Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Deburan (Tak Terduga)


__ADS_3

"Kau yakin?" tanya Gian memastikan, sudah cukup lama keduanya berada di luar menikmati suasana alam. Dan kini, Radha ingin merasakan jua deburan ombak itu menyapa dirinya.


"Iya, aku sudah lebih baik kok," tuturnya meyakinkan Gian, walau ia belum mencoba, namun lembutnya pasir pantai seakan memanggilnya detik itu jua.


Sedikit ragu Gian menurunkan istrinya, ia tak peduli seberapa banyak orang yang menjadikannya pusat perhatian. Namun bagi Gian, wanitanya lebih penting dari apapun.


"Bisa?"


"Ehm, bisa ... Kakak lihat ya," ujarnya sembari mulai melangkah, dan ... pada faktanya rasanya masih tak terlalu berbeda seperti sebelumnya.


Mengapa sesulit ini, pikirnya. Bukankah ini hampir sore? dan mereka juga sudah cukup lama menghabiskan waktu bersama. Apa mungkin sugestinya terlalu hingga membuat ia begini, mencoba menafsirkan apa yang kini membuatnya tak nyaman.


"Jangan paksakan kalau tidak bisa, Zura."


Tidak, ia tidak mau terus menerus menjadi balita di pundak Gian. Jika tidak ia biasakan kapan lagi, dan juga dirinya bukan terluka karena kecelakaan ataupun lainnya.


Ia menggeleng pasti, memberikan keyakinan teguh pada Gian bahwa dirinya baik-baik saja. Pria itu hanya tersenyum hangat, ia mengikuti langkah sang pujaan begitu teliti.


Langkahnya yang memang lambat membuat Gian gemas. Beberapa kali Radha mengukir senyumnya, layaknya seorang Ayah yang tengah mengawasi putrinya bermain, Gian tak melepaskan Radha sedetikpun dari pandangan.


"Dia masih sangat kecil, benar kata Om Randy," tutur batinnya sembari membalas senyum manis sang istri.


Jika melihat Radha sekilas, ia masih terlalu kecil, bahkan dapat di katakan wanitanya itu setara dengan anak-anak yang jika di tanya perihal cita-cita, ia akan menjawab setingi-tingginya.


Dan hal itu berbeda dari Radhania, beberapa waktu lalu Gian pernah bertanya tentang rencana Radha beberapa tahun kedepan. Namun, jawaban pasrah dan menyerah dengan keadaan itu masih menjadi pikiran Gian hingga kini.


"Aku akan menjadi dewasa seperti yang dahulu Kakak minta." Jawaban itu masih terbayang jelas dalam ingatan Gian, sebegitu merusak masa depan kah dirinya? Atau justru Radha mengatakan bahwa memang kehadiran Gian dalam hidupnya adalah hal paling baik.


"Tidak, aku akan membuat masa depanmu berbeda, Ra ... memang takkan sama seperti temanmu, tapi bukan berarti bahagiamu takkan seperti mereka."


Begitu kecil, suaranya tenggelam dalam deburan ombak yang terdengar merdu. Senyum Radha yang kini tergambar jelas di depan matanya adalah terindah yang akan selalu ia cari cara bagaimana tetap ada.


Bukan cinta pertama, dan Gian tak peduli bagaimana Radha sebelum bersamanya. Tapi yang jelas, saat ini selamanya Radha adalah miliknya.

__ADS_1


Masa lalu yang memang takkan hilang, sama sepertinya, berusaha mengilangkan sedikit demi sedikit luka, ia juga percaya Radha juga akan merasakan hal yang sama.


Meski ia sadar, ada hati yang harua rela berkorban saat ini. Tapi semua telah terjadi, seperti yang Raka katakan, bahwa saudara akan tetap menjadi saudara bagaimanapun keadaannya.


Dalam lamunannya, Gian terkejut kala Radha menghentikan langkahnya. Wanita itu tampak menatap jauh di depannya, Gian menghampirinya sembari berusaha mencari apa yang tengah Radha amati.


"Apa yang kau lihat, Ra?" tanya Gian karena tak kunjung menemukan apa yang ia cari.


Tak ada jawaban, namun tatapan matanya terkunci pada keluarga bahagia yang tengah menikmati waktu bersama. Sejenak ia mengerti, Gian paham mengapa istrinya mendadak diam membeku.


