Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Hanya Anak Kecil


__ADS_3

"Masih ada waktu," ujar Gian menatap pergelangan tangannya.


Menjadi seorang guru sekaligus orang yang mengawasi Radha cukup menyita waktunya, menunjukkan pukul dua siang ia masih bisa ke kantor sebentar.


Radha hanya diam tanpa banyak bertanya kala Gian memutar arah, sadar betul jika jalan yang kali ini mereka lalui bukan ke arah rumah utama maupun Apartemennya.


"Turun," perintah Gian tanpa menatap istrinya, pria itu menunggu di luar sembari merogoh benda pipih di sakunya.


Sedikit sulit ia menyesuaikan langkah panjang Gian, pria itu tak melihat ke belakang sedikitpun. Dan Radha pun tak berniat mengejar pria tak berperasaan itu lagi.


"Zura?"


Ia berbalik dan kini meraih jemari gadis kecil itu, kedatangannya di sambut banyak pasang mata yang berpapasan dengan mereka.


Seorang Dirgantara Avgian tidak memiliki adik perempuan, namun hubungannya dengan Radha terlihat begitu dekat. Selama memimpin perusahaan Gian tak pernah memperkenalkan dan memperlakukan wanita sebegitu lembutnya, mungkin ini kali pertama.


Genggaman tangannya begitu erat hingga menimbulkan banyak tanya. Memasuki loby para pekerja menyambut mereka tunduk begitu patuh, meski banyak tatapan nyalang yang tertuju pada gadis berseragam SMA itu ia tak begitu peduli.


Bisik para pegawai yang mengagumi sosok Gian mulai terdengar jelas, Radha mulai merasa risih dan mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Gian.


"Ck, mau apa kau?"


Mata itu sungguh tajam menatap Radha, membuat pemilik mata indah itu diam tanpa kata. Ia terperanjat kaget dan memilih menunduk pasrah, menghela napas pelan sembari menggigit bibir bawahnya.


"Ikuti saja aku, Zura," ucap Gian kemudian, ia tak peduli bagaimana pendapat orang yang mungkin saja mengartikannya sebagai seorang pedofil.


"Tapi, Kak ... genggamanmu terlalu kuat," rengek Radha menekan kalimatnya, sungguh ia kesal bukan main lantaran ketidaknyamanan yang ia rasakan sedari tadi.


Gian tetaplah Gian, mana mungkin ia mau mendengarkan keluh kesah yang keluar dari mulut siapapun. Ia tetap berjalan mantap dengan Radha yang tak ia lepaskan dari genggaman.


"Kak sakit Kak," keluh Radha kala mereka berdua telah sampai di ruangan Gian. Gian yang semula satu langkah di depan Radha pun berbalik. Ia menatap ke arah genggaman tanggannya.

__ADS_1


"Maaf," ucap Gian. Ia melepas genggaman erat itu kala menyadari kesalahannya. Ia tak berniat untuk menyakiti Radha.


Tanpa banyak bicara Gian merangkul lembut tubuh Radha. Ia membawa Radha duduk di sebuah sofa panjang. Gian memegang tangan Radha yang sedari tadi Radha usap lembut lantaran rasa pedih.


"Mau apa Kak?" tanya Radha sembari menyipitkan matanya.


"Kemarikan tanganmu Zura." Gian kembali meraih tangan Radha. Tak ada penolakan dari Radha. Gian melihat ke pergelangan tangan Radha. Pergelangan itu memerah, terlihat jelas bekas jari–jari yang menggenggam tangan Radha.


Rasa bersalah menyeruak tak terelakkan. Tatapan mata hazel yang seringkali menatap tajam itu pun berubah sendu.


"Kak aku tak apa," ucap Radha lembut menenangkan hati Gian. Senyum yang terukir manis sangat meneduhkan.


"Tapi lain kali dengerin Kak. Main asal tarik mulu."


KRETAK


Seketika hatinya retak begitu saja. Ternyata Radha tetaplah Radha. Sungguh, hati Gian merasa dibohongi oleh hiburan sesaat yang terucap indah dari bibir Radha.


Tak bisa dipungkiri. Radha masih kesal dengan ulah Gian yang tak mau mendengarkan keluhannya.


