
"Papa mau?"
Gian menggeleng, sungguh kesabarannya tengah diuji kali ini. Hari ini cukup terik, bahkan benar-benar terasa menusuk kulit. Dan di saat-saat begini, Kalila justru menawarkan es krim anggur segar yang sejak tadi ia nikmati bersama Kalila.
"Kenapa? Gaboleh ya papa?"
"Papa puasa, Sayang."
"Puasa itu apa? Kenapa gamau?"
"Puasa itu Papa nggak boleh makan, nggak boleh minum sampai nanti azan magrib baru boleh, begitu."
"Kata Mama kalau gak makan sama gak minum nanti sakit, papa gak dimarahin sama Mama?"
Manik polos itu bertanya dengan senyum hangatnya, Kalila berniat menyuapi Gian dan dengan tangan mungilnya sudah menggenggam dua buah anggur sekaligus untuk dia masukkan ke mulut Gian.
"Makan Papa!!"
"Pppfffttt, Kalila, jangan goda Papa dong, Sayang."
Dasar iman tipis, benar kata Radha. Manusia seperti Gian bisa-bisanya dengan percaya diri luar biasa tingginya meminta izin agar dia diberikan kesempatan mengisi ceramah di bulan ramadhan.
"Goda? Kalila gak goda, Kalila nggak suka makan sendiri, Papa."
Tolonglah Kalila, hari yang terik belum lagi rasa haus yang sudah menguasai membuat Gian seakan tak mampu melewati hari ini. Matanya terasa panas, dan bibirnya sudah sekering itu.
"Makan nggak ya," tuturnya tanpa sadar sembari memperhatikan bibir basah Kama dan Kalila, jika ia lihat-lihat, nampaknya buah itu lebih segar seribu kali dari biasanya.
"Ini masih banyak, Papa, Mau?"
Tak hanya Kalila, kini Kama turut menawarkan buah itu. Sengaja mengambil beberapa dengan tangan mungilnya dan Gian sungguh benar-benar tak kuasa menahan diri jika terus begini.
"Kata Mama makan buah itu bagus, iya kan Kalila?" Kama meminta validasi dari seorang Kalila, jelas saja anak itu mengangguk pasti dan sibuk menikmati anggur itu.
Kandungan airnya tentu sangat segar, bahkan dagu kedua buah hatinya kini basah. Sampai kapan Gian akan kuat, mengapa dia merasa cobaannya justru semakin berat.
"Eeeumm."
Dasar perempuan, Kalila menikmati buah itu sembari menggerakkan tubuhnya. Dia tengah menjelaskan pada Gian betapa nikmat hidupnya kali ini, dia berulang kali melihat jarum jam, dan masih pukul 1 siang, artinya masih cukup lama.
"Astaga, kenapa lambat sekali."
__ADS_1
Pria itu mengeluh sembari mengusap wajah kasarnya, hendak tidur tapi tenggorokannya sangat kering. Belum lagi sejak tadi Radha tak pulang-pulang, kemana perginya wanita itu, pikir Gian kesal.
Dia sudah bingung harus menghabiskan waktu dengan cara apa, menyibukkan diri dengan bermain bersama mereka juga sudah dia lakukan. Beruntung saja hari ini memang tidak masuk kerja, jika tidak mungkin Gian sudah teler dibuatnya.
"Aaarrrgghh, Papa cuci muka dulu ya ... kalian tunggu di sini."
Berpikir bahwa cara itu mungkin akan lebih baik, Gian cepat-cepat ke kamar mandi dan mengusap wajahnya. Dinginnya air membuatnya sejenak lega, sengaja berlama-lama berharap tenggorokannya akan lega.
Bisikan-bisikan ghaib mulai menyerangnya, bukan karena setan tentu saja. Karena seperti yang kita ketahui, bahwa di bulan ramadhan makhluk itu tidak akan menggoda manusia.
"Huft!!! Masih tetep capek, apa aku mandi saja ya," tuturnya menatap bathup di sisi kiri, jika dilihat sepertinya memang akan sangat melegakan.
Dan tak butuh waktu lama, Gian sudah mulai melucuti pakaiannya. Menyisakan ****** ***** dan dia sudah siap berendam di siang bolong kali ini.
Bersenandung persis anak perawan, Gian lupa bahwa dia pamit pada kedua hatinya hanya untuk sebentar. Godaan di kamar mandi ternyata sama seperti di depan kulkas, Gian butuh kesegeran.
Minum banyak ternyata tak membuat Gian siap melewati hari setelahnya. Pria itu sudah bersiap masuk dan satu kakinya sudah merasakan dinginnya air.
