Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Janda? (Aku Suamimu!)


__ADS_3

"Jaga mulutmu, Haidar!!"


Gian meradang, sejak tadi ia berusaha sabar atas ulah tak sopan adiknya. Beberapa kalimat sebelumnya dapat ia abaikan namun tidak dengan yang kali ini. Haidar merasakan panas di sebelah wajahnya, tamparan Gian benar-benar sesakit itu.


"Kenapa? Kau tak terima dengan apa yang aku katakan? Bukankah tidak ada yang salah? Hahaha ... kekasihku berhak tahu kan siapa suaminya?"


Ia tertawa sumbang dan mengepalkan kedua telapak tangannya di meja sebagai tumpuan. Tanpa sedikitpun rasa takut Haidar menatap manik tajam sang Kakak.


"Haidar ...."


"Diam, Pa!! Penjelasan Papa sudah cukup, sekarang aku yang ingin bicara."


Untuk pertama kalinya Haidar memotong dan menangkis ucapan Raka. Dan sebagai orangtua, Raka kali ini hanya mampu terdiam lantaran ia sadar kesalahan bukan pada Haidar tapi pada dirinya.


"Sebelum hubungan kalian lebih jauh dan terlampau lama, ceraikan Zura dan kembalikan dia padaku."


Gian menatap nyalang adiknya, Haidar benar-benar sudah sedewasa itu dalam mengucapkan keinginannya. Radha pun turut menatap heran Haidar yang kini mampu berbicara setegas itu, ia memang tak mengenal keluarga Haidar semenjak pacaran.


Janji Haidar lah yang membuat Radha tetap sabar menanti kejujuran dari bibir kekasihnya. Siapa dia, bagaimana keluarganya, Haidar akan buka jika sudah saatnya. Namun sayang, janji Haidar tak terpenuhi, Radha tahu lebih dahulu dengan cara sesakit itu.


"Lancang kau, Haidar!! Apa yang ada di otakmu?!!"


Sebagai seorang suami, Gian membela haknya atas Radha. Bagaimanapun cinta Haidar, tetap saja ia yang berkuasa atas Radha sepenuhnya. Dan perkataan adiknya sungguh di luar nalar, bagaimana bisa ia mencetuskan ide untuk membuat Radha menyandang status janda usai beberapa hari pernikahan.


"Aku tidak butuh pertanyaan, Kak, aku hanya butuh Zura."


"Kau tau makna pernikahan yang pernah Mama ucapkan untuk kita beberapa bulan lalu?" tanya Gian tanpa melepaskan sedetikpun manik hitam sang Adik.


"Iya, tapi semua itu tidak berlaku untuk hal ini. Suka atau tidak suka, kau harus bersedia menceraikan Zura secepatnya, Gian."


Radha membuang napas kasar, matanya terasa panas dan tangisnya seakan hampir pecah. Cintanya untuk Haidar jelas masih ada dan bahkan masih sama dahsyatnya, hanya saja ia paham betapa sucinya pernikahan.


"Kau sadar apa yang kau ucapkan, Haidar?" Raka berucap dingin sembari menahan giginya yang kini bergemelutuk.


"Sangat amat sadar, ceraikan dia, aku akan menikahinya setelah semua usai."


"Tidak, Nak, kau tahu apa yang akan Radha terima jika hal itu terjadi?"


Jelita turut bicara, hatinya sesak menyadari kedua putranya bersitegang dan bahkan berakhir perpecahan. Ia harus mengambil peran, kali ini Haidar terlalu berlebihan, terlalu gila rasanya.


Janda? Tidak mungkin ia akan berakhir sama seperti nasib sang Mama. Ia masih terlalu muda, permainan takdir terlalu kejam padanya, di paksa menikah bahkan di umurnya yang masih belia, lantas haruskah ia menerima keputusan tak masuk akal yang membuatnya menyandang status itu.


"Haidar paham, tapi percayalah ... setelah ini Zura akan lebih baik hidup bersamaku, Ma."


Tatapan penuh harap itu ia layangkan untuk Radha, berharap masih ada kesempatan untuk mereka dapat bersatu kembali dalam ikatan. Menggantikan Gian dengan cara yang seratus persen lebih baik, Haidar tak ingin mimpi indah nan mewah yang ia bangun sejak beberapa tahun lalu hancur begitu saja.


*******


"Aarrrrrgggghhh!!"

__ADS_1


Haidar menghempaskan tubuhnya kasar di tempat tidur. Bogem mentah yang ia terima usai ucapannya berhasil membuat sudut bibirnya berdarah.


Perdebatan yang berakhir pertengkaran di antara mereka membuat Raka memilih untuk sesaat melerai keduanya.


"Haidar,"


Raka menutup pintu kamar, pria itu menatap lekat putranya. Sebenernya luka kala sang Putra terlihat frustasi luar biasa, ia bisa merasakan sakitnya Haidar saat ini. Ia pernah muda, kisah cintanya bahkan hampir sama sakitnya, cintanya bersama pria lain adalah luka tersakit bagi Raka.


"Maafkan, Papa, kau berhak marah ... tapi jangan bercanda prihal pernikahan Gian dan Radha, Nak."


Perlahan ia mendudukkan tubuhnya di samping Haidar, ia usap perlahan pundak gagah nan rapuhnya. Saat ini mungkin ia bisa diam dengan kesendiriannya, namun tidak dengan jiwanya.


Pria itu paham betul, Haidar butuh pelukan dan sandaran tubuh lelahnya. Diam, Haidar tak bergeming, ia terlarut dalam kesedihannya. Air mata mungkin tiada berguna, pengakuan Gian atas haknya sebagai suami Radha kembali terngiang di benaknya.