Gian mengelus lembut pergelangan tangan Radha yang memerah. Kali ini tak hanya pergelangan tangan Radha yang memerah. Namun wajahnya pun turut memerah lantaran perlakuan Gian yang begitu lembut.


**********


"Kak Gian ke mana ya?" ucap Radha. Sudah 1 jam Gian meninggalkannya sendirian di ruangan itu sendirian. Radha tak diijinkan untuk keluar ruangan itu, sebelum Gian kembali.


Namun rasa lapar yang melandanya, membuat perutnya tak bisa diajak berkompromi. Di ruangan Gian hanya ada segalon air. Tak mungkin ia akan meminun banyak air. Yang ada perutnya penuh karena air alias kembung mblendung seketika.


Krucuk Krucuk


Rasa lapar itu semakin menjadi. Gian tak mengajaknya makan atau meninggalkan makanan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Bodo amat dah ah." Radha tak mengindahkan ucapan Gian. Ia berjalan ke pantry kantor untuk mencari makanan.


Sesampainya di sana, ia melihat 2 orang karyawan Gian. Mereka termasuk dalam jajaran wanita yang mengindam–idamkan sosok Gian. Lirikan mata mereka langsung menghunus Radha kala Radha masuk ke dalam pantry itu.


"Permisi Mbak. Ada makanan gak ya di sini?" tanya Radha sopan.


"Wah ada anak kecil kelaparan nih. Dibayar berapa sampai–sampai masih bisa kelaparan?" ucap salah satu dari mereka yang berambut pendek, merendahkan.


"Sepertinya sih dibayar murah," sahut yang lain. Mereka berdua tertawa, tawa yang membuat harga diri Radha seakan terinjak–injak.


"Maaf Mbak. Apa ya maksudnya?" Radha menahan rasa marah, namun ia masih berusaha ramah.


"Ternyata polosnya hanya sok polos ya. Dasar anak muda jaman sekarang. Ingin dapat duit banyak, tapi caranya kotor," ucapnya sinis. Bahkan tatapannya seakan–akan dia adalah wanita panggilan.


"Iya. Dan targetnya pun tak main–main. Langsung CEO," sahut yang lainnya, si wanita berambut panjang.


"Mbak kalau bicara mulutnya dijaga ya. Saya ke sini nanya baik–baik, sopan. Tapi mulut kalian busuk!" Radha meradang. Ia tak terima dianggap layaknya kupu–kupu malam yang pekerjaannya menggaet petinggi.


"Dasar bocah. Pintar sekali memutar balikkan fakta. Sudah jelas kenyataannya, tapi masih saja mengelak dan marah–marah," ucapnya sinis dengan tatapan yang masih sama.


Sungguh, rasa kesal dan marah bercampur menjadi satu. Ingin sekali Radha menangis. Namun ia tak ingin terlihat lemah di hadapan 2 wanita itu. Radha menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, mengatur napas agar emosinya tak meledak–ledak.


"Ehem ehem." Radha berdeham keras. Tiba–tiba senyum mengembang di sudut bibirnya.


"Baiklah–baiklah." Radha membenarkan anak rambutnya yang berantakan.


"Mbak–mbak yang cantik tapi masih imut dan cantikan saya ... Tunjukkan ya di mana makanan ataupubncamilannya. Atau ... Saya bisa loh ngadu ke bos kalian. Bisa saja dipecat saat ini juga atau potong gaji," ancam Radha dengan mengangkat alisnya. Senyum itu terlihat licik.


Dengan membawa nama Gian, kedua wanita itu tunduk padanya. Ingin rasanya ia mencakar wajah kedua wanita itu dengan 10 jarinya. Namun ia tak punya banyak waktu. Perutnya meminta Radha untuk mendahulukannya.


Radha keluar pantry dengan membawa sejumlah makanan, namun juga sengan sejuta kekesalan yang bercokol di dalam hatinya.

__ADS_1


Tbc


Assalamualaikum, maaf mereka selalu telat up. Lagi-lagi akunya sibuk, doakan semua baik-baik saja ya. Sehingga lahir dan batin bisa bernapas dengan tenang, terima kasih tetap ikutin Gian, insya Allah tidak akan lama lagi secepatnya bisa up rutin. Sehat selalu kalian semua❣️🤗


__ADS_2