"Aaaakkkhhh leganya," ucapnya menghela napas pelan, ini yang dia maksudkan.
-
Ceklek
Sial!! Baru saja berendam beberapa menit, Radha masuk dan mengganggu ketenangannya. Gian hanya menatap istrinya sekilas, kembali terpejam dan menikmati sensani segarnya air itu.
"Kak!! Jangan macem-macem deh, nggak boleh tau nggak berendem gini, makhruh pak Ustadz, gimana sih."
Siapa yang penceramah sebenarnya, jika keadaannya begini, akan lebih baik jika Gian berhenti menjadi ustadz dadakan itu menurut Radha.
"Panas, Sayang ... mataharinya ngajak berantem, aku nggak kuat."
Dia merengek, seakan tengah merasakan penderitaan tiada akhir. Radha hanya menggeleng menyaksikan suaminya yang kini persis berang-berang.
"Bajunya astaga, kenapa sembarangan begini!!"
Gian memang tetap saja sama, tidak peduli itu di kamar ataupun di tempat lain. Dimana dia melepas pakaian, maka di sana juga tempat pakaiannya tergeletak.
"Pulang-pulang kok bawel banget sih, Ra, daripada Kakak minum mendingan begini."
Tidak ada yang mending, Dirgantara. Semua pernyataan dia buat sendiri demi membuat apa yang dia lakukan adalah hal yang benar.
__ADS_1
Radha menghela napas pelan, padahal suaminya bangun sudah cukup siang, belum lagi menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi dan kini dia kembali lagi ke kamar mandi.
"Naik buruan, batal tau nggak kalau puasanya begini," tutur Radha tak mau kalah, wajar saja selama perjalanan pulang dari rumah Caterine perasaannya tak nyaman, ternyata karena ini.
"Kan airnya nggak Kakak minum, batal dari mana?"
Super ngeyel padahal Radha sudah sekesal ini, mengajak Gian puasa sama halnya seperti mengajari anak SD. Dan ini bukan hanya satu kali, tahun sebelumnya juga dia sama seperti ini.
Begitu banyak drama ketika beberapa hari di awal puasa, dan sebagai istri, Radha hanya berharap Tuhan mempertebal kesabarannya.
"Tetep aja nggak boleh sayangku, lagian ilmu dari mana yang ngajarin biar begini."
Tidak ada ilmu sebenarnya, Gian berbuat asal semaunya tanpa pertimbangan lain. Selagi dia merasa hal ini adalah sesuatu yang bisa menjadi jalan keluar, kenapa tidak, pikirnya.
"Ck, lima menit lagi," tawarnya seenak jidat dan Radha lagi-lagi hanya mampu menghela napas pelan, dasar pria kurang ajar.
"Mau berhenti sekarang, atau aku tidur di rumah Papa malam ini."
Ancaman super yang berhasil membuat Gian membuka mata lebar-lebar. Dia menatap tajam Radha, Gian tak suka ancaman itu, dan memang hal itu membuatnya tak bisa berkutik.
"Gitu dong, nih handuknya."
Radha menarik sudut bibir kala suaminya beranjak, walau harus dengan cara yang terkesan tak sopan, tak apa sesekali bagi Radha.
"Kamu dari mana? Lama banget perginya," omel Gian sembari melilitkan handuk di pingangnya, sedikit lega karena kini tubuhnya tidak sepanas itu.
"Kan dak dibilang, mau jenguk tante Hulya," tutur Radha berucap lembut.
"Hulya? Kenapa dia?" tanya Gian tanpa menyebut embel-embel tante seperti istrinya.
"Tante Hulya hamil, aaaarrrggghh aku senang sekali!! Om Randy pasti bahagia banget, Kak," ungkap Radha seakan lupa jika tadi sempat kesal pada suaminya.
"What? Hamil!! Widih, keren juga tu Om-om, Hulya kok mau dihamilin sama om Randy ya?" Bibir julitnya mulai beraksi, bukannya bersyukur justru meragukan Randy.
"Ya kan suaminya, pertanyaan Kakak apasii."
"Ih kok marah, kamu mau hamil juga? Kama sama Kalila udah pantas punya adik sepertinya," ucap Gian tanpa dosa sembari mengacak rambutnya.
"Kenapa jadi aku, aduh nggak dulu deh, Kakak jangan mikir kedaleman, orang cuma kasih kabar baik doang."
Gian mencebik, menatap istrinya yang kini berjalan lebih dulu setelah memunguti pakaiannya. "Dia kenapa sih," tutur Gian menggeleng pelan, padahal yang dia katakan tidak ada salahnya, pikir pria itu.
__ADS_1
đź’™