Paham benar siapa Gian, apa yang ia ucapkan takkan dapat di lawan. Bagaimanapun, prinsip hidup Gian tetap sama. Hidupnya adalah miliknya, takkan mau ia turut kehendak siapapun kecuali menjaga martabat Papanya.


"Pa,"


"Hem?"


"Aku mencintainya, sangat-sangat cinta. Papa tau bagaimana sakitku?"


Ia menatap lekat wajah sang Papa, pria itu begitu sendu dalam sayatan kelu atas kesalahan Raka. Usia Haidar masih muda, ia hanya takut putranya hancur hanya karena cinta.


"Papa tahu, Nak. Tapi, kau harus tau juga, tidak semua hal dapat kau miliki meski kau ingini, benar bukan?"


Sesaat Haidar terdiam, ucapan sang Papa memang tak salah. Hanya saja, jika prihal ini ia belum mampu terima. Radha tetap miliknya, dan akan selamanya menjadi miliknya.


Ia berucap sembari memejamkan mata, memijit pangkal hidung yang kini memerah. Bayangan wajah pias Radha kala ia berhasil memukul Gian di ruang makan membuat hati Haidar terasa sakit.


******


"Aaaw, pelan-pelan, Ra."


Sementara di kamar tidur Gian, Radha tengah menahan kesal lantaran Gian yang tak bisa diam. Hanya memar sedikit di tulang pipi lantara Haidar mendorongnya hingga tersungkur di audut meja.


"Ck, aku bahkan belum menyentuh wajahmu, Kak ... astaga."


Radha menahan emosi yang sejak tadi mendidih, Gian benar-benar membuatnya kehilangan akal. Sudah 15 menit ia hanya berteriak tak jelas kala Radha berusaha mengobatinya.


"Apa iya? Tapi sakit sekali."


Wajah tampan itu merengek seakan ia menjadi korban penganiayaan. Padahal dialah yang hampir membuat Haidar kehilangan napas malam ini, jika saja Raka dan Aryo tak menahan dirinya, mungkin Haidar telah dilarikan ke rumah sakit.


"Dasar lebay!!" gerutu Radha memutarkan bola matanya malas. Ia benar-benar pegal bertahan dengan posisi seperti ini, dan lebih menyebalkan lagi Gian sengaja melingkarkan lengannya di pinggang Radha.


"Cepat lakukan, apa kau betah duduk di sini? Hm?"


Mata usil itu menatapnya tak terbaca, sejenak Radha terdiam dan menatap lekat netra indahnya. Gian mendekatkan wajahnya, pria itu menarik sudut bibir kala Radha diam tak berpindah.

__ADS_1


"Ma-maaf, Kak."


Hati Gian tersentak kala Radha menghindarinya. Ia hanya ingin mendaratkan kecupan manis di bibir ranumnya, namun betapa kecewanya Gian kala Radha menunduk dan menjauhkan wajahnya.


"Hm, baiklah, Maaf lancang."


Gian melepaskan lingkaran tangannya, ia berlalu dan ke kamar mandi dengan wajah datar tak bersahabat itu. Radha paham, mungkin tindakannya salah dan membuat Gian luka. Namun, ia tak bisa berbohong ia juga sakit kala Haidar menatapnya dengan harap pupus beberapa waktu lalu.


Ia terdiam, tak ada yang mampu Radha lakukan. Duduk dan tetap menunggu Gian adalah jalan satu-satunya bagi Radha saat ini.


Tak lama berselang, pintu kamar mandi kini terbuka. Pria itu membasuh wajahnya, dan Radha tak dapat membayangkan betapa perihnya wajah Gian.


"Tidurlah, hari sudah larut, besok kau sekolah kan?"


Bak seorang Kakak yang memastikan kegiatan adiknya, Gian begitu lembut bertanya pada Radha. Anggukan Radha cukup sebagai jawaban, ia berniat untuk kembali mengobati luka sang Kakak.


"Tidak usah, Kakak bisa lakukan sendiri."


Gian menatap Gian sebegitu tenangnya, tidak ada kemarahan ataupun kecewa yang ia tunjukkan. Senyumnya yang tipis bahkan hampir tak terlihat tetap membuat Radha sebegitu kagumnya.


"Ra,"


"Hem? Apa, Kak?"


"Kau tau siapa aku?"


"Tentu saja,"


"Siapa?"


"Kak Gian," jawab polos Radha yang membuat Gian tertawa sumbang.


"Bukan itu, Zura, maksud ku yang lainnya."


Ia menatap lekat Radha sembari mengangkat jemarinya dan jemari Radha secara bersamaan. Wajah datar namun penuh tuntutan itu membuat Radha terdiam.


"Ya, kita terikat benda ini, yang artinya aku adalah suamimu dan kau adalah istriku. Paham?"


Deg,


Radha terdiam kala Gian berucap demikian, ia berdegub kencang kala menatap manik hazel Gian. Pria itu sungguh menghanyutkannya dalam pesona.


"Lalu apa, Kak?" tanya Radha lagi dan masih saja sebegitu polosnya.


"Aaah, sudahlah, mungkin lebih baik kau tidur, Ra."


Gian berlalu meninggalkan Radha yang kini tengah menelaah ucapan sang suami.


Tbc

__ADS_1


Assalamualaikum, Maaf ya Gian libur up ga bilang-bilang dan banyak lagi liburnya, karena kesibukan RL luar biasa dan Author harus usaha cari waktu buat tetap nulis. Terima kasih telah setia menantinya, love you.


__ADS_2