Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Terlampau Rumit


__ADS_3

Malam semakin kelam, kamarnya masih terang. Menjelaskan bahwa sang penguasanya belum berminat memejamkam mata. Hujan yang sejak tadi sore bahkan belum juga reda, dingin menusuk persendian dan menciptakan senyum kaku di sana.


Lembaran soal bertebaran di mejanya, tak sedikitpun ia berniat untuk membacanya walau hanya judul semata. Ck, ini sangat lama, pikirannya terlalu kacau lantaran apa yang ia cari tak ia dapatkan meski usahanya sudah semaksimal mungkin.


"Angkat, Ra," ujarnya menekan kalimatnya lagi dan lagi, sudah berulang kali ia coba cara ini.


Sejak beberapa hari lalu, tepatnya usai kejadian Radha dan dirinya bertemu di Mushola, gadis pujaannya itu terlampau sulit bahkan untuk membaca pesannya.


Abian lagi dan lagi harus menelan pahit, mendapatkan nomor ponselnya saja sudah sulit dan kini terpaksa ia harus menambah stok sabar karena tak pernah berhasil menghubungi Radha walau hanya sedetik.


Khawatir? Iya, dia sangat-sangat khawatir. Sejak kemunculan Gian dalam hubungan pertemanannya dengan Radha yang semakin dekat, seakan jadi penghalang meski Abian tak dapat mendefinisikan.


"Ehem."


"Hah?"


Ia terkesiap, sedikit gugup Abian menyembunyikan ponsel di belakang tubuhnya. Wajah itu, ia menelan salivanya takut. Jika ayahnya tahu, sudah pasti ia takkan bisa menggenggam benda pipih itu lagi untuk beberapa pekan.


"Papa?"


"Hm, apa yang kau lakukan? Sudah makan?"


Yaa, memang hanya itu pertanyaan yang akan ia terima dari sang Papa. Terdengar formalitas tapi itu pertanyaan paling penting yang harus Abian jawab dengan sejujurnya.


"Be-belajar, Pa ... sudah, Pa," jawabnya sedikit kaku.


"Belajar?"


Ia hanya mengangguk, pandangan tak bersahabat dari pria itu membuatnya semakin kikuk. Dalam benaknya mungkin ia akan mati segera, "Jangan mendekat, Pa." Jemarinya kian erat menggenggam ponselnya.


"Sebaiknya kau tidur, berhenti mengkhawatirkan hal-hal yang tak penting, Abian."


Dasar bodoh, kemana otaknya!! Mengapa ia lupa bagaimana sang Papa memperhatikan hidupnya. Bahkan sedikit hal tak dapat ia sembunyikan lantaran ia tak punya privasi lagi di mata orang tuanya.


Abian diam, mengangguk hanya jawaban terakhir kala posisinya terancam. Ya, ia memang terlampau kacau hingga lupa kini ia berada di mana. Gadis cantik itu benar-benar menguasai benaknya, dan sial tengah menyapa malam ini.


Di sisi yang lain, suasana terlampau berbeda. Tak ada sunyi, hidup pria itu terasa bak hamparan bunga matahari. Senyum tipis bahkan hampir tak terlihat sejak tadi seakan tiada habisnya.


Entah apa yang Radha kerjakan, tapi jika ia lihat tumpukan kertas itu lumayan banyak. Entah istrinya memang rajin, atau hanya melindungi diri dari janji yang tak sengaja ia ucapkan usai makam malam.


"Udah?"


"Belum, sedikit lagi."

__ADS_1


Gian tertawa sumbang, tampak jelas Radha tergagap menjawab pertanyaannya. Istrinya memang terlalu mudah mengubar janji, seakan lupa dengan siapa ia berhadapan.


Dan Gian, mungkin sedetikpun ia tak berencana untuk berpindah tempat. Sejak tadi bersandar di sisi meja belajar Radha sembari mengecek ponsel tanpa notif itu. Entah bagaimana kakinya, mungkin saja pegal, namun memperhatikan istrinya dari dekat seakan jadi obat bagi pria itu.


Memiliki Radha membuatnya merasa memiliki peliharaan lucu yang sedetikpun enggan ia lepaskan, jika dahulu ia menganggap Radha hal yang akan mengganggu, namun kini seakan menjadi hal paling candu.


"Tidurlah, Kak, masih banyak yang harus ku kerjakan."


"Oh iya? Kau terlihat kesulitan, butuh bantuan?"


"Ehm ti ...."


Ucapannya terhenti kala Gian mengambil alih kertas yang sejak tadi ia corat coret karena tak bisa fokus sama sekali. Makhluk itu bukannya menjadi penyemangatnya, justru menjadi hal paling mengganggu.


"Huft, apa yang bingungkan? Bukankah ini mudah, Ra?"


"Ya susahlah, mana aku paham begituan," jawabnya memerah, pasalnya hal yang ia bingungkan seharusnya menjadi pelajaran paling mudah bagi sebagian pelajar yang lain.


"Tidak paham? Atau kau yang pura-pura tidak mengerti?"


Yes, Gian menang lagi kali ini. Seakan kesempatan untuk membuat istrinya malu akan selalu ada. Membekunya Radha membuat Gian merasa merdeka, istrinya pura-pura polos atau bagaimana, pikirnya.


