas. Wajah murung Reyhans bertentangan dengan wajah bersinar Gian yang baru saja mendapat kesenangan surganya.


"Santai saja, Rey, nanti perutku mual," Omel Gian Kala Reyhans mulai melaju, salah apalagi dia, padahal Reyhans tak terlalu cepat mengemudikan mobil itu.


"Sejak kapan kau mabuk perjalanan, Gi ... dasar aneh," tutur kesal Reyhans yang menyadari jika semakin hari Gian semakin menjadi, rasanya lebih nyaman dia mengantar Radha ke pasar daripada harus menghadapi tabiat pria ini.


"Entahlah, tapi caramu mengemudi kadang membuatku sedikit mual, Rey."


Memang ada yang berubah dari cara Gian bicara padanya, tak sekeji itu dan membuat Reyhans benar-benar merasa jika memang Gian sudah menerimanya kembali sebagai sosok teman.


-


.


.


.


Tiba di kantor, pria itu berusaha fokus dengan pembicaraan bersama rekan bisnisnya, Beberapa kali mereka menyadarkan Gian, namun ada satu hal yang benar-benar mengusik pikirannya.


"Maaf, Pak ... apa anda baik-baik saja?" tanya Bimo yang mulai merasa jika pikiran Gian bukan lagi berada di tempat ini.

__ADS_1


"Ah? Kenapa, sampai mana tadi?"


Benar saja, faktanya memang pikiran kemana manusianya dimana. Gian yang begitu, namun Reyhans yang merasa tak enak.


"Sepertinya Anda memang tidak baik-baik saja, Pak ... saya rasa pertemuan kita cukup dulu, Anda harus istirahat," tutur Bimo mengerti bagaimana kode dari Reyhans, karena jika dipaksakan juga percuma.


"Baiklah jika begitu, tapi sebelum Anda pergi bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Gian kini menatap Bimo seserius itu, jelas saja orang akan mengira dirinya tengah merencanakan sesuatu.


"Silahkan, Pak, dengan senang hati."


Sementara kini Reyhans tengah menahan napas, takut jika pertanyaan Gian justru di luar dugaannya. Pria itu bahkan terdiam seribu bahasa demi menanti pertanyaan Gian.


"Bika Ambon dari mana?"


Pertanyaan macam apa itu, apa tidak ada hal lain yang harusnya ia tanyakan? Di antara banyaknya isu-isu tentang dunia, harga sembako dan permasalahan lainnya, kenapa Gian justru mempertanyakan hal yang sama sekali tidak ada pentingnya, pikir Reyhans masih menganga.


"Maksud Bapak?"


"Aku hanya bertanya, Bika ambon dari mana? Sejak tadi aku memikirkan itu, ck ... mengganggu sekali." Gian berdecak kesal mengungkapkan bagaimana kekesalannya akan fakta kue basah itu, tiba-tiba saja yang ia pikirkan diantara banyaknya makanan hanya itu.


"Medan, Pak," jawab Bimo meski sedikit ragu, kenapa juga Gian mengajak yang lainnya turut pusing dengan pikiran ruwetnya.


"Kenapa namanya Ambon?"


"Saya kurang tau, Pak, mungkin kita bisa ulas kembali sejarahnya, saya akan temani Bapak jika mau," tawar Bimo yang langsung mendapat gelengan kepala dari Gian, ia hanya bertanya, bukan ingin mencari teman diskusi.


"Terima kasih, jawaban Anda sudah cukup jelas, saya akan cari tau sendiri."


Tak ingin banyak bicara, Bimo paham jika Gian bukanlah seseorang yang suka bercanda jika belum terlalu dekat. Cukup mendengar ceritanya saja, bahwa beberapa kerja sama batal akibat yang menjadi rekan bisnisnya terlalu mencolok dalam mengambil hati.


Kini tinggal Gian sendiri bersama Reyhans yang selalu menemani, mungkin jika nanti gempa Reyhans akan tetap berada di sisi Gian.


"Reyhans, menurutmu bagaimana?" tanya Gian kini, sungguh Reyhans tengah berusaha untuk Gian tak banyak bertanya padanya.


"Nanti aku baca-baca lagi, aku juga lupa sejarahnya, Gian."


Mengecewakan, Gian menghela napas pelan usai mendengar jawaban Reyhans. Pria itu berlalu lebih dulu meninggalkan Reyhans yang kini berada tak jauh dari tempat Evany.


