Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 148. Pemburu Nasi Kotak


__ADS_3

“Mau Kakak anter ke kelas?”


Radha menggeleng, seperti ini saja sudah cukup sebenarnya. Tapi ada sesuatu hal yang mengganjal, dan itu yang membuatnya belum turun juga hingga detik ini. Ketakutan jika nanti Gian pergi menemui wanita yang tadi sempat mereka bicarakan masih saja membelenggunya.


“Terus apa? Kamu sakit, Ra?” tanya Gian dan lagi-lagi hanya gelengan kepala sebagai jawaban, pria itu terdiam sejenak, biasanya istrinya tak pernah semurung ini meski kesal padanya.


“Katakan maunya apa?” suara itu begitu lembut, dan Radha kini menggigit bibirnya, sebenarnya pikiran untuk mengurungkan sekolahnya, tapi itu adalah hal yang paling kentara jika ia lakukan.


“Pulang sekolah Kakak jemput lagi kan?”


Gian mengangguk, bagaimana Radha kini berubah merengek seperti ini, jika biasanya dia yang merasa kesal lantaran Gian selalu menempel padanya, kini justru berbalik dirinya yang menginginkan untuk terus berada di sisi Gian,


“Iya, hari ini kau pulang jam berapa?”


“Jam 11,” jawab Radha seadanya, karena bertepatan dengan hari jumat sekolahnya memang pulang lebih awal,


“Hm, nanti sekalian ikut Kakak ke masjid ya, Ra,


Radha mengangguk patuh, sedikit aneh memang, entah sejak kejadian kemarin atau memang Gian sejak dulu rajin beribadah. Namun Radha tak memusingkan itu, selagi Gian tak lepas dari pengawasannya maka tidak masalah.


“Tapi dapat nasi kotak kan?”


Pertanyaan yang cukup membagongkan untuk seorang Gian, dari sekian banyak pertanyaan Radha justru mempertanyakan nasi kotak yang ia sendiri tak begitu sering mendapatkannya. Tentu dengan alasan takut akan terbuang karena belum tentu ia makan.


“Hm, kalau ada ya.” Untuk pertama kalinya, mungkin ia berharap akan dapat nasi kotak hari ini.


“Aku pergi, Kak.”


Merasa lebih tenang, kini Radha pamit untuk kesekian kalinya pada Gian. Pria itu menciumi pipinya berkali-kali, meski membuat Radha cemburu memang tujuannya, namun menyaksikan istrinya itu murung ia benar-benar tak tega.


Gian masih menatap lekat istri kecilnya yang kini berjalan dengan langkah kecil memasuki gerbang sekolah. Sesekali ia menoleh dan Gian tersenyum puas kala istrinya kembali menatapnya.

__ADS_1


Melambaikan tangannya sesekali, dan hal itu membuat Gian tak dapat menahan diri. Hingga tanpa sadar bahwa status mereka masih disembunyikan, ia menurukan kaca jendela dan berteriak tanpa malu dengan posisi wajahnya terlihat jelas.


“Zura … Love You!!”


Hal itu sontak membuat Radha menelan salivanya kasar, ia sedikit takut bahwa penjaga sekolah juga mendengarnya. Namun tak apa, ia hanya membalas dengan jari lentiknya, sedikit malu dan berusaha ia sembunyikan.


Radha menghela napas perlahan, beruntung penampilan Gian masih aut-autan. Dan piyama yang ia kenakan sedikit mengurangi kecurigaan seseorang bahwa Gian adalah pria yang kemarin sempat mengantarnya.


Setengah berlari kini, ia segera menuju kelas dan mengulang pelajaran kemarin. Tadi malam ia tak sempat belajar, tentu saja karena sibuk dengan Gian yang sesulit itu untuk diajak kompromi.


“Widih-widih, keknya ada yang lagi bahagia … pasti dapat tambahan jajan lu ya, Ra?”


Baru saja hendak masuk, ia sudah dihadang oleh Ele yang tak berhenti mengunyah permen karetnya. Pagi-pagi makan permen karet, apa tidak kebas rahangnya, pikir Radha.


“Kok di pintu? Kata mba Gue pamali, jodohnya datang terlambat nanti.”


“Yaelah lu kelahiran tahun berapa sih percaya gituan,” ucap Ele yang tiba-tiba menguap dan terlihatlah permen karet yang kini telah berubah warna di dalam mulutnya.


Radha spontan mendaratkan telapak tangannya tepat di punggung Ele, dan membuat mereka menjadi pusat perhatian di pagi hari. Ele tampak meringis namun taka da niat sedikitpun untuk membalas Radha, ia justru merogoh sakunya dan memberikan permen karet itu padanya.


“Makan gih, biar awet muda, kita harus sering senam muka, Ra.”


Konsep dari mana itu, makan permen karet membuatnya semakin muda, sungguh hal yang sedikit menyimpang dari dunia kesehatan, pikir Radha. Meski ia tak terlalu suka, Radha tetap menerimanya, ya walau ini hanya akan jadi koleksi.


“Masuk yuk, Devano liatin gue mulu dari tadi heran deh ah.”


Ia mencebik dan menarik Radha masuk ke dalam kelas. Menyadari kapten basket yang ia incar sejak dahulu melihat ke arahnya, bukannya senang Ele malah salah tingkah.


“Heh!! Pintunya jangan di tutup, lu pikir ini kelas lu doang apa gimana?” Radha mencebik, ia benar-benar heran kenapa Ele lebih terlihat bak buronan yang tengah menghindari kejaran polisi.


*****

__ADS_1


Jum’at, harinya terasa singkat dan Radha. Selama jam pelajaran ia bersemangat sembari berkali-kali menatap pergelengan tangan kirinya. Sudah hampir waktunya, dan begitu bel pulang berbunyi tanpa menunggu Ele yang tengah memasukkan buku-bukunya, Radha berlari bahkan mendahulu gurunya. Sungguh sopan sekali, pikir pak Yanto.


“Dia memang begitu, Pak … gatau dari sekte mana,” ujar Ele sok akrab pada guru PAI nya itu, dan sontak mendapat tatapan aneh dari pria berkumis tebal itu.


“Terus kamu dari sekte mana, baju keluar begitu, Lena.” Panggilan menyebalkan, dan Ele mencebik kesal sembari memasukkan kembali seragamnya itu dengan semaunya, ia lupa dengan siapa ia berharapan.


Di gerbang sekolah, tepat seperti janji Gian tadi pagi, kini pria itu menjemput sang Istri dengan pakaian yang membuat Raka terpukau. Dan sialnya, Gian turun dari mobil dan membuatnya menjadi pusat perhatian. Ketampanannya yang kini mengenakan baju koko dan sarung itu sejenak menghipnotis kaum hawa yang tengah beranjak dewasa itu.


“Assalamualaikum, istriku,” sapa Gian setengah berbisik pada sang istri yang hingga saat ini masih terdiam, ia meneliti penampilan suaminya dari atas hingga ujung kaki, sungguh jika guru ngajinya seperti ini, mungkin ia sudah khatam berkali-kali.


“Sayang, jawab dong … wajib tau hukumnya jawab salam.”


“Ah? Wa-waalaikumussalam.”


Radha tertunduk malu, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ramainya siswa lain yang kini mulai keluar semua nyatanya semakin membuat Radha serba salah. Senyum suaminya bisa dinikmati para ciwi-ciwi sekolahnya membuat Radha tak rela, bibirnya maju beberapa centi dan menatap mereka yang memperhatikan Gian begitu nyalang.


“Eh, Zura … jangan begitu, cantik-cantik melotot aja kerjaan.”


Ingin ia menghujani pipi mulus itu dengan kecupan, namun hal itu sangat tak mungkin ia lakukan. Gian menarik sudut bibir, mengenakan pakaian seperti ini di tengah keramaian adalah hal yang paling tak pernah ia lakukan, dan sensasinya itu ternyata lebih aneh daripada yang ia kira.


“Ayo masuk, Kakak takut … teman-teman sekolahmu kenapa alay semua,” tutur Gian bergidik ngeri, ia meminta istrinya untuk segera masuk ke dalam mobil.


“Kakak lama nunggunya?” tanya Radha mulai merasa tenang karena tak berada lagi di depan sekolah, ia masih terpukau melihat penampilan suaminya ini. Sungguh, tampan dan ia akui memang berkali-kali lipat.


“Nggak, baru beberapa menit,” jawab Gian dan kini mulai melaju dengan kecepatan sedang, mencari masjid terdekat untuk dia melaksanakan ibadahnya kali ini, dan tentu saja ia survei terlebih dahulu dimana kira-kira masjid yang memastikan para jamaah akan kebagian semua, demi Radha ia melakukan hal semacam ini.


“Hm, kamu tunggu sini gak apa-apa, Ra?” tanya Gian memastikan, karena tepat di depan masjid ada sebuah toko kue jika memang Radha mau menunggu di sana.


“Enggak, aku tunggu sini aja,” jawabnya kemudian, ia akan menunggu pria itu melakukan kewajibannya dengan duduk bersantai di dalam mobil, meski Gian sedikit ragu akan sebetah apa istrinya ini.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2