"Untuk apa aku pura-pura, Kak? Memang aku tidak mengerti astaga," jawabnya gusar, secepat mungkin ia menarik lembaran soal itu.


"Woah, spesies apa kau ini? Pelajaran semenarik ini kau tak suka?"


"Hm, rumit," jawab Radha seadanya, karena memang ia tak suka mau apa lagi, pikirnya.


Tak dapat ia pahami, kenapa istrinya berbeda. Hal sulit dimatanya bisa menjadi mudah, dan begitu sebaliknya.


"Istirahat, Ra ... sampai besok juga kau takkan mampu menyelesaikan soal sebanyak ini," perintah Gian ketika istrinya menguap tiba-tiba, wajah dan matanya dapat mengungkapkan seberapa lelah walau tak terucap dari bibirnya.


Tak menerima penolakan, Gian tak suka di lawan. Apa yang ia mau adalah hal mutlak yang harus Radha ikuti. Dan tentu saja ia takkan membiarkan istrinya melakukan banyak hal, merapikan meja dan tumpukan kertas itu adalah kewajibannya.


"Cuci kaki jangan lupa," perintahnya tanpa menatap Radha yang kini menuju kamar mandi.


*******


"Kenapa Kakak di situ?"


"Aku tidak memintamu untuk tidur," ujarnya singkat sembari meminta Radha untuk mendekat.


"Lalu?"

__ADS_1


"30 menit, temani aku di sini," ucap Gian yang membuat Radha menghela napas kesal, apa maunya? Jika memang menyangkut pekerjaan kenapa tidak ia kerjakan sejak tadi, pikirnya.


"Ih, terus tadi ngapain," gerutu Radha sungguh kecil namun masih dapat terdengar oleh Gian.


"Ck, kau harus adil, Ra, tadi Kakak menemanimu bahkan sampai berjam-jam. Lupa?"


Lupa apanya lupa? Dasar dirinya saja kurang waras. Siapa yang meminta, tidak ada sama sekali. Dia saja yang menempatkan diri hingga membuat Radha seakan berhutang jasa padanya.


"Kau menolak?"


Radha menggeleng, mengalah adalah pilihan terbaik jika tak mau semakin banyak masalah. Senyum tipis itu kembali terbit kala Radha duduk di sisinya, menempatkan diri begitu dekat hingga kulit tangannya bersentuhan, dan itulah yang Gian kehendaki.


"Cari apa?"


"Cara membahagiakan istri," ucap Gian asal dan sukses membuat Radha memerah, entah bercanda atau memang nyata tulus dari benaknya tetap saja membuat Radha salah tingkah.


"Kau kenapa? Papa memintaku mencari hal semacam ini, huft dasar orangtua alay ... untuk apa dia memintaku mencari hal semacam ini, liburan bersama papa memang sedikit merepotkan, Ra."


Pyar!! Sedetik itu senyumnya memudar, ia terlalu percaya diri dan menganggap Gian tengah memperlakukannya bak pangeran di negeri dongeng.


Dasar sialan, apa tadi katanya? Perintah Papa? Ya memang mengharapkan hal manis dari pria itu sama saja dengan meniup pasir di pantai.


"Radha, menurutmu apa? Hm?"


"Hm, sebenarnya aku tidak terlalu mengerti, Kak, tapi biasanya wanita akan senang dengan apapun yang di berikan pasangannya."


Wajahnya berbeda, tak seceria tadi dan tak sebaik sebelumnya. Jawabannya terdengar datar dan hanya menatap jemarinya kosong, senyum itu terlalu tipis dan entah mengapa suasana hatinya berubah secepat itu.


"Apa begitu? Sederhana sekali."


"Iya, memang sesederhana itu."


Ia hanya diam usai itu, rangkulan Gian tak membuatnya terganggu. Matanya tak lepas dari apa yang kini Gian cari, entah berapa banyak hal manis yang ia lihat di sana. Sepanjang Gian bertanya pendapatnya, Radha hanya mengangguk dan mengatakan itu bagus.


Beruntungnya Jelita membuat Radha terkenang sosok mamanya, dan tentu saja ia tengah merasakan sedikit sebal mengingat bagaimana dirinya. "Mimpi apa si, Ra," batin Radha sembari memutar bola matanya malas.


....... Bersambung❣️


Hai!! **Akhirnya ni tulisan dari jaman kapan bisa kelar 1k malam ini. Yang nanya aku kemana, sehat atau kenapa" gak, komenannya selalu aku baca ya. Aku baik-baik aja, sehat banget kalau fisiknya Insya Allah. Hiatus karena berharap RL baik-baik aja, tapi tiap buka MT ngerasa bersalah.


Maaf, gabisa penuhin janji dulu buat ga Hiatus lagi, ga ngilang lagi, nyatanya itu terjadi kan. Othornya cuma minta doa aja semoga tanggung jawab di sini Allah permudahkan, semoga kalian juga ya. Sehat selalu temen-temen❣️


Hargai apa yang jadi milik kalian sekarang, jam, menit dan detiknya. Author mau nyapa aja malem ini, love you semua**!!

__ADS_1


__ADS_2