Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 246. Skenario Tuhan (Terbaik)


__ADS_3

Manusia bisa berencana, sisanya Tuhan yang turun tangan. Haidar hanya bisa tersenyum dengan sejuta keikhlasan menatap putra Gian berada dalam pelukannya. Untuk pertama kali menggendong bayi, Haidar sedikit takut jika nanti anak Gian salah urat.


"Kak, kenapa dia begini?" tanya Haidar panik, ia tak bisa menahan diri kala bayi laki-laki itu bergerak sedikit saja, padahal itu adalah suatu hal yang wajar.


"Ya namanya hidup, dia gerak dikit wajar, Haidar."


"Apa iya, Om? Tapi gak masalah kan?"


"Enggak, sudah santai saja," ujarnya singkat.


Sejak kemarin Randy bahkan tidak mandi masih begitu setia berada di rumah Jelita dengan alasan betah. Tak peduli ada Maya yang sempat menjadi wanitanya, Randy seakan tak memiliki keinginan untuk tebar pesona.


Keadaan Radha dapat dikatakan sangat baik, meski Maya maupun Ardi sempat tak yakin dengan keputusannya yang meminta untuk pulang secepat itu, namun kini semua dapat dipastikan jika memang dia baik-baik saja.


Kamar bayi yang sengaja Gian persiapkan, kini berubah menjadi ruang keluarga. Jujur saja Gian merasa panas melihat orang-orang ini yang seakan tak punya pekerjaan lain, jika hanya mama dan mertuanya saja tidak apa, akan tetapi kehadiran Haidar dan juga teman-temannya membuat Gian sedikit terganggu.


"Haidar, harusnya kau yang duduk di sana, iya kan?"


Ricko masih tak mampu melepaskan masa lalu, Radha yang kini duduk di sofa dengan ditemani Gian menjadi pusat perhatian mereka. Haidar sempat menatap ke arah Radha sejenak, semakin cantik dan terlihat jika Radha lebih dewasa di mata Haidar.


"Jaga bicaramu, kau mau turun dari jendela, suaminya dengar bahaya," tutur Haidar dengan suara kecilnya, takut jika Gian benar-benar mendengar ucapan sahabatnya.


"Hahah iya juga, Om ... jaga rahasia," ucap Ricko menyadari jika di sini bukan hanya temannya, melainkan keluarga yang jelas akan berpihak pada Gian.


"Santai, kau pikir aku pengadu."


"Btw yang ini cowok kan?" tanya Abizar yang juga terpesona dengan bayi tampan itu, sejak tadi hanya dia yang tidak menjadikan Radha pusat perhatian, ia lebih terpesona pada putra Gian.


"Iya," jawab Haidar tetap fokus menatap Keponakannya.


"Tampan sekali, aku suka."


"Buat sana, kau sudah paham caranya kan?" Pertanyaan Ricko membuatnya mendelik, dasar kurang ajar, pikirnya.


Givendra Kama Wijaya dan Shiraz Kalila Hisyam. Nama yang menjadi keputusan final setelah peperangan pendapat antara pihak keluarga yang meminta nama mereka harus dimasukkan, hingga Raka pun turun tangan.


Kelahiran keduanya menjadi pemersatu keluarga dan beberapa hati tanpa mengikutsertakan ego masing-masing. Titik akhir berdamainya mereka dengan keadaan, Haidar yang mampu melupa tanpa dendam, serta Randy yang merelakan tanpa sedikitpun memikirkan perasaannya.


Tak perlu mereka mengungkapkan, raut wajah itu dapat menjelaskan jika mereka memang benar-benar bahagia. Sosok malaikat yang mengubah hidup Gian setelah sebelumnya memang sudah merasakan kebahagiaan dengan statusnya menjadi suami Radha.


-


.


.

__ADS_1


.


Mengabadikan bayi mungilnya dalam sebuah kenangan yang nanti bisa mereka saksikan ketika tumbuh dewasa, Gian melakukan segala cara demi membuat putra putrinya selalu dirangkul kebahagiaan.


"Ah lucu banget ... itu anak aku kan?"


Sejak tadi pagi, pertanyaan ini kerap Radha lontarkan. Gian hanya mengacak rambut istrinya, belum terlalu sadar jika memang dirinya sudah menjadi ibu.


"Iya lah, itu anak kita."


"Nggak nyangka haha, kata Mama aku masih bocil punya bocil," tuturnya tak bisa menahan tawa, apa yang diucapkan Maya kemarin memang menjadi Candaan mereka, tentu saja yang disalahkan sebagai pelaku utama adalah Gian.


"Ya biarin, biar Kakak punya tiga bocil."


Menjadi dewasa tak sedikit itu pada kenyataannya. Pernah di posisi terpuruk dan lemah, saat ini Gian sadar jika memang bahagia butuh waktu yang tepat. Meski memang tidak terlalu cepat, Tuhan tahu kapan hambanya harus bahagia.


"Kamu berdiri gitu nggak capek?" tanya Gian, karena sejak tadi istrinya tak ingin melewatkan putra putrinya, walau Gian sudah mengatakan agar dirinya tetap duduk saja.


"Nggak, Kakak capek ya?" Ia malah bertanya balik, benar-benar di luar dugaan Gian.


Gian menggeleng, ia adalah pemeran utama di keluarga ini. Sadar menjadi pusat perhatian dari teman-teman Haidar, ia justru semakin memperlihatkan betapa ia menyayangi Radha.