"Apa yang kau lihat, Evany? Kau menyukaiku? Jangan macam-macam, istriku tau aku tidak tanggung jawab," tuduhnya asal-asalan dan membuat Evany membeliak tak terima.


Fitnah ini terlalu dalam dan siapa juga yang menatapnya dengan tatapan suka, Evany masih belum bisa menerima keputusan Gian yang dulu pernah memotong gajinya.


"Aku sudah mempunyai kekasih, Pak, Anda tidak perlu khawatir, Reyhans jauh lebih menawan daripada Bapak."

__ADS_1


Bagai bunuh diri, tapi ini satu-satunya cara agar Gian tak menuduhnya diam-diam suka, sungguh meski Gian tampan dan sempurna, sekalipun pria itu masih sendiri, sepertinya Evany akan memilih untuk tidak mengenal Gian sama sekali.


"Waw, aku tidak salah dengar? Reyhans, kalian benar-benar pacaran?" tanya Gian entah kenapa sepenasaran itu, jiwa kepo bukan dirinya sama sekali, akan tetapi kini pria itu bahkan rela mundur beberapa langkah demi mendengar penjelasan Evany.


"Hei, aku bertanya, kalian kenapa diam?"


Menyesal Evany mengatakan hal ini, andai saja ia diam, sepertinya takkan ada adegan bosnya yang sepenasaran ini tentang hidupnya.


"Urusan pribadi, Gian, bukankah kau bilang tidak boleh membawa urusan pribadi dalam pekerjaan?"


"Ini termasuk pekerjaan, karena jika kalian menyembunyikan sesuatu, sama saja kalian tengah merencanakan hal jahat terhadap atasan kalian."


Fitnah apalagi, Reyhans benar-benar kehabisan cara jika harus menghadapi Gian lebih lama. Sepertinya meminta pria itu segera masuk ke ruangannya adalah hal paling baik.


"Tidak ada yang seperti itu, masuklah ... telepon saja istrimu sana."


"Dia masih tidur, kau ingin aku membangunkannya, Rey?" Mata Gian mendelik, namun dia merogoh ponselnya dengan gerakan cepat.


"Baiklah, jika kau yang meminta." Berlalu begitu saja sembari menanti teleponnya tersambung, mengatasnamakan Reyhans, kini dia mengganggu istrinya lagi.


"Ck, ya Tuhan, kenapa dia semakin tak terkendali," keluh Reyhans memijit pangkal hidungnya, sesaat sebelum kini beralih pada Evany yang tengah menundukkan kepala.


"Bersikap biasa saja, jangan cari masalah, tahan sebentar lagi, Eva," tutur Reyhan lembut, sangat paham bagaimana tertekannya menjadi seorang Evany, namun bagaimana, ia tak punya banyak cara untuk dapat membuat wanita itu nyaman lebih cepat.


"Aku terus yang salah, padahal memang dia yang cari masalah," celetuk Evany tanpa menatap Reyhans, karena memang dia sudah cukup bersabar dengan keberadaan Gian sebagai pengacau dalam hidupnya.


"Bukan begitu, maaf aku tidak bisa berbuat lebih baik untukmu." Menyesal itu pasti ada, manakala Gian kerap berbuat seenaknya dan melimpahkan pekerjaan yang cukup menguras tenaga dan otak Evany, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.


"Hm," jawab Evany bahkan tak mau membuka mulutnya.


"Jawab yang benar, Eva." Reyhans sudah pusing menghadapi Gian, ditambah wanita ini dia semakin pusing saja.


"Iya, aku sudah jawab dengan benar, Rey." Suaranya terdengar lelah, kesal dan marah jadi satu.


"Nanti pulang aku antar, jangan sendiri seperti kemarin."


"Kamu lama, nganter temannya suneo dulu baru anter aku, aku sendiri saja ... tidak masalah," ucap Evany biasa saja, cukup sering dia berharap akan diantar pulang, nyatanya Gian kerap menjebak Reyhans dan membuatnya telat mengantarkan Evany.


"Tidak akan, aku akan usahakan, Eva." Dia benar-benar serius, berharap Evany akan memahami keadaan, walau sebenarnya Evany sudah sangat amat memahaminya.


"Yakin?" Netra itu menatap Reyhans lekat, mencari keraguan dalam ucapan pria itu, namun tak ia temukan.


"Hm," jawabnya singkat, Reyhans tak suka dijawab sesingkat itu namun dirinya saja benar-benar irit dalam bicara, sungguh menyebalkan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2