"Ck, kebetulan apa ini," ucap Gian yang kini bingung harus senang atau bagaimana.


Mengapa dunia sesempit ini, dan mengapa harus di waktu yang sama mereka bertemu dalam sebuah temu yang tak ia kehendaki.


"Kau mau kesana?" tanya Gian mencoba bertanya walau ia tahu istrinya kini masih fokus pada wanita cantik yang tengah menggandeng dua putrinya itu.


"Tidak, Kak ... kita pulang saja, Mama pasti khawatir," jawabnya begitu tenang seakan tak ada kesedihan sama sekali.


Ia paham bagaimana istrinya, seorang wanita muda sepertinya jelas akan mengingat segala sesuatu dengan waktu yang sangat lama. Bagaimana dirinya di perlakukan dan apa yang ia dengar takkan pernah terlupakan.


"Tunggu, Kakak, Zura," teriaknya sedikit di sengaja yang entah tujuannya untuk apa.


"Aku tidak tuli, Kak."


Ia mencebik, rangkulan di pundaknya begitu erat bahkan membuatnya sedikit sulit bernapas. Dan wajah tanpa dosa itu hanya menampilkan gigi rapihnya.


"Jalanmu terlihat sedikit tak normal, gendong lagi ya?"


"Enggak, punggungku pegal Kakak gendong terus," ujarnya menolak mentah-mentah, tak apa sedikit berbeda tapi ia ingin menikmatinya sendiri juga.


"Kau yakin begitu?" Gian menatap lekat manik indah yang kini tengah menatapnya.


"Yakin dong, jangankan jalan ... lari pun sekarang aku bisa, Kak." Dengan bangganya Radha mengatakan hal demikian, tak sedikitpun ada keraguan kala mengucapkannya.

__ADS_1


"Kenapa? Kakak tidak percaya? Mau aku buktikan sekarang?" tanya Radha merasa kesal lantaran Gian tertawa sumbang usai ia mengatakan niatnya.


"Eeitts!! Tidak perlu kau buktikan, Kakak percaya, Sayang."


Pria itu dengan cepat menahan tubuh sang istri yang benar-benar hendak berlari, Gian hanya tak ingin istrinya celaka kali ini. Walau ia tahu, di balik wajah yang terlihat tegar itu, ada kesedihan mendalam dalam matanya.


Beberapa hal yang Radha katakan seakan menjadi cara untuknya megalihkan perhatian, dan Gian yang memahami hal itu benar-benar menjadi pendengar yang sangat baik untuknya.


"Kakak, boleh aku bertanya?"


"Hm, apa?"


Radha tampak diam, ia sedikit ragu pertanyaan semacam ini pantas di bicarakan atau tidak pada Gian. Sejak lama, ia takut dan ketakutan ini membuatnya terkadang belum siap akan kenyataan yang ia alami kini.


"Apa, Zura?"


"Hmm, nanti saja, aku kebelet tiba-tiba."


"Dasar sialan, kenapa harus sekarang, tubuhmu benar-benar tidak bisa di ajak kerja sama."


Kesal Gian menatap wajah Radha yang berubah secepat itu, ia bingung mencari tempat, dan tak mungkin membiarkan Radha buang air di bibir pantai, sangat tidak mungkin, pikir Gian.


"Pulang sekarang," rengeknya meminta Gian untuk menggendongnya, dan dengan mudahnya pria itu menurut karena memang ini maunya.


"Iya."


"Cepat ya, Kak!! Tapi jangan lari, aku takut tak bisa menahannya nanti."


"Ck, ada-ada saja, Tuhan." Bukan mengeluh, namun rasa penasarannya membuat Gian sedikit kesal dengan kejadian ini.


"Jangan ngedumel, Kak ... aku pipis di sini saja kalau Kakak nggak ikhlas."


"Heh!! Kau mau aku kubur hidup-hidup?"

__ADS_1


"Ays, galakan dia dari gue," batin Radha sedikit ciut, yang benar saja, bagaimana jika benar-benar terjadi, pikirnya tak terima dengan ucapan Gian.


............ Rekomen, aku upnya siang atau tetep tengah malam begini? Makasii❣️


__ADS_2