Adiknya sudah baik-baik saja, tapi justru teman-temannya yang kepanasan. Sungguh Gian tak bisa berkata-kata dengan semua ini.


"Dasar orang-orang aneh," ucap Gian menarik sudut bibirnya.


"Ehm? Enggak, kamu salah denger," ujar Gian menarik sudut bibirnya.


-


.


.


.


Usai melakukan sesi foto new born kedua bayinya, Radha tak mampu jika harus membawa keduanya. Membagi waktu harus ia biasakan dari sekarang, karena ia tahu kasih sayang bukan hanya perihal air susu yang bisa diberikan walau tak langsung dari tubuhnya, akan tetapi pelukan itu juga termasuk hal. yang harus ia berikan.


"Kakak ngapain lihat sini?"


"Sensi banget si, Ra, kan mau liat Kama nyusu, bukan mau lihat ...." Gian menggangtung ucapannya, senyum tipisnya tergambar jelas dan Radha dapat menangkap makna tatapan Gian.


"Ngeles aja bisanya, padahal mau gabung kan," tuduh Radha tanpa disaring sedikitpun, jawaban spontan yang membuat Gian terbahak sebegitu puasnya.


"Buahahahahah, kalau tau kenapa nanya?"

__ADS_1


"Dasar gila, otaknya perlu dicuci, udah sana ... Kakak gabung sama Papa sana, dari kemaren-kemaren temenannya sama aku terus masa."


Memang, sejak Radha melahirkan anaknya, Gian bahkan hanya menyempatkan waktu untuk sekadar menyapa kepada siapapun yang datang. Ia tak mau menghabiskan waktunya untuk mengobrol atau apapun itu, baginya istrinya lebih penting dari segalanya.


"Ya biarin, Kakak kan tanggung jawab, harus dong begitu. Istrinya ditemenin, dijagain, kan memang harusnya seperti itu, Sayang."


Benar, memang benar begitu. Akan tetapi Gian benar-benar enggan untuk berjauhan walau hanya sebentar saja. Menjelang dua minggu setelah melahirkan, tak seharipun ia rasakan Gian tak ada di sisinya.


"Tapi Kakak belum makan, nanti sakit," tutur Radha tak tega, melewatkan makan seakan menjadi hal biasa bagi Gian, padahal mereka bisa makan bersama, akan tetapi Gian menginginkan Radha tetap diam di kamar dan tidak naik turun tangga dalam beberapa waktu.


"Udah, beneran."


"Jangan bantah, kamu belum makan dari pagi, Kalila sama Mama dulu." Jelita yang baru masuk ke kamar mereka tak sengaja mendengar Gian membual, kenapa selalu menyiksa diri, pikir Jelita.


"Nanti, Ma, masih kangen."


"Astaga, kamu juga nggak bakal kemana-mana," ucap Jelita menggeleng pelan, kenapa putranya semakin menjadi, padahal yang ia tahu Gian dapat menghabiskan waktu setiap detik bahkan hingga malam nanti.


Dengan perasaan tak rela, Gian memberikan putrinya. Berulang kali mengecup pipinya lembut, pamitnya Gian bahkan hampir sama lamanya seperti sungkeman.


"Mau berapa lama? Putrimu kebangun nanti," tegur Jelita menyadari ini sudah terlalu lama, Gian menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk pamit makan siang.


"Bye, Sayang ... Papa makan dulu," ucapnya gemas, Radha hanya menganga melihat tingkah Gian yang dramatisnya luar biasa.


"Cium Kama juga, tunggu Papa ya," tuturnya kini beralih pada putranya yang masih fokus menerima nutrisinya siang ini.


Gian berlalu, dengan langkah cepat sembari sesekali menoleh lagi dan lagi. Baru beberapa detik tubuh itu hilang dari balik pintu, Gian kembali setengah berlari.


"Kenapa lagi?" tanya Jelita takut jika terjadi sesuatu yang salah dengan putranya.


"Ada yang ketinggalan," jawab Gian menghampiri Radha.


"Eemuuaach, lupa cium Mamanya ... love you, Istriku."


Radha memerah mendapat perlakuan ini, meski sudah cukup sering akan tetapi apa yang Gian lakukan di depan mertuanya cukup membuatnya terkejut.


Setelah selesai barulah dia benar-benar berlalu, Jelita hanya menghela napas pelan. Bergantian menatap Radha yang justru berusaha mengalihkan pandangan.


"Dia terlalu bahagia, Ra," tutur Jelita, harus dengan kalimat apa dia berterima kasih pada Radha. Mengubah hidup Gian sebegitu besarnya, bahkan ia merasa putranya seakan terlahir kembali ke dunia tanpa luka.


Sempat putus asa, menjadi saksi dari jatuhnya Gian ke titik terendahnya, dan kini ia mampu berdiri dengan baik dalam pelukan bahagia. Semesta seakan merestui langkahnya, patah dengan sejuta luka, Gian akhirnya sembuh walau sesulit itu.


Begitupun dengan Radha, menjadi bagian dari hidup Gian tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sempat berpikir bahwa pernikahan adalah akhir. Namun, ternyata itu adalah awal dari perjalanan hidupnya.


Apa yang ia pikir tidak baik, ternyata tak seburuk itu. Diperlakukan sebaik mungkin, Radha tak punya alasan untuk tak tersenyum setelah ini. Menjadi istri, yang sempurna di umurnya yang masih muda, sama sekali dia tak menyesal. Justru sebaliknya, ini adalah hal paling berharga yang Tuhan berikan padanya secara nyata.

__ADS_1



__